Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Dihantui
Sabtu sore...
"Apa nggak lebay kalau cuma luka segini saja kamu sampai datang ke rumah?" tanya Zivanna ketika Alvaro melihat luka di telapak kakinya. Sebenarnya sudah tidak sakit, dan tidak "urgent" juga karena hanya luka sekecil itu. Tetapi entah kenapa Alvaro sampai datang untuk memastikannya.
"Kalau pasiennya kamu sih nggak lebay, Zi. Kamu lebih hafal nenek daripada aku. Tadi kata Mamak Rani, nenek malah ingin aku tinggal di sini sekalian. Biar kalau sewaktu-waktu kamu demam mereka nggak panik."
Mulut Zivanna komat-kamit entah mengatakan apa tetapi yang jelas gadis itu sedang menggerutu soal neneknya.
"Tadi malam demam lagi, nggak?" tanya Alvaro setelah selesai melihat kaki lalu menempelkan punggung tangannya di kening Zivanna. Gadis itu diam saja tidak berusaha menepis tangan Alvaro di keningnya.
"Mimpinya nggak terlalu serem. Jadi aku nggak demam," jawab Zivanna.
"Oh... Jadi ini dokter yang kata mamamu bikin kamu nggak mau balik ke kota?" Wisnu menampakkan diri setelah tadi mengintip dari balik pintu.
"Mulai, deh!" Zivanna mendengus. Wajahnya langsung cemberut.
"Selamat pagi, Pak Wisnu," sapa Alvaro sambil mengulurkan tangannya. Dia tahu nama laki-laki itu ketika kemarin Minah menyebutkannya.
Wisnu menyambut uluran tangan Alvaro dengan hangat lalu berkata, "Panggil Om saja, nanti kalau sudah dekat hari pernikahan bisa ganti panggil papa."
Zivanna : "???"
Selesai memeriksa Zivanna, Wisnu mengajak Alvaro untuk berjalan-jalan sekaligus membicarakan "masalah" Zivanna.
"Pihak rumah sakit merahasiakan identitas pendonornya, jadi kami tidak tahu siapa dia. Waktu kami hendak memberikan santunan sebagai bentuk ucapan terima kasih, kami memberikannya melalui pihak rumah sakit." Wisnu mulai bercerita. "Kamu seorang dokter Al, kamu pasti lebih tahu hal-hal atau prosedur semacam itu."
"Soal identitas itu aku sudah mendapatkan informasinya. Tapi Om, masalahnya, apa kita perlu memberitahu Zizi?"
Wisnu menghentikan langkahnya, menatap Alvaro sebentar kemudian kembali berjalan. "Kalau itu bisa membuat dia merasa tenang, kenapa tidak?"
"Apa Om Wisnu tidak khawatir?"
"Tidak ada yang perlu aku khawatirkan karena sekarang ada kamu."
Wisnu langsung menyukai Alvaro sejak mengintip interaksinya bersama Zivanna di kamar tadi. Wisnu tahu jika putrinya itu ada perasaan dengan laki-laki muda di sampingnya ini.
Zivanna diam saja ketika dokter tampan ini menempelkan tangan di keningnya. Kalau Zivanna tidak merasa dekat, dia pasti menepis tangan itu atau meminta Termo Gun saja untuk mengecek suhu tubuhnya karena Zivanna tidak mengijinkan sembarang menyentuh dirinya. Apalagi di bagian wajah yang bagi Zivanna sangat sensitif, takut muncul jerawat katanya.
Selain itu, Zivanna juga diam saja ketika Alvaro memanggilnya Zizi. Panggilan itu istimewa sekali. Hanya orang terdekat saja yang Zizi ijinkan memanggilnya dengan nama itu.
Melihat itu Wisnu tahu Zivanna sudah mulai membuka hatinya dan move on dari Rio. Itu saja cukup membuat Wisnu merasa lega, apalagi kalau sampai Alvaro bisa membantu Zivanna mengatasi masalah mimpi-mimpi itu. Wisnu pasti akan langsung memberikan restunya jika tiba-tiba Alvaro melamar Zivanna.
"Aku percaya kamu, Al. Aku yakin kamu tidak akan membiarkan Zizi kenapa-napa. Soal ini aku serahkan padamu saja."
* * *
Minah sudah beristirahat di kamarnya sementara Anita dan Wisnu berkeliling ke kecamatan menaiki sepeda motor berdua untuk bernostalgia mengenang masa-masa mereka pacaran, ketika Wisnu membawa Anita pulang untuk dikenalkan pada Minah.
Alvaro dan Zivanna tengah duduk di gazebo di dekat pohon Mangga di halaman rumah neneknya. Di hadapan Zivanna ada sebuah mug berisi susu hangat, sementara di depan Alvaro ada secangkir teh yang masih mengepulkan asap. Tadi Rani yang membuatkan kedua minuman itu sebelum dia pulang.
"Apa ini?" tanya Zivanna ketika Alvaro menyerahkan sebuah berkas kepadanya. Sebenarnya ada beberapa lembar kertas yang dia bawa, tetapi Alvaro hanya mengambil dua lembar yang dia rasa penting.
"Kamu baca saja," jawabnya. Zivanna menerimanya lalu mulai membaca berkas itu.
"Lembar pertama adalah formulir donor organ, kemudian lembar berikutnya adalah surat persetujuan dari pihak keluarga pendonor," terang Alvaro ketika Zivanna tengah serius membaca.
"Ini... Ini... " Zivanna tidak bisa berkata-kata begitu dia selesai membaca.
"Itu surat yang menyatakan jika Rahayu Eka Dewi atau Ayu adalah orang yang mendonorkan kornea matanya untukmu," sambung Alvaro. "Terjawab sudah kenapa kamu sering memimpikan gadis itu, karena penglihatannya kini menjadi penglihatanmu," terang Alvaro yang melihat Zivanna yang masih kebingungan.
Dalam sekejap Zivanna semua terasa terang dan masuk akal. "Pantas saja," gumamnya lirih tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya.
"Bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Aku yakin informasi serahasia ini tidak mudah didapatkan."
"Aku seorang dokter, Zi. Aku memiliki banyak kenalan di rumah sakit. Yah... Anggap saja begitu," jawab Alvaro sambil terus memperhatikan ekspresi wajah Zivanna. "Sekarang kamu sudah tidak penasaran lagi kan kenapa kamu terus bermimpi tentang Ayu? Kamu... nggak apa-apa, kan?" tanyanya hati-hati.
Alvaro bahkan tidak memberitahu kecurigaannya jika mungkin saja Ayu terpaksa mendonorkan matanya karena khawatir jika itu akan membuat Zivanna merasa bersalah lalu sedih.
"Tidak. Aku justru merasa lega. Akhirnya aku bisa berterima kasih kepada orang yang berjasa memberikan penglihatannya padaku. Tapi, eh... Dia sudah meninggal, ya?"
Alvaro mengangguk. "Kita bisa mengunjungi makamnya lalu mendoakannya, kalau kamu mau. Itu mungkin bisa membuatnya tenang di alam sana." Yang dimaksud Alvaro adalah mungkin setelah itu Zivanna tidak akan dihantui mimpi-mimpi tentang Ayu lagi, atau setidaknya dia berharap seperti itu.
Tiba-tiba Zivanna terdiam lalu dengan suara lirih dia bertanya, "Al... Jika aku melihat menggunakan mata Ayu, apakah artinya mimpi-mimpi yang aku lihat itu nyata? Apakah itu yang di rekam oleh penglihatan Ayu semasa hidupnya? Kejadian di perkebunan tebu, kejadian pagi hari di rumah itu dan lainnya, apakah itu semua adalah kenyataan bukan hanya sekedar mimpi semata?"
Zivanna menatap Alvaro menunggu jawaban. Matanya berkaca-kaca dan terlihat sedikit ketakutan.
"Soal itu aku tidak tahu, Zi. Kita harus menyelidikinya lebih dulu."
"Apakah Ayu ingin aku melihatnya? Tapi untuk apa? Aku tidak memiliki kesalahan terhadap Ayu tetapi kenapa dia justru menghantuiku? Apa salahku? Apakah aku akan bermimpi seperti itu seumur hidupku? Aku tidak mau kalau harus seperti itu. Aku nggak mau, Al."
"Tenang dulu, Zi," kata Alvaro sambil mengelus pundak gadis itu. Ini belum semuanya tapi Zivanna sudah sepanik itu. Bagaimana jika dia tahu jika mungkin saja Ayu mendonorkan kornea nya karena dipaksa? Alvaro yakin Zivanna akan meminta untuk dicongkel saja matanya jika mengetahuinya.
"Coba sudut pandangmu di ubah. Bagaimana jika mimpi-mimpi itu tidak bermaksud menghantuimu. Bagaimana jika Ayu hanya ingin kamu tahu cerita hidupnya yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapapun semasa hidupnya dulu?"