sequel: terpaksa menikah adik tiri × bayi rahasia idola kampus
Axelle Aididev Atharic adalah definisi masalah berjalan di SMA Galaksi. Nakal, keras kepala, dan anti diatur. Hidupnya yang bebas mendadak jungkir balik saat sebuah kecelakaan konyol memaksanya terjebak dalam nikah kilat dengan Rea Zelene Xavandra, cewek paling ambisius dan kaku di sekolah.
Dua kutub utara dan selatan harus tinggal di bawah satu atap yang sama. Bagi Axelle Aididev Atharic, ini adalah penjara. Tapi bagi sang istri, Rea Zelene Xavandra, Axelle adalah rahasia terbesar yang harus ia sembunyikan rapat-rapat demi reputasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
....
....
Malam di tengah laut lepas bener-bener indah, tapi bagi Rea, bintang-bintang di langit nggak ada artinya dibanding rasa panas yang membakar dadanya sejak sore tadi. Gimana nggak? Sepanjang jalan dari dermaga sampe makan malam di Main Dining Room, Valerie nempel terus ke Axelle kayak perangko kena lem besi. Pake acara suap-suapan dessert segala lagi!
Rea yang sistem robotnya udah overheat akhirnya milih buat jalan bareng Ziro ke area Observation Deck. Ziro, dengan gaya gentleman-nya, terus-menerus ngajak Rea bahas soal prospek universitas di Swiss, seolah-olah dunia cuma milik mereka berdua.
Axelle yang ngeliat itu dari kejauhan bener-bener mau meledak.padahal Valerie cuma adek manjanya, tapi Rea? Rea sengaja banget nempel ke si "Pangeran Catur" itu buat bales dendam!
"Bang, mending lo minum air es deh. Muka lo udah kayak kepiting rebus," celetuk Arsen sambil nyengir, tapi langsung dapet death glare dari Axelle.
Pukul 22.00 WIB - Staff Only Deck
Rea baru saja berpamitan pada Ziro dan berniat kembali ke kamarnya lewat jalur belakang yang lebih sepi biar nggak ketemu temen-temennya yang hobi ngeledek. Tapi, pas dia ngelewatin lorong sempit dekat sekoci darurat, sebuah tangan besar tiba-tiba menarik lengannya dengan kasar.
"A-akh! Siapa—"
Mulut Rea langsung dibekap dan tubuhnya didorong ke dinding besi kapal yang dingin. Begitu matanya fokus, dia mendapati manik mata hitam Axelle yang berkilat penuh amarah dan kecemburuan.
"Puas lo seharian nempel sama pecatur itu? Hah?!" bisik Axelle berat, suaranya parau karena nahan emosi.
Rea melepaskan bekapan tangan Axelle, napasnya memburu. "Apa urusan lo?! Urusin aja 'Bubub' lo yang manja itu! Kenapa? Takut dia pingsan kalau ditinggal sedetik?!"
"Dia adek gue, Rea! Lo tau itu!" bentak Axelle pelan.
"Gue nggak peduli! Lo yang bilang di sekolah kita orang asing, jadi jangan sok ngatur gue mau jalan sama siapa!" balas Rea menantang, matanya tajam karena perpaduan marah dan cemburu.
Axelle menyeringai gelap. "Orang asing? Oke, kalau itu mau lo. Tapi orang asing nggak bakal ngelakuin ini..."
Tanpa aba-aba, Axelle langsung menyambar bibir Rea. Kali ini bukan ciuman yang kayak kemarin, tapi ciuman yang menuntut kepatuhan. Axelle melumat bibir Rea dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak percakapan Rea dengan Ziro seharian ini.
Rea awalnya berontak, tangannya memukul dada Axelle, tapi posisi mereka yang terhimpit di antara dinding besi dan tubuh kekar Axelle bikin dia nggak punya ruang gerak. Perlahan, perlawanan Rea melemah. Rasa cemburu yang tadinya menyakitkan berubah jadi gairah yang meledak-ledak. Rea membalas lumatan itu, menarik kerah kemeja Axelle sampai beberapa kancingnya terlepas.
Di tengah deru mesin kapal dan suara ombak yang menghantam lambung kapal, suasana di dek sepi itu mendadak jadi sangat panas. Axelle mengangkat tubuh Rea, mendudukkannya di atas tepian pagar besi dengan tetap menjaganya agar nggak jatuh, dan kembali memburu bibir istrinya itu seolah-olah besok dunia kiamat.
Sementara itu, Arkan, si jenius komputer yang sedari tadi emang mau cari angin segar karena kepalanya pusing kebanyakan liat kode program, melangkah santai menuju area sekoci. Dia butuh ketenangan.
Tapi langkah Arkan mendadak mati. Matanya membelalak di balik kacamata minusnya.
Di bawah cahaya rembulan yang remang, dia melihat siluet dua orang yang sangat dia kenal. Dia melihat Axelle, sahabatnya yang paling anti diatur, sedang menciumi Rea, Ketua OSIS yang paling kaku, dengan cara yang bener-bener... ekhemmmmm
Arkan mematung. Botol minum di tangannya hampir jatuh. Dunianya yang penuh logika matematika mendadak crash total.
"Gila... ini beneran Axelle sama Rea? Musuh bebuyutan itu? Lagi... 'reaksi kimia' sehebat ini?" batin Arkan shock berat. Dia nggak berani gerak, bahkan buat napas aja dia takut ketahuan.
Arkan cuma bisa berdiri diam seribu bahasa, menyaksikan momen paling langka dan paling panas dalam sejarah SMA Galaksi. Udara malam yang dingin di tengah laut mendadak terasa kayak gurun sahara buat Arkan.
"Tadi mau cari angin... kok malah nemu angin puyuh yang bikin gerah begini?" gumam Arkan pelan sambil buru-buru balik badan dan lari secepat kilat sebelum Axelle sadar ada saksi mata.
Di dek sepi itu, Axelle dan Rea masih tenggelam dalam dunia mereka, nggak sadar kalau satu rahasia besar mereka baru saja bocor ke mata seorang Arkan
Arkan lari balik ke arah kabin dengan langkah seribu, napasnya putus-putus bukan karena capek, tapi karena syok mental. Begitu nyampe di depan pintu kabin nomor 302—kamar geng badboy—dia langsung ngebuka pintu dengan kasar.
BRAK!
Ferro sama Jaxon yang lagi asik mabar PS di layar TV raksasa langsung loncat kaget.
"Anjir! Arkan! Lo dikejar hiu atau apa?!" teriak Ferro sambil megangin dadanya.
Arkan nggak jawab. Dia langsung nyamber botol air mineral di meja, neguk sampe abis, terus duduk di lantai dengan pandangan kosong. Keringat udah membanjiri wajahnya
"Woi, Kan! Ngomong dong! Lo liat penunggu kapal pesiar ini ya?" Jaxon ikutan panik, dia matiin stik PS-nya.
Arkan narik napas dalem banget, terus geleng-geleng kepala. "Gue... gue liat reaksi kimia paling eksoterm dalam sejarah umat manusia," gumam Arkan serak.
"Hah? Apaan sih? Lo mabuk laut?"
"Gue liat... Axelle," Arkan ngegantung kalimatnya, matanya kedip-kedip gak percaya. "Axelle sama Rea... di dek sekoci... mereka... mereka lagi 'nyatuin' bibir, Bro! Dan itu bukan cuma tempel! Itu... gila, panas banget!"
Hening.
Satu detik... dua detik...
"BWAHAHAHAHAHA!" Ferro sama Jaxon meledak ketawa sampe guling-guling di karpet bulu kabin.
"Lo halu, Kan! Kebanyakan liat rumus lo!" Jaxon ketawa sampe keluar air mata. "Axelle sama si Robot Rea? Musuh bebuyutan itu? Yang satu mau nyekek, yang satu mau nangkep? Mana mungkin!"
"Sumpah! Gue liat pake mata kepala gue sendiri! Axelle sampe angkat Rea ke pager besi! Kalau gue nggak buru-buru kabur, mungkin gue udah kena serangan jantung!" Arkan bener-bener frustrasi karena nggak dipercaya.
Sementara itu, di dek sekoci...
Axelle perlahan ngelepasin pautan bibirnya. Dia nyandarin dahinya di dahi Rea yang udah lemes banget. Keduanya terengah-engah, berbagi karbondioksida di tengah oksigen laut yang melimpah.
"Masih mau jalan sama si catur itu?" bisik Axelle, suaranya parau tapi penuh kemenangan.
Rea gak jawab, dia cuma ngeremes kerah baju Axelle yang udah berantakan kancingnya. Matanya sayu, bibirnya bener-bener bengkak dan merah. Sinar rembulan bikin wajah Rea kelihatan berkali-kali lipat lebih cantik tanpa kacamata yang entah jatuh ke mana tadi pas adegan panas itu.
"Axel... lo beneran bajingan," gumam Rea serak.
Axelle nyengir tipis, dia nyium kening Rea lama banget. "Bajingan ini suami lo, Koala. Dan jangan lupa, lo tadi bales lumayan kenceng."
Rea langsung nyembunyiin wajahnya di dada Axelle, malu setengah mati. Dia baru sadar kalau robotnya bukan cuma rusak, tapi udah hancur lebur jadi debu atom.
Keesokan Harinya - Pukul 08.00 WIB
Restoran kapal yang namanya Ocean Breeze udah rame sama anak-anak Galaksi yang mau sarapan. Ziro duduk di meja pojok, matanya terus nyari sosok Rea. Begitu Rea masuk bareng Clarabella, Ziro langsung berdiri.
Tapi, bagas udah mendekati rea..langkah Ziro terhenti. Dia ngeliat Rea pake syal tipis di lehernya padahal cuaca lagi cerah dan bibir Rea... sedikit lebih "berisi" dari biasanya.
Di meja sebelah, Geng Badboy udah kumpul. Axelle duduk dengan gaya paling santai, nenteng gelas kopi hitam. Begitu dia liat Arkan, Axelle cuma angkat alis satu.
Arkan yang lagi nyuap bubur langsung keselek pas matanya ketemu sama mata Axelle. Dia buru-buru nunduk, mukanya merah padam.
"Lo kenapa, Kan? Sakit?" tanya Axelle tengil, padahal dia mulai curiga sama gelagat Arkan yang aneh.
Arkan geleng-geleng pelan, tangannya gemeteran megang sendok. "Gue... gue nggak papa, Bos. Cuma... semalam angin lautnya emang bener-bener kenceng ya?"
Axelle nyengir misterius. Dia tau Arkan pasti liat sesuatu semalam. "Kenceng banget, Kan. Sampe bisa bikin orang lupa daratan," sahut Axelle sambil ngelirik Rea yang baru aja duduk di meja ziro.
yang ANYA dan EL saja belom move on thorrr, muncul lah si tengil ell, makin cintaaa thor🤗🤗
😍😍
takut gula darah naik🤭
terlalu manis soalnya🥰🥰
akhir nya rea menyerah kan diri ooohh , sweet nya axelle bahagia. banget ya yg udh dapet jatah🤣🤣🤣🤣
nyari es batu lahhh🤭
love bagt sama Valerie 🥰🥰
meleleh adek bang🤣🤣🤣🤣
terimakasih Thor
love sekebonnnnn🥳🥳🥳
nangis bombay gak tu si vanya gimna hati vanya masih aman 🤣🤣
pengen ngegaplok si ziro deh sok sotoy banget terherman² aku nya🤣🤣
gedhek bgtsss sama Vanya n the geng, ziro harata apalah itu🤭
tapi saling berharap ,
di depan entar nemu bawang apa nemu krupuk thor , semankin penasaran sama kehidupan rea kedepanya , gimna nasib hubungan axelle sama rea nanti
cepet buntingin rea nya xel,
biar kelar hidup ziro.
wkwkwkwkkw