Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)
Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)
Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )
Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )
Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Awal Perjalanan Panjang
Pagi di Desa Sura datang dengan udara yang sejuk dan kabut tipis yang masih menggantung di sela-sela rumpun bambu hitam di belakang rumah Ling. Cahaya matahari baru saja menembus pucuk pepohonan, memantulkan kilau lembut pada dedaunan yang basah oleh embun malam. Suasana di sekitar rumah kayu tua itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah tempat itu pun mengetahui bahwa hari ini adalah awal dari sebuah perjalanan besar.
Di depan halaman rumah, Cang Li berdiri dengan sebuah tas sederhana yang tergantung di bahunya. Isi bawaannya tidak banyak—beberapa helai pakaian ganti, perban, sedikit bekal kering, botol air, dan kain pembungkus pedang. Tidak ada barang berlebihan. Semuanya tertata rapi, sebagaimana kebiasaan seseorang yang telah terbiasa hidup sederhana dan menahan diri dari kenyamanan.
Tubuhnya kini tampak jauh berbeda dibandingkan saat pertama kali ia tiba di Desa Sura. Bahunya lebih tegap, langkahnya lebih mantap, dan tatapannya jauh lebih tenang. Selama beberapa minggu terakhir, tempaan Ling telah mengikis banyak kelemahan dalam dirinya. Teknik pedangnya semakin tajam, insting bertarungnya semakin halus, dan yang terpenting, wadah energi spiritual di tubuhnya telah berkembang pesat setelah latihan terakhir di bawah badai petir.
Meski demikian, Cang Li sendiri tahu bahwa perjalanannya masih sangat panjang.
Di teras rumah, Ling berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung. Wajah pria tua itu tetap tenang seperti biasa, tetapi sorot matanya menunjukkan bahwa ia diam-diam mengamati setiap perubahan kecil pada murid barunya itu.
Cang Li menoleh ke arahnya.
“Guru,” katanya sambil menyesuaikan posisi tas di pundaknya, “apakah Guru benar-benar tidak ikut bersama kami ke Imperial City?”
Ling menggeleng pelan.
“Aku tidak akan ikut dalam perjalanan kalian,” jawabnya dengan suara datar namun mantap. “Tempatku bukan di arena ramai seperti itu. Aku sudah terlalu lama menjauh dari kerumunan, dan aku tidak berniat mengubah kebiasaan itu hanya demi menyaksikan sekelompok bocah saling memamerkan kemampuan.”
Cang Li tersenyum tipis mendengar jawaban khas gurunya itu.
“Namun,” lanjut Ling, “bukan berarti aku tidak peduli. Aku akan tetap mengawasi perkembangan kalian dari kejauhan. Terutama kau dan Su Yan. Jangan mempermalukan latihan yang telah kalian jalani di tempat ini.”
Cang Li menundukkan kepala hormat.
“Saya mengerti, Guru.”
Ling mengeluarkan selembar kertas yang telah dilipat rapi dari balik lengan bajunya, lalu menyerahkannya kepada Cang Li.
“Ini rute perjalanan kalian menuju Imperial City. Aku sudah menandai jalur tercepat dan titik-titik aman untuk beristirahat. Jika tidak ada hambatan berarti, kalian akan tiba dalam waktu sekitar delapan hari.”
Cang Li menerima kertas itu dengan hati-hati, lalu membukanya. Di atasnya tergambar jalur melewati beberapa desa kecil, hutan perbatasan, dan jalan utama menuju pusat Dinasti Tianjian. Beberapa bagian diberi catatan singkat dengan tulisan tangan Ling yang tegas dan tajam.
“Terima kasih, Guru,” ucap Cang Li tulus.
Ling hanya mendengus pelan.
“Jangan berterima kasih sekarang. Simpan itu saat kau benar-benar bisa kembali hidup-hidup setelah turnamen.”
Cang Li baru saja hendak menjawab ketika pandangannya beralih ke jalan setapak di depan rumah. Ia menunggu dalam diam, sesekali melirik ke arah ujung jalan hutan yang masih kosong. Ling juga tampak menunggu seseorang, meskipun wajahnya tetap tidak menunjukkan perubahan berarti.
Beberapa saat berlalu.
Burung-burung kecil mulai beterbangan dari dahan ke dahan, dan matahari semakin tinggi. Namun sosok yang mereka tunggu masih belum juga muncul.
Cang Li menghela napas pelan.
“Senior Su Yan… lama sekali.”
Ling menyilangkan tangan di depan dada.
“Kalau aku harus menebak,” katanya datar, “dia pasti sedang sibuk memilih barang apa saja yang menurutnya tidak bisa ditinggalkan selama perjalanan delapan hari.”
Cang Li terdiam sejenak, lalu tanpa sadar membayangkan kemungkinan terburuk.
“Jangan-jangan…”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, suara langkah tergesa-gesa terdengar dari kejauhan, disusul suara seseorang yang tampak kesulitan membawa beban.
“Tunggu! Tunggu sebentar! Jangan pergi dulu!”
Beberapa detik kemudian, Su Yan akhirnya muncul dari balik pepohonan dengan napas sedikit tersengal. Rambutnya sedikit berantakan, pipinya memerah karena terburu-buru, dan di punggungnya tergantung sebuah tas yang ukurannya hampir dua kali lebih besar dari tas Cang Li.
Bukan hanya itu. Di kedua tangannya, ia juga masih membawa dua bungkusan kain tambahan.
Cang Li menatapnya beberapa saat tanpa berkedip.
“…Senior.”
Su Yan berhenti di depan mereka, lalu tersenyum canggung.
“Hehe… maaf. Aku sedikit terlambat.”
Cang Li memandang seluruh bawaan gadis itu dari atas sampai bawah.
“Sedikit?”
Ling menutup matanya sambil memijat pelipis, seolah semua ini sudah sesuai dengan dugaannya.
Su Yan mengangkat salah satu bungkusan dengan bangga.
“Aku hanya membawa barang-barang penting.”
“Barang-barang penting?” ulang Cang Li dengan nada datar.
“Iya.” Su Yan mulai menghitung dengan jari. “Pakaian ganti, sandal cadangan, sisir, alat mandi, panci kecil, mangkuk, sumpit, bumbu masak, cemilan, selimut tipis, minyak rambut, beberapa mainan kecil, payung, tali jemuran, dan—”
“Cukup,” potong Cang Li cepat.
Su Yan mengedip bingung.
“Kenapa?”
Cang Li menatapnya dengan wajah yang benar-benar sulit dipercaya.
“Kita sedang pergi menuju ibu kota untuk mengikuti turnamen antar dinasti, bukan pindah rumah.”
Su Yan mengerucutkan bibir.
“Kalau aku tidak membawa barang-barang ini, nanti di perjalanan aku akan kesulitan. Bagaimana kalau tiba-tiba aku lapar? Bagaimana kalau penginapannya tidak nyaman? Bagaimana kalau hujan? Bagaimana kalau—”
“Bagaimana kalau kau kelelahan sebelum sampai?” sela Cang Li tajam. “Kita akan menempuh perjalanan panjang, melewati jalan hutan, desa-desa kecil, dan kemungkinan harus berjalan kaki berjam-jam setiap hari. Jika kau membawa beban sebanyak itu, kau sendiri yang akan kesulitan.”
Su Yan membuka mulut, tetapi tidak langsung bisa membantah.
Cang Li melanjutkan dengan lebih tenang.
“Bawa yang benar-benar diperlukan saja. Pakaian, bekal, dan perlengkapan dasar. Selebihnya tidak perlu.”
Su Yan menatap tas besarnya, lalu menatap Cang Li lagi.
“Jadi… panci kecilku tidak penting?”
“Tidak.”
“Lalu mainan kayuku?”
“Tidak.”
“Bumbu masak?”
“Tidak.”
“Tali jemuran?”
“Senior…”
Su Yan langsung menunduk dengan ekspresi setengah sedih, setengah pasrah.
“Baiklah…”
Beberapa menit kemudian, halaman rumah Ling berubah menjadi tempat sortir barang darurat. Dengan wajah enggan, Su Yan mulai mengeluarkan sebagian isi tasnya satu per satu dan menumpuknya di teras. Ada benda-benda yang membuat Cang Li semakin sulit memahami cara berpikir gadis itu, seperti boneka kain kecil, sendok kayu cadangan, kantong biji-bijian, dan bahkan sebuah cermin kecil berbentuk bunga.
Setelah selesai memilah, Su Yan menoleh ke arah Ling dengan wajah serius.
“Guru, tolong jaga semua barangku baik-baik.”
Ling menatap tumpukan barang itu tanpa ekspresi.
“Kalau ada tikus yang memakannya, anggap itu takdir.”
“Guru!” protes Su Yan.
Untuk pertama kalinya pagi itu, sudut bibir Cang Li sedikit terangkat. Melihatnya tersenyum seperti itu, Su Yan langsung mendelik.
“Junior Li, kau menertawaiku, ya?”
Cang Li berdeham kecil dan mengalihkan pandangan.
“Tidak.”
“Jelas-jelas kau tersenyum!”
“Senior terlalu sensitif.”
Su Yan mendengus kesal, tetapi tidak benar-benar marah. Pada akhirnya, setelah barang-barang yang tidak perlu ditinggalkan, tas yang dibawanya jauh lebih masuk akal—meskipun tetap lebih besar dari milik Cang Li.
Setelah semuanya siap, suasana di halaman rumah kembali tenang.
Cang Li dan Su Yan berdiri berdampingan menghadap Ling. Keduanya kemudian menundukkan kepala dengan hormat.
“Guru,” ucap Cang Li lebih dulu, “terima kasih atas semua bimbingan yang telah Guru berikan selama ini.”
Su Yan ikut menambahkan, kali ini dengan nada yang lebih tulus dan lembut daripada biasanya.
“Terima kasih, Guru. Kami akan berusaha sebaik mungkin.”
Ling memandang keduanya dalam diam untuk beberapa saat. Angin pagi berembus pelan, menggerakkan ujung lengan bajunya dan dedaunan di sekitar rumah.
“Aku tidak melatih kalian agar kalian sekadar tampil baik di hadapan penonton,” katanya akhirnya. “Aku melatih kalian agar kalian mampu bertahan hidup di dunia yang jauh lebih kejam daripada arena turnamen.”
Tatapannya berpindah pada Cang Li.
“Cang Li, jangan lupakan apa yang sudah kau pelajari di sini. Ketenangan, insting, dan kendali atas kekuatanmu jauh lebih penting daripada serangan yang terlihat hebat.”
Lalu ia memandang Su Yan.
“Dan kau, Su Yan. Jangan terlalu bergantung pada kecepatan dan tipuanmu. Lawan yang benar-benar berbahaya tidak akan kalah hanya karena matanya tertipu.”
Su Yan mengangguk patuh.
“Kami akan mengingatnya, Guru.”
Ling menghela napas pelan.
“Pergilah. Jika kalian terus berdiri di sini lebih lama, aku akan mulai menyesal telah melatih kalian.”
Meskipun nada bicaranya terdengar dingin, baik Cang Li maupun Su Yan tahu bahwa itulah caranya menunjukkan kepedulian.
Cang Li menatap gurunya sekali lagi sebelum berkata dengan suara mantap,
“Saya akan kembali, Guru.”
Ling hanya menjawab singkat,
“Pastikan kau layak untuk kembali.”
Tanpa menambah kata lagi, Cang Li dan Su Yan akhirnya berbalik meninggalkan rumah kayu itu, melangkah menuruni jalan setapak yang membelah hutan Desa Sura. Di punggung mereka tergantung beban perjalanan, sementara di hadapan mereka terbentang jalan panjang menuju pusat kekuasaan Dinasti Tianjian.
Dari teras rumah, Ling tetap berdiri memandangi dua muridnya yang semakin menjauh hingga perlahan-lahan menghilang di balik pepohonan.
Dalam keheningan pagi itu, tatapan pria tua tersebut sedikit berubah. Di balik ketenangan wajahnya, tersimpan harapan yang bahkan tidak ia ucapkan sendiri.
“Pergilah sejauh mungkin,” gumamnya pelan. “Lalu kembalilah dalam keadaan yang lebih kuat daripada saat kalian berangkat.”
End Chapter 34