Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
...~•Happy Reading•~...
Ke esokan pagi ; Rafael bangun pagi dengan suasana hati sedikit lebih baik, setelah menjalani malam tanpa gejolak.
Laras tidak makan malam bersama mereka, jadi suasana ruang makan tenang dan hangat. Tidak ada yang membicarakan ketidakhadiran Laras di ruang makan.
Karena hari Senin, semua orang di rumah sibuk menyiapkan diri untuk beraktivitas di hari baru. Rafael dan Juano keluar dari kamar menuju halaman, agar tidak ditunggu oleh Pak Yafeth.
Namun saat tiba di halaman, Rafael terkejut melihat mobil Laras masih di tempat parkir yang sama ketika mereka pulang dari pesta kantor. "Juan, Kak Laras belum berangkat kerja?"
"Iya, Kak Rafa. Mungkin masuk kerja siang." Jawab Juano sambil melihat ke dalam rumah.
"Kalau berangkat siang, harusnya pindahin mobil supaya Papamu bisa keluar." Rafael seakan berkata pada Laras. Dia heran, Laras melupakan sesuatu yang rutin dilakukan.
"Oh, iya, Kak. Nanti Papa susah keluarin mobil."
"Tidak usah masuk. Mungkin Kak Laras keluar sama Papa." Rafael mencegah Juano yang mau berlari masuk ke dalam rumah.
"Iya, Kak. Kita tunggu saja. Mungkin..." Sebelum Juano menyelesaikan kalimat, Papanya keluar dari rumah bersama Mamanya.
"Loh, Laras belum berangkat kerja?" Pak Yafeth terkejut melihat mobil Laras masih terpakir.
"Mungkin dia berangkat siang, Pa. Dia juga belum keluar sarapan." Bu Ester mengatakan yang diketahui.
"Tolong lihat dia, Ma. Minta dia keluarin mobil, atau minta kuncinya." Ucap Pak Yafeth sebelum masuk ke mobil.
Bu Ester mengangguk lalu berbalik masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat menuju kamar Laras. Sebab Pak Yafeth sedang terburu-buru. "Papaaaaa..." Tiba-tiba terdengar teriakan Bu Ester dari dalam rumah.
Pak Yafeth turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Begitu juga dengan Rafael dan Juano lari menyusul. Jantung Rafael memukul dengan kuat, menyadari sesuatu telah terjadi.
"Kenapa, Ma..." Ucap Pak Yafeth yang melihat istrinya menangis.
"Laras, Pa. Dia tidak bergerak..."
Pindah, Ma." Pak Yafeth mendekati tempat tidur dan memegang pergelangan tangan Laras. "Mari kita bawa ke rumah sakit." Pak Yafeth menyingkirkan selimut.
Menyadari sesuatu yang buruk sedang terjadi dengan Laras, Rafael menerobos masuk ke dalam kamar Laras tanpa permisi. Jantungnya makin berdetak kuat melihat orang tua Laras sangat panik.
"Pak, biarkan saya yang bawa Laras. Tolong siapkan mobil." Rafael ambil alih keadaan yang penuh kepanikan. Dia berjongkok dan mengarahkan punggung ke tepi tempat tidur. "Bu, tolong letakan Laras di punggung saya." Ucap Rafael.
Setelah Laras sudah berada di punggungnya, Rafael berdiri dan berlari keluar kamar. Bu Ester menyambar tas Laras dan keperluannya, lalu ikut berlari keluar.
"Rafa, ke sini saja." Panggil Pak Yafeth sambil menunjuk mobilnya, karena sudah memindahkan mobil Laras.
Rafael meletakan Laras kursi di tengah. Sedangkan Juano sudah duduk di kursi belakang sambil menangis. "Mama, pegang Laras." Ucap Pak Yafeth. Rafael jadi pindah ke depan. Dia menarik nafas panjang berulang kali mendengar Bu Ester menangis sambil memanggil nama Laras.
"Tadi malam dia makan gak, Ma?" Tanya Pak Yafeth setelah berada di jalan raya.
"Dia minta makanannya diantar ke kamar. Ternyata tidak dimakan." Bu Ester mengatakan yang diketahui, sebab makan malam yang diantar tidak disentuh.
"Anak ini sudah dibilang hati-hati dengan lambungnya..." Pak Yafeth tidak meneruskan hanya rahangnya berubah keras, menahan marah.
Setelah melalui jalanan yang padat merayap, mobil Pak Yafeth tiba di depan lobby rumah sakit swasta terdekat. Rafael segera turun untuk memberitahukan petugas medis.
Kemudian Laras diturunkan ke ranjang darurat dan segera didorong oleh petugas medis ke UGD. Orang tuanya, Juano dan Rafael berdiri menunggu sambil berdoa dan berharap, kondisinya tidak serius.
Setelah Laras ditangani dokter, Pak Yafeth mendekati Rafael. "Rafa dan Juan hari ini libur saja. Sudah gak keburu masuk kerja dan sekolah." Ucap Pak Yafeth sambil melihat jam tangan lalu telpon ke kantor dan sekolah untuk minta izin.
Air mata Bu Ester mengalir dalam diam sambil matanya tidak beralih dari tempat Laras sedang diperiksa. 'Apa yang terjadi dengannya? Mengapa tiba-tiba seperti ini?' Bu Ester heran dengan kondisi Laras yang tiba-tiba drop. Hatinya sangat sedih melihat kondisi putrinya. 'Semoga dia tidak apa-apa.'
Sedangkan Rafael tidak bisa duduk tenang menunggu. Dia yakin, sakitnya Laras bukan sesuatu yang biasa. Dalam dadanya mulai mengalir gelombang rasa khawatir. 'Apa aku terlalu keras padanya?' Rafael bertanya sendiri, ingat percakapan mereka di mobil setelah pulang acara.
Setelah lama menunggu, nama keluarga Laras dipanggil. "Rafa, tolong temani Juan, ya." Pinta Bu Ester sambil meletakan tas yang dibawa ke atas kursi.
Rafael mendekati Juano lalu duduk di sampingnya. "Jangan terus menangis. Berdoa, supaya Kak Laras tidak apa-apa." Ucap Rafael sambil mengusap kepala Juano yang langsung memeluknya.
"Kak Laras pernah begini?" Bisik Rafael tanpa melepaskan tangannya dari kepala Juano.
"Dulu pernah, tapi gak seperti tadi Kak. Hanya berjalan tati-tati...." Juano menceritakan kakaknya pernah sakit, tapi hanya meringis sakit sambil berjalan menunduk.
"Semoga tidak apa-apa." Rafael mengulang harapannya, sebab tahu penyebab Laras sakit.
Setelah menunggu lama, Pak Yafeth mendekati mereka dengan wajah sedikit lebih baik dan tenang. Tidak panik lagi seperti sebelumnya, lalu memegang kepala Juano untuk menenangkan.
"Kak Laras sudah lewati masa kritis. Kita tunggu kondisinya stabil saja." Ucap Pak Yafeth kepada Juano, sekaligus mengatakan kondisi Laras kepada Rafael.
"Dokter bilang Laras kenapa, Pak?" Rafael tidak tahan untuk tidak bertanya.
"Asam lambungnya naik. Mungkin terlambat makan, stress atau banyak pikiran..." Pak Yafeth mengatakan yang dikatakan dokter.
"Oh, iya, Pak. Mungkin ada yang dia pikirkan." Rafael langsung mengatakan yang dia tahu, agar Pak Yafeth tidak bertanya lagi.
Menjelang sore, kondisi Laras dinyatakan stabil, tapi belum bisa dipindahkan ke kamar perawatan sebab belum ada kamar kosong. "Kalau begitu, bapak dan Ibu pulang istirahat saja. Biar saya tunggu di sini. Juan juga, pulang, ya."
"Iya, Rafa. Kami pulang dulu. Dari pada saya emosi dan bombardir dia sebelum pulih." Pak Yafeth memutuskan sebab sedang berusaha tidak emosi pada Laras yang telah membuat mereka sport jantung dan ketakutan.
"Iya, Pa. Mari kita pulang." Bu Ester menyetujui. "Rafa, kami sudah urus semua, ya. Kalau sudah ada kamar kosong, Laras akan dipindahkan." Bu Ester menjelaskan kepada Rafael.
Setelah ditinggal sendiri, Rafael mendekati tempat Laras berbaring. Dia duduk di samping tempat tidur sambil menatap wajah Laras yang masih pucat dan infus di tangan. 'Hhhmmmm...' Rasa bersalah merayap di hatinya. 'Sok galak, ternyata sangat rapuh.' Rafael membatin, lalu minum air mineral yang ditinggalkan Bu Ester.
Menjelang sore mata Laras terbuka perlahan. Dia terkejut melihat Rafael sedang menatapnya. Dia kembali menutup mata untuk menghindari Rafael yang sudah mendekatkan kursi. "Apa yang sakit?" Rafael bertanya, pelan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...