NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kualifikasi Murid Luar

Dua bulan telah berlalu sejak Seol menemukan catatan tentang Ramuan Pemulih Nadi di perpustakaan. Dua bulan penuh latihan tanpa henti, membaca di malam hari, berlatih di hutan hingga fajar, dan menjalani tugas harian dengan tubuh yang selalu lelah tetapi tidak pernah mengeluh.

Dan kini, hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

---

Pagi Hari – Arena Latihan Murid Luar

Matahari baru saja naik setinggi pohon kelapa saat seluruh murid luar berkumpul di arena latihan—sebuah lapangan tanah luas di belakang asrama, dikelilingi oleh pagar kayu rapuh yang sudah berlumut. Biasanya tempat ini hanya digunakan untuk latihan dasar yang diawasi oleh pengawas senior, tetapi hari ini berbeda.

Hari ini adalah Kualifikasi Murid Luar.

Pengawas itu—pria paruh baya dengan wajah masam yang tidak pernah memperkenalkan namanya—berdiri di tengah arena, gulungan kertas terbuka di tangannya. Di sekelilingnya, lebih dari tiga puluh murid luar berdiri dalam formasi longgar, wajah-wajah mereka penuh dengan campuran harapan dan ketakutan.

“Seperti yang kalian tahu,” suara pengawas itu bergema di keheningan, “setiap enam bulan, sekte mengadakan kualifikasi untuk murid luar yang ingin maju ke tahap berikutnya. Yang berhasil akan mendapat tiket untuk mengikuti Turnamen Persilatan Sejati dua setengah tahun lagi.”

Ia berjalan menyusuri barisan, matanya menyapu wajah-wajah itu dengan dingin.

“Aturannya sederhana: kalian akan bertarung dalam sistem gugur. Setiap orang akan melawan satu lawan. Yang menang akan melaju ke babak berikutnya. Proses ini berlangsung hingga tersisa sepuluh orang. Sepuluh orang itu akan mendapat tiket kualifikasi.”

Ia berhenti di tengah barisan, menatap mereka dengan mata yang tidak menyembunyikan rasa meremehkan.

“Tapi ingat: ini bukan sekadar pertarungan biasa. Di sinilah kalian akan dinilai. Bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana kalian menang. Teknik, strategi, pengendalian qi—semuanya akan dicatat dan dievaluasi.”

Ia membuka gulungan itu lebar-lebar.

“Daftar pertandingan sudah ditentukan. Babak pertama dimulai sekarang. Peserta pertama: Ryu Seol melawan Park.”

Bisik-bisik pecah di antara kerumunan. Semua mata tertuju pada Seol, lalu beralih ke Park—pria kekar dengan wajah bulat yang dulu mengganggunya di dapur.

Park tersenyum lebar. Senyum predator yang sudah lama menunggu kesempatan ini.

“Akhirnya,” katanya, suaranya cukup keras untuk didengar semua orang. “Aku akan mengajarkan sopan santun pada bocah baru ini.”

Seol tidak menjawab. Ia melangkah ke tengah arena, seragam abu-abunya yang lusuh berkibar tertiup angin pagi. Di tangannya, tidak ada pedang. Hanya tangan kosong.

Park sudah berdiri di depannya, sebilah pedang kayu di tangan kanannya—senjata standar untuk pertarungan antar murid luar. Tubuhnya yang kekar tampak lebih besar dari biasanya di bawah sinar matahari pagi.

“Kau tidak bawa senjata?” tanya Park, nada mengejek.

“Aku tidak butuh,” kata Seol datar.

Park tertawa. Tawanya keras, bergema di seluruh arena.

“Dengar, bocah. Aku sudah lima tahun di sini. Aku sudah bertarung melawan puluhan orang seperti kau. Mereka semua datang dengan ambisi besar, mimpi menjadi murid dalam, mimpi ikut turnamen.” Ia mengangkat pedang kayunya, ujungnya mengarah ke dada Seol. “Dan mereka semua pulang dengan mimpi yang hancur.”

Seol tidak bergerak. Matanya tenang, terlalu tenang.

“Mulai!” perintah pengawas.

Park melesat maju.

---

Babak Pertama – Kecepatan yang Berbeda

Park menyerang dengan kekuatan penuh. Pedang kayunya berdesis memotong udara, diarahkan ke bahu Seol—bukan serangan mematikan, tetapi cukup untuk melumpuhkan.

Seol menghindar dengan gerakan minimalis. Tubuhnya bergeser beberapa inci ke kanan, cukup untuk membuat pedang itu meleset di samping telinganya. Angin dari serangan itu menyentuh pipinya, tetapi ia tidak berkedip.

Park menggerutu. Ia mengayunkan pedangnya lagi, kali ini lebih cepat, lebih keras. Serangan horizontal yang menyapu dari kiri ke kanan, sulit dihindari karena jangkauannya yang lebar.

Seol mundur selangkah. Tepat satu langkah. Cukup untuk membuat ujung pedang itu hanya menyentuh udara di depan dadanya.

Park maju lagi. Kali ini ia menggunakan kombinasi tiga serangan—tusukan ke dada, tebasan ke bahu, dan tendangan ke perut. Gerakan yang sudah ia latih ribuan kali, gerakan yang membuatnya menjadi salah satu murid luar terkuat.

Seol bergerak.

Ia tidak menghindar. Ia melangkah maju, masuk ke dalam jangkauan Park, di mana pedang kayu itu terlalu panjang untuk digunakan secara efektif. Tubuhnya yang kurus menyelinap di bawah lengan Park, dan dalam gerakan yang sangat cepat, telapak tangannya menyentuh pergelangan tangan Park.

Bukan pukulan. Bukan serangan. Hanya sentuhan.

Tapi sentuhan itu mengandung qi—qi yang ia alirkan tepat pada titik di mana otot-otot Park paling tegang. Efeknya langsung: tangan Park kehilangan kekuatan, pedang kayu itu jatuh dari genggamannya.

Thud.

Pedang itu mengenai tanah, debu beterbangan.

Park terpaku. Ia menatap tangannya yang kosong, lalu menatap Seol yang berdiri di depannya dengan ekspresi datar.

“Apa… apa yang kau lakukan?” suaranya bergetar.

Seol tidak menjawab. Ia menunduk, mengambil pedang kayu itu, dan melemparkannya ke pinggir arena.

“Kau tidak butuh ini,” katanya. “Aku juga tidak.”

Park memandang pedang itu, lalu memandang Seol. Wajahnya merah padam—bukan karena marah, tetapi karena malu. Ia sudah lima tahun di sini. Ia adalah salah satu murid luar tertua. Dan ia baru saja dikalahkan oleh bocah baru tanpa senjata, tanpa usaha yang terlihat.

“Kau… kau…” Park tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

“Aku menang,” kata Seol. Ia berbalik, melangkah keluar dari arena, meninggalkan Park yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah hancur.

Pengawas itu mengangkat tangannya. “Pemenang: Ryu Seol.”

Kerumunan murid luar terdiam. Tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang berbisik. Mereka hanya menatap, tidak percaya pada apa yang baru saja mereka saksikan.

Park, yang selama ini menjadi pengganggu paling ditakuti di asrama, dikalahkan dalam hitungan detik. Tanpa perlawanan. Tanpa darah. Tanpa apa pun.

Seol duduk di pinggir arena, mengambil sebotol air, dan minum dengan tenang. Di sampingnya, Baek Ho menatap dengan mulut terbuka.

“Kau… kau tidak memberitahuku bahwa kau sekuat itu,” bisiknya.

“Aku tidak sekuat itu,” kata Seol. “Dia hanya terlalu lambat.”

Baek Ho tidak percaya, tetapi tidak bertanya lebih jauh.

---

Babak Kedua hingga Kesembilan – Dominasi Diam

Pertarungan berikutnya berlangsung dengan pola yang sama.

Lawan Seol berganti-ganti—ada yang bertubuh kekar seperti Park, ada yang lebih kecil dan gesit, ada yang menggunakan teknik qi yang cukup baik untuk ukuran murid luar. Tapi hasilnya selalu sama.

Seol tidak pernah menggunakan pedang. Ia hanya mengandalkan gerakan minimalis, sentuhan tepat di titik lemah, dan aliran qi yang tidak terlihat tetapi efektif. Setiap pertarungan berlangsung kurang dari satu menit. Setiap lawan keluar dari arena dengan ekspresi bingung, tidak mengerti bagaimana mereka bisa kalah.

Pada pertarungan kelima, bisik-bisik mulai berubah. Bukan lagi bisik-bisik meremehkan, tetapi bisik-bisik kagum yang bercampur ketakutan.

“Dia tidak seperti murid luar biasa.”

“Tekniknya… aku tidak pernah melihat teknik seperti itu.”

“Apakah dia benar-benar hanya murid luar?”

Pada pertarungan kedelapan, seorang murid senior yang bertugas mencatat hasil pertarungan mulai menulis lebih cepat, matanya tidak lepas dari gerakan Seol.

Pada pertarungan kesembilan, lawan Seol—seorang pria kurus dengan kacamata bambu—langsung menyerah sebelum pertarungan dimulai.

“Aku tidak bisa melawanmu,” katanya, suaranya gemetar. “Aku sudah melihat pertarunganmu sebelumnya. Aku tidak punya kesempatan.”

Seol menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Terima kasih.”

Ia keluar dari arena tanpa berkata apa-apa lagi.

---

Babak Kesepuluh – Final

Hanya ada satu lawan lagi yang harus ia kalahkan. Jika ia menang, ia akan menjadi salah satu dari sepuluh murid luar yang mendapat tiket kualifikasi.

Lawan terakhirnya adalah seorang perempuan muda dengan rambut pendek dan mata yang tajam. Namanya Mi Rae—salah satu dari empat peserta yang lulus ujian masuk bersama Seol dan Baek Ho. Selama dua bulan, ia tidak pernah berbicara dengan siapa pun, selalu menyendiri, selalu diam. Tapi semua orang tahu bahwa ia adalah salah satu murid luar terkuat.

Mereka berdiri berhadapan di tengah arena. Mi Rae memegang sebilah pedang kayu di tangan kanannya, posturnya rendah, matanya tidak berkedip.

“Kau tidak akan membuatku menyerah,” katanya, suaranya pelan tetapi tegas.

“Aku tidak berharap kau menyerah,” kata Seol.

Mi Rae menyerang pertama.

Gerakannya berbeda dari lawan-lawannya sebelumnya. Cepat, presisi, dan ada qi yang mengalir di setiap tebasan. Seol merasakan tekanan yang berbeda—bukan tekanan fisik, tetapi tekanan qi yang mencoba mengganggu keseimbangannya.

Ia menghindar, tetapi Mi Rae tidak memberinya waktu. Serangan kedua datang sebelum ia sempat mengatur napas, diikuti serangan ketiga, keempat, kelima—kombinasi yang cepat dan tanpa jeda.

Seol mundur. Untuk pertama kalinya dalam kualifikasi ini, ia mundur lebih dari satu langkah.

Penonton mulai bergumam. Mi Rae terus menekan, pedangnya berkelebat seperti kilat, setiap tebasan diarahkan ke titik-titik vital yang jika terkena akan melumpuhkan.

Seol tidak panik. Ia mengamati pola serangan Mi Rae. Cepat, tetapi ada ritme yang berulang. Tiga tebasan cepat, satu tusukan, lalu jeda sepersekian detik untuk mengatur napas.

Ia menunggu jeda itu.

Ketika Mi Rae menarik napas setelah serangan ke-12, Seol bergerak.

Ia tidak menghindar. Ia melangkah maju, masuk ke dalam jangkauan pedang Mi Rae, dan untuk pertama kalinya dalam kualifikasi ini, ia menggunakan Teknik Pedang Bayangan.

Lima bayangan muncul dari tangannya—tidak hanya tangan, tetapi seluruh lengan, bahu, bahkan sebagian tubuhnya. Bayangan-bayangan itu bergerak ke arah yang berbeda, menciptakan ilusi bahwa Seol menyerang dari lima arah sekaligus.

Mi Rae terpaku. Matanya tidak bisa mengikuti mana yang asli dan mana yang bayangan. Pedangnya terangkat, mencoba menangkis semua arah sekaligus—tidak mungkin.

Dalam sepersekian detik itu, tangan asli Seol menyentuh pergelangan tangan Mi Rae. Sentuhan ringan, tetapi mengandung qi yang cukup untuk membuat tangannya melemah.

Pedang kayu itu jatuh.

Keheningan.

Seol menangkap pedang itu sebelum menyentuh tanah, lalu menyerahkannya pada Mi Rae dengan kedua tangan—sikap hormat yang tidak ia tunjukkan pada lawan-lawannya sebelumnya.

“Kau sangat kuat,” katanya. “Aku hanya beruntung.”

Mi Rae menerima pedang itu dengan tangan gemetar. Matanya yang tajam kini berubah—ada rasa hormat di sana, juga rasa penasaran.

“Itu… teknik apa?” tanyanya pelan.

“Teknik yang kucari sendiri,” kata Seol. Itu bukan kebohongan, tetapi juga bukan kebenaran utuh.

Mi Rae tidak memaksa. Ia mengangguk, lalu berjalan keluar dari arena dengan kepala tegak. Ia kalah, tetapi tidak hancur.

Pengawas itu mengangkat tangannya, suaranya sedikit bergetar—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Pemenang: Ryu Seol. Dengan kemenangan ini, Ryu Seol menjadi salah satu dari sepuluh murid luar yang lolos kualifikasi.”

Untuk pertama kalinya, kerumunan murid luar bersorak. Bukan sorak-sorai meriah, tetapi tepuk tangan yang tulus—pengakuan dari mereka yang menyaksikan sendiri bahwa seorang murid luar baru telah melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Seol berdiri di tengah arena, napasnya teratur, tubuhnya tidak terluka. Di sekelilingnya, puluhan pasang mata menatap dengan ekspresi yang berbeda-beda: kagum, iri, takut, hormat.

Ia tidak peduli. Yang ia pikirkan hanyalah satu hal: tiket ini adalah langkah pertamanya menuju turnamen. Dan turnamen adalah langkah pertamanya menuju ramuan itu. Dan ramuan itu adalah langkah pertamanya menuju janji pada Gu.

Ia melangkah keluar dari arena, meninggalkan kerumunan yang masih bergumam.

---

Siang Hari – Berita Menyebar

Di ruang makan murid dalam, berita itu tiba seperti gelombang.

“Kudengar ada murid luar yang menggunakan teknik aneh dalam kualifikasi.”

“Teknik apa?”

“Pedang Bayangan. Lima bayangan sekaligus. Murid senior yang mencatat pertarungan bilang itu teknik yang sudah hilang.”

“Lima bayangan? Mustahil. Murid luar tidak mungkin—”

“Dia melakukannya. Namanya Ryu Seol. Murid baru yang lulus ujian masuk beberapa bulan lalu.”

Bisik-bisik itu menyebar dari meja ke meja, dari murid ke murid, hingga akhirnya sampai ke telinga yang paling penting.

Kang Jin sedang makan di pojok ruangan ketika ia mendengar nama itu. Ia berhenti mengunyah, meletakkan sumpitnya, dan berdiri tanpa berkata apa-apa.

Ia berjalan menuju sayap timur gedung, menaiki tangga batu menuju ruangan Seol Hwa.

---

Di Ruangan Seol Hwa – Sore Hari

Seol Hwa sedang membaca laporan ketika Kang Jin masuk. Wajahnya datar seperti biasa, tetapi ada ketegangan di rahangnya yang tidak bisa ia sembunyikan.

“Dia lolos,” kata Kang Jin tanpa basa-basi. “Sepuluh besar. Mengalahkan semua lawan tanpa menggunakan pedang.”

Seol Hwa tidak mengangkat wajah dari laporannya. “Aku sudah dengar.”

“Dia menggunakan Teknik Pedang Bayangan. Di depan umum. Lima bayangan sekaligus.”

Seol Hwa akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya yang hitam pekat menatap Kang Jin dengan intensitas yang membuat murid senior itu hampir mundur selangkah.

“Lima bayangan?”

“Lima. Murid senior yang mencatat pertarungan bersumpah bahwa itu bukan ilusi biasa. Ada qi yang terpancar dari setiap bayangan. Itu adalah teknik yang… tidak mungkin dikuasai oleh murid luar.”

Seol Hwa meletakkan laporannya. Ia berdiri, berjalan ke jendela, memandang ke arah barat—ke arah asrama murid luar.

“Dia tidak hanya menguasai teknik itu,” katanya pelan. “Dia mengembangkannya. Lima bayangan dalam waktu kurang dari enam bulan sejak ia tiba di sini. Tanpa instruktur. Tanpa pedang. Hanya dengan membaca di perpustakaan dan berlatih diam-diam di hutan.”

Ia berbalik menghadap Kang Jin.

“Kau tahu apa artinya itu?”

Kang Jin menggeleng.

“Itu berarti bakatnya melampaui apa pun yang pernah kulihat di sekte ini. Termasuk diriku. Termasuk kau.” Seol Hwa tersenyum—senyum tipis yang tidak bisa diartikan. “Dia adalah mutiara yang terpendam di lumpur. Dan sekarang, lumpur itu mulai terbelah.”

Kang Jin terdiam. Ia tidak suka mendengar itu. Bukan karena ia iri, tetapi karena ia tahu apa artinya bagi Seol Hwa.

“Kau akan membantunya, ya?” tanyanya.

Seol Hwa tidak menjawab. Ia kembali ke mejanya, mengambil laporan itu, dan melanjutkan membaca.

“Kang Jin,” katanya tanpa menoleh, “mulai besok, awasi latihannya. Bukan dari kejauhan. Dekati. Tawari bantuan jika perlu. Tapi jangan terlalu jelas.”

Kang Jin mengangguk, meski ada rasa tidak nyaman di dadanya. “Kau yakin? Dia hanya murid luar. Dan turnamen masih dua setengah tahun lagi.”

“Dua setengah tahun,” ulang Seol Hwa. “Cukup waktu baginya untuk menjadi ancaman serius. Atau…” Ia berhenti sejenak. “Cukup waktu bagi musuhnya untuk menemukannya.”

“Musuhnya?”

Seol Hwa tidak menjawab. Matanya kembali ke laporan itu, tetapi pikirannya sudah jauh—jauh ke masa depan, di mana seorang pemuda kurus dengan seragam abu-abu berdiri di tengah arena turnamen, berhadapan dengan bayang-bayang masa lalunya.

Cheonmyeong. Dua setengah tahun. Dan di antara mereka, hanya satu yang akan berdiri di akhir.

Ia tersenyum. Senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

“Aku tidak sabar menunggu.”

---

Malam Hari – Di Hutan Latihan

Seol berdiri di tempat terbuka kecil di antara pepohonan, tempat yang sama di mana ia berlatih setiap malam. Di tangannya, sebatang ranting kayu keras—bukan pedang, tetapi cukup untuk berlatih.

Ia memejamkan mata. Di kepalanya, ia membayangkan pertarungan hari ini. Setiap gerakan, setiap kesalahan, setiap momen di mana ia bisa melakukan lebih baik.

Lima bayangan. Tiga puluh detik. Masih belum cukup.

Ia mengangkat ranting itu. Qi mengalir dari pusat dadanya ke ujung jari, ke ranting, ke udara di depannya.

Enam bayangan muncul. Bertahan dua puluh detik sebelum menghilang.

Enam. Lebih baik. Tapi masih jauh dari yang kubutuhkan.

Ia mengulanginya. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Di kejauhan, di balik pepohonan, sepasang mata mengamatinya. Bukan mata Seol Hwa. Bukan mata Kang Jin.

Mata itu milik seorang pria tua dengan jubah abu-abu lusuh, berdiri diam di antara pepohonan, tidak bergerak, tidak bernapas—seperti bagian dari hutan itu sendiri.

Ia tersenyum. Senyum yang familiar—senyum yang sama seperti yang ia tunjukkan pada Seol di tepi sungai, sebelum memberikan peta menuju Gunung Cheongmyeong.

“Anak ini,” bisiknya, suaranya hanya terdengar oleh dirinya sendiri. “Dia benar-benar tumbuh.”

Ia melangkah mundur, menghilang ke dalam kegelapan, meninggalkan Seol yang terus berlatih tanpa menyadari bahwa ia telah diamati.

Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan—denyut yang terasa seperti kebanggaan.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!