Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Matahari pagi mulai menyinari halaman sekolah yang mulai ramai. Suasana di depan gerbang terlihat sangat sibuk dengan lalu lintas orang tua yang mengantar anaknya, serta suara tawar-menawar dengan para pedagang jajanan yang berjejer rapi.
Arhan mengendarai motornya memperlambat lajunya hingga berhenti di sisi jalan yang aman.
Ia mematikan mesin, lalu dengan hati-hati turun dan berjalan ke sisi lain untuk membantu putranya, Arka, turun dari jok motor.
"Makasih banyak, Yah," ucap Arka pelan dengan suara manja namun terdengar lemah.
Kaki kecilnya yang tidak sama membuat langkahnya tertatih dan pincang. Namun, semangat anak itu tidak luntur.
Begitu kaki menyentuh aspal, ia mencoba berjalan agak cepat, bahkan hampir berlari, menuju ke arah gerobak penjual roti coklat yang menjadi favoritnya. Matanya berbinar-binar penuh harap.
Namun, kebahagiaan itu seketika terhenti saat sekelompok anak laki-laki yang sedang berdiri tidak jauh dari sana.
"EH... LIHAT TUH! SI PINCANG DATANG!" teriak salah satu dari mereka, seorang anak laki-laki bernama Yoga.
"HAHAHA! SI PINCANG! SI PINCANG!" teriak anak-anak itu serempak sambil menunjuk-nunjuk.
"JALAN AJA NGGAK BENER, MIRING GITU! MENDINGAN PULANG SAJA DEH KE RUMAH, NGAPAIN KE SEKOLAH? MALU-MALUIN AJA LIATNYA!" kata seorang siswa itu.
Mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan ada yang menirukan cara berjalan Arka dengan sangat konyol dan menyedihkan.
Mendengar itu, darah di tubuh Arhan seakan mendidih seketika. Ia tidak bisa menahan amarah yang luar biasa.
Tanpa ragu sedikitpun, Arhan langsung melangkah lebar, memasang badan di depan anaknya untuk melindunginya, dan menatap tajam ke arah anak-anak pembully itu.
"HEH! KALIAN SEMUA! DIAM KALIAN!" bentak Arhan dengan suara berat dan menggelegar.
Anak-anak itu langsung kaget dan diam seribu bahasa, mundur selangkah karena takut melihat aura marah pria itu.
"Kecil-kecil sudah pandai sekali menghina orang lain ya? Apa ajaran orang tua kalian begitu? Menganggap diri sendiri paling hebat dan sempurna, lalu seenaknya merendahkan orang yang punya kekurangan?" hardik Arhan dengan mata melotot.
"Ingat ya! Jangan pernah kalian merasa paling benar atau paling bagus! Dan ingat ini, ini anak saya! Kalau kalian berani mengejeknya atau menyakitinya sekali lagi, awas saja kalian! Saya tidak akan segan-segan bertindak!" kata Arhan tegas.
Yoga justru melakukan trik lama yang sering dilakukan anak manja. Ia langsung membuang muka, membusungkan dadanya, dan menangis sekeras-kerasnya seolah-olah ia adalah korban yang paling disakiti.
"HUAAAAAA!!! HUAAAA!!! TAKUT!!"
Tangisan itu sangat keras hingga langsung menarik perhatian seorang wanita yang sedang berdiri di dekat mobil mewahnya.
Itu adalah ibunya, Bu Siska. Wanita itu langsung berlari mendekat dengan wajah panik dan cemas.
"Yoga! Sayangku! Kenapa kamu nangis?! Siapa yang berani nakalin kamu?!" tanya Bu Siska sambil memeluk tubuh anaknya erat-erat.
"Hu hu hu... Ma... Paman itu... Paman itu marah-marah sama aku! Dia teriak-teriak kencang banget! Aku jadi takut!" rengek Yoga sambil menunjuk kasar jari telunjuknya ke arah Arhan.
Mendengar itu, emosi Bu Siska langsung meledak bak gunung berapi. Ia menatap Arhan dengan tatapan tajam menusuk, penuh dengan kebencian dan kesombongan.