NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:42.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diusir Rajendra

Karena suntuk sendirian di rumah, Cya akhirnya memutuskan untuk menyiram bunga di taman belakang. Tadi Bu Kiran sempat mengajaknya ikut arisan, tapi Cya memilih tinggal di rumah. Ia sudah bisa membayangkan akan mendapat banyak pertanyaan dari teman-teman Bu Kiran, dan itu pasti membuatnya tidak nyaman.

Cya bersenandung pelan sambil menyiram bunga, sesekali menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama lagu yang ia ciptakan sendiri. Tanpa ia sadari, dari kejauhan Rajendra sedang memperhatikannya.

Senyum tipis terbit di wajah Rajendra melihat tingkah Cya yang polos dan menggemaskan. Ia melangkah perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Dua menit kemudian, ia sudah berdiri tepat di belakang Cya dan gadis itu masih belum menyadarinya.

Tiba-tiba, Rajendra melingkarkan tangannya di perut Cya dari belakang.

“Aaaa!” Cya menjerit kaget.

Ia langsung memutar tubuhnya hingga pelukan itu terlepas. Belum berhenti sampai di situ, Cya refleks menyiram wajah Rajendra dengan air dari selang.

“Pelecehan! Dasar penjahat!” tudingnya sambil terus menyiram.

“Cya, ini aku!” seru Rajendra, berusaha menghindar.

Cya langsung membeku. Matanya membesar sebelum buru-buru menjatuhkan selang.

Rajendra mengusap wajahnya yang basah kuyup. Padahal tadi ia sudah berdandan rapi supaya terlihat menarik di depan Cya. Sekarang? Hancur sudah semuanya.

“Kenapa kamu siram aku?” protesnya.

“Habisnya kakak tiba-tiba peluk-peluk! Aku kaget!” gerutu Cya dengan bibir cemberut, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

Rajendra tidak jadi marah.

“Memangnya salah peluk istri sendiri?”

“Enggak sih…”

Rajendra tersenyum tipis, lalu tanpa aba-aba memeluk Cya lagi—kali ini dari depan.

“Kak, basah…” Cya mendorong pelan, tapi Rajendra justru mempererat pelukannya.

“Katanya enggak apa-apa,” bisiknya.

“Iya, tapi bajunya basah.”

“Biar sekalian mandi bareng.”

Cya langsung menegang. “M-mandi bareng?”

“Iya. Mau?” goda Rajendra sambil mengangkat alis.

Alih-alih menolak, Cya malah berpikir. “Kayaknya seru…”

Rajendra menganga begitu Cya menariknya. Sekarang jadi Rajendra yang tegang. Jangan bilang Cya mau membawanya ke kamar mandi dan benar-benar ingin mandi bersama Rajendra.

"Cya, apa kamu sudah siap?" tanya Rajendra dengan suara tercekat, nyaris tak bisa bersuara.

"Iya, kan tadi Kakak sendiri yang nawarin" jawab Cya tanpa menoleh ke arah Rajendra.

Cya terus menarik Rajendra sampai mereka berdua tiba di samping kolam renang.

"Kita mau ngapain di sini?"

"Mau mandi bareng." ucap Cya dengan santai.

Berbeda dengan Rajendra yang langsung membelalakkan matanya. "Jangan gila, Cyaa, di rumah ini banyak pelayan. Aku gak mau tubuh kamu dilihat sama orang lain, hanya aku yang boleh melihat seluruh tubuh kamu."

Cya menatap Rajendra dengan kening mengerut. "Siapa juga yang mau kasih lihat tubuh aku sama orang lain? Sama kakak pun aku gak mau."

"Tadi kamu sendiri yang bilang kamu mau mandi bareng."

"Iya, tapi enggak buka baju juga kali, Om." Cya kembali memanggil rajendra Om. Ia kemudian memicingkan mata. "Jangan-jangan Om mau lihat aku mandi tanpa pakai baju, ya?"

"Iya memang." Rajendra menutup mulutnya. Ia membelalakkan matanya karena keceplosan.

"Ih, dasar om mesum!" Cya langsung memukul lengan Rajendra beberapa kali.

"Enggak, aku cuma bercanda kok," ucap Rajendra agar Cya berhenti mengamuk. Meski cya sudah berhenti memukul Rajendra, tatapan gadis itu sangat tajam.

Tiba-tiba Rajendra mengulurkan tangannya mengusap wajah Cya. "Jangan liatin aku kayak gitu, kamu bukannya terlihat menakutkan, justru terlihat semakin menggemaskan."

Cya memicingkan matanya. "Kamu ngomong kayak gitu supaya aku mau pulang ke rumah kamu, ya?"

"Iya, kamu mau ya?" Bujuknya. Sayangnya Cya menggelengkan kepalanya. Keputusan Cya tetap sama dengan yang kemarin.

"Huh, aku harus bagaimana lagi supaya kamu mau ikut pulang denganku?"

"Gampang kok, kamu tinggal menuruti keinginan mama."

Rajendra kembali menghembuskan nafas panjang. "Cya, aku mohon mengerti aku sedikit saja. Aku enggak mungkin mengusir orang tua Aurel dari rumah kita."

Tumben sekali Rajendra mengatakan rumahnya dengan rumah kita. Padahal biasanya ia selalu mengatakan rumah itu adalah rumahnya dengan Aurel.

Cya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata, "aku ngerti kakak kok. Kakak enggak perlu ngusir mereka."

Raut wajah Cya tampak berubah. Tadinya gadis itu terlihat ceria, sedangkan sekarang wajahnya berubah datar.

"Jadi kamu mau pulang?"

"Enggak," jawab Cya yang lagi-lagi mematahkan semangat Rajendra.

Rajendra memijat pelipisnya lalu duduk di tepi kolam. Kemudian cya pun ikut duduk di samping Rajendra.

"Minggu depan aku mau camping sama teman-teman," ucap Cya. Entah gadis itu meminta izin atau hanya sekadar memberitahu Rajendra.

Rajendra menoleh menatap Cya. “Sama siapa?”

“Teman kampus.”

“Brian juga ikut?” Entah mengapa nama itu langsung terlintas di benaknya.

Cya menjawab santai, “Iya.”

“Enggak boleh. Kamu enggak boleh ikut.”

Cya langsung mengerucutkan bibirnya. Ia sudah berjanji pada teman-temannya, tapi Rajendra malah melarang tanpa kompromi.

“Kenapa enggak boleh?”

“Di sana enggak ada yang jaga kamu,” jawab Rajendra.

Alasan yang terdengar logis, tapi sebenarnya bukan itu inti kekhawatirannya. Ia hanya tidak suka membayangkan Brian berada dekat dengan Cya.

Sebagai sesama laki-laki, Rajendra paham betul arti tatapan itu. Brian jelas tertarik.

“Aku bisa jaga diri sendiri,” sahut Cya. “Lagian ada Serena. Dia jago bela diri, pasti dia jagain aku juga.”

Rajendra menghela napas, mencoba tetap tenang. “Tetap aja, Cya. Kalau kamu kenapa-kenapa, aku yang disalahkan sama orang tua kamu.”

Rajendra kembali menjadikan orangtua Cya sebagai alasan.

“Tenang aja, Kak. Dulu aku sering camping sama teman-teman, dan Mami Papi gak pernah larang aku. Mereka percaya aku bisa jaga diri.”

Cya sedikit berbohong.

Nyatanya, orang tuanya terlalu sibuk hingga tidak benar-benar tahu aktivitasnya di luar rumah.

“Tapi sekarang kamu bukan tanggung jawab mereka lagi,” suara Rajendra mulai terdengar lebih tegas. “Sekarang kamu tanggung jawab aku.”

Cya menatap Rajendra, kali ini tatapannya tak lagi lembut. “Aku tetap akan pergi.”

“Ck…” Rajendra berdecak kesal. Tadi gadis itu terlihat begitu manis, sekarang berubah jadi keras kepala.

“Cya, aku ini suami kamu. Tolong dengarkan aku,” ucapnya, menahan emosi.

Cya menarik napas pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih dalam, “Jangan cuma kakak yang mau dimengerti… Kakak juga coba mengerti aku.”

Rajendra terdiam.

Kata-kata itu seperti menamparnya.

Tanpa menunggu jawaban, Cya berbalik dan berjalan pergi.

Rajendra hanya bisa menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Ucapan Cya terus terngiang di kepalanya.

Apa selama ini… dia memang tidak pernah benar-benar mencoba mengerti Cya?

***

Rajendra akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena Cya tidak mau lagi bertemu dengannya sejak meninggalkannya di pinggir kolam renang. Gadis itu bahkan mengunci diri di dalam kamar.

Rajendra sudah berusaha membujuk Cya agar keluar, tapi gadis itu tetap tidak mau mendengarkan.

“Kok kamu gak pulang sama Cya?” tanya Bu Riska yang tahu Rajendra baru saja menemui Cya.

“Cya masih mau menginap di rumah orang tua aku, Mah.” Rajendra duduk di hadapan Bu Riska yang kebetulan sedang berada di teras.

“Ya ampun, dia betah banget ya menginap di rumah orang tua kamu.”

“Iya, Mah.”

“Coba aja Aurel masih hidup, dia pasti gak akan mau menginap di rumah orang tua kamu tanpa kamu.”

Rajendra menghela napas pelan. “Kita sama-sama tau kalau orang tua aku gak terlalu akrab sama Aurel, jadi sudah pasti yang Mama katakan itu benar. Tapi berbeda dengan Cya. Dia sangat disayangi oleh orang tua aku. Wajar kalau dia betah di sana.”

Wajah Bu Riska langsung berubah masam. “Iya sih… Mama sebenarnya sedih. Kenapa ya orang tua kamu gak pernah suka sama Aurel, bahkan setelah Aurel meninggal?”

Rajendra terdiam. Ia tidak bisa membantah karena itu memang kenyataannya.

“Mama kadang kasihan sama Aurel. Mama dengar sendiri bagaimana orang tua kamu sangat menyayangi Cya, sedangkan dulu Aurel bahkan seperti tidak dianggap. Kamu saja sampai harus mengemis restu untuk menikah dengannya.”

“Mama, bisa tolong berhenti bahas Aurel?” potong Rajendra, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. “Sekarang aku lagi pusing memikirkan Cya.”

Bu Riska tersentak. Ia tak menyangka Rajendra akan merespons seperti itu.

Ia menunduk. “Maaf… Mama cuma kasihan sama Aurel.”

Namun Rajendra tidak menanggapi. Ia justru berdiri dan pergi meninggalkan Bu Riska menuju dalam rumah tanpa sepatah kata pun.

Tangan Bu Riska mengepal kuat. Matanya melotot penuh amarah. “Kurang ajar…” gumamnya pelan.

***

Rajendra sebenarnya masih malas untuk berangkat kerja hari ini. Namun, karena ia harus bertemu dengan klien penting, mau tidak mau ia tetap harus datang ke kantor.

“Rajendra sudah berangkat ke kantor?” tanya Pak Sammy pada Bu Riska yang sedang duduk santai di depan televisi sambil menikmati puding.

“Sudah.”nPak Sammy ikut duduk di samping istrinya, lalu mengambil sendok dan ikut mencicipi puding tersebut.

“Enak sekali ya tinggal di rumah ini kalau tidak ada Cya,” ucap Bu Riska tiba-tiba.

“Tentu saja,” sahut Pak Sammy santai.

Bu Riska tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan nada pelan namun penuh maksud,n“Semoga saja perempuan itu tidak kembali lagi ke rumah ini… dan semoga hubungannya dengan Rajendra semakin merenggang, supaya mereka cepat bercerai.”

“Iya, semoga sa—”

“Jadi Mama sama Papa ingin aku dan Cya bercerai?” Ucapan Pak Sammy terpotong.

Keduanya langsung menoleh ke belakang.

Mata mereka membelalak lebar saat melihat Rajendra berdiri tegap di sana, dengan tatapan tajam dan rahang mengeras.

Suasana mendadak mencekam.

“J-Jendra…” Bu Riska gelagapan.

Rajendra melangkah mendekat perlahan, sorot matanya tak lepas dari kedua orang di hadapannya.

“Tadi Mama bilang apa?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan. Tak ada yang berani menjawab.

Udara terasa berat, seolah menekan dada.

Rajendra menghela napas kasar, lalu kembali bertanya dengan nada yang lebih dingin, “Jadi selama ini… Mama dan Papa memang berharap aku bercerai dengan Cya?”

Bu Riska dan suaminya sama sekali tidak menyangka Rajendra akan kembali secepat itu. Karena itulah mereka dengan santai membicarakan Rajendra dan Cya tanpa rasa waspada.

Begitu menyadari Rajendra berdiri di belakang mereka, Bu Riska langsung menyenggol lengan suaminya, memberi kode agar ia segera membantu.

“Nak… kamu pasti salah dengar. Papa sama Mama nggak mungkin mau kamu dan Cya bercerai,” ucap Pak Sammy berusaha tenang.

Namun, tatapan Rajendra sudah berubah.

Dingin. Tajam. Dan penuh kekecewaan.

“Aku pikir selama ini kalian benar-benar tulus menyayangi aku seperti anak kalian…” ucap Rajendra pelan, tapi setiap katanya terasa berat. “Ternyata kalian justru berharap rumah tangga aku hancur.”

Bu Riska langsung menunduk. “T-tidak seperti itu, Nak…”

“Lalu seperti apa?” potong Rajendra cepat. “Kalian mau menghancurkan hidup Cya? Atau kalian berharap aku selamanya tetap terikat sama Aurel?”

Napas Rajendra memburu. Dadanya naik turun menahan emosi yang semakin sulit dikendalikan. “Aku masih menghormati kalian… makanya aku tahan diri untuk gak berkata lebih kasar.”

Bu Riska menelan ludah. Sungguh ia kehilangan kata-kata. “Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu,” ucapnya akhirnya. “Mama rasa perempuan seperti Cya tidak pantas menggantikan posisi Aurel.”

Ucapan itu seperti menyulut api.

“Berhenti menjelek-jelekkan Cya!” bentak Rajendra, suaranya meninggi, wajahnya memerah.

Ruangan itu langsung sunyi.

“Aku tidak ingin berkata kasar kepada kalian,” lanjutnya dengan suara bergetar, “tapi kalau kalian terus seperti ini… jangan salahkan aku.”

Bibir Bu Riska bergetar. Ini pertama kalinya Rajendra membentaknya seperti itu—dan itu terasa menyakitkan.

“Jendra, tahan emosi kamu, Nak,” ujar Pak Sammy, mencoba menenangkan. Ia hendak menyentuh pundak Rajendra, tapi Rajendra langsung menghindar.

“Kalau kalian benar-benar sayang sama aku,” ucap Rajendra tegas, “kalian juga harus bisa menghormati dan menyayangi istri aku.”

“Bagaimana kami bisa menyayangi perempuan yang menggantikan posisi anak kami?” balas Bu Riska, kali ini emosinya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Seharusnya kamu sadar, yang jahat di sini itu kamu, Rajendra… bukan kami!” tudingnya.

Rajendra terdiam sejenak.

Namun bukannya merasa bersalah, hatinya justru semakin mengeras.

Tatapannya berubah semakin dingin.

Seharusnya mereka meminta maaf.

Bukan malah menyalahkan.

“Aurel itu baru meninggal, belum sampai dua bulan… tapi kamu dengan teganya langsung menikahi Cya. Kamu pikir kami sebagai orang tuanya tidak sakit hati?” suara Bu Riska bergetar, meluapkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam.

“Menikah dengan Cya juga bukan sepenuhnya kehendak aku, Ma,” sangkal Rajendra.

Ia tau itu tidak sepenuhnya benar. Ia memang dijodohkan, tapi ia juga tidak benar-benar menolak.

“Kami dijodohkan,” lanjutnya pelan.

“Tapi kamu bisa menolak!” bentak Bu Riska. “Setidaknya kamu bisa menunggu beberapa tahun. Jasad Aurel saja belum ditemukan! Atau… kamu memang tidak mau menolak karena kamu sudah mencintai bocah ingusan itu?”

“Cya sudah dewasa. Dia bukan bocah ingusan,” balas Rajendra tegas.

Lagi-lagi ia membela Cya.

Dan itu justru semakin melukai hati Bu Riska.

Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar. “Coba kamu bayangkan bagaimana perasaan Aurel kalau dia tau kamu menikah lagi. Kamu bilang kamu sangat mencintainya, kan?”

“Aku memang mencintainya,” jawab Rajendra, tanpa ragu.

“Kalau begitu buktikan! Ceraikan Cya!”

“Jangan gila, Ma!” suara Rajendra meninggi. “Aurel itu sudah gak ada. Dia masa lalu aku… dan Cya adalah masa depan aku.”

Ia menarik napas dalam, menahan emosi yang hampir meledak. “Aku harus belajar mencintai Cya, bukan malah menceraikannya.”

Ucapan itu membuat suasana semakin panas.

Tangan Pak Sammy yang sejak tadi mengepal kini semakin mengeras.

“Sampai kapan pun Mama tidak akan merestui hubungan kamu dengan Cya,” tegas Bu Riska.

“Aku juga tidak mengharapkan restu dari Mama,” balas Rajendra tanpa ragu.

“Kenapa kamu jadi kurang ajar seperti ini?” kali ini Pak Sammy ikut bersuara. “Ini semua pasti karena Cya. Dulu waktu kamu bersama Aurel, kamu anak yang sopan!”

“Aku seperti ini karena ulah kalian!” potong Rajendra tajam. “Jangan bawa-bawa Cya. Dia tidak bersalah sama sekali.”

Nada suaranya penuh penekanan.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berdiri di pihak Cya.

Selama ini, ia terlalu sering menyalahkan gadis itu tanpa mau tahu kebenarannya. Dan sekarang, penyesalan itu menghantamnya keras.

“Sepertinya otak kamu sudah dicuci oleh perempuan itu,” sindir Bu Riska dengan penuh kebencian. “Memang dasar perempuan kurang ajar—”

“Cukup!” Suara Rajendra menggema di ruangan itu.

Semua langsung terdiam.

Rahangnya mengeras, tatapannya dingin dan penuh amarah yang tak lagi bisa disembunyikan.

“Aku mau kalian berdua angkat kaki dari rumah ini. Hari ini juga.”

1
Nifatul Masruro Hikari Masaru
tunggu saja pembalasan nya aurel
just a grandma
kasian cya😭
Aidil Kenzie Zie
yang datang Rajendra atau Brian🤔🤔🤭
Shabrina Darsih
pasti satria nih yg belain cya
serena sahabat nya aja ga peduli sm cya jngn d jadikan shabat klonkyk gitu jempaskan saja seperti bella
Fegajon: satria siapa kak 😭
total 1 replies
Raudah Ara
nyesek banget bacanya kaaa😭😭😭
Fegajon: huwaaa kasian cya😭
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
Jendra cepat urus surat perceraian sama mantanmu
Anak manis
Aurel😡
Anak manis
semoga segera ada Rajendra junior
Aidil Kenzie Zie
mampus kena usir kan 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
rasain diusir
elief
Bagus, saya suka ceritanya
elief
semoga kebusukan aurel terbongkor, agar tidak lama2 menjadi duri dalam rumah tangga rajendra dan cya
Anak manis
semoga tdk ada yg ganggu mrka lagi🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
polos banget sih kamu cya
Aidil Kenzie Zie
coba telpon nomor ug kirim pesan k Jendra cya
Aidil Kenzie Zie
baru juga dikasih kesempatan malah bikin masalah lagi Jen Jen nggak percaya amat sama istrinya
Aidil Kenzie Zie
Bu Kiran rumah yang ditinggali Aurel sama keluarganya nggak jadi digugat 🤔🤔🤔 keenakan mereka tinggal disana mending dijual aja
Aidil Kenzie Zie
gitu aja Cya 🤔🤔🤔
Siti Java
lanjut kk
Nifatul Masruro Hikari Masaru
bagus cya. kasih jendra pelajaran bahasa indonesia, matematika, ipa, ips
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!