Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan di Atas Meja Jati
Aroma cerutu murahan dan sisa wiski semalam memenuhi ruang kerja yang biasanya berbau kesuksesan. Kini, ruangan di lantai 50 Leone Tower itu terasa seperti peti mati yang megah. Di balik meja jati besarnya, Antonio Leone tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya merah, menatap kosong pada tumpukan surat peringatan penyitaan yang berserakan di depan dadanya. Kekaisaran Leone bukan lagi sebuah benteng; itu adalah reruntuhan yang sedang menunggu angin kencang untuk merubuhkannya total.
Pintu ganda ruangan itu terbuka kasar. Dua perempuan melangkah masuk, membawa aura yang bertolak belakang namun sama-sama tajam.
Di sebelah kiri, Nora Leone berjalan dengan keanggunan yang dingin. Rambut cokelatnya yang berombak panjang tergerai sempurna di bahunya, membingkai wajah dengan hidung bangir dan mata coklat yang dalam—mata yang selalu terlihat seolah sedang menghitung langkah catur berikutnya. Bibirnya yang sensual terkatup rapat, memancarkan martabat yang tak tergoyahkan bahkan saat keluarganya berada di ambang kehancuran. Sebagai putri pertama, dia adalah wajah sah dari warisan Leone yang kini memudar.
Di sebelah kanannya, Stella Leone melangkah dengan langkah yang lebih terburu-buru. Rambut pirang gelapnya—warisan dari ibunya, wanita yang pernah menghancurkan pernikahan Antonio—berayun liar. Mata birunya yang jernih tampak berkaca-kaca, kontras dengan bibir tipisnya yang gemetar karena ketakutan. Stella adalah pengingat hidup akan skandal Antonio, namun ironisnya, dialah yang selalu mendapatkan pelukan paling hangat dan kata-kata paling manis dari sang ayah.
"Duduklah," suara Antonio parau, hampir seperti bisikan.
"Aku tidak ingin duduk, Papa," suara Stella melengking kecil. "Katakan padaku ini tidak benar. Katakan bahwa kau tidak akan menjual kami untuk membayar hutang-hutangmu."
Antonio menghela napas berat, tangannya yang gemetar meraih dua lembar amplop hitam dengan segel lilin yang berbeda. Satu bergambar burung pemangsa dari California, satunya lagi bergambar salib mawar dari New York.
"Ini bukan soal menjual kalian, Stella," gumam Antonio, matanya hanya tertuju pada putri bungsunya itu dengan tatapan penuh permohonan maaf. "Ini soal kelangsungan hidup. Adrian Thorne dari California dan keluarga Sullivan dari New York... mereka menawarkan aliansi. Tanpa salah satu dari mereka, besok kita akan tidur di jalanan. Atau lebih buruk, di dalam liang lahat."
Nora tetap diam, punggungnya tegak. Dia tahu nama-nama itu. Adrian Thorne adalah predator muda yang sedang naik daun di pantai barat—tampan, kejam, dan memiliki reputasi sebagai pria yang tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi miliknya. Sementara itu, Declan Sullivan adalah pewaris takhta New York yang legendaris, namun kini dia hanyalah sesosok tubuh tanpa jiwa yang terbaring koma selama satu tahun penuh setelah sebuah percobaan pembunuhan.
Di atas meja, Antonio meletakkan dua buah foto secara terbalik. Tidak ada nama, tidak ada tanda. Hanya dua lembar kertas foto yang menyembunyikan takdir mereka.
"Hanya ada dua pilihan," kata Antonio. "Satu untukmu, satu untuk Nora. Karena aku tidak bisa memilih siapa yang akan pergi ke mana tanpa terlihat pilih kasih, biarkan takdir yang menentukan. Ambil satu, dan itulah yang akan menjadi suamimu."
Mata Stella membelalak. Dia tahu kemungkinannya 50:50. Dia sudah lama memuja sosok Adrian Thorne dari kejauhan—pria perkasa yang bisa memberinya perlindungan dan kemewahan. Menikahi Declan Sullivan yang koma sama saja dengan dikubur hidup-hidup di mansion New York yang dingin.
"Aku duluan!" Stella menyambar salah satu foto dengan gerakan cepat, seolah takut Nora akan mendahuluinya.
Nora hanya menatap adiknya dengan pandangan datar, lalu dengan gerakan perlahan dan anggun, dia mengambil foto yang tersisa.
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan itu saat keduanya membalik foto tersebut secara bersamaan.
Detik berikutnya, napas Stella tertahan di tenggorokan. Di tangannya, wajah pucat Declan Sullivan menatap balik—tampan namun kaku, sebuah potret dari pria yang mungkin tidak akan pernah bangun lagi.
Di sisi lain, Nora membalik fotonya. Mata tajam Adrian Thorne tampak menembus kertas tersebut. Rahang yang tegas, setelan jas gelap yang sempurna, dan aura kekuasaan yang bahkan terpancar dari sebuah gambar diam.
"Tidak!" teriak Stella. Suaranya pecah, tangannya gemetar hebat. "Ini tidak mungkin! Ini salah!"
Nora menatap foto Adrian Thorne sejenak, lalu melirik adiknya. "Takdir sudah bicara, Stella."
"Diam kau!" Stella berbalik ke arah ayahnya, matanya menyala karena histeria. "Papa! Aku tidak mau! Aku tidak bisa menikahi mayat hidup! Aku mencintai Adrian! Aku sudah sering mengatakannya padamu bahwa aku hanya ingin Adrian!"
Antonio tampak hancur melihat putri kesayangannya menangis. "Stella, sayang... itu adalah pilihan yang adil. Kalian sendiri yang mengambilnya..."
"ADIL?" Stella merobek foto Declan Sullivan menjadi potongan-potongan kecil dan melemparnya ke wajah ayahnya. "Tidak ada yang adil jika aku harus membusuk di New York sementara dia," Stella menunjuk Nora dengan penuh kebencian, "mendapatkan pria yang paling diinginkan di seluruh negeri!"
Nora hanya melipat tangannya di depan dada. "Kita sepakat untuk membiarkan pilihan yang menentukan, Stella. Jangan bersikap seperti anak kecil."
"Kau hanya senang karena kau selalu ingin merebut apa yang seharusnya milikku!" Stella mendekat ke meja kerja ayahnya, wajahnya memerah. "Papa, batalkan ini. Tukar posisinya. Katakan pada keluarga Sullivan bahwa Nora yang akan pergi ke New York. Dia lebih kuat, dia lebih tenang, dia cocok merawat orang sakit! Aku tidak bisa!"
Antonio menunduk, tidak berani menatap mata Nora. "Nora, mungkin... mungkin ada benarnya. Kau selalu menjadi yang paling dewasa di antara kalian berdua..."
Nora tertawa pendek, sebuah tawa kering tanpa humor. "Jadi sekarang kau ingin melanggar kesepakatan karena putri kesayanganmu menangis? Papa, perwakilan mereka akan datang satu jam lagi. Perjanjian sudah ditandatangani secara buta. Jika kita merubahnya sekarang, mereka akan menganggapnya sebagai penghinaan."
"Aku tidak peduli!" Stella berteriak, suaranya mencapai nada tinggi yang menyakitkan telinga. Dia meraih sebuah pembuka surat perak yang tajam dari meja ayahnya dan mengarahkannya ke nadinya sendiri.
"Stella!" Antonio berdiri dengan panik, tangannya terulur ke depan. "Letakkan itu!"
"Tidak! Jika Papa memaksaku pergi ke New York, aku akan mengakhiri hidupku di sini, di ruangan ini! Biarkan darahku mengotori sisa-sisa perusahaanmu yang akan menjadi sampah ini!" Stella terisak, namun tangannya memegang logam itu dengan mantap. "Pilih, Papa. Kehilangan aku selamanya, atau berikan Adrian Thorne kepadaku!"
Antonio menoleh ke arah Nora dengan tatapan memohon yang menjijikkan. Seorang ayah yang meminta putri pertamanya untuk mengalah—lagi—demi kebahagiaan putri dari wanita yang telah mengkhianati ibunya.
Nora Leone menatap ujung tajam pembuka surat di tangan adiknya, lalu beralih ke wajah malang ayahnya. Di tangannya, foto Adrian Thorne masih terasa hangat.