Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Konfrontasi Aroma Lavender
Tiga hari berlalu sejak kunjunganku ke penthouse malam itu. Tiga hari sejak aku memutuskan untuk ikut bertahan di dalam badai milik Arka Danadyaksa.
Arka sudah kembali bekerja penuh, walau aku tahu kondisi fisiknya belum sepenuhnya pulih. Siang ini, pria itu tidak mampir ke kedai karena ada jadwal pertemuan krusial dengan perwakilan bank di kantor pusatnya.
Bohong jika aku bilang aku tidak merindukan kehadirannya, dehaman-nya, atau pesanan kopi hitamnya. Tapi aku cukup tahu diri untuk tidak mengirimi pesan dan mengganggu pekerjaan pria itu. Aku hanya bisa menunggu.
Kedai Kala Senja siang itu lumayan ramai. Udara Jakarta di luar sana sedang panas-panasnya, memanggang aspal hingga berbayang. Kipas angin tua di langit-langit kedaiku berputar maksimal, namun tak cukup mengusir peluh di dahiku.
Aku baru saja selesai mengantarkan pesanan Iced Matcha Latte ke meja nomor tiga ketika lonceng pintu berbunyi.
Otomatis, kepalaku dan nyaris semua mata pelanggan pria di kedai ini menoleh ke arah pintu.
Seorang perempuan melangkah masuk. Dan detik itu juga, aura yang dipancarkannya langsung menyedot seluruh oksigen dan perhatian di dalam ruangan ini.
Ia mengenakan midi dress berwarna putih gading dari desainer ternama yang menempel dan jatuh sempurna di lekuk tubuhnya. Di lengannya, bertengger sebuah tas Hermès Birkin yang harganya mungkin setara dengan omset kedaiku bertahun-tahun. Kacamata hitam Chanel ditarik ke atas kepala, menahan rambutnya yang di-blow bergelombang sempurna.
Namun, yang paling mengintimidasi adalah aromanya. Bau parfum mewah campuran lavender dan musk murni bang-sung menyeruak rakus, mengalahkan aroma khas biji kopi Arabika yang biasanya mendominasi kedaiku.
Perempuan itu melepas kacamata hitamnya. Mata almond-nya mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai yang berdinding bata ekspos ini dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada sedikit rasa jijik, rasa penasaran, dan... rasa meremehkan yang amat kental.
Ia melangkah maju. Ketukan stiletto-nya berirama tajam dan anggun di atas lantai kayuku, langsung mengarah ke meja kasir tempat aku berdiri mematung.
Aku menelan ludah. Saat ia berdiri tepat di depanku, aku refleks menunduk sekilas melihat diriku sendiri. Aku memakai celemek denim yang belepotan sedikit noda susu dan bubuk kopi. Rambutku kuikat cepol asal-asalan karena keringat, dan wajahku hanya dipoles makeup tipis.
Perbedaan visual di antara kami berdua seperti bumi dan langit. Atau lebih tepatnya, majikan dan pelayan. Rasa insecure sedingin es seketika merayap naik dari ujung kakiku.
"Selamat siang, Kak. Mau pesan apa?" sapaku ramah. Aku memaksakan senyum profesionalku mati-matian, berusaha menyembunyikan fakta bahwa auranya membuatku merasa sangat terintimidasi.
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya tidak menghakimi secara kasar, tapi terasa seperti sedang menilai harga barang loakan.
"Jadi... ini yang namanya Senja?"
Suaranya mengalun merdu, namun nada bicaranya sangat patronizing merendahkan seolah aku adalah tontonan yang butuh dikasihani. Ia tersenyum tipis. "Saya pesan Decaf Soy Latte, less foam, two pumps of sugar-free vanilla syrup, ekstra hot."
Aku mengerjap, otakku mendadak buntu berusaha mencerna rentetan pesanan rumit yang terdengar seperti bahasa alien di kedai sederhanaku ini.
"Ehm... Decaf Soy Latte... maaf, Kak," suaraku sedikit tercekat. "Kami di sini tidak pakai susu kedelai atau soy milk, kami cuma sedia whole milk atau oat milk. Dan sirup vanila kami sirup standar, bukan yang sugar-free."
Perempuan itu memejamkan mata dan menghela napas panjang, memberikan tatapan iba yang sangat dramatis dan dibuat-buat.
"Oh, maaf. Saya lupa kalau warung kecil seperti ini pasti tidak punya standar bahan yang lengkap," ucapnya lembut namun berbisa. "Kalau begitu, air mineral botol saja.yang merek Evian, ya."pungkas ia dengan nada menye terkesan meremehkan.
Aku meremas pinggiran meja kasir di bawah pandangannya, menelan ludah yang terasa sepahit ampas kopi. "Kami... cuma jual air mineral biasa, Kak."
"Ya ampun." Ia tertawa kecil. Suara tawa yang begitu elegan, tapi di telingaku, tawa itu menggores harga diriku hingga membuat telingaku memanas. "Baiklah. Tidak perlu pesan apa-apa kalau begitu."
Ia kemudian menyandarkan sikunya di meja kasir, mencondongkan tubuhnya ke arahku. Senyum manisnya menghilang dalam sekejap, digantikan oleh ekspresi dingin dan luar biasa tajam.
"Saya Clara," perempuan itu mengulurkan tangannya ke seberang meja. Tangannya lentik, berkulit porselen, dan dihiasi cincin berlian berukuran besar yang sangat mencolok. "Saya rasa... Arka belum pernah menceritakan tentang saya kepada kamu."
Jantungku seolah berhenti berdetak mendengar nama Arka disebut. Dunia di sekelilingku mendadak senyap.
Clara!. Aku membalas uluran tangan itu dengan ragu. Tanganku yang kapalan beradu dengan kulitnya. Tangan Clara terasa sangat halus, namun dingin seperti es.
"Ada... urusan apa ya, Mbak Clara, sama Arka?" tanyaku, mati-matian menjaga agar suaraku tidak pecah.
"Bukan urusan. Tapi status." Clara menarik tangannya kembali dengan anggun. Matanya mengunci tepat ke manik mataku. "Saya adalah calon istri Arka. Pertunangan kami sedang diurus oleh orang tua kami. Saya baru kembali dari London untuk mempercepat proses itu."
Calon istri. Kata-kata itu meluncur dengan sangat lancar dari bibir merahnya, tapi efeknya pada tubuhku seperti dihantam palu godam tepat di rongga dada. Paru-paruku rasanya kempis tak tersisa. Meski Arka pernah berjanji akan membatalkan perjodohannya, mendengarnya langsung dari mulut perempuan sesempurna ini dengan status 'calon istri' yang dilegitimasi oleh restu keluarga menghancurkan sisa-sisa kewarasanku berkeping-keping.
Melihat wajahku yang seketika memucat pasi, Clara tersenyum menang. Ia melanjutkan kalimatnya dengan nada yang sangat tenang, seolah sedang menasihati anak kecil yang keras kepala.
"Saya tahu Arka sedang main-main dengan konsep mal-nya demi mempertahankan tempat ini. Arka memang seperti itu. Mudah penasaran dengan 'mainan baru' yang terlihat kumuh dan berbeda dari dunianya."
Mainan baru?!. Batinku menjerit perih mendengarnya.
Clara mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedaiku yang kecil ini, lalu kembali menatapku. "Tapi Senja, mari kita bicara realita."
Clara mencondongkan wajahnya lebih dekat. "Dunia Arka itu di atas gedung pencakar langit. Dia bermain dengan triliunan rupiah. Sedangkan dunia kamu..." Clara melirik noda di celemekku, "...ada di balik celemek kotor dan bau ampas kopi ini."
Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat di balik mesin kasir hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. Aku ingin marah. Aku ingin membalas ucapan sombong itu, berteriak bahwa Arka menangis di pelukanku!
Tapi tenggorokanku tercekat. Lidahku kelu.
Fakta bahwa ucapan Clara seratus persen masuk akal, adalah hal yang paling menyiksa dan membunuhku saat ini. Jurang di antara kami memang terlalu besar. Sangat masif hingga aku tidak akan pernah bisa melompatinya tanpa hancur lebur.
"Jangan jadi beban untuk kariernya, Senja," bisik Clara final, memutus sisa-sisa napasku.
Ia menegakkan tubuhnya dan memakai kembali kacamata hitamnya. "Arka akan segera menyadari kebodohannya dan membuang proyek murahan ini. Dan ketika saat itu tiba... saya harap kamu cukup tahu diri untuk pergi sebelum dipermalukan."
Tanpa menunggu balasanku, tanpa perlu menoleh lagi, Clara berbalik dan berjalan keluar dari kedai dengan anggun.
Lonceng pintu berbunyi, menyisakan jejak parfum lavender yang memuakkan, dan sebuah bibit rasa insecure yang kini telah menjelma menjadi pohon raksasa, mengakar kuat, dan mencekik habis sisa-sisa pertahananku.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍