Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24: PANGGILAN DARI NEGERI PARA WALI
Hadramaut, Yaman.
Udara Tarim terasa kering dan panas, berbeda banyak dengan kelembapan desa. Namun, udara itu membawa aroma yang sangat khas dan menenangkan: campuran debu kuno yang telah berusia ribuan tahun, wangi kayu gaharu yang terbakar di sudut-sudut jalan, dan sisa-sisa doa yang seolah masih melayang di angkasa.
Nero berdiri di depan sebuah bangunan tua berdinding tanah liat yang megah. Arsitekturnya klasik, dengan ukiran geometris yang rumit di sekitar jendela-jendelanya tinggi. Ia mengenakan gamis putih sederhana dan sorban putih yang masih agak kaku ia lilitkan di kepala, tanda bahwa ia masih pemula di bumi para habib ini.
"Bismillah," bisik Nero, menutup mata sejenak. "Selamat tinggal, Nero yang lama. Selamat datang, penuntut ilmu."
Dengan langkah mantap, ia melintasi gerbang asrama. Begitu masuk, ia langsung disambut oleh keramaian suara santri dari berbagai penjuru dunia. Di sebuah sudut halaman yang teduh, ia melihat sekumpulan pemuda sedang duduk melingkar di atas tikar, menikmati teh shahi berwarna merah kecokelatan. Wajah-wajah mereka sangat akrab. Wajah-wajah Nusantara.
Mereka menoleh serentak saat melihat Nero mendekat, lalu tersenyum lebar, menyambut saudara seiman mereka.
"Pendatang baru ya, Akhi? Dari Indo juga?" tanya salah satu dari mereka.
Nero mengangguk dan bergabung. Inilah "Geng Nusantara" pertama yang ia temui, sebuah keberagaman yang unik.
Fikri (Si Aktivis): Asal Jakarta, mantan ketua BEM yang gaya bicaranya masih meledak-ledak. Dia ke Yaman karena ngerasa orasi di jalanan nggak cukup kalau nggak punya landasan agama yang kuat.
Gus Aris (Si Ningrat Jawa): Anak kyai besar dari Jawa Timur. Orangnya kalem banget, bicaranya halus, dan sering jadi kamus berjalan buat teman-temannya kalau ada istilah kitab yang susah.
Ucok (Si Preman Tobat): Asal Medan, tatonya di leher masih kelihatan dikit. Dia punya cerita yang hampir mirip sama Nero, mantan penguasa jalanan yang dapet hidayah lewat mimpi. "Kita satu frekuensi lah, Bang Nero," katanya sambil nyengir.
Zul (Si Jenius IT): Pemuda asal Makassar yang tadinya kerja di perusahaan teknologi besar. Dia ke Yaman bawa laptop, niatnya mau mendigitalisasi manuskrip-manuskrip kuno biar bisa dibaca dunia.
Asep (Si Santri Kalong): Asal Bandung, orangnya paling humoris. Dia yang paling jago bikin suasana cair. "Tenang Kang Nero, di sini emang panas, tapi kalau udah denger khutbah para Habib, hati langsung berasa pake AC," candanya.
Nero tertawa mendengarkan mereka. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Indonesia, rasa sepi di hatinya sedikit terobati. Ia merasa telah menemukan rumah baru.
.
.
Malam pertama di Yaman berlalu dengan cepat. Nero duduk sendirian di ambang jendela asramanya yang terbuka. Angin malam Hadramaut berhembus sejuk, menerpa wajahnya yang lelah namun berbinar. Langit di atasnya begitu luas, dihiasi ribuan bintang yang tampak lebih dekat daripada di desa Kenangan.
Pandangannya menerawang jauh, menembus gelapnya malam, seolah bisa melihat hingga ke Kairo. Bayangan Ainun muncul lagi di benaknya. Senyumnya, tawanya, janjinya. Rasa rindu itu datang menyerbu, mencoba meruntuhkan benteng tekad yang baru saja ia bangun.
Namun, Nero tidak membiarkannya berkuasa. Dengan sadar dan penuh keteguhan hati, ia membayangkan sebuah pintu besi berat di dalam dadanya. Perlahan, ia menutup pintu ingatan itu rapat-rapat, menguncinya dengan kunci bernama "Pengabdian".
"Maafkan aku, Ainun," bisiknya pada angin malam, suaranya lirih namun penuh keyakinan. "Aku harus menjadi laki-laki yang punya cahaya sendiri sebelum aku pantas bersanding dengan cahayamu. Aku tidak bisa menawarkanmu setengah hati. Aku harus utuh dulu."
Ia berbalik, mengambil kitab Matan Al-Jurumiyah yang baru dibelinya sore tadi. Sampulnya masih baru, halamannya belum terlipat. Ini adalah awal dari perjalanan panjangnya.
Malam itu, Muhammad Nero Vane Akbar tidur dengan lelap. Bukan karena kelelahan fisik semata, melainkan karena ketenangan jiwa yang mendalam. Ia tahu, ia tidak tersesat. Ia berada tepat di jalan yang diinginkan oleh Sosok yang menyapanya di sepertiga malam itu. Dan di sanalah, di tanah suci Hadramaut, Nero akan ditempa menjadi emas yang murni.