Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak merah
Yosep tersenyum tipis, menyesap potongan kenangan masa lalu yang agaknya telah terhapus dari ingatan Myra. Di depannya, gadis itu tengah berjuang menarik dua koper besar. Benda kotak itu menggelinding di atas lantai, dipaksa mengikuti langkah kaki Myra yang tampak kepayahan meski jemari lentiknya menggenggam gagang koper dengan erat.
"Yang mana rumahnya?" tanya Myra tanpa menoleh.
"Tepat di sebelah kananmu," sahut Yosep.
Myra menghentikan langkah dan menoleh. "Ya sudah, tunggu apa lagi? Cepat buka!"
"Hmm." Yosep bukannya bergerak, malah menyodorkan sebuah kunci.
"Cih! Perkara buka pintu saja masih mau menyuruhku!" gerutu Myra dalam hati.
Ia melepaskan satu koper dengan kasar, menyambar kunci itu, lalu memutar knop pintu dengan wajah masam. Tanpa sepatah kata, Myra masuk melewati ambang pintu menuju dunia baru yang akan ia tempati. Myra menyusuri lorong pendek, diiringi suara derap langkah sepatu pria yang membuntutinya dari belakang.
DUK!
Rasa kesal yang membuncah mendorong Myra menghentakkan gagang koper. Ia mengertakkan gigi, lalu melotot ke arah Yosep yang kini sudah berdiri santai di sampingnya.
"Dasar sialan! Kamu membiarkanku membawa koper sendiri? Aku kamu pikir aku ini kuli!" semprot Myra. Mata cokelatnya membulat. "Jangan-jangan kamu sengaja menjemputku hanya untuk menjadikanku pembantu, ya?"
"Apa kamu tidak bisa melihat tanganku?" sahut Yosep dengan suara rendah yang tenang.
Myra melirik ke arah tangan Yosep. Manik hitam pria itu tertuju pada dua koper serupa yang juga ia jinjing. Myra langsung membuang muka, menyadari bahwa ternyata mereka memikul beban yang sama.
"Hh... lagian, siapa suruh bawa barang sebanyak ini!" dengus Myra lirih sambil mengerucutkan bibir. "Seharusnya kamu panggil orang untuk membawakan ini semua!"
Enggan memperpanjang perdebatan dengan sosok yang tidak akan pernah mau mengalah, Myra melangkah pergi. Heels-nya berbunyi tuk-tuk saat menjelajahi ruangan, mengamati suasana baru di sekelilingnya. Berbagai perabotan lengkap sudah tertata rapi. Ini tidak terasa seperti rumah baru, mungkin karena Amran, ayah mereka, telah menyiapkan segalanya.
"Kenapa ayahmu menyuruh kita ke sini?" tanya Myra sambil menerawang, mencoba menebak luas apartemen ini.
"Myra, dia ayahmu juga," koreksi Yosep datar.
"Iya, aku tahu! Aku juga memanggilnya Ayah. Tapi sudah kebiasaan... rasanya aneh kalau aku menyebutnya Ayah saat bicara denganmu."
Rasa penasaran Myra membawanya ke sebuah pintu di sudut ruang. Begitu dibuka, matanya langsung berbinar melihat kamar asing yang luas dengan ranjang besar dan furnitur kayu elegan.
"Wah, kamar ini... menakjubkan!" seru Myra. Ia menunjuk ke tengah ruangan yang dialasi karpet tebal. "Sepertinya aku bisa mengajak Sukma main badminton di sini!"
Ia menoleh ke arah Yosep. "Lihatlah! Bukankah rumah ini terlalu luas kalau hanya untuk kita berdua? Seharusnya Ayah menitipkanmu di rumahku saja."
"Ayah melakukan ini karena tahu kebiasaan kita," sanggah Yosep yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
Yosep mengidap Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Ia adalah pria penggila kebersihan yang akan merasa cemas luar biasa jika terpapar kuman. Ia tak akan sudi menyentuh toilet umum dan selalu menyuruh pengawal memeriksa kebersihan kamar hotel sebelum ia masuk. Di mata orang lain, Yosep adalah pria sempurna yang menguasai berbagai keterampilan dan bela diri. Namun di mata Myra, citra itu runtuh sejak Yosep terkena cacar air yang memicu perilaku obsesifnya tersebut.
"Ya, ya, ya! Baiklah, aku ingat. Dasar penggila kebersihan," ejek Myra. "Tapi apa maksudmu dengan kebiasaan kita?"
"Ini demi dirimu juga. Ayah ingat kalau kamu fobia ruang sempit."
"Tapi tidak perlu seluas ini juga! Ini hampir dua kali lipat dari luas rumahku!" seru Myra antusias.
Myra teringat kejadian traumatis di masa lalu saat ia harus bersembunyi di dalam lemari sempit. Sejak saat itu, jiwanya menolak ruang yang menyesakkan. Ia akan gelisah, takut, dan sesak napas jika terjebak di tempat kecil atau di tengah kerumunan yang berdesakan.
"Ya sudah. Bereskan semuanya, aku harus menemui Ayah untuk mengambil alih beberapa tugas."
"Kenapa harus aku? Suruh saja orang lain!"
"Myra, apa kamu mulai berani menolak perintahku?" Yosep menatapnya datar.
"Memangnya sejak dulu aku pernah patuh?" ejek Myra.
"Aku tidak sedang bercanda. Tata semua barang-barangku."
"Sudah kubilang, aku tidak mau! Suruh saja asistenmu atau siapa pun yang biasanya menata bajumu di luar negeri!" tegas Myra bersikukuh.
Yosep hanya diam. Ia memasang wajah tanpa ekspresi, namun aura di sekitarnya mendadak terasa mencekam, seperti predator yang sedang menyudutkan mangsa. Myra menciut.
"Kenapa kamu menatapku begitu? Aku... aku kan cuma bercanda. Sudah sana, pergi!"
"Cuci tanganmu sebelum menyentuh bajuku," pesan Yosep sebelum berbalik pergi.
"Baiklah, Tuan Muda," sahut Myra bernada malas.
Begitu Yosep hendak keluar, Myra berlari kecil menyusul. "Heh! Kamar yang tadi untukku, ya?"
"Hm," gumam Yosep pendek. Ia hanya mengangkat tangan, membentuk gestur OK dengan jari-jarinya tanpa menoleh. Namun, langkahnya berhenti sejenak di depan pintu. "Oh ya, Myra. Aku ingin semuanya selesai sebelum aku kembali. Kamu boleh minta bantuan orang lain, tapi pastikan mereka bersih. Jangan lupa belanja isi lemari es. Kalau ada apa-apa, hubungi aku."
Setelah Yosep benar-benar hilang dari pandangan, Myra mengepalkan tinju. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menendang koper besar di sana.
"Kalau butuh sesuatu hubungi aku... Omong kosong!" maki Myra geram. "Kalau benar-benar kuhubungi, kamu pasti cuma mengirim bawahan sialanmu itu! Selalu saja memerintah. Dia pikir aku ini pelayannya? Sifat buruknya makin menjadi-jadi!"
...----------------...
"Beli apa saja, ya? Sayur, daging, ikan... sama camilan! Jangan sampai lupa," gumamnya di dalam lift. "Duh, mana aku tidak pernah masak. Pasti si Yosep itu bakal minta dimasakin. Dia kan agak rewel kalau tidak makan masakan rumah. Ah, masa bodoh! Nanti aku cari pelayan saja."
TRING!
Pintu lift terbuka. Myra melangkah menuju minimarket yang berada di lantai bawah gedung. Ia meraba saku celana, memastikan kartu ATM-nya aman di balik casing ponsel.
Begitu mendorong pintu kaca, Myra disambut senyum ramah para kasir yang berseragam. "Selamat datang, selamat berbelanja!"
Myra hanya mengangguk tak acuh. Matanya berkeliling mencari troli. Ia mendapati tumpukan troli di pojok ruangan, tersembunyi di balik rak-rak tinggi.
"Ck, kenapa ditaruh di pojok, sih? Menyusahkan saja," gerutunya.
Saat berjalan tiba-tiba dua anak kecil berlarian ke arahnya.
"Heh!" Myra memekik, sigap menghindar sebelum tubuh kecil itu menabraknya. "Dasar anak setan! Siapa, sih, yang bawa anak kecil ke sini?"
Srakkk!
Suara benda jatuh membuat jantung Myra mencelos. Ia menoleh perlahan dan mendapati beberapa kotak barang berserakan di lantai. Siapa sangka, meski berhasil menghindari tabrakan, punggungnya justru menyenggol rak di belakangnya.
"Argh! Kenapa pakai jatuh segala, sih? Rak ini rapuh amat, cuma disenggol sedikit saja langsung rubuh," oceh Myra sambil berjongkok.
Meski kesal, ia mulai memunguti kotak-kotak itu sebelum ada pegawai yang menganggapnya pembuat onar. Menata kembali kotak-kotak tadi ke tempatnya. Hingga tersisa satu kotak persegi tipis berbungkus plastik merah.
"Ini tempatnya di mana?" gumam Myra membaca mereknya.
Ia mendongak, mencari barisan kotak berwarna serupa. Begitu menemukannya, ia berdiri dan hendak menyelipkan kotak itu kembali ke barisannya.
"Myra?" sebuah suara pria yang sangat ia kenali memanggil namanya.
Myra tersentak. Ia menoleh dan seketika terbelalak. Di sana berdiri Rafan. Pria itu tampak terkejut sekaligus senang melihat Myra yang menurutnya terlihat sangat menggemaskan dengan kaos kebesaran. Namun, pandangan Rafan perlahan turun, jatuh pada benda yang sedang dipegang Myra.
Kotak merah di tangan Myra. Isinya adalah alat kontrasepsi.
"Itu?!" batin Rafan berteriak. Wajahnya seketika memanas. "U-untuk apa Myra membeli benda itu? Jangan-jangan dia membaca pesanku tadi siang dan setuju untuk... berkunjung? Apakah dia sudah berubah pikiran?"
Rafan segera mengalihkan pandangan, tak sanggup menatap mata Myra. Pikirannya mulai liar membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya. Pipinya kini semerah kepiting rebus.
"Dia kenapa, sih? Gak jelas banget," batin Myra risih melihat ekspresi aneh Rafan. "Jangan bilang kamu mengikuti sampai ke sini?"
"Hng? Tidak! Aku sedang belanja dan kebetulan bertemu denganmu," bela Rafan gugup. "Kenapa kamu belanja di sini?"
"Sial! Kenapa duniaku seakan selalu punya pintu rahasia yang terhubung dengannya!" Myra merutuk dalam hati.
Ia menghela napas panjang, melangkah pergi melewati Rafan.
"Myra, kamu mau ke mana?"
"Pulang!" sahut Myra singkat.
Melihat Myra yang tampak buru-buru, Rafan dengan gerakan refleks menyambar sebuah kotak merah dari rak dan melemparkannya ke keranjang belanjaannya sendiri, lalu mengejar Myra dan menarik pergelangan tangannya.
"Tunggu!"
Myra menggeram. Ia menoleh dengan tatapan dingin. "Ada apalagi?"
"Aku... aku tidak keberatan kalau kamu datang lebih awal," ujar Rafan dengan nada serak yang aneh.
"Hah?" Myra benar-benar tidak paham.
"Kamu tidak perlu pulang dulu. Meski aku belum menyiapkan apa-apa, bagaimana kalau kita belanja bersama?" tanya Rafan penuh harap.
Myra baru saja akan menolak mentah-mentah saat sebuah pikiran melintas di benaknya. "Kalau aku menolak, pria ini pasti akan terus mengikutiku. Bagaimana kalau dia bertemu Yosep? Gawat! Bisa perang dunia!"
"Aku ke sini sebenarnya... untuk membelikanmu sesuatu," dusta Myra, mencoba memasang wajah ramah, meski rasanya sangat kaku.
"Untukku?" Jantung Rafan berdegup kencang.
"Ini kunjungan pertamaku ke tempatmu nanti, dan kamu juga baru pindah, kan? Jadi aku ingin membawakan hadiah," lanjut Myra. "Kamu... apa ada sesuatu yang kamu mau?"