Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Ibu & Dua Saudara Tiri Spek Bidadari
Mobil hitam milik Arif melaju pelan meninggalkan gang sempit rumah Ge. Di belakangnya, motor tua Ge meraung berisik, tetap setia mengikuti.
Perjalanan kali ini terasa berbeda. Ge beberapa kali melirik ke arah mobil Arif, lalu ke jalan di depannya.
“Gila…” gumamnya pelan. “Ini beneran ya…”
Untuk pertama kalinya, dia tidak sedang bercanda. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka memasuki kawasan perumahan elit. Jalanannya lebar, bersih, dan dipenuhi pohon besar di kanan kiri. Rumah-rumah di sana terlihat seperti vila.
Ge mulai melambatkan motornya. “Anjir…”
Matanya mulai membesar. Mobil Arif berhenti di depan sebuah gerbang besar berwarna hitam dengan desain elegan. Tingginya hampir dua kali tinggi Ge. Di sampingnya ada pos satpam.
Gerbang itu terbuka otomatis begitu mobil Arif mendekat. Ge sampai melongo.
“Buset…”
Dia masuk mengikuti mobil itu. Begitu masuk, halaman luas terbentang di depannya. Rumah utama keluarga Armansyah berdiri megah di tengah. Bangunan besar tiga lantai, dengan pilar tinggi, kaca lebar, dan taman yang tertata rapi seperti hotel bintang lima.
Motor Ge bahkan terasa tidak pantas berada di sana. Dia berhenti di halaman.
“Ini rumah apa… istana?” gumamnya.
Arif turun dari mobil dan menoleh ke arah Ge. “Biasakan.”
Ge mendengus kecil. “Biasakan katanya…”
Namun matanya tidak bisa berhenti melihat sekeliling. Lalu pandangannya tertuju ke garasi. Di situlah dia benar-benar terdiam. Deretan mobil mewah berjejer rapi. Ada yang hitam mengkilap, ada yang merah sporty, bahkan ada yang bentuknya seperti mobil balap.
“ANJIR…” Ge turun dari motornya, berjalan mendekat sedikit. “Ini satu… bisa beli kampung gue kayaknya…”
Arif menghela napas kecil. “Jangan norak.”
Ge langsung menoleh. “Om… ini bukan norak. Ini shock budaya.”
Arif menggeleng. “Ayo masuk. Mereka sudah menunggu.”
Ge menarik napas dalam. “Mereka…” ulangnya pelan.
Arif menatapnya. “Ibu tirimu… dan dua saudara tirimu.”
Ge menyeringai tipis. “Yang galak itu ya…”
Arif tidak menjawab. Mereka masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, interior dalamnya bahkan lebih gila. Lantai marmer putih, tangga besar melingkar, lampu kristal menggantung di atas. Semua terlihat mahal.
Ge melangkah masuk sambil menoleh ke kanan kiri. “Ini kalau jatuh… bahaya banget,” gumamnya.
Arif menahan napas. Belum sempat mereka melangkah jauh, suara langkah terdengar dari depan. Seorang wanita turun dari tangga. Penampilannya elegan. Rambutnya tersisir rapi. Wajahnya cantik, tapi tatapannya dingin. Itulah Clara.
Begitu melihat Ge, wajahnya langsung berubah sinis. “Ini dia? Ibu tiriku?” tanyanya datar.
Arif mengangguk. “Ya.”
Clara menatap Ge dari atas sampai bawah.
“Penampilannya… jauh dari ekspektasi.”
Ge menyeringai santai. “Terima kasih, Tante. Tante juga cantik banget,” balasnya.
Clara langsung mengernyit. “Kurang ajar!”
Ge mengangkat bahu. “Jujur itu penting.”
Dari arah lain, Naya muncul. Begitu melihat Ge, matanya langsung menyipit.
“Lu…”
Ge menyeringai lebar. “Ketemu lagi kita.”
Naya mendengus. “Ngapain lu ke sini? Kan gue sudah bilang sama lu untuk nggak menjejakkan kaki di sini!”
Ge santai. “Katanya ini rumah gue juga.”
“NGGAK!” potong Naya cepat.
Suasana langsung memanas. Lalu langkah kaki kecil terdengar. Seorang gadis lain muncul dari belakang. Lebih muda. Wajahnya juga cantik, tapi ekspresinya tenang. Tatapannya misterius. Namanya Zara, ia tidak bicara. Hanya berdiri dan memperhatikan Ge. Beberapa detik kemudian, dia tersenyum tipis.
Ge langsung menangkap itu. “Wah…” gumamnya. “Yang ini adem.”
Naya langsung melotot. “Lu jangan macam-macam ya!”
Ge mengangkat tangan santai. “Santai, saudara galak.”
Clara melangkah maju. “Cukup!” Dia menatap Arif. “Aku tidak menerima anak ini di rumah ini.”
Ge langsung nyeletuk, “Tapi ini bukan rumah Tante doang, kan?”
Clara langsung menatap tajam. “Kamu tidak punya hak bicara di sini!”
Ge mengangkat alis. “Katanya warisan buat aku semua.”
Clara terdiam sesaat.
Arif akhirnya maju sebagai penengah. “Nyonya Clara,” katanya tenang, “wasiat Pak Romy sudah jelas.”
Dia menatap semua orang. “Seluruh aset jatuh kepada Ge.”
Naya langsung protes. “Itu nggak masuk akal!”
Clara menahan napas, wajahnya menegang.
“Dokumen resminya sudah ada,” lanjut Arif. “Dan secara hukum… tidak bisa diganggu gugat.”
Ruangan menjadi sunyi.
Ge melirik ke sekeliling, lalu menyeringai kecil. “Wah… berat juga ya jadi orang penting.”
Naya menatapnya penuh kesal. “Lu pikir ini lucu?!”
Ge santai. “Sedikit.”
Clara menatapnya dingin. “Kamu tidak akan bertahan lama di sini.”
Ge tersenyum. “Tenang aja, Tante,” katanya santai. “Aku juga belum tentu betah."
Zara di belakang hanya memperhatikan. Senyumnya masih ada. Sementara Arif berdiri di tengah, memastikan semuanya tetap terkendali.
Ge perlahan mendekati Arif dan berbisik, "Ini beneran ibu tiri dan saudara tiriku? Speknya kayak bidadari semua..."
"Setahuku Nyonya Clara pekerjaannya model. Jadi kau nggak usah heran kalau anak-anaknya cantik," sahut Arif.
"Terus dua anaknya itu sedarah nggak sama aku?" tanya Ge.
Seketika Arif langsung menatap curiga. "Kenapa memangnya?"
"Aku takut aja nanti khilaf, Om..." sahut Ge.
Arif memutar bola mata jengah. Dia mendengus kasar. Andai Ge bukan anak kandung Romy Armansyah, dia pasti tak akan mampu bersabar.