Di bawah langit yang memisahkan tiga alam: Surga, Bumi, dan Neraka, lahir seorang anak yang sejak dalam kandungan telah menjadi bahan percobaan para tetua kultivasi terlarang.
Wei Mou Sha tidak pernah meminta untuk lahir. Ia tidak pernah meminta untuk menjadi percobaan. Dan ia tidak pernah meminta untuk merasakan ribuan kematian dalam satu jiwa.
Sejak usia tujuh tahun, tubuhnya ditanamkan Segel Kekosongan Abadi, sebuah kutukan kuno yang memakan sedikit demi sedikit rasa kemanusiaannya setiap kali ia menggunakan kekuatannya. Semakin kuat ia bertarung, semakin kosong jiwanya. Semakin kosong jiwanya, semakin brutal ia membunuh.
Yang mengerikan bukan caranya membunuh.
Yang mengerikan adalah ekspresinya yang tidak pernah berubah.
Ia tersenyum lembut saat menghabisi seorang jenderal dewa. Ia mengangguk sopan sebelum menghancurkan tulang seorang iblis betina. Tidak ada kebencian. Tidak ada kepuasan. Hanya kekosongan yang sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Lot Nomor Kecil
Pengumuman resmi turnamen datang pada hari ketujuh, sejak Wei Mou Sha tiba di Kota Wanhua.
Bukan lewat informasi informasi lisan di jalan, tapi lewat gulungan-gulungan kertas merah yang tiba-tiba tertempel di setiap sudut kota.
Di gerbang utama, sebuah papan besar dari kayu dengan ukiran tiga lambang sekte besar dipasang, dan di atasnya tertulis dalam tulisan emas:
Turnamen terbuka Kota Wanhua untuk semua kultivator di bawah usia seratus tahun, pendaftaran dibuka tujuh hari, ditutup tiga hari sebelum hari pertama.
Wei Mou Sha membaca papan itu sambil berjalan melewatinya menuju Lembah Batu Merah.
Ia berhenti. Membaca sekali lagi.
Di bawah usia seratus tahun.
Ia tidak pernah memikirkan batasan usia. di laboratorium tidak ada yang pernah menanyakan umur, yang ada hanya tingkat perkembangan. Tapi di dunia luar, tampaknya seratus tahun masih dianggap muda untuk kultivator yang sudah melampaui batas-batas tertentu.
Informasi yang berguna untuk disimpan.
Ia melanjutkan perjalanannya.
Chen Liang Huo sudah ada di lembah seperti biasanya, tapi pagi ini ia tidak langsung menyerang saat Wei Mou Sha masuk lembah.
Ia berdiri dengan tangan disilangkan di dada, menatap Wei Mou Sha dengan ekspresi orang yang sudah memikirkan sesuatu.
"Kamu sudah lihat pengumumannya?"
"Ya."
"Jadi Daftar?"
"Ya."
Chen Liang Huo mengangguk pelan. "Batas waktu pendaftaran tujuh hari. Kamu punya waktu." Ia menurunkan tangannya. "Tapi ada yang perlu kamu tahu sebelum memutuskan."
Wei Mou Sha menunggu.
"Turnamen ini bukan hanya soal siapa yang paling kuat," kata Chen Liang Huo. "Ada politik di baliknya. Ketiga sekte besar menggunakan turnamen ini untuk mengukur kekuatan masing-masing secara tidak langsung, murid mereka yang menang membawa kebanggaan untuk sekte. Kultivator bebas yang menang dianggap sebagai aset yang tidak terikat, dan semua sekte akan berlomba lomba merekrut sesudahnya."
"Aku sudah menolak tiga tawaran itu."
"Kamu belum memenangkan apa pun waktu itu." Chen Liang Huo menatapnya. "Kalau kamu menang turnamen ini, tekanannya akan berbeda. Lebih besar. Lebih sulit untuk diabaikan begitu saja."
Wei Mou Sha mempertimbangkan ini. "Kamu memberitahu ini sebagai peringatan atau sebagai informasi?"
"Keduanya." Chen Liang Huo mulai bergerak ke posisi latihan. "Aku tidak peduli dengan politik sekte. Tapi kalau kamu terganggu oleh urusan itu sebelum sempat bertarung denganku di babak utama, itu akan menjengkelkan."
Wei Mou Sha hampir mengatakan sesuatu tapi memutuskan tidak perlu.
Ia memasang posisinya.
"Latihan dulu."
Pagi itu berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Chen Liang Huo tidak melambat atau memberi peringatan, ia menyerang dengan intensitas penuh sejak awal, seperti sudah memutuskan bahwa waktu mengamati sudah selesai dan sekarang saatnya Wei Mou Sha menghadapi kondisi yang mendekati pertarungan sesungguhnya.
Tiga menit pertama Wei Mou Sha masih terus mundur, kebiasaan yang belum sepenuhnya hilang meski sudah dilatih beberapa hari. Batu-batu merah di belakangnya semakin dekat.
Lalu ia berhenti mundur.
Bukan keputusan yang ia pikirkan secara sadar, lebih seperti tubuhnya yang sudah bosan dengan pola yang sama dan memutuskan sendiri untuk mencoba yang berbeda.
Ia miring ke kanan saat kepalan Chen Liang Huo datang dari kiri, membiarkan momentum serangan itu lewat, dan masuk ke dalam ruang yang terbuka di sisi kiri Chen Liang Huo yang sudah ia hafal selalu ada di sana.
Dua jari ke titik di bawah tulang rusuk kiri.
Chen Liang Huo melompat mundur sebelum tekanan itu sepenuhnya mendarat, tapi tidak cukup cepat untuk menghindarinya sama sekali. Ada hentakan kecil di sisi kirinya yang membuat napasnya tersendat setengah detik.
Keduanya berdiri berhadapan.
Chen Liang Huo menatapnya dengan ekspresi yang kini sudah Wei Mou Sha cukup kenal untuk diidentifikasi, bukan marah, bukan kaget. Sesuatu yang lebih dekat ke kepuasan yang ditahan.
"Lebih baik," katanya. "Ayo, lagi."
Mereka berlatih sampai matahari sudah cukup tinggi untuk membuat bayangan batu-batu merah menjadi pendek.
Saat berhenti, Wei Mou Sha duduk di batu datar yang sudah menjadi tempatnya setiap sesi, memeriksa kondisi tubuhnya. Memar-memar lama mulai pudar, digantikan beberapa yang baru, tapi lebih sedikit dari hari-hari awal. Kemajuan yang luar biasa..
Chen Liang Huo duduk di batu di seberangnya, minum air, menatap ke atas langit yang terlihat sebagai jalur sempit di antara dinding-dinding batu merah.
"Kamu harus daftar hari ini," katanya tanpa mengalihkan tatapan dari langit.
"Masih ada tujuh hari."
"Pendaftaran awal akan mendapat lot nomor kecil. Lot nomor kecil masuk ke jadwal babak kualifikasi dengan lawan yang lebih bisa diprediksi." Chen Liang Huo akhirnya menurunkan tatapannya. "Informasi dari pengalaman."
Wei Mou Sha menatapnya. "Kamu sudah ikut turnamen ini sebelumnya."
"Dua kali, dan menang keduanya." Ia mengatakannya tanpa kesombongan, hanya fakta. "Tahun ini pesertanya berbeda. Ada beberapa nama yang belum pernah muncul sebelumnya dari luar Wanhua."
"Termasuk aku."
"Iya, termasuk kamu." Chen Liang Huo berdiri, meregangkan bahunya. "Daftar hari ini. Babak kualifikasi tiga hari setelah pendaftaran ditutup. Babak utama dua hari sesudahnya."
Ia berjalan keluar lembah tanpa menambahkan apa pun.
Wei Mou Sha duduk sendirian beberapa menit setelah kepergiannya, menatap jalur langit yang sempit itu.
Lalu berdiri dan berjalan ke arah Arena Penyelesaian, tempat pendaftaran turnamen dibuka.
Antrian pendaftaran sudah ada meski hari masih pagi.
Puluhan kultivator berbaris di depan meja yang dijaga empat orang berseragam netral, bukan seragam sekte mana pun, tapi seragam resmi Dewan Penjaga Kota Wanhua. Di belakang meja ada tumpukan gulungan yang terus bertambah satu per satu saat peserta mendaftar.
Wei Mou Sha mengambil posisi di antrian.
Di depannya, dua orang dari Pedang Langit Utara berbicara satu sama lain dengan suara yang cukup pelan, tapi tidak cukup pelan untuk tidak terdengar.
"...dengar ada kultivator bebas yang pertarungannya membuat tangan Feng Bai mati rasa."
"Gosip itu sudah beredar seminggu. Belum tentu benar."
"Feng Bai sendiri yang bilang. Senior Feng tidak akan mengakui sesuatu yang tidak terjadi."
"Kalau memang sehebat itu, kenapa ikut sebagai kultivator bebas? Sekte mana yang tidak mau merekrut orang seperti itu?"
"Katanya sudah ditawari tetapi menolak."
Suara pertama berhenti sejenak. "Menolak? Semua tawaran?"
"Iya, Semua."
Keheningan terjadi sebentar. "Orang aneh."
Wei Mou Sha tidak berkomentar. Antrian terus bergerak maju.
Saat gilirannya tiba, seorang pencatat di belakang meja menatapnya dengan ekspresi yang tidak menunjukkan apa pun.