Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: BADAI DIGITAL DI NEGERI SINGA
Guncangan ringan pada kabin jet pribadi Al-Ghifari Group membangunkan Aaliyah dari lamunan panjangnya. Di luar jendela oval kecil itu, lampu-lampu kota Singapura mulai terlihat seperti hamparan berlian yang berserakan di atas beludru hitam. Namun, bagi Aaliyah Humaira, kemilau itu tidak sedikit pun mengurangi kegelapan yang menyelimuti hatinya. Ia merapatkan mukena dan niqab yang masih melekat erat, mencari kehangatan di tengah dinginnya AC kabin yang seolah menusuk hingga ke tulang.
(Batin Aaliyah: Ya Allah... hamba telah sampai di tanah asing. Sejauh ini hamba berlari, namun bayang-bayang fitnah itu seolah tetap mengekor di belakang. Aku meninggalkan Indonesia sebagai seorang buronan, seorang pendosa di mata manusia, dan seorang anak yang tak berdaya saat ayahnya sekarat. Apakah ini jalan yang Engkau ridai? Pergi bersama pria yang dulu menghinaku dengan kata-kata paling keji, namun kini menjadi satu-satunya pelindungku? Zayn... siapa sebenarnya kau? Mengapa di saat duniaku runtuh, tanganmu yang dingin justru terasa paling kokoh untuk kugenggam?)
Aaliyah melirik ke arah kursi di seberangnya. Zayn Al-Fatih masih terpaku pada layar laptopnya. Cahaya biru dari monitor memantul di wajahnya yang tegas, menonjolkan rahangnya yang kokoh dan kerutan di dahinya yang menyiratkan beban pikiran yang luar biasa. Zayn tidak bersuara sejak satu jam lalu, namun setiap ketukan jarinya di atas keyboard terasa seperti genderang perang yang siap ditabuh.
(Zayn membatin: Tidurlah, Aaliyah... atau siapa pun kau di balik kain hitam itu. Berhentilah menatap kegelapan di luar sana dengan mata yang begitu penuh duka. Setiap kali aku melihat bahumu yang bergetar karena tangis yang kau sembunyikan, hatiku terasa seperti dicengkeram tangan besi. Mengapa aku harus merasa sesakit ini? Padahal aku telah bersumpah untuk tidak pernah lagi peduli pada wanita, apalagi wanita yang membawa-bawa simbol agama. Tapi kau... kau berbeda. Kau adalah teka-teki yang paling ingin kupelajari, sekaligus harta yang paling ingin kulindungi. Sabrina... kau telah membangunkan singa yang salah. Jika kau berani menyentuhnya lagi, aku bersumpah akan meratakan duniamu hingga tak bersisa.)
Zayn mendongak, menyadari Aaliyah sedang memperhatikannya. Mata mereka bertemu sejenak—sebuah pertemuan dua pasang mata yang sama-sama menyimpan luka, namun kini dipaksa untuk saling percaya.
"Minumlah susumu, Aaliyah. Sudah dingin," ucap Zayn dengan nada yang mencoba terdengar kaku, namun gagal menyembunyikan nada khawatir.
"Terima kasih, Zayn. Saya hanya... belum merasa haus," jawab Aaliyah pelan. Suaranya serak, sisa dari tangisnya di ruang rahasia tadi.
"Kau butuh tenaga. Besok pagi, perang yang sesungguhnya baru akan dimulai di 'The Ark'. Aku tidak ingin partner IT-ku tumbang hanya karena kurang nutrisi," Zayn menutup laptopnya dan berdiri, mendekati kursi Aaliyah untuk memastikan selimut yang menutupi kaki wanita itu tetap rapi.
Begitu mendarat di Seletar Airport melalui jalur VIP, mereka langsung dijemput oleh tiga mobil SUV hitam yang dijaga ketat oleh tim keamanan profesional Singapura. Perjalanan menuju pusat kota Marina Bay berlangsung dalam diam. Singapura yang teratur dan modern terlihat sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di Jakarta.
Mereka tiba di sebuah kondominium mewah yang menjulang tinggi, menghadap langsung ke arah Garden by the Bay. Di lantai paling atas, Zayn memiliki sebuah unit penthouse dua lantai yang dikenal di kalangan terbatas sebagai "The Ark"—sebuah benteng digital yang dilengkapi dengan sistem keamanan militer.
"Selamat datang di tempat persembunyianku," ucap Zayn saat pintu lift pribadi terbuka langsung ke dalam ruangan luas yang didominasi kaca.
Aaliyah terpana. Di lantai atas kondominium itu, terdapat sebuah ruangan laboratorium IT yang sangat mutakhir. Deretan monitor melengkung berukuran raksasa, server-server yang berkedip di balik dinding kaca, dan peralatan peretasan yang bahkan belum pernah Aaliyah lihat sebelumnya.
(Batin Aaliyah: Ini luar biasa... Zayn ternyata jauh lebih siap dari yang kubayangkan. Dia bukan sekadar CEO yang mengandalkan uang, dia adalah seorang arsitek strategi. Dengan peralatan ini, aku bisa menembus dinding pertahanan perbankan paling ketat sekalipun. Tunggu saja, Rian... kau pikir kau adalah peretas terbaik? Kau belum pernah bertemu dengan seorang Hafizah yang sedang memperjuangkan kehormatan ayahnya.)
"Kau bisa istirahat tiga jam, atau kita mulai sekarang?" tanya Zayn, meletakkan jasnya di kursi.
"Sekarang," jawab Aaliyah mantap. Ia tidak ingin membuang waktu sedetik pun. Setiap menit yang berlalu adalah menit di mana ayahnya masih dianggap sebagai orang tua dari seorang pezina, dan itu menyayat batinnya.
Aaliyah duduk di kursi kerja utama. Jemarinya yang ramping mulai menari di atas keyboard mekanik. Suara klik-klik yang berirama mengisi ruangan sunyi itu. Zayn berdiri di belakangnya, memperhatikan setiap baris kode yang muncul di layar dengan kekaguman yang sulit disembunyikan.
(Zayn membatin: Luar biasa... dia tidak butuh waktu untuk beradaptasi. Jemarinya seolah sudah menyatu dengan mesin ini. Lihatlah tatapan matanya... begitu tajam, begitu fokus. Di balik cadar itu, tersimpan kecerdasan yang bisa mengguncang bursa saham dunia jika ia mau. Mengapa dunia harus membuang permata seperti ini ke dalam selokan fitnah? Aku bersumpah, siapa pun yang bertanggung jawab atas foto-foto palsu itu, aku akan memastikan mereka memohon kematian sebagai bentuk pengampunan.)
"Zayn, saya sudah masuk ke server pribadi Rian," bisik Aaliyah. Napasnya memburu. "Dia sangat ceroboh. Dia pikir karena dia menggunakan jalur enkripsi berlapis, dia tidak bisa dilacak. Tapi dia lupa meninggalkan 'pintu belakang' untuk dirinya sendiri, dan aku menemukannya."
Aaliyah membuka sebuah folder tersembunyi berjudul "Project Black Swan". Di dalamnya, terdapat rekaman suara percakapan antara Rian dan Sabrina. Aaliyah menekan tombol play.
Suara Sabrina yang melengking terdengar memenuhi ruangan: “Rian, pastikan bukti transfer dari Yayasan Al-Azhar ke rekening pribadi Zayn terlihat sangat nyata. Aku ingin polisi menangkapnya saat dia sedang bersama pelayan ninja itu. Dan pastikan berita kematian Aaliyah Humaira naik di semua portal berita pagi ini. Orang mati tidak bisa membela diri, dan tanah pesantren itu akan segera menjadi milik papaku untuk dibangun Kasino dan Resort mewah!”
DEGG!
Seluruh tubuh Aaliyah membeku. Gelas air yang ada di sampingnya tersenggol hingga jatuh dan pecah berkeping-keping. Air matanya meledak seketika, membasahi kain niqabnya.
(Batin Aaliyah menjerit: Kasino?! Ya Allah... mereka ingin membangun tempat maksiat di atas tanah tempat santri-santri menghafal kalam-Mu! Mereka ingin mengotori tanah suci pesantren kami dengan judi dan khamr! Betapa iblisnya mereka... mereka memfitnahku dengan tuduhan zina agar mereka bisa membangun tempat zina yang sebenarnya! Ayah... maafkan hamba... hamba tidak berdaya melindungi rumah-Mu...)
"Zayn... mereka... mereka sangat jahat..." isak Aaliyah, bahunya berguncang hebat.
Zayn mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Amarah yang membara di matanya sanggup membakar apa pun yang ia lihat. Tanpa sadar, Zayn berlutut di samping kursi Aaliyah, menggenggam kedua tangan wanita itu yang sedang gemetar hebat.
"Dengar aku, Aaliyah!" suara Zayn berat dan penuh penekanan. "Tatap aku!"
Aaliyah mendongak dengan mata yang sembab.
"Aku bersumpah demi nyawaku dan nama besar keluargaku. Tanah itu tidak akan pernah disentuh oleh tangan kotor mereka. Aku akan membeli seluruh aset yayasan itu melalui jalur hukum internasional jika perlu, dan aku akan mewakafkannya kembali atas namamu dan ayahmu. Kita akan membangun kembali pesantren itu, lebih besar, lebih mulia. Tapi sekarang, aku butuh kau kuat! Aku butuh otakmu untuk menghancurkan mereka secara finansial. Bisakah kau melakukannya?"
(Zayn membatin: Aku tidak tahan melihatnya hancur seperti ini. Mengapa setiap tetes air matanya terasa seperti asam yang membakar kulitku? Aku ingin memeluknya, menenangkannya, dan mengatakan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Tapi aku tahu, pelukan bukan yang ia butuhkan sekarang. Ia butuh keadilan. Dan aku akan menjadi tangan kanan keadilan itu baginya.)
Aaliyah menarik napas panjang, mencoba menstabilkan emosinya. Ia menghapus air matanya dengan kasar di balik cadar. "Saya bisa, Zayn. Saya akan melakukannya."
Selama sisa malam itu, Aaliyah bekerja seperti kesurupan. Ia meretas sistem perbankan internal Baskoro Group, mencari aliran dana mencurigakan. Dan ia menemukannya—sebuah transfer sebesar sepuluh miliar rupiah kepada seorang perwira menengah kepolisian di Jakarta dan tiga orang staf ahli pengadilan.
"Dapat," gumam Aaliyah. "Ini bukti suapnya. Dan lihat ini, Zayn... ini adalah log aktivitas perangkat lunak AI yang mereka gunakan untuk membuat foto fitnah itu. Mereka menggunakan wajah saya dari video wisuda saya tahun lalu dan menggabungkannya dengan tubuh orang lain di sebuah hotel di Singapura! Ironisnya, mereka melakukannya di hotel yang bisa kita lihat dari jendela ini!"
Zayn melihat layar yang menunjukkan data koordinat pembuatan file tersebut. Kemarahan Zayn kini berubah menjadi senyuman licik yang sangat menakutkan.
"Mereka menggunakan hotel di Singapura untuk membuat fitnah itu? Bagus. Itu artinya, kejahatan ini terjadi di yurisdiksi Singapura juga. Aku bisa melaporkan mereka ke kepolisian Singapura pagi ini atas tuduhan kejahatan siber internasional. Mereka tidak tahu betapa ketatnya hukum di sini," ucap Zayn puas.
Zayn menatap Aaliyah dengan bangga. "Kau melakukannya, Aaliyah. Kau baru saja memberikan senjata pemusnah massal untuk menghancurkan mereka."
Aaliyah menyandarkan punggungnya, merasa sangat lelah namun sedikit lega. Ia melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul empat pagi waktu Singapura. Suara azan subuh mulai terdengar sayup-sayup dari masjid di sekitar area Kampong Glam yang tak jauh dari sana.
"Zayn, saya harus salat subuh dulu," ucap Aaliyah pelan.
"Silakan. Ada ruang salat kecil di sebelah kamarmu. Aku akan menunggumu di sini untuk menyusun draf laporan ke pengacara," jawab Zayn.
Saat Aaliyah beranjak pergi, Zayn memanggilnya sekali lagi.
"Aaliyah?"
Aaliyah berhenti dan menoleh.
"Terima kasih. Karena tidak menyerah semalam di kolam itu. Jika kau menyerah, aku mungkin tidak akan pernah tahu bahwa kebenaran itu masih ada di dunia ini."
(Batin Aaliyah: Zayn... mengapa kata-katamu selalu membuat jantungku berdetak tak karuan? Apakah ini ujian hati? Hamba baru saja kehilangan segalanya, namun mengapa di dekat pria sombong ini, hamba merasa seolah-olah hamba sedang menemukan sesuatu yang baru? Ya Allah, lindungilah hati hamba agar tidak salah dalam menaruh rasa.)
Di bawah cahaya fajar Singapura, sebuah aliansi yang mustahil telah terbentuk dengan kuat. Seorang CEO yang skeptis dan seorang Hafizah yang terbuang, kini berdiri bersama untuk meruntuhkan kerajaan dusta. Di Jakarta, Sabrina dan Baskoro mungkin sedang bersulang merayakan "kematian" Aaliyah, tanpa menyadari bahwa badai dari Singapura sedang bersiap untuk menyapu bersih seluruh hidup mereka dalam hitungan jam.
(Zayn membatin: Selamat tidur sejenak, permaisuriku yang terbuang. Besok pagi, kau akan melihat bagaimana aku menghancurkan mereka yang telah berani menyentuh harga dirimu. Aku tidak akan membiarkanmu menangis lagi. Tidak akan pernah.)
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji