Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK INGAT
Lyra terdiam sejenak, dia mencoba menggali ingatannya, dia ingat kemarin Gia dan Sifa datang, dia ingat mereka tertawa-tawa, tapi setelah itu semuanya gelap gulita.
"Kemarin? Bukannya Gia sama Sifa ke sini ya? Terus kita ngobrol-ngobrol, terus a-aku...aku kayaknya ketiduran ya, Mom? Habisnya ngantuk banget," jawab Lyra sambil mencoba duduk dibantu oleh ibunya.
Nyonya Arin dan Tuan Thomas saling pandang, ada rasa lega yang luar biasa sekaligus kekhawatiran baru di mata mereka.
Lyra benar-benar tidak ingat soal mimisan, soal suhu tubuhnya yang drop, apalagi soal nama Xavier Valerius yang memicu semuanya.
"Iya, Sayang, kamu ketiduran karena kecapekan ngobrol sama mereka," bohong Tuan Thomas sambil mengelus rambut putrinya lembut.
"Kamu bikin Daddy khawatir saja," lanjut Tuan Thomas, tersenyum kecil.
"Maaf ya, Dad, aku nggak tahu kalau sampai bikin Daddy sama Mommy nggak tidur," ucap Lyra merasa bersalah.
"Tapi kok... hidungku agak perih ya?" tanya Lyra, mengernyit kan kening nya.
Lyra menyentuh cuping hidungnya yang terasa sedikit kaku akibat bekas darah yang sudah dibersihkan.
"Itu mungkin karena udara di kamar terlalu dingin, Princess, Oh iya, ini sarapan dulu, setelah itu kamu harus minum vitamin biar imun tubuhmu naik lagi," ucap Arkan sambil menyodorkan semangkuk bubur hangat.
"Ih, bubur lagi... aku mau nasi goreng, Bang," keluh Lyra, menggeleng kan kepala nya.
"Nggak ada nasi goreng buat pasien yang baru bangun pingsan, maksud Abang, pasien yang baru sembuh," ralat Arkan cepat, hampir saja ia keceplosan.
"Sudah, turuti kata Abangmu, habis ini Kakek mau masuk, dia sudah siapkan kejutan bunga lili buat kamu," ucap Tuan Thomas, menghela nafas nya panjang.
Lyra tersenyum lebar, matanya berbinar menatap hamparan bunga lili di sudut kamar.
"Wah, pantesan harum banget! Kakek memang yang terbaik!" seru Lyra, tersenyum lebar, yang jarang terlihat.
Di tengah tawa kecil Lyra yang mulai kembali, Tuan Thomas berjalan menuju jendela, dia menatap ke arah gerbang luar, tempat Xavier berdiri kemarin sore.
Meskipun Lyra tidak ingat apa-apa, tapi Tuan Thomas tahu bahwa ingatan itu tidak hilang, melainkan hanya tertidur sementara.
"Syukurlah dia lupa..." bisik Nyonya Arin menghampiri suaminya, suaranya sangat lirih agar tidak terdengar Lyra yang sedang disuapi Arkan.
"Untuk sekarang, Arin, tapi kita harus tetap waspada," jawab Tuan Thomas dengan nada bicara yang berat.
Sementara itu, Lyra yang sedang mengunyah buburnya tiba-tiba terhenti, dia merasa ada sesuatu yang aneh, sebuah perasaan hangat yang tertinggal di hatinya, seolah-olah ada seseorang yang membisikkan kata-kata penenang di telinganya saat dia tertidur tadi malam.
"Mom, kemarin ada tamu lain ya selain Gia sama Sifa?" tanya Lyra tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat seisi ruangan seketika senyap.
Tuan Thomas mencengkeram pinggiran jendela, sementara Arkan menghentikan suapannya.
"Nggak ada, Sayang, cuma mereka saja. Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Nyonya Arin berusaha setenang mungkin.
"Enggak apa-apa, cuma ngerasa kayak ada bau parfum cowok yang beda aja di kamar ini, wanginya kayak hutan pinus setelah hujan. Enak banget," gumam Lyra pelan, lalu kembali melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa.
Tuan Thomas memejamkan matanya rapat, dengan perasaan yang bergejolak.
"Sepertinya takdir memang tidak bisa kita bohongi, Thomas..." batin Nyonya Arin pilu.
Ting
Tuan Thomas yang tengah berdiri di dekat jendela, merasakan getaran pelan dari ponsel di saku celananya, dia merogoh benda persegi itu dengan gerakan tenang, awalnya mengira itu adalah laporan rutin dari anak buahnya di pelabuhan.
Namun, begitu layar menyala, pupil matanya mengecil seketika.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal muncul di baris paling atas, tidak ada nama, tidak ada foto profil, hanya deretan angka asing yang terasa dingin.
Isi pesannya sangat singkat, namun cukup untuk membuat seluruh dunia Tuan Thomas seolah runtuh dalam satu detik.
"Dia sudah bangun, bukan? Jangan biarkan dia terlalu lama di sana, Thomas. Wangi lili tidak cukup untuk menyembunyikan aromanya yang sudah mulai matang. Aku akan segera menjemput apa yang sudah ditakdirkan untukku." — X.V.
Tangan Tuan Thomas bergetar hebat, nyaris menjatuhkan ponsel mahal itu ke lantai marmer.
Rahangnya mengeras, dan wajahnya yang tadi mulai rileks kini kembali tegang, bahkan jauh lebih menyeramkan dari saat Xavier berdiri di depan gerbang kemarin.
"Dad? Ada apa? Wajah Daddy kok pucat banget?" tanya Lyra yang menyadari perubahan ekspresi ayahnya.
Lyra berhenti mengunyah buburnya dan menatap Tuan Thomas dengan cemas.
Nyonya Arin dan Arkan pun serentak menoleh, seketika keheningan yang mencekam kembali merayap di dalam kamar itu.
"Enggak ada apa-apa, Sayang, hanya ada urusan kantor yang sedikit kacau," bohong Tuan Thomas, suaranya terdengar berat dan dipaksakan.
Dengan cepat, Tuan Thomas segera memasukkan ponselnya kembali ke saku, seolah ingin menyembunyikan ancaman itu sedalam mungkin.
"Thomas, kamu baik-baik saja?" bisik Nyonya Arin menghampiri suaminya, memegang lengan Thomas dan bisa merasakan otot suaminya itu sangat tegang.
Tuan Thomas menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh ketakutan, ketakutan seorang ayah yang tahu bahwa benteng yang dia bangun selama belasan tahun ini mulai retak.
"Aku harus keluar sebentar, Arin. Arkan, tetap di sini, jangan tinggalkan Lyra sedetik pun. Aku serius!" perintah Tuan Thomas dengan nada yang sangat tegas, membuat Arkan tersentak.
"Iya, Dad. Arkan nggak akan ke mana-mana," jawab Arkan dengan kening berkerut bingung.
Tuan Thomas melangkah keluar kamar dengan terburu-buru.
Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya dan menarik napas dalam-dalam.
Pesan itu bukan sekadar gertakan, Xavier tahu segalanya, Xavier tahu kapan Lyra membuka mata, dan Xavier tahu bahwa rahasia jiwa itu tidak bisa lagi disembunyikan di balik dinding rumah Wijaya.
"Sialan kau, Xavier..." desis Tuan Thomas dengan amarah yang tertahan.
Di dalam kamar, Lyra kembali merasakan sensasi aneh itu. Aroma hutan pinus semakin kuat di indra penciumannya, meskipun jendela tertutup rapat.
"Mom... kenapa aku merasa seperti ada yang sedang memperhatikanku dari jauh ya?" gumam Lyra pelan, membuat bulu kuduk Nyonya Arin meremang seketika.
Nyonya Arin hanya bisa memeluk bahu putrinya erat, tidak tahu harus menjawab apa.
Di luar sana, takdir yang dibawa Xavier Valerius sedang bergerak maju, dan tidak ada satu pun senjata milik keluarga Wijaya yang bisa menghentikan pria itu jika saatnya tiba.
Tuan Thomas berjalan cepat menuju ruang kerjanya, napasnya masih memburu.
Dia segera mengunci pintu dan menatap ponselnya dengan kemarahan yang meluap-luap, jarinya dengan gemetar mengetik balasan untuk nomor asing itu.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,