"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Sarapan di Atas Bara Api
Matahari pagi menembus celah gorden apartemen yang kusam, menyinari wajah Airine yang masih tampak pucat. Ia terbangun dengan sentakan, tangannya meraba sisi tempat tidur yang kosong. Jantungnya berdegup kencang, bayangan moncong pistol Reo semalam masih menari-nari di ingatannya.
"Nata?" panggilnya dengan suara serak.
"Di sini, Dok. Jangan teriak-teriak, nanti tetangga sangka aku sedang menyiksamu."
Nata muncul dari balik sekat dapur kecil, tangannya memegang sepiring roti bakar yang agak gosong di bagian pinggirnya. Ia masih mengenakan kaos oblong hitam, namun ada perban kecil yang menempel di pelipisnya—bekas perkelahian semalam yang ia klaim sebagai "terbentur pintu gudang".
Airine menghela napas panjang, mencoba menenangkan dadanya yang sesak. "Kamu tidak tidur?"
"Tidur itu hobi orang kaya, Airine. Orang sepertiku kalau terlalu banyak tidur, bumbunya basi," sahut Nata sambil meletakkan piring di atas meja kayu. "Makanlah. Kamu butuh energi untuk menghadapi singa-singa di rumah sakit satu jam lagi."
Airine duduk di kursi kayu, menatap roti bakar itu tanpa selera. "Nata... soal semalam. Polisi bilang Reo ditemukan pingsan dengan tulang tangan yang patah di tiga titik. Mereka bertanya siapa yang melakukannya, dan aku bilang aku tidak tahu karena lampu mati."
Nata duduk di depannya, menyesap kopi hitam pekat dari cangkir kaleng. "Jawaban yang bagus. Memang lampu mati, kan? Siapa yang tahu kalau dia mungkin jatuh sendiri karena licin?"
"Jangan bercanda!" Airine menatap tajam mata Nata. "Teknik kuncian itu... aku melihatnya sekilas sebelum lampu padam. Itu gerakan profesional. Kamu bilang kamu debt collector, tapi temanku yang bekerja di kepolisian bilang itu gaya bertarung pasukan khusus."
Nata tertawa, meski matanya tidak ikut tertawa. "Teman polisimu itu kebanyakan nonton film Hollywood, Dok. Di jalanan, kalau tidak bisa mematahkan tangan orang dalam sekali gerak, kita yang akan dipatahkan. Itu namanya insting bertahan hidup, bukan sekolah militer."
Airine terdiam, tangannya meremas ujung kaos Nata yang ia pakai. "Tapi kamu tahu soal succinylcholine. Kamu tahu detail kematian Ibuku yang bahkan aku sendiri belum sempat selidiki secara mendalam. Dari mana, Nata? Tolong, jujurlah padaku sekali saja."
Nata meletakkan cangkirnya. Suasana apartemen mendadak hening. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Airine dengan intensitas yang membuat wanita itu merinding.
"Dengar, Airine. Dunia ini lebih kotor dari yang kamu bayangkan di dalam ruang operasimu yang steril. Aku punya banyak 'informan' di jalanan. Mereka bicara soal apa saja jika diberi seporsi bakso gratis. Informasi soal obat itu... aku dapat dari seorang mantan apoteker yang sekarang jadi pemulung."
"Pemulung?" Airine mengernyitkan dahi.
"Ya. Dia dipecat karena tahu terlalu banyak, dan dia takut bicara pada polisi. Tapi padaku, dia bicara," bohong Nata dengan lancar. "Sekarang, fokuslah pada rapat direksi. Reo mungkin sudah diamankan, tapi Ayahmu dan Shena masih ada di sana. Mereka akan menggunakan segala cara untuk menjatuhkanmu karena Reo gagal."
Airine menunduk, memandangi jemarinya yang gemetar. "Aku takut, Nata. Bagaimana kalau mereka benar-benar membeberkan soal obat penenangku? Aku bisa kehilangan izin praktikku."
Nata berdiri, berjalan memutar meja, lalu berdiri di belakang Airine. Ia meletakkan kedua tangan besarnya di bahu Airine, memberikan remasan lembut yang entah bagaimana menyalurkan kekuatan.
"Mereka tidak akan bisa," bisik Nata tepat di dekat telinga Airine. "Karena semalam, aku mengambil sesuatu dari kantong Reo sebelum polisi datang. Sebuah ponsel yang berisi percakapan dia dengan Shena tentang rencana mereka menjebakmu."
Airine mendongak dengan mata terbelalak. "Kamu... kamu mencuri barang bukti?"
"Aku menyebutnya 'mengamankan aset'," koreksi Nata. "Sekarang, mandilah. Pakai baju terbaikmu. Kita akan pergi ke gedung pusat RS Medika. Aku akan mengantarmu sampai depan pintu ruang rapat."
"Kamu akan masuk juga?"
Nata tersenyum miring, senyum yang menunjukkan taring predatornya yang disembunyikan. "Tentu. Sebagai suamimu yang setia, aku harus memastikan tidak ada yang berani berteriak padamu hari ini. Lagipula, aku sudah menyiapkan 'kejutan' kecil untuk mereka lewat bantuan teman-teman IT-ku di pangkalan."
"Teman IT di pangkalan bakso?" Airine bertanya dengan nada tak percaya.
"Eh... maksudku, anak-anak muda yang suka nongkrong sambil main game online di warungku. Mereka jago meretas hal-hal kecil," Nata kembali bersandiwara dengan cepat.
Satu jam kemudian, mobil tua Nata membelah jalanan kota menuju gedung pencakar langit RS Medika Utama. Airine duduk di sampingnya, mengenakan setelan blazer putih yang sangat formal, rambutnya diikat rapi. Ia tampak seperti dewi medis yang siap berperang.
Di gerbang depan rumah sakit, penjagaan tampak lebih ketat dari biasanya. Banyak petugas keamanan baru dengan seragam hitam-hitam. Airine mengerutkan kening. "Kenapa banyak penjaga baru? Itu bukan orang-orang kita."
Nata melirik ke arah para penjaga itu melalui kaca spion. Ia mengenali beberapa wajah di sana sebagai tentara bayaran sindikat Tuan Shen. "Tenang saja. Mereka hanya pajangan. Tetaplah berjalan di sampingku."
Saat mereka memasuki lobi, semua mata tertuju pada mereka. Seorang dokter bedah cantik yang elegan, berjalan berdampingan dengan seorang pria yang mengenakan jaket kulit lusuh dan celana jeans.
Di depan pintu ruang rapat lantai sepuluh, Tuan Rubyjane dan Shena sudah menunggu dengan wajah yang sangat tegang. Shena tampak terus-menerus menekan ponselnya, wajahnya pucat karena Reo tidak bisa dihubungi sejak semalam.
"Airine! Berani-beraninya kamu datang setelah kekacauan semalam!" bentak Tuan Rubyjane begitu melihat putrinya. "Di mana Reo? Apa yang kalian lakukan padanya?"
Airine berhenti tepat di depan ayahnya. Ia teringat kata-kata Nata semalam tentang pengakuan Reo. Rasa hormatnya pada ayahnya kini telah menguap sepenuhnya.
"Tanyakan pada polisi, Yah. Mereka lebih tahu di mana calon menantu kesayanganmu itu berada," jawab Airine dingin.
Shena maju, menudingkan jarinya ke wajah Airine. "Jangan berlagak pintar! Kamu pasti menggunakan preman baksomu ini untuk menculik Reo, kan? Papa, panggilkan keamanan! Seret pria kotor ini keluar!"
Nata melangkah maju satu langkah, menutupi tubuh Airine dengan tubuh tegapnya. Ia menatap Shena dengan pandangan meremehkan. "Nyonya Shena, sebaiknya Anda simpan tenaga Anda untuk berteriak di pengadilan nanti. Karena jika saya jadi Anda, saya akan lebih khawatir tentang apa yang ada di dalam flashdisk yang baru saja dikirimkan ke email dewan direksi lima menit yang lalu."
Wajah Shena membeku. "Flashdisk apa? Apa maksudmu?"
Nata tidak menjawab. Ia justru membukakan pintu ruang rapat untuk Airine dengan gerakan sopan. "Silakan masuk, Sayang. Pertunjukannya sudah dimulai."
Airine melangkah masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan pemegang saham dan direksi. Di layar besar di depan ruangan, bukannya laporan keuangan yang muncul, melainkan sebuah rekaman suara yang sangat jernih.
"...Tenang saja, Shena. Zat itu tidak akan terdeteksi. Airine akan menganggap Ibunya meninggal karena serangan jantung alami. Setelah itu, rumah sakit ini milik kita..."
Suara Reo menggema di seluruh ruangan, membuat suasana seketika menjadi seperti kuburan yang sunyi.
Airine menoleh ke arah Nata yang berdiri di ambang pintu. Nata hanya memberikan anggukan kecil sambil melipat tangan di dada. Di balik wajah tenangnya, Arnold Dexter sedang mengirimkan sinyal kepada timnya di luar gedung: "Target utama sudah terkunci di dalam ruangan. Tutup semua akses keluar. Jangan biarkan satu tikus pun lolos."
...****************...