NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMUDIA SETIA MENUJU JAKARTA

Malam itu, suasana di ruang tengah rumah orang tua Adrian terasa lebih hening dari biasanya. Suara jangkrik dari kebun belakang terdengar bersahutan, menemani rintik hujan tipis yang mulai membasahi bumi. Dina baru saja hendak berpamitan untuk pulang ke kosannya setelah mencuci piring sisa makan malam, namun langkahnya terhenti.

Ibu Adrian, yang sedari tadi hanya terdiam menatap televisi tanpa benar-benar menontonnya, tiba-tiba memegang pergelangan tangan Dina. Tatapannya dalam, ada gurat kecemasan yang tidak bisa disembunyikan di balik wajah tuanya yang teduh.

"Nduk... malam ini nginap di sini saja ya? Ibu nggak tahu kenapa, rasanya Ibu nggak mau jauh-jauh dari kamu. Perasaan Ibu nggak enak sekali sejak telepon satelit tadi sore," ucap Ibu Adrian dengan suara yang sedikit bergetar.

Dina tertegun. Ia bisa merasakan dinginnya tangan Ibu Adrian. Sebagai sesama wanita yang mencintai pria yang sama di hutan Papua sana, Dina paham betul apa yang dirasakan Ibu. Firasat seorang ibu seringkali menjadi radar yang paling tajam.

"Iya, Nduk. Menginap di sini saja. Besok kan hari libur, kamu nggak perlu buru-buru ke kantor," sambung Ayah Adrian sambil meletakkan korannya. Beliau mencoba terdengar setenang mungkin, namun Dina melihat jemarinya yang gemetar saat melipat kertas koran itu. "Tidur di kamar tamu saja, sudah Ibu siapkan sprei bersihnya tadi."

Dina mengangguk pelan, ia mengurungkan niatnya untuk mengambil kunci SUV hitam di meja. "Iya, Bu, Pak. Dina menginap di sini. Dina juga merasa lebih tenang kalau kita kumpul begini."

Malam itu, Dina tidak bisa memejamkan mata dengan mudah. Ia berbaring di kamar tamu yang terletak tidak jauh dari kamar utama. Pikirannya melayang jauh ke hutan belantara Papua. Kata-kata Adrian tentang "gencatan senjata" dan "situasi tegang" terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Sekitar jam dua pagi, Dina mendengar suara langkah kaki di ruang tengah. Ia segera bangkit dan keluar kamar. Ternyata Ibu Adrian sedang duduk di depan sajadah, baru saja menyelesaikan salat tahajudnya. Beliau menangis sesenggukan, bahunya berguncang hebat.

Dina mendekat dan memeluk bahu Ibu dari belakang. "Ibu... Mas Adrian pasti baik-baik saja. Dia janji akan pulang, Bu."

"Ibu cuma takut, Nduk. Tadi Ibu mimpi Adrian berdiri di depan pintu, tapi dia nggak masuk, cuma tersenyum saja terus pergi lagi," bisik Ibu sambil mengusap air matanya.

Dina terdiam, hatinya mencelos. Namun, ia harus kuat demi wanita di pelukannya ini. "Itu cuma bunga tidur karena Ibu kangen, Bu. Besok kita kirim paket lagi ya ke pos Mas Adrian? Kita isi sambal teri kesukaan dia."

Pagi harinya, saat mereka sedang sarapan dengan suasana yang masih agak kaku karena firasat semalam, tiba-tiba sebuah mobil dinas TNI berhenti di depan pagar. Jantung Dina seolah berhenti berdetak. Ia melihat dua orang perwira turun dari mobil dengan wajah yang sangat formal.

Ayah Adrian langsung berdiri, wajahnya mendadak pucat. Ibu Adrian sudah mulai terisak bahkan sebelum tamu itu mengucap salam.

"Selamat pagi, Pak, Bu," ucap salah satu perwira itu. "Kami dari Kodam membawa berita terkait Satgas pengamanan perbatasan di Papua."

Dina merasa dunianya berputar. Ia memegang pinggiran meja makan kuat-kuat agar tidak jatuh. Tuhan, tolong jangan ambil dia sekarang, doanya dalam hati.

"Ada apa dengan anak saya?" tanya Ayah Adrian dengan suara yang dipaksakan teguh.

"Mohon izin, Pak. Ada kontak senjata di area pos tempat Letda Adrian bertugas kemarin malam. Ada korban luka-luka, dan unit mereka ditarik mundur lebih cepat dari jadwal untuk perawatan dan pemulihan di Jakarta sebelum kembali ke sini."

Dina merasa lututnya lemas. Luka-luka. Itu artinya Adrian masih hidup, namun berada dalam bahaya.

"Lalu anak saya? Bagaimana kondisinya?" tanya Ibu Adrian histeris.

"Letda Adrian mengalami luka tembak di bahu kiri, Bu. Saat ini sudah dievakuasi dan dalam perjalanan menuju RSPAD Gatot Subroto di Jakarta. Beliau dalam kondisi sadar saat dievakuasi dan terus menyebutkan nama 'Dina' dan 'Ibu'."

Mendengar itu, Dina menangis sejadi-jadinya. Rasa syukur karena Adrian selamat mengalahkan rasa takutnya akan luka yang dialami pria itu. Ia langsung menatap Ayah dan Ibu Adrian.

"Pak, Bu... kita ke Jakarta sekarang. Kita pakai mobil Mas Adrian. Dina yang setir. Kita harus ada di sana saat Mas Adrian sampai," ucap Dina dengan tekad yang membaja.

Ayah Adrian mengangguk mantap. "Siapkan barang-barang kalian. Kita berangkat sekarang juga!"

Dalam perjalanan menuju Jakarta, Dina memegang kemudi SUV hitam itu dengan sangat fokus. Ia tidak lagi merasa seperti gadis yang melarikan diri dari masalah. Kali ini, ia adalah seorang wanita yang sedang menjemput pahlawannya, menjemput rumah tempat hatinya berlabuh.

Jalanan aspal menuju Jakarta terasa begitu panjang dan menegangkan pagi itu. Suara deru mesin SUV hitam milik Adrian menjadi satu-satunya musik yang menemani kecemasan di dalam kabin. Dina mencengkeram kemudi dengan sangat erat, matanya fokus menatap lurus ke depan, sementara pikirannya terus melayang ke ruang operasi di RSPAD tempat Adrian mungkin sedang berjuang.

Melihat buku-buku jari Dina yang memutih karena tekanan pada setir, Ayah Adrian yang duduk di kursi penumpang depan menoleh dengan tatapan khawatir. Beliau bisa merasakan ketegangan yang memancar dari tubuh calon menantunya itu.

"Nduk... kalau tidak kuat, biar Bapak yang nyetir," ucap Ayah Adrian lembut, mencoba menawarkan bantuan. "Perjalanan masih jauh, kamu dari semalam belum tidur tenang. Bapak nggak mau kamu tumbang sebelum kita sampai di sana."

Dina menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur detak jantungnya yang tidak beraturan. Ia melirik sekilas ke arah kursi belakang, di mana Ibu Adrian sedang tertidur karena kelelahan setelah menangis sepanjang pagi.

"Aku nggak apa-apa, Pak," ucap Dina dengan nada yang sangat tenang namun penuh ketegasan. "Aku kuat. Mas Adrian yang ajari aku bawa mobil ini supaya aku mandiri. Sekarang saatnya aku buktikan ke Mas kalau aku bisa diandalkan buat bawa Bapak sama Ibu sampai ke Jakarta dengan aman."

Ayah Adrian tertegun sejenak. Beliau melihat binar keberanian di mata Dina—sesuatu yang sangat berbeda dari sosok gadis pemalu yang pertama kali beliau temui. Ada kekuatan mental seorang istri prajurit yang mulai tumbuh di dalam diri Dina.

"Ya sudah, kalau memang kamu kuat. Tapi kalau mulai lelah, bilang ya? Kita berhenti sebentar untuk minum," sahut Ayah Adrian sambil menepuk bahu Dina pelan, memberikan dukungan moral yang besar.

"Siap, Pak," jawab Dina singkat, menggunakan gaya bicara militer yang sering ia dengar dari Adrian.

Selama perjalanan, Dina terus membisikkan doa di dalam hatinya. Ia mengingat setiap instruksi Adrian saat mereka latihan dulu: Jangan panik kalau ada kendaraan besar, tetap tenang, jaga jarak aman. Mobil SUV itu melaju stabil, membelah kemacetan pinggiran Jakarta seolah-olah mobil itu tahu bahwa tuannya sedang menunggu di ujung jalan.

Sesampainya di lobi RSPAD Gatot Subroto, Dina memarkirkan mobil dengan sempurna. Ia segera turun dan membantu Ibu Adrian keluar. Langkah mereka terburu-buru menuju ruang perawatan intensif.

Di lorong rumah sakit yang beraroma obat tajam itu, mereka melihat Pak Baskoro dan Manda sudah berdiri di depan pintu ruang rawat. Ternyata kabar mengenai Adrian sudah sampai ke telinga rekan-rekan Dina di Jakarta.

"Dina! Pak, Bu!" sapa Pak Baskoro, wajahnya penuh empati. "Adrian baru saja keluar dari ruang operasi untuk pembersihan luka. Sekarang dia sudah di dalam, sedang dalam masa pemulihan bius."

Dina melangkah mendekati kaca jendela pintu kamar. Di dalam sana, ia melihat sosok Adrian yang gagah itu kini terbaring dengan perban tebal membungkus bahu kirinya. Wajahnya masih pucat, namun garis wajahnya tetap tegas.

Dina menempelkan telapak tangannya di kaca. "Sayang... aku sudah sampai. Aku bawa Bapak sama Ibu pakai mobilmu. Aku sudah buktikan kalau aku bisa mandiri, jadi Mas harus bangun dan penuhi janjimu untuk pulang ke rumah kita."

Seolah ada ikatan batin yang kuat, di dalam sana, jemari tangan kanan Adrian yang tidak terluka tampak bergerak sedikit. Meskipun matanya masih terpejam, Dina tahu bahwa Adrian mendengar suaranya.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!