Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 Suami Bejat
Acara syukuran masih tetap berjalan dengan banyaknya para tamu di kediaman Shafiya, ribuan anak yatim yang diundang ke rumah itu untuk menyantuninya dan juga tokoh-tokoh agama beserta rekan-rekan dari Thoriq, kedua orang tua Zidan juga hadir di sana.
Shafiya sejak tadi sibuk membantu bersama dengan orang-orang yang bekerja di rumahnya.
"Shafiya, Umi minta tolong kepada kamu tolong ambilkan amplop di kamar Umi," ucap Laina memerintahkan putrinya itu.
"Baiklah Umi," sahut Shafiya menganggukkan kepala dan buru-buru pergi.
Shafiya berjalan memasuki rumah terlihat menaiki anak tangga, tetapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika Arash menuruni anak tangga dengan kedua tangannya dilipat di dada.
Shafiya berusaha mengabaikan suaminya itu. Shafiya tidak ada niat untuk bertengkar dan apalagi dia mendapatkan perintah dari Uminya agar cepat mengambil amplop.
Tetapi tangannya langsung tertahan dengan cengkraman Arash cukup sakit.
"Lepas sakit!" keluh Shafiya berusaha untuk berontak.
Bukannya di lepaskan, Shafiya justru ditarik begitu kasar benar-benar diseret sampai memasuki kamar. Shafiya tidak henti-hentinya berteriak minta tolong, orang-orang sibuk di luar karena acara syukuran itu memang diadakan di taman belakang rumah yang sangat luas.
Ketika memasuki kamar Shafiya langsung dilempar dengan kasar ke atas ranjang, suara nafasnya terdengar naik turun sembari memegang pergelangan tangannya memerah akibat perbuatan Arash.
"Kamu benar-benar keterlaluan!" umpat Shafiya menekan suaranya.
Arash tidak mengatakan apa-apa dengan tiba-tiba membuka kancing kemejanya. Shafiya seketika panik dengan mata melotot.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya tampak waspada.
"Seumur hidupku memang baru pertama kali bertemu dengan wanita keras kepala dan suka menantang seperti dirimu? Kau menjanjikan bahwa kau akan kembali pada laki-laki itu!" umpat Arash ternyata sebagai pemicu kemarahannya.
"Kenapa jika aku memberikan harapan kepadanya? Bukankah itu lebih baik ketika ada seorang pria tulus kepadaku dan berusaha untuk membuatku pergi dari kehidupan pernikahan toxic seperti ini," jawabnya dengan sedikit berteriak.
"Ohhh, jadi kalian berdua saat ini bekerja sama untuk kembali menata kehidupan yang baru, aku harus memberikan apresiasi atas usaha kalian berdua, pasangan yang saling mencintai dan harus berakhir dalam drama tidak jadi menikah," ejek Arash dengan tersenyum miring.
"Kami tidak jadi menikah semua itu karena perbuatan jahatmu. Jangan kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu sengaja menyuruh orang untuk menghadang mobil Zidan dan menghajarnya habis-habisan agar tidak datang ke acara pernikahannya sendiri!" tegas Shafiya dengan menekan suaranya.
"Apa katamu?" tanya Arash.
"Tidak perlu berpura-pura di hadapanku, aku tahu semua ini dibalik rencanamu hanya untuk tujuan dendam darimu!" tegas Shafiya.
"Hah! jadi sekarang di belakangku kau belum sering bertemu dengan laki-laki, kau mendengarkan semua perkataannya, percaya padanya," ucap Arash tersenyum miring.
"Baiklah Shafiya, aku tidak peduli apapun yang dilakukan laki-laki itu kepadamu, apapun yang dia katakan dan usaha apapun yang dia lakukan untuk menarikmu dariku, tetapi paling tidak jika kau bersama dengannya suatu saat nanti, maka kau harus menjadi milikku terlebih dahulu dan laki-laki itu hanya akan mendapat sisa dariku!" tegas Arash.
Perkataan itu benar-benar sangat menakutkan, wajah Arash seperti monster yang ingin menerkam mangsanya dan bahkan kancing kemeja itu sudah terlepas semua melangkah mendekati ranjang.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Jangan mendekatiku!" teriak Shafiya terlihat panik perlahan mundur di kepala ranjang sampai tubuhnya sudah tidak bisa kemana-mana lagi.
Arash menaiki ranjang tempat berada di depannya dengan posisi kedua lutut yang menyentuh ranjang tersebut.
"Aku suamimu, layani aku sekarang!" tegas Arash menekan suaranya dengan mata melotot.
Shafiya menggelengkan kepala, bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu dengan cara dipaksa, ditekan dan seperti diperlakukan layaknya seorang binatang.
"Kau menolaku?" tanya Arash tersenyum miring di wajahnya.
"Aku tidak sudi melakukannya, aku tidak akan memberikan tubuhku kepada laki-laki jahat sepertimu!" tegas Shafiya berani menolak secara terang-terangan dan bahkan jawaban itu cukup menohok.
"Hah!" Arash tidak menyangka ternyata wanita yang tidak akan bisa pergi kemana-mana itu masih berani melawannya.
"Lalu apa tubuh yang kau banggakan dia dan selalu kau tetap ini hanya untuk dia?" tanya Arash.
"Meski aku sah menjadi istrimu, tetapi aku hanya melayani manusia bukan laki-laki yang tidak tahu diuntung seperti dirimu, kejam, jahat, iblis!" tegas Shafiya dengan kata-kata itu begitu dekat di wajah Arash.
"Kau menantangku Shafiya, lihatlah apa yang akan aku lakukan kepadamu? Kau ternyata memang tidak bisa diberikan kelembutan, harus dengan cara kasar dan paksaan!" tegas Arash menekan suaranya.
Emosinya semakin bertambah dengan perlawanan yang diberikan Shafiya dan juga kata-katanya tanpa ada rasa takut sama sekali.
Arash tiba-tiba saja turun dari ranjang, Shafiya pikir Arash akan meninggalkan dirinya dan ternyata pria itu membuka lemari Shafiya.
Shafiya kebingungan dengan apa yang dilakukan Arash yang terlihat membongkar pakaiannya dan menemukan tiga pashmina miliknya
Arash kembali menghampiri Shafiya dan lihatlah Arash langsung mengikat tangan itu di tiang ranjang.
"Apa-apaan ini? Lepaskan!"
"Lepaskan aku...!"
"Lepas...." Shafiya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kedua tangannya diikat Arash dengan kakinya yang juga pada akhir di ikat.
Posisi Shafiya akhirnya terlentang di atas ranjang.
"Kau gila melakukan semua ini!" teriak Shafiya dipenuhi dengan air mata dan masih berusaha untuk melepaskan diri.
Arash berdiri di pinggir ranjang tersenyum puas melihat bagaimana tersiksa Shafiya.
"Aku tidak suka jika wanita yang bercinta denganku harus seperti cacing kepanasan dan lebih baik kau diam seperti ini dan patuh. Biar aku yang akan memberi pelayanan kepadamu," ucap Arash.
"Aku sudah mengatakan tidak sudi melakukannya!" tegas Shafiya.
"Aku tidak meminta persetujuan mu," jawab Arash tersenyum penuh kemenangan.
Arash kembali duduk di pinggir ranjang dengan tatapan tajam seperti ingin menerkam Shafiya. Shafiya terlihat begitu panik dengan tangan laki-laki dan tiba-tiba saja mulai melepas hijabnya.
"Biadab, apa kau akan memperkosa istrimu sendiri?" tanya Shafiya menekan suaranya.
"Lalu kenapa jika iya, Hah!"
"Di mana akal sehat kamu melakukan semua ini kepadaku, di luar sana sedang ada acara keagamaan dan kamu dengan biadab melakukan semua ini kepadaku? Apa kamu tidak punya hati nurani!" tegas Shafiya.
"Benar, hati nuraniku sudah tidak berfungsi ketika aku kehilangan orang yang aku cintai dan mati ditangan orang tuamu. Jika dia hidup seperti itu, maka kau juga akan hidup seperti itu!" tegas Arash benar-benar penuh dengan dendam tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.
Air mata Shafiya sudah tidak tahu seberapa banyak jatuh dengan semua ucapan yang keluar dari Arash dan juga tindakannya yang kasar.
Bersambung......
Para pembaca setiaku jangan lupa mampir ke karya terbaru saya. Sedikit banyaknya dukungan dari kalian dapat memberikan semangat dan motivasi untuk saya terus berkarya.
Jangan lupa untuk terus mendukung karya-karya saya berikan like, subscribe, koment dan vote sebanyak-banyaknya, terima kasih untuk para pembaca setiaku salam cinta dari saya...
Author ..