Xavero Ravindra—pria yang pernah diremehkan oleh keluarga mantan istrinya. Dipandang rendah karena status, diabaikan seolah tak punya nilai.
Namun di balik diamnya, ia menyimpan keteguhan yang tak mudah dipatahkan. ia tidak membalas dengan kata-kata. Ia memilih bangkit... dan membuktikan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah yang ditolak
“Wah, hadiah Mama banyak banget,” ucap Layla sambil menatap tumpukan hadiah di depan Yuliana dengan mata berbinar.
“Pasti semuanya bermerek,” sambung Liora.
Yuliana tersenyum bangga. “Itu sudah pasti, sayang. Mana mungkin hadiah dari teman-teman Mama itu murahan,” ucapnya dengan nada penuh kebanggaan dan sedikit kesombongan.
“Teman Mama kan pebisnis semua,” lanjut Yuliana sambil menyentuh salah satu kotak hadiah dengan bangga.
Layla langsung mengangguk antusias. “Wajar sih, Ma. Lihat aja ini, kemasannya saja udah terlihat sangat mahal.”
Liora ikut tersenyum, matanya menyapu deretan hadiah yang tersusun rapi di meja panjang.
“Ini pasti limited edition,” ucapnya pelan, tapi terdengar kagum. “Hanya orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan seperti ini.”
Yuliana tersenyum semakin lebar, jelas sangat puas dengan reaksi kedua anak muda itu.
“Tentu saja,” sahutnya ringan. “Mama tidak berteman dengan orang sembarangan.”
Layla terkekeh kecil. “Pantas saja acara Mama selalu mewah. Dari hadiah aja udah keliatan kelasnya.”
Liora mengangguk setuju. “Benar, Kak. Ini bukan sekadar hadiah, tapi juga simbol hubungan bisnis yang kuat.”
Yuliana mengangkat dagunya sedikit, semakin bangga mendengarnya.
“Begitulah dunia kita,” ucapnya santai, tapi penuh kebanggaan.
“Kalian juga, kalau pilih teman harus setara dengan kita,” sambung Yuliana sambil menatap kedua putrinya.
“Ya iya lah, Mah. Mana mau aku berteman dengan upik abu,” ucap Liora dengan nada jijik.
“Teman aku semua nggak ada yang di bawah level aku, semuanya di atas. Jadi Mama nggak usah khawatir,” sambung Layla dengan percaya diri.
Yuliana tersenyum bangga, lalu bersama kedua putrinya membuka satu per satu hadiah dari para tamu.
“Ini dari siapa?” ucap Yuliana sambil menatap sebuah paper bag berukuran besar di antara tumpukan hadiah lainnya.
“Memang nggak ada namanya, Mah?” tanya Layla.
Yuliana tidak langsung menjawab. Ia membuka paper bag itu, dan matanya langsung menatap kagum. Di dalamnya terdapat sebuah tas mewah yang terlihat langka dan sangat eksklusif.
“Itu kan tas keluaran baru,” ucap Layla.
“Susah banget, lo carinya,” sambung Liora.
“Ini dari Arga Wijaya,” ucap Yuliana sambil memperlihatkan kartu yang tertera nama Arga Wijaya beserta doa untuknya.
Suasana yang semula riuh langsung sedikit mereda.
Layla dan Liora saling berpandangan sejenak, lalu kembali menatap tas itu dengan lebih serius.
“Arga Wijaya?” ulang Layla pelan, seolah memastikan.
Yuliana mengangguk. “Iya. Tulisannya jelas di kartu ini.”
“Bukankah itu yang dekat dengan kamu, Li? Saat acara semalam,” ucap Layla sambil menoleh pada adiknya.
Liora mengangguk. “Iya, Kak. Dia pewaris Wijaya Group,” ucapnya dengan nada bangga.
“Wah, dia tahu selera Mama,” ucap Yuliana.
“Pokoknya kamu harus dekat dengan dia, Li. Sepertinya dia memang suka sama kamu,” ucap Layla dengan antusias.
“Tanpa Kakak bilang pun, dia sudah dekat dengan aku,” ucap Liora dengan bangga.
"Bagus, Liora. Itu bisa membuat keluarga Mahendra semakin kuat posisinya di dunia bisnis," lanjut Yuliana sambil menatap Liora dengan penuh harapan.
Liora tersenyum tipis, jelas menikmati perhatian itu. “Mama nggak perlu khawatir. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”
Layla terkekeh kecil. “Kalau sampai Arga Wijaya benar-benar ada di pihak kita, itu akan menjadi langkah besar."
Yuliana mengangguk pelan, lalu kembali menatap tas di tangannya. “Bukan cuma besar, tapi strategis.”
Ia menyentuh permukaan tas itu lagi dengan hati-hati, seolah sedang menilai lebih dari sekadar barang mewah.
“Orang seperti Arga itu tidak akan memberi sesuatu tanpa alasan,” lanjut Yuliana pelan.
Liora menyandarkan tubuhnya dengan santai. “Kalau dia punya maksud, berarti dia tahu siapa yang pantas dia dekati.”
Layla tersenyum kecil, matanya melirik Liora. “Dan sepertinya dia sudah menentukan itu.”
Mereka bertiga terus mengobrol sambil membuka satu per satu hadiah dari ulang tahun Yuliana semalam.
Layla menyipitkan mata, lalu mengambil paper bag yang terlihat paling sederhana di antara tumpukan kado.
“Ini kado dari siapa?” ucapnya dengan nada meremehkan.
“Itu kado dari aku, Kak.”
Mereka bertiga menoleh.
Xavero berdiri tak jauh dari mereka, terlihat baru saja pulang kerja.
“Ini kado dari kamu?” ucap Yuliana.
“Iya, Mah,” jawab Xavero.
Yuliana membuka kado itu, lalu mengambil isi di dalamnya. Sebatang emas batangan yang berkilau tampak jelas di tangannya.
“Serius kamu memberikan ini ke Mama?” ucapnya datar.
Xavero mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. “Iya, Mah. Mama suka?”
TING!
Yuliana langsung melempar emas itu ke lantai marmer hingga menimbulkan suara keras.
Xavero terdiam kaku. Uang hasil kerja kerasnya yang ia belikan untuk mertuanya itu kini tergeletak begitu saja di lantai.
Ia menoleh pada mertuanya, menatap dengan tatapan tidak percaya.
“Maksud kamu apa, hah?! Memberi Mama emas seperti ini, yang tidak sebanding dengan hadiah mereka?” bentak Yuliana.
“Mah…” suara Xavero tertahan, seolah sulit keluar.
“Kamu ini apa-apaan sih? Emas Mama sudah banyak,” ucap Liora sambil menatap tajam Xavero. “Aku kan sudah bilang, jangan buat aku malu.”
“Tapi… hanya itu yang bisa aku berikan, Liora,” lirih Xavero.
“Kamu nggak tahu selera mertuamu?” ucap Layla dengan nada sinis.
Yuliana menarik napas panjang, matanya masih tertuju pada emas batangan yang tergeletak di lantai marmer.
“Xavero…” suaranya pelan, tapi justru terdengar lebih tajam dari teriakan. “Kamu benar-benar nggak paham, ya?”
Xavero menelan ludah. “Mah… aku—”
“Diam dulu," potong Yuliana cepat, membuat Xavero langsung terhenti.
Yuliana menoleh dengan tatapan dingin. “Ini acara penting. Ini ulang tahun Mama. Semua orang datang dengan hadiah yang punya nilai, punya kelas.”
Ia menunjuk ke arah tumpukan hadiah lain. “Lihat itu. Arga Wijaya saja tahu apa yang pantas.”
Layla langsung menyahut dengan nada sinis. “Bahkan orang luar saja bisa memberikan sesuatu yang pantas. Masa kamu suami di rumah sendiri malah seperti ini?”
Liora menatap Xavero kesal. “Kamu buat aku malu lagi. Ini benar-benar beda level sama yang lain.”
Xavero mengepalkan tangannya di samping tubuhnya, tapi tetap diam.
Yuliana kembali menatapnya. “Kamu pikir Mama butuh ini?” ia mengangkat sedikit suaranya. “Emas? Mama bisa beli lebih dari ini tanpa perlu kamu kasih.”
Xavero mengangguk pelan, suaranya serak. “Iya, Mah… aku tahu.”
“Tahu?” Yuliana tertawa kecil tanpa humor. “Kalau tahu, kenapa tetap kamu berikan?”
Xavero menghela napas, matanya menunduk. “Aku cuma ingin, kasih sesuatu yang aku mampu. Aku kerja keras untuk itu.”
“Kerja keras bukan alasan untuk tidak tahu tempat.” sela Layla cepat.
Liora menambahkan dengan dingin, “Kalau memang sayang, harusnya kamu tahu apa yang pantas buat keluarga Mahendra.”
Xavero menatap mereka satu per satu, lalu akhirnya hanya bisa berkata pelan, hampir tak terdengar.
“Maaf… aku nggak bermaksud membuat Mama kecewa.”
Yuliana mengangkat dagunya, ekspresinya tetap dingin.
“Kecewa?” ulangnya pelan. “Ini bukan soal kecewa, Xavero. Ini soal harga diri keluarga.”
Hening sesaat.
Xavero tidak menjawab lagi. Ia hanya berdiri di sana, menatap emas yang masih tergeletak di lantai, sementara dirinya sendiri terasa lebih “jatuh” daripada benda itu.