Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.
Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.
Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.
Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah Melodi tertidur kembali di dalam gendongannya, Arsyi memutuskan untuk membawanya berjalan-jalan sebentar di sekitar komplek perumahan. Udara pagi yang segar diharapkan dapat memberikan ketenangan sekaligus kesempatan baginya untuk mulai mengenal lingkungan baru.
Dengan mengenakan gaun sederhana dan menggendong Melodi menggunakan baby carrier, Arsyi melangkah keluar rumah. Beberapa tetangga yang sedang berolahraga pagi tampak saling menyapa dengan ramah.
Seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat mendekatinya. “Selamat pagi. Sepertinya kita belum pernah bertemu sebelumnya.”
Arsyi membalas senyum tersebut dengan sopan. “Selamat pagi, Bu. Perkenalkan, saya Arsyi, penghuni baru di rumah Pak Harsa.”
Wanita itu tampak terkejut sejenak sebelum akhirnya tersenyum lebih lebar. “Oh, jadi Anda istri baru Pak Harsa? Saya Lina, tetangga sebelah rumah.”
Arsyi mengangguk pelan. “Iya, Bu Lina. Senang bisa berkenalan.”
Pandangan Bu Lina kemudian tertuju pada bayi yang digendong Arsyi. “Lucu sekali bayinya. Ini pasti Melodi, ya? Kami semua sangat berduka atas kepergian Ibu Nadin.”
Mendengar nama kakaknya disebut, Arsyi menunduk sejenak sebelum menjawab dengan lembut, “Terima kasih, Bu. Kami juga masih sangat merindukannya.”
Tak lama kemudian, dua wanita lain bergabung dalam percakapan tersebut. Salah satunya, Bu Rani, menyapa dengan nada ramah namun penuh rasa ingin tahu.
“Pak Harsa memang jarang terlihat akhir-akhir ini. Kami sempat mendengar kabar tentang pernikahan ini, tapi belum sempat bertemu langsung dengan Anda.”
Arsyi tetap menjaga senyum sopannya. “Iya, Bu. Kami baru saja menikah beberapa waktu lalu. Tepatnya kemarin,”
Bu Rani mengangguk, lalu berkata dengan nada hati-hati, “Semoga Anda betah tinggal di sini. Lingkungan kami cukup nyaman dan saling mendukung.”
“Terima kasih banyak, Bu. Saya berharap bisa menyesuaikan diri dengan baik,” jawab Arsyi.
Namun, di balik keramahan tersebut, Arsyi dapat merasakan sorot mata penasaran dari beberapa tetangga. Ia memahami bahwa pernikahannya dengan Harsa, yang merupakan iparnya sendiri dan tentu menjadi bahan pembicaraan di lingkungan sekitar. Meski demikian, ia memilih untuk tidak mempermasalahkannya dan tetap bersikap tenang.
Bu Lina kemudian berkata dengan hangat, “Jika Anda membutuhkan bantuan apa pun, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami semua di sini seperti keluarga.”
Arsyi tersenyum tulus. “Terima kasih, Bu. Saya sangat menghargainya.”
Udara pagi di lingkungan perumahan Pratama terasa sejuk dan menenangkan. Setelah berbincang dengan beberapa tetangga, Arsyi berpamitan dengan senyum sopan. Melodi yang berada dalam gendongannya tampak tertidur dengan tenang, wajah mungilnya terlihat damai di bawah lindungan kain penutup baby carrier.
“Terima kasih, Bu Lina. Saya pamit dulu,” ujar Arsyi dengan lembut.
“Iya. Semoga Melodi selalu sehat,” balas Bu Lina dengan ramah.
Arsyi mengangguk dan mulai melangkah menjauh, meninggalkan kerumunan kecil para ibu yang masih melanjutkan aktivitas pagi mereka. Namun, belum jauh ia berjalan, suara bisik-bisik pelan mulai terdengar di belakangnya.
Salah satu ibu berbisik dengan nada yang cukup jelas, “Anak zaman sekarang memang begitu, ya. Bayi baru sepuluh hari sudah diajak keluar rumah. Tidak becus merawat bayi.”
Ibu lain menimpali dengan nada yang sedikit lebih lunak, “Mungkin saja dia ingin menjemur bayinya. Kata orang tua dulu, bayi memang perlu terkena sinar matahari pagi.”
“Menjemur bayi juga ada waktunya,” sahut ibu pertama. “Kalau terlalu muda dibawa keluar, kan kasihan. Apalagi ini anak kakaknya, pasti belum berpengalaman.”
Meskipun Arsyi telah melangkah cukup jauh, bisikan-bisikan itu tetap terdengar jelas di telinganya. Langkahnya seketika melambat, dan senyum yang sebelumnya menghiasi wajahnya perlahan memudar. Dadanya terasa sesak.
Ia menunduk, menatap Melodi yang masih tertidur pulas di dalam gendongannya. Tidak ada sedikit pun niat buruk dalam tindakannya. Ia hanya ingin menghirup udara segar sekaligus memperkenalkan diri kepada lingkungan sekitar. Namun, penilaian orang lain tetap saja mampu menyisakan luka di hatinya.
“Apakah aku melakukan kesalahan?” gumamnya lirih.
Arsyi mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin larut dalam kesedihan atau kemarahan. Bagaimanapun juga, ia memahami bahwa para tetangga mungkin hanya menyampaikan kekhawatiran berdasarkan pengalaman mereka.
Namun, sebagai seorang wanita yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan peran barunya, ucapan tersebut tetap terasa menyakitkan.
Sesampainya di rumah, Arsyi langsung menuju kamar Melodi. Dengan hati-hati, ia melepaskan baby carrier dan membaringkan bayi kecil itu di dalam boksnya. Melodi sedikit menggeliat sebelum kembali tertidur dengan damai.
Arsyi duduk di tepi tempat tidur, menatap wajah mungil tersebut dengan perasaan campur aduk. Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
“Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu,” bisiknya pelan. “Maaf jika aku masih banyak belajar.”
Tak lama kemudian, Mbak Sari masuk ke dalam kamar setelah melihat Arsyi kembali dari luar.
“Bu Arsyi, apakah semuanya baik-baik saja?” tanyanya dengan penuh perhatian.
Arsyi tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan perasaannya. “Iya, Mbak. Semuanya baik-baik saja.”
Namun, Mbak Sari yang peka terhadap perubahan ekspresi itu tidak sepenuhnya percaya. “Ibu terlihat sedikit sedih. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Arsyi terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan jujur, “Tadi saya mendengar beberapa tetangga berbisik. Mereka mengatakan bahwa saya tidak becus merawat bayi karena membawa Melodi keluar rumah.”
Mbak Sari menghela napas pelan. “Ah, Ibu tidak perlu terlalu memikirkannya. Orang-orang kadang berbicara tanpa benar-benar memahami situasinya. Justru sinar matahari pagi sangat baik untuk bayi, selama tidak terlalu lama.”
Arsyi mengangguk pelan. “Saya hanya takut melakukan kesalahan.”
“Ibu sudah melakukan yang terbaik,” lanjut Mbak Sari dengan meyakinkan. “Melodi terlihat sangat sehat dan nyaman bersama Ibu. Itu sudah menjadi bukti bahwa Ibu merawatnya dengan penuh kasih.”
Mendengar kata-kata tersebut, hati Arsyi terasa sedikit lebih tenang. Ia menatap Melodi sekali lagi, lalu mengusap lembut tangan kecil bayi itu.
“Terima kasih, Mbak,” ucapnya tulus.
Setelah Mbak Sari keluar dari kamar, Arsyi tetap duduk di sana, merenungkan setiap kejadian yang ia alami. Ia menyadari bahwa perjalanan hidupnya tidak akan selalu mudah. Akan selalu ada penilaian dan komentar dari orang lain, namun ia tidak boleh membiarkan hal tersebut menggoyahkan tekadnya.
Dengan menguatkan hati, Arsyi berbisik pelan, “Aku akan terus belajar dan menjadi lebih baik. Demi kamu, Melodi.”
caramu sungguh busuk, Ran
kalo sampe kena berarti oblod sih 😂😂