NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang

Cinta Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Single Mom
Popularitas:919
Nilai: 5
Nama Author: zhafira nabhan

Naura hanya seorang gadis yang jatuh cinta terlalu dalam… dan harus membayar semuanya dengan kehilangan.

Ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai 'tanpa pernah tahu bahwa itu semua hanyalah kebohongan kejam'. Naura memilih pergi, membawa luka dan kehidupan baru yang tumbuh dalam rahimnya sendirian.

Selama delapan belas tahun, ia bertahan di tengah kemiskinan, mengorbankan segalanya demi satu alasan: anaknya, Genesis.

Namun saat dunia Genesis hanya tersisa ibunya… takdir kembali merenggut satu-satunya alasan ia bertahan hidup.

Kini, di antara sepi, kehilangan, dan batas tipis antara kewarasan dan kegilaan…

Satu minggu kemudian, Alexa datang menyelamatkan Genesis yang sedang terpuruk setelah Naura meninggal.

Namun ternyata, Alexa adalah Naura...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Nafas Naura tersengal pelan, naik turun tidak teratur, sementara tubuhnya semakin berat seolah setiap inci dagingnya menolak untuk bergerak.

Ia menatap langit-langit rumah kecil itu dengan pandangan kosong, mencoba bertahan meski ia tahu waktunya hampir habis. Tidak ada siapa pun di sekitarnya, hanya suara sunyi yang terlalu dalam hingga terasa menekan dada.

“Gen… Genes..is..” bisiknya serak, suaranya hampir tidak keluar, sementara tangannya terangkat sedikit seperti ingin meraih sesuatu yang tak terlihat.

“Maaf… Maafin ibu, ibu nggak bisa nunggu kamu pulang…” lanjutnya lirih, napasnya semakin pendek.

Ia memejamkan mata sejenak, namun justru di sana ingatan itu datang tanpa ampun, menampilkan wajah Genesis kecil yang menangis saat demam, tertawa saat pertama kali bisa berjalan, hingga wajahnya yang kini dewasa, mencoba terlihat kuat di tengah hidup yang tidak pernah mudah.

“Ibu belum sempat… Maaf.. ” gumamnya pelan, air mata mengalir di pelipisnya tanpa bisa ia tahan.

“Belum bikin kamu bahagia… Gen..” suaranya pecah di tengah kalimat, tubuhnya semakin melemah tanpa bisa dilawan.

Dalam sisa kesadarannya, hanya satu hal yang ia pikirkan yaitu anaknya tidak boleh sendirian.

“Jangan sendirian, ya…” bisiknya, sebelum seluruh tubuhnya akhirnya kehilangan tenaga dan nafasnya berhenti.

Keheningan itu hanya bertahan sesaat sebelum sesuatu yang asing menariknya kembali dengan paksa, bukan perlahan, melainkan seperti ditarik dari kegelapan tanpa persiapan.

Nafasnya kembali masuk dengan kasar, membuat dadanya terasa sakit, seolah paru-parunya dipaksa bekerja kembali setelah lama berhenti.

“Hah…?!” tubuhnya tersentak bangun, tangannya langsung memegangi dada, napasnya berantakan dan tidak terkontrol.

Suara gaduh terdengar di sekitarnya, terlalu hidup untuk menjadi bagian dari kematian.

“Nona sadar!! Cepat! Panggil dokter!” seseorang berteriak panik, membuat Naura menoleh dengan bingung.

“Aku… di mana?” ucapnya spontan, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, lebih ringan, lebih muda, membuatnya langsung mengernyit.

Ia menatap sekeliling, ruangan itu luas, bersih, dan tertata rapi, jauh berbeda dari rumah kecil yang selama ini ia tempati. Tangannya terangkat perlahan, dan saat matanya menangkap detail kulitnya yang halus tanpa luka, napasnya langsung tertahan.

“Ini bukan… tangan ku…” gumamnya pelan, jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia berdiri dengan langkah goyah, tubuhnya terasa ringan tapi asing, seperti bukan miliknya sendiri. Pandangan Naura langsung tertarik pada cermin besar di depan, dan saat ia melihat bayangannya sendiri, tubuhnya membeku di tempat.

Seorang gadis berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi yang sama terkejutnya, wajahnya muda dan tidak memiliki satu pun kesamaan dengan dirinya.

“Siapa…? Siapa kamu?” bisiknya pelan, suaranya bergetar tanpa ia sadari.

Tangannya terangkat, menyentuh pipi itu, dan bayangan di cermin mengikuti setiap gerakannya tanpa salah.

“Ini bukan aku… ini bukan.. Aku… Bukan..” ulangnya semakin panik, napasnya memburu, pikirannya kosong.

Pintu kamar terbuka tiba-tiba, membuatnya tersentak mundur dengan refleks.

“Nona Alexa!” seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah panik, namun langsung terdiam saat melihatnya berdiri.

“Ya Tuhan… Akhirnya Anda sadar juga, Nona?!” lanjutnya dengan suara bergetar, melangkah mendekat dengan hati-hati.

Naura menatapnya tanpa mengerti, kebingungan memenuhi wajahnya.

“Aku… siapa?” tanyanya spontan, membuat wanita itu langsung terdiam seolah tidak percaya.

“Maaf… Anda bercanda?” wanita itu mencoba tersenyum, tapi jelas terlihat gugup.

“Siapa.. Aku?” ulang Naura, kali ini lebih pelan, tapi jauh lebih menekan, membuat suasana ruangan berubah.

Beberapa orang lain masuk, saling berpandangan dengan ekspresi khawatir.

“Nona… ini tidak lucu sama sekali…” salah satu dari mereka berkata, tapi Naura menggeleng cepat.

“Kenapa kalian manggil aku Alexa? Aku bukan Alexa! Siapa itu Alexa?!” suaranya meninggi, panik yang tertahan akhirnya pecah.

“Seseorang, cepat panggil dokter!” seseorang berteriak, membuat suasana semakin kacau.

Naura mundur beberapa langkah, kepalanya terasa sakit saat nama itu terus diulang di telinganya. Alexa. Alexa. Alexa.

“Enggak… ini salah… aku harus pulang…” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri, sebelum tiba-tiba berbalik.

“Nona, tunggu!”

“Jangan keluar dulu, Nona!”

Suara-suara itu mencoba menahannya, tapi tidak ada yang benar-benar ia dengar.

'Gen sendirian…' Pikiran itu langsung memenuhi kepalanya, menenggelamkan semua hal lain.

Tanpa ragu, ia berlari keluar dari ruangan itu, langkahnya cepat meski tubuh ini belum sepenuhnya ia kuasai.

“Gen… tunggu… ibu pulang…” bisiknya di sela napas yang terengah, matanya mulai berkaca-kaca.

Ia tidak tahu jalan itu, tidak tahu tempat itu, tapi tubuhnya bergerak seolah ada sesuatu yang menuntunnya pulang. Orang-orang menatapnya aneh saat ia berlari, tapi ia tidak peduli.

......................

Jalanan terasa asing, suara kendaraan dan langkah orang-orang terdengar seperti gema jauh yang tidak penting. Nafasnya semakin berat, tapi ia tidak berhenti, seolah jika ia berhenti maka semuanya akan terlambat.

“Tunggu… jangan sendirian…” gumamnya, langkahnya mulai melambat saat gang sempit itu terlihat di depan mata.

Lampu redup, rumah-rumah kecil, semuanya terasa begitu familiar hingga dadanya sesak.

“Itu…” bisiknya pelan, matanya langsung terpaku pada satu titik.

Rumah kecil itu berdiri di ujung gang, sama seperti yang ia ingat, sama seperti terakhir kali ia lihat sebelum semuanya gelap. Tangannya mulai gemetar, napasnya tertahan.

“Itu rumah ku…” lanjutnya lirih, langkahnya kini lebih pelan, penuh ragu. Ia berjalan mendekat, setiap langkah terasa berat, seolah kenyataan yang ia hindari semakin nyata di depan mata.

Ia berhenti tepat di depan pintu.

Sunyi. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada tanda kehidupan.

Tangannya terangkat perlahan, hampir menyentuh pintu itu, namun berhenti tepat sebelum menyentuhnya.

“Aku…” suaranya pecah, air matanya mulai jatuh satu per satu.

“Aku bukan ibu lagi…” kalimat itu keluar dengan berat, seperti sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Ia menatap pintu itu lama, berharap ada suara dari dalam, berharap sesuatu akan berubah.

“Gen…” bisiknya pelan, suaranya penuh rindu yang tidak bisa ia tahan.

Ia ingin masuk, ingin memeluk, ingin memastikan anaknya tidak sendirian, tapi tubuh ini bukan miliknya, dan dunia tidak akan melihatnya sebagai ibu. Ia hanya orang asing yang berdiri di depan rumah itu.

“Maaf…” ucapnya lirih, tangannya perlahan turun tanpa pernah menyentuh pintu.

Namun ia tidak pergi. Kakinya tetap di tempat itu, menolak untuk melangkah menjauh. Ia hanya berdiri, menatap pintu itu dalam diam, seolah seluruh hidupnya kini bergantung pada satu kemungkinan kecil.

“Gen… ibu di sini…” bisiknya, meski ia tahu tidak akan ada yang mendengar.

Malam semakin sunyi, dan di antara keheningan itu, Naura tetap menunggu, berharap sesuatu yang mustahil bahwa pintu itu akan terbuka, dan seseorang di dalamnya akan memanggilnya sekali lagi dengan suara yang ia rindukan.

“Ibu.”

1
Mak e Tongblung
insting gen hebat👍
Mak e Tongblung
kukira genesis itu perempuan 😄
zhafira: laki kak.. 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!