"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Bukan rahasia, Mas. Ivan itu sahabat kita, dan Citra juga sahabat kita. Mereka cuma kaget," sahut Afisa pelan, berusaha meredam api yang kembali tersulut.
Bintang tidak membalas. Ia mengajak Afisa duduk di sofa sudut lobi yang agak tersembunyi. Dengan gerakan kaku, ia membuka paper bag dan mengeluarkan kotak makan siang itu. Aroma masakan favorit Afisa menyeruak, namun selera makan wanita itu sudah menguap entah ke mana.
"Mas tahu Ivan cuma bercanda, kan?" tanya Afisa sambil menerima sendok yang disodorkan Bintang.
Bintang menatap Afisa lurus-laki. "Bercanda itu ada dasarnya, Fis. Ivan berani ngomong begitu karena dia tahu sejarah kalian. Dan Arkan? Adikku sendiri sampai melongo begitu karena dia ingat betapa hancurnya aku dulu saat kamu lebih milih laki-laki itu."
"Itu sepuluh tahun lalu, Mas! Kita sudah menikah!"
"Menikah bukan berarti aku buta, Afisa," suara Bintang merendah, nyaris berbisik namun penuh penekanan. "Tadi di telepon, Ivan bilang Guntur makin 'mateng'. Citra yang bilang begitu ke dia. Artinya, di kantor ini, orang-orang mulai memperhatikan dia. Mulai membandingkan dia dengan masa lalunya. Dan kamu ada di tengah-tengah itu semua."
Afisa meletakkan sendoknya kembali ke kotak. "Kalau kamu ke sini cuma mau bahas apa yang Ivan omongin, lebih baik kita nggak usah makan siang bareng. Aku punya sidang besar minggu depan, dan aku butuh ketenangan."
Bintang terdiam. Ia melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah istrinya. Perlahan, ia meraih tangan Afisa dan mengusap punggung tangannya dengan ibu jari.
"Maaf. Mas janji mau belajar percaya, tapi rasanya semua orang seolah-olah pengen ngingetin Mas kalau posisi Mas terancam," gumam Bintang tulus. "Makanlah, Fis. Mas nggak mau kamu sakit. Soal Ivan, nanti Mas yang telepon dia biar mulutnya nggak sembarangan lagi."
Afisa mengangguk lemas. Mereka mulai makan dalam keheningan yang canggung. Bintang sesekali menyuapi Afisa, sebuah gestur manis yang biasanya membuat Afisa tersenyum, namun kali ini terasa seperti sebuah upaya Bintang untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa Afisa masih miliknya.
Bintang menyodorkan sesendok nasi dengan lauk pauk favorit Afisa. "Makan yang banyak, Fis. Mas nggak mau kamu tumbang sebelum sidang minggu depan."
Afisa menerima suapan itu, meski rasanya hambar di lidah karena pikirannya masih terganggu oleh celetukan Ivan di telepon tadi. "Mas juga makan. Jangan cuma liatin aku."
Bintang tersenyum tipis, namun matanya tetap waspada, sesekali melirik ke arah lift. "Mas sudah kenyang cuma dengan lihat kamu makan dengan tenang begini. Di Jakarta, Mas selalu kepikiran apa kamu telat makan atau nggak karena sibuk sama berkas."
Tepat saat itu, pintu lift berdenting terbuka. Guntur melangkah keluar bersama seorang staf administrasi, membawa tumpukan map besar yang tampaknya akan dikirim melalui kurir di depan. Langkah Guntur sempat melambat saat matanya tanpa sengaja menangkap pemandangan di pojok lobi: Bintang yang sedang menyuapi Afisa dengan penuh perhatian.
Guntur segera membuang muka, mempercepat langkahnya menuju meja resepsionis. Ia berusaha bersikap seolah tidak melihat apa pun, namun punggungnya yang tegap tampak sedikit kaku.
Bintang menyadari kehadiran Guntur. Ia sengaja memperlama gerakan tangannya saat merapikan anak rambut Afisa yang jatuh ke dahi. "Fis, asistenmu itu... dia memang selalu rajin ya? Jam istirahat begini masih sibuk bawa berkas?"
Afisa menoleh sekilas, lalu kembali menatap Bintang. "Itu berkas pembuktian yang harus dikirim ke pengadilan siang ini, Mas. Memang mendesak."
"Begitu ya," Bintang menutup kotak makan siang yang sudah hampir habis. "Mas hargai dedikasinya. Tapi Mas harap dia tahu kapan harus berhenti 'bekerja' dan kapan harus memberi ruang untuk privasi atasannya."
Afisa meletakkan sendoknya, ia menatap Bintang dengan lelah. "Mas, dia cuma lewat mau ke kurir. Tolong, jangan mulai lagi. Kita baru saja berbaikan pagi ini."
Bintang menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. "Iya, maaf. Mas cuma... Mas cuma merasa Semarang ini terlalu sempit sejak ada dia."
Guntur, yang sudah selesai mengurus berkas di meja kurir, berbalik untuk kembali ke lift. Ia harus melewati sofa tempat Afisa dan Bintang duduk. Saat jarak mereka hanya terpaut beberapa meter, Guntur mengangguk hormat dengan sangat formal.
"Permisi, Bu Afisa. Mas Bintang," ucap Guntur tanpa menghentikan langkah.
"Ya, Guntur. Segera kembali ke atas, kita harus cek lagi infografisnya," jawab Afisa dengan nada profesional yang tegas, mencoba menunjukkan pada Bintang bahwa hubungan mereka murni pekerjaan.
Bintang hanya membalas dengan anggukan dingin. Setelah Guntur masuk ke lift, Bintang berdiri dan merapikan sisa makanan.
"Mas balik ke apartemen dulu ya. Mas mau lanjut baca jurnal kedokteran sebentar. Sore nanti Mas jemput lagi?"
Afisa menggeleng pelan. "Nggak usah, Mas. Sore ini aku ada rapat evaluasi sampai malam sama Citra. Aku pulang naik taksi online saja atau bareng Citra."
Bintang terdiam sejenak, ada gurat kekecewaan, namun ia ingat janjinya untuk memberi ruang. "Baiklah. Kabari Mas kalau sudah selesai, ya."
Bintang melangkah keluar lobi, meninggalkan Afisa yang masih duduk termenung. Sementara itu di lantai atas, Guntur berdiri di depan mesin kopi, menatap pantulan dirinya di kaca. Ia sadar, setiap langkah yang ia ambil di kantor ini adalah duri bagi pernikahan Afisa, namun ia tidak punya pilihan selain terus berjalan demi masa depan keluarganya.