"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Mandiri dan Bayang Masa Lalu
POV Zhira
Hidup di kontrakan sendiri memberiku kebebasan yang selama ini hanya bisa kuimpikan dalam diam. Setiap pagi, aku bangun dengan tenang, tidak ada teriakan yang membangunkan dengan kasar, tidak ada tuntutan yang menunggu di depan pintu. Aku bisa menata hari sesuai ritme yang kuinginkan.
Kontrakan kecil itu kuberikan sentuhan hangat. Dinding yang polos kuhiaskan dengan rak-rak buku sederhana dan beberapa tanaman hias murah yang kubeli di pinggir jalan. Kamar ini bukan sekadar tempat tidur, tapi menjadi pelindung jiwaku. Di sini, aku bisa menangis sepuasnya, tertawa sendiri, atau hanya diam merenung tanpa takut dihakimi.
Pekerjaanku di kantor berjalan sangat lancar. Kecerdasanku dalam menganalisis sesuatu dan ketelitianku dalam menulis membuatku disukai oleh atasan. Gajiku pun naik berkali-kali lipat dari awal. Uang yang masuk setiap bulannya jumlahnya cukup besar, cukup untuk membuat hidupku nyaman, dan masih sangat banyak untuk dikirim ke rumah.
Namun, kenyamanan finansial ini justru membawa masalah baru. Permintaan dari rumah semakin lama semakin tidak masuk akal.
Suatu sore, saat sedang bersantai setelah seharian bekerja keras, telepon genggamku berdering. Nama Ibu Zainal terpampang di layar. Jantungku berdegup sedikit lebih kencang, kebiasaan lama yang sulit hilang.
"Halo, Assalamu’alaikum, Bu," sapaku lembut.
"Wa’alaikumsalam. Zhira, Ibu butuh uang lima juta bulan ini," suara Ibu terdengar datar dan langsung pada intinya, tanpa basa-basi menanyakan kabar atau kesehatanku.
Aku tertegun sejenak. Lima juta? Itu jumlah yang sangat besar.
"Lima juta, Bu? Untuk apa sebanyak itu? Keperluan apa yang mendadak begitu?" tanyaku hati-hati, berusaha tidak terdengar menuntut tapi ingin tahu.
"Buat bayar utang sama tetangga, terus Bimo mau beli sepeda motor baru biar bisa berangkat sekolah sendiri. Lagian kamu kan sekarang gajinya besar, kerja di kantoran enak, masa segitu aja susah? Jangan pelit dong sama adik sendiri! Kamu kan kakaknya, sudah jadi kewajiban kamu menanggung mereka!" serbu Ibu dengan nada yang mulai meninggi, seolah siap memancing emosi.
Dadaku terasa sesak. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak bahwa uang itu bukan tumbuh di pohon, tapi hasil keringatku bekerja dari pagi sampai malam, memikirkan banyak hal, menahan lelah dan stres kantor. Aku juga ingin menabung untuk masa depanku sendiri, untuk membeli rumah impian, untuk persiapan hari tua nanti.
Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Bayangan Ibu yang marah dan mengeluarkan kata-kata makian kembali terbayang.
"Baiklah Bu... Zhira usahakan. Tapi lima juta terlalu banyak, Zhira bisa kirim tiga juta dulu ya. Sisanya nanti kalau ada rezeki lebih," jawabku akhirnya, menyerah pada keadaan.
"Alasan terus! Ya sudah tiga juta dulu, pokoknya sisanya jangan lupa! Kamu itu ya, kalau sudah sukses kadang suka lupa asal-usul," omelnya panjang lebar sebelum menutup telepon.
Aku melempar tubuhku ke atas kasur empukku, menatap langit-langit kamar. Air mata menggenang lagi. Kenapa rasanya aku seperti dompet berjalan bagi mereka? Kenapa tidak pernah ada kata 'jangan terlalu keras bekerja', 'jaga kesehatan', atau 'terima kasih sudah berjuang'?
"Kring..." bel pintu kontrakan berbunyi memecah lamunanku.
Aku buru-buru menghapus air mata dan merapikan penampilan sebelum membuka pintu. Ternyata Bu Lestari, membawa beberapa kantong plastik berisi makanan.
"Assalamu’alaikum, Nak. Ibu lewat sini sekalian bawain masakan rumah. Kamu pasti jarang masak kan?" sapanya ceria sambil masuk.
"Wa’alaikumsalam, Bu. Masya Allah, makasih banyak banget. Ibu memang paling perhatian," jawabku berusaha tersenyum ramah.
Tapi Bu Lestari adalah sosok yang peka. Dia langsung menatap wajahku lekat-lekat.
"Kamu habis nangis ya? Mata bengkak lho. Ada masalah lagi sama keluarga ya?" tanyanya lembut sambil duduk di sofa kecil.
Aku tidak sanggup lagi berbohong. Kepalaku mengangguk pelan, lalu air mataku jatuh lagi. Aku menceritakan soal permintaan uang yang tidak masuk akal itu, soal rasa lelah menjadi satu-satunya tumpuan, soal rasa tidak dihargai.
Bu Lestari mendengarkan dengan sabar, lalu dia menggenggam tanganku erat.
"Nak Zhira, dengarkan Ibu baik-baik ya," ucapnya lembut namun tegas. "Kamu itu anak yang sangat baik, hatimu luas sekali. Tapi ingat, memberi itu ibadah, tapi membiarkan dirimu dieksploitasi itu bukan kebaikan, itu merusak diri sendiri."
"Tapi Bu, mereka orang tuaku. Mereka adik-adikku. Zhira durhaka kalau menolak," isakku.
"Bukan durhaka, Nak. Itu disebut menetapkan batas. Lihat ini tangan kamu," Bu Lestari menunjukkan tangannya sendiri. "Kalau tangan kamu mengepal terlalu kuat, kamu tidak bisa memegang apa pun. Begitu juga dengan hati dan uangmu. Kalau kamu beri semua sampai kamu sendiri hancur, nanti kalau kamu sakit atau jatuh, siapa yang akan menolongmu? Mereka belum tentu bisa, Nak."
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyadarkanku. Benar juga. Selama ini aku berpikir bahwa menjadi anak yang baik berarti harus menuruti semua permintaan, harus selalu mengalah, harus selalu menjadi yang paling kuat. Tapi aku lupa, aku juga manusia biasa yang punya batas kemampuan.
"Mereka meminta banyak karena mereka tahu kamu akan memberi. Kalau kamu terus menuruti, mereka tidak akan pernah belajar mandiri. Bimo dan Rara itu sudah besar, mereka harus tahu bahwa uang itu didapat dengan susah payah, bukan cuma tinggal minta ke Kakaknya," lanjut Bu Lestari bijak.
Aku mengusap air mataku. "Terus Zhira harus gimana, Bu?"
"Belajar berkata 'tidak' kalau memang tidak mampu. Belajar berkata 'cukup'. Kamu tetap berbakti, kamu tetap membantu, tapi lakukan sesuai kemampuanmu, bukan sesuai keinginan mereka yang mungkin tidak akan pernah puas. Kamu berhak bahagia, Zhira. Kamu berhak menikmati hasil kerjamu sendiri."
Malam itu, setelah Bu Lestari pulang, aku duduk termenung lama sekali. Aku membuka buku catatan keuanganku. Aku melihat berapa banyak uang yang sudah kurelakan selama bertahun-tahun. Jumlahnya luar biasa besar, bisa saja aku sudah punya rumah atau mobil sendiri kalau aku simpan.
Tapi aku tidak menyesal telah memberi. Aku hanya menyesal telah membiarkan diriku merasa kecil dan takut selama ini.
"Mulai besok, aku akan berubah," bisikku pada pantulan diriku di cermin. "Aku akan tetap menjadi Zhira yang baik, tapi aku tidak akan lagi menjadi Zhira yang penakut. Aku akan mencintai diriku sendiri sama besarnya seperti aku mencintai mereka."
Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Seolah ada beban berat yang baru saja turun dari pundakku. Aku sadar, menjadi mandiri bukan hanya soal punya uang dan rumah sendiri, tapi juga soal punya keberanian untuk melindungi hati dan hak-hakku sendiri.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gimana? Panjang dan dalem kan ceritanya? 🥹💪 Lanjut Bab 18 lagi gas? Kita mau lihat perubahan sikap Zhira yang makin tegas nih! 🔥📖