NovelToon NovelToon
Istri Bayaran Ceo Tampan

Istri Bayaran Ceo Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Khusus Dewasa 📌

"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."

Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.

Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Malam telah larut ketika suara pintu kamar utama terbuka dengan sentakan yang tidak biasa, menghancurkan keheningan yang menyelimuti kediaman Satrya. Calista, yang baru saja selesai mengoleskan losion ke tubuhnya, tersentak di depan meja rias yang diterangi lampu temaram. Ia hanya mengenakan slip dress sutra tipis berwarna gading dengan potongan dada rendah dan tali bahu yang halus sebuah pakaian yang seharusnya hanya menjadi teman tidurnya dalam kesunyian kamar yang luas itu. Kulitnya yang mulus terpantul di cermin, kontras dengan suasana mencekam yang tiba-tiba masuk melalui pintu.

Denis melangkah masuk, namun penampilannya jauh dari kesan rapi dan terkendali yang biasanya ia banggakan. Jas mahalnya sudah entah terlempar ke mana, kemeja putihnya terbuka di tiga kancing teratas, dan seluruh tubuhnya tampak dibasahi keringat dingin hingga kain tipis itu melekat transparan pada otot dadanya yang bidang. Wajahnya memerah padam, dan deru napasnya terdengar berat serta pendek-pendek, memenuhi ruangan dengan aura predator yang sedang terluka.

"Mas Denis? Mas kenapa? Wajahmu merah sekali," tanya Calista cemas sembari berdiri menghampiri, kakinya yang jenjang melangkah ragu di atas karpet bulu yang tebal.

Denis tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kayu jati, tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat di lengannya menonjol tajam. Matanya yang biasanya tajam seperti elang dan penuh perhitungan, kini berkilat dengan gairah yang liar, asing, dan berbahaya. Rupanya, di jamuan lembur bersama para kolega tadi, seseorang telah menyisipkan sesuatu ke dalam minumannya obat perangsang dengan dosis yang cukup tinggi untuk meruntuhkan pertahanan pria mana pun, sekuat apa pun mentalnya.

Calista mendekat dengan hati yang berdebar kencang, berniat menyentuh dahi Denis untuk memeriksa suhunya yang tampak tidak wajar. Namun, begitu jemarinya nyaris menyentuh kulit Denis, pria itu tersentak dan justru menarik pergelangan tangan Calista dengan kasar, menyentakkannya hingga tubuh wanita itu membentur dadanya yang bidang dan keras.

"Jangan... jangan sentuh aku dulu, Calista," geram Denis dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan, seolah-olah setiap kata yang ia ucapkan adalah sebuah beban yang berat.

Napas panas Denis yang berbau alkohol tipis dan aroma maskulin yang kuat menerpa leher Calista, membuat bulu kuduknya merinding seketika. Meskipun dalam pengaruh obat yang mengaburkan logika, Denis memiliki prinsip yang sangat teguh dan mendarah daging. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menyentuh Calista dalam keadaan sadar sepenuhnya, karena ia ingin Calista menjadi miliknya melalui keinginan bersama, bukan karena dorongan kimiawi yang kotor dan tidak terhormat. Baginya, menyentuh Calista sekarang adalah sebuah penghinaan terhadap harga dirinya sendiri.

"Mas, tubuhmu panas sekali seperti terbakar. Biar aku panggilkan dokter pribadi sekarang," bisik Calista panik, namun ia juga terpaku melihat betapa rentannya pria perkasa di depannya ini. Ia bisa merasakan jantung Denis yang berdegup kencang di balik kemejanya yang basah kuyup.

Denis kehilangan kendali sejenak saat aroma vanila yang manis dari kulit Calista merasuki indranya. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Calista, menghirup dalam-dalam wangi itu hingga membuat kepalanya semakin pening. Ia mulai mencumbu leher Calista dengan rakus, memberikan kecupan-kecupan panas yang meninggalkan tanda kemerahan di kulit putih istrinya. Tangannya meremas pinggang Calista dengan posesif, menariknya semakin rapat seolah ingin menyatukan tubuh mereka saat itu juga. Calista hanya bisa terkesiap, tangannya meremas kemeja Denis yang lembap oleh peluh, antara ingin menolak namun juga merasa terikat oleh dominasi pria itu.

Namun, tepat sebelum keadaan menjadi benar-benar tak terkendali dan menghancurkan batasan yang ada, Denis mendorong Calista menjauh dengan sisa-sisa kewarasannya yang terakhir. Ia mengerang kesakitan, memegangi kepalanya seolah sedang bertarung dengan monster kelaparan di dalam dirinya sendiri. Keringat bercucuran dari pelipisnya, jatuh ke lantai satu per satu.

"Mas?" Calista gemetar, suaranya nyaris hilang. Ia menatap Denis dengan bingung, takut, sekaligus iba melihat suaminya yang tampak sangat tersiksa.

"Tuntun aku... ke kamar mandi. Sekarang juga!" perintah Denis dengan nada bicara yang patah-patah dan penuh tekanan.

Calista yang masih dilingkupi kebingungan segera memapah tubuh Denis yang terasa sangat panas, seolah ia sedang menyentuh bara api. Setiap sentuhan fisik yang terjadi selama perjalanan singkat itu membuat Denis mengerang frustrasi, giginya bergemeretak menahan gejolak yang meledak-ledak di dalam darahnya. Ia terus memaksakan kakinya yang limbung untuk melangkah menuju kamar mandi utama yang luas dan mewah.

Begitu sampai di ambang pintu kamar mandi, Denis melepaskan diri dari paparan Calista dengan sentakan kecil dan masuk ke dalam dengan langkah yang tidak stabil. Ia bersandar pada wastafel marmer dingin, menatap pantulan dirinya yang kacau, berantakan, dan penuh gairah di cermin besar.

"Keluar, Calista. Kunci pintunya dari luar... dan jangan berani buka sampai aku memintanya besok pagi," ucap Denis tanpa menoleh. Suaranya terdengar seperti sebuah permohonan yang menyakitkan sekaligus perintah mutlak yang tak boleh dibantah.

"Tapi Mas, bagaimana kalau terjadi sesuatu di dalam? Kau tampak sangat sakit," tanya Calista dengan mata berkaca-kaca.

"Kunci, Calista! Sekarang!" bentak Denis dengan sisa tenaganya, tangannya menghantam wastafel hingga menimbulkan bunyi dentuman yang keras.

Calista tertegun, bahunya sedikit berjingkat karena kaget. Ia menyadari sepenuhnya betapa besarnya usaha Denis untuk menghargainya sebagai wanita dan istri malam itu. Pria itu menolak untuk mengambil jalan pintas yang mudah demi menjaga integritas hubungan mereka. Dengan tangan yang masih gemetar hebat, Calista melangkah mundur keluar dari kamar mandi dan memutar anak kunci dari luar sesuai perintah yang diberikan.

Begitu pintu jati itu terkunci rapat, Calista mendengar suara shower dinyalakan dengan tekanan penuh. Air dingin langsung mengguyur lantai marmer.

Calista menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang kokoh itu, perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Dari balik pintu, ia bisa mendengar suara air yang menghantam lantai dengan keras, diikuti oleh erangan tertahan dan sesekali suara hantaman tangan ke dinding dari Denis yang sedang mencoba mendinginkan darahnya yang mendidih di bawah guyuran air es di tengah malam yang sunyi.

Calista memeluk lututnya sendiri, wajahnya ia sembunyikan di sana. Ia merasa bingung, takut, sekaligus tersentuh secara mendalam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di balik segala kedinginan, sikap posesif, dan aturan ketatnya, Denis Satrya ternyata adalah pria yang memiliki kehormatan luar biasa. Pria itu lebih memilih menyiksa dirinya sendiri dalam kedinginan malam daripada harus mengambil haknya atas tubuh Calista dalam keadaan yang tidak benar-benar sadar.

Malam itu, di kediaman Satrya yang megah, keheningan hanya dipecah oleh suara deru air di kamar mandi dan detak jantung Calista yang kian kencang serta tak beraturan. Calista menyadari bahwa malam ini, hubungannya dengan Denis telah melewati batas sekadar kesepakatan tertulis; ada sesuatu yang jauh lebih emosional, berbahaya, dan sekaligus indah yang sedang tumbuh di antara mereka. Ia tetap setia berjaga di depan pintu yang terkunci itu, mendengarkan perjuangan suaminya yang menolak menjadi budak nafsu demi menghormati keberadaan dirinya.

Please komen dan like🙏🙏❤❤ 🥰📌

1
Blu Lovfres
cinta sudah hadir cuman belum menyadari nya aja,baik denis maupun callista
Blu Lovfres
apa alasannya denis begitu lemah dn tetap diam, dgn kelakuan ibu tirinya dn adik tirinya
Blu Lovfres
semua novel mu sangat sangat bagus thor👍👍
Blu Lovfres
pemeran denis sangat col
Blu Lovfres
best banget denis
Blu Lovfres
tetaplah seperti itu callista
Blu Lovfres
tetap semangat thor 💪💪💪
Blu Lovfres
orang seperti callista jg berbahaya jg ,dgn kecerbohannya yg merasa, pede ,ga enakan,sok kuat sok baik dgn perasaan nya sendiri,
Blu Lovfres
siapa yg menabur orang itu sendiri yg menuainya😁
Blu Lovfres
ceyeeeee😁 kuncup putik bunga sudah mulai tumbuh di taman hati sang ceo😁😁😁
Blu Lovfres
👍👍👍💪
Blu Lovfres
so sweet 😘😘😘
Ainun Mahya
novel sebagus ini baru aku baca😍😍😍, tetap semangat menulis thor
Ainun Mahya
good
Blu Lovfres
👍👍💪
Blu Lovfres
good job callista 👍
Blu Lovfres
👍👍👍😘😘😘
Blu Lovfres
seharusnya callista tu bertemu denis suatu rejeki dn keberkahan
Blu Lovfres
sekalian aja tu susinya😁😁
Blu Lovfres
salah besar lo ,mengangap denis tidak tau apa-apa 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!