Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Jarum jam di dinding kantor seolah bergerak selambat siput bagi Sheila. Begitu angka menunjukkan pukul 17.00 tepat, ia langsung merapikan meja kerjanya dengan efisiensi tingkat tinggi. Tidak ada lagi sisa kertas yang berantakan; semua masuk ke laci dalam hitungan detik.
"Duluan ya, Lam. Malik sudah menunggu di bawah. Kamu jangan pulang malam-malam, ya. Nanti susah cari taksi," pamit Sheila sambil menyampirkan tas kulit sintetis berwarna cokelat muda di bahunya.
Nilam mendongak dari layar monitornya, lalu nyengir lebar. "Ciee, yang mau dijemput pangeran berkuda putih. Hati-hati ya, Shei. Jangan sampai pangeran berkuda hitam—si Bos itu—liat kamu pas lagi mesra-mesraan di depan lobi. Bisa gawat dunia persilatan!"
Sheila hanya membalas dengan gelengan kepala dan senyum kecut. "Nggak akan, Nilam. Aku sudah riset jadwal CEO. Biasanya orang sesibuk dia baru pulang jam delapan malam. Aku aman."
Dengan langkah ringan dan hati yang berbunga-bunga membayangkan senyum Malik, Sheila berjalan menuju deretan lift eksekutif. Namun, saat ia melewati koridor yang agak sepi menuju lobi lift, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Ada perasaan aneh, seperti sepasang mata sedang mengawasi tengkuknya. Ia sempat menoleh ke belakang, tapi koridor itu kosong melompong.
"Ah, perasaan aku saja gara-gara kejadian di kantin tadi," gumamnya menenangkan diri.
Begitu pintu lift terbuka dengan denting yang nyaring, Sheila hendak melangkah masuk. Namun, tiba-tiba sebuah lengan kekar dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku menahan pintu lift tersebut. Seseorang menyalip masuk lebih dulu dengan gerakan yang sangat lincah, hampir seperti atlet lari gawang.
Sheila mematung di ambang pintu. Sosok itu berbalik, menyandarkan punggungnya di dinding lift sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana kain mahalnya.
Dia lagi, dia lagi? batin Sheila menjerit frustrasi.
Jeremy Nasution berdiri di sana dengan rambut yang sedikit berantakan—memberikan kesan cool yang sangat menyebalkan. Ia menekan tombol 'L' dengan ibu jarinya, lalu menatap Sheila yang masih berdiri mematung di luar.
"Mau masuk atau mau nunggu lift besok pagi, Sekretaris Masa Depanku?" tanya Jeremy dengan nada merayu yang sangat percaya diri.
Sheila mengembuskan napas panjang melalui hidung, mencoba menjaga kesopanannya. Ia melangkah masuk dan berdiri di pojok yang paling jauh dari Jeremy. Pintu lift tertutup rapat, meninggalkan mereka berdua dalam ruang metal berukuran dua kali dua meter itu.
Keheningan yang canggung mulai menyelimuti, namun Jeremy sepertinya tidak berniat membiarkan suasana menjadi tenang. Pria itu mulai bersiul. Awalnya pelan, lalu volumenya naik, memainkan melodi lagu pop romantis yang sedang viral dengan nada yang sengaja dibuat tidak beraturan agar terdengar sangat mengganggu.
Fiuuu... fiu-fiu... prap-pap-fiuuu...
Sheila meremas tali tasnya. Ia mencoba menghitung angka lantai yang bergerak turun di atas pintu lift. 20... 19... 18...
Jeremy berpindah posisi, kini ia berdiri tepat di samping Sheila, masih dengan siulan mautnya yang nyaring. Ia bahkan mulai mengetuk-ngetukkan sepatunya ke lantai lift mengikuti irama siulannya yang kacau itu.
"Bisa nggak, Pak? Nggak usah siul-siul. Berisik," tegur Sheila akhirnya. Suaranya tetap lembut, namun nada 'dongkol' itu tidak bisa disembunyikan.
Jeremy berhenti bersiul, lalu menoleh dengan wajah polos yang dibuat-buat—wajah yang ingin sekali Sheila cubit saking menyebalkannya. "Lho? Memangnya dilarang bersiul di lift milik sendiri? Aku kan cuma lagi mengekspresikan kebahagiaanku karena bisa pulang bareng kamu, Sheila."
"Kita tidak pulang bareng, Pak. Kita kebetulan di lift yang sama. Dan tolong, panggil aku Sheila saja tanpa embel-embel lain," jawab Sheila, matanya tetap tertuju pada indikator lantai. 12... 11... 10...
"Oke, Sheila Sayang," balas Jeremy cepat.
"Pak Jeremy!"
"Iya, iya, Sheila Maharani yang kalem," Jeremy terkekeh. Ia mendekat selangkah, membuat aroma parfum maskulinnya yang berkelas kembali mengunci indra penciuman Sheila. "Ngomong-ngomong, pacarmu itu... siapa namanya? Malik? Dia menjemputmu pakai apa? Motor? Mobil? Atau jalan kaki?"
Sheila menoleh, menatap Jeremy dengan berani. "Malik menjemputku dengan ketulusan, Pak. Itu jauh lebih mewah daripada mobil sport Bapak yang parkir di lobi."
Jeremy tertegun sejenak mendengar jawaban menohok itu, namun dasar Jeremy Nasution, rasa percaya dirinya sudah setebal tembok Berlin. Bukannya tersinggung, ia malah tertawa renyah.
"Ketulusan ya? Menarik. Tapi ketulusan nggak bisa bikin kamu adem kalau terjebak macet Jakarta jam pulang kantor begini, Sheila. Kalau kamu ikut aku, kita bisa lewat jalur tikus pakai mobilku yang suspensinya senyaman kasur hotel bintang lima."
"Terima kasih tawarannya, tapi aku lebih suka keringatan bareng Malik daripada kedinginan di mobil Bapak," balas Sheila telak.
Tepat saat itu, lift berdenting di lantai dasar. Pintu terbuka. Sheila langsung melesat keluar tanpa menoleh lagi, namun Jeremy menyusulnya dengan langkah lebar yang santai.
Di depan lobi kantor, sebuah motor matic hitam sudah terparkir rapi. Seorang pria dengan jaket bomber dan helm di tangan melambaikan tangan ke arah Sheila. Itu Malik. Wajahnya yang teduh dan senyumnya yang tulus seketika menghapus rasa kesal Sheila pada sang CEO.
"Malik!" Sheila mempercepat langkahnya, senyum cerianya merekah sempurna.
Namun, keceriaan itu sedikit terganggu saat ia menyadari Jeremy masih mengekor di belakangnya. Jeremy berhenti hanya beberapa meter dari motor Malik, melipat tangan di dada sambil menilai penampilan kekasih Sheila dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Jadi... itu si Malik?" gumam Jeremy cukup keras untuk didengar Sheila.
Sheila menoleh tajam, memberi isyarat dengan matanya agar Jeremy pergi. Tapi Jeremy malah memberikan lambaian tangan kecil yang provokatif ke arah Malik, seolah-olah mereka adalah teman lama yang sedang bersaing memperebutkan hadiah utama di pasar malam.
Sheila segera menghampiri Malik, naik ke boncengan motor, dan memeluk pinggang Malik dengan erat—sengaja ingin menunjukkan bahwa posisinya tidak akan tergantikan oleh siapa pun, termasuk oleh seorang CEO tampan yang sedang berdiri di teras gedung dengan wajah yang kini terlihat sedikit... cemburu?
"Ayo jalan, Malik," bisik Sheila.
***
Kemacetan Jakarta di jam pulang kantor biasanya dihiasi oleh suara klakson yang saling bersahutan karena tidak sabar. Namun, klakson yang satu ini terdengar berbeda. Iramanya ritmis, panjang, dan seolah-olah memiliki kepribadian yang... sangat menyebalkan.
Tiiiit! Tit-tiiiiiit!
Sheila yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Malik langsung menegakkan punggung. Ia mengenali suara klakson itu. Bukan suara klakson motor bebek atau angkot yang memburu setoran, melainkan suara klakson bas yang elegan namun provokatif dari sebuah mobil mewah.
Ia menoleh ke belakang, dan benar saja. Sebuah mobil sport berwarna abu-abu metalik dengan desain aerodinamis yang sangat mencolok berada tepat di belakang motor matic Malik. Kaca depannya yang gelap tidak bisa menyembunyikan siluet pria di balik kemudi yang sedang menempelkan satu tangannya di klakson dengan santai.
"Sheila, itu teman sekantormu?" tanya Malik lewat celah helmnya. Suara Malik tetap tenang, meski ia harus sedikit berteriak karena bisingnya jalanan.
"Bukan, Malik! Maksudku... itu si CEO tengil tadi," jawab Sheila dengan nada gemas yang tertahan. "Abaikan saja, Malik. Dia memang kurang kerjaan."
Tiiiiiittttt!
Sekali lagi, klakson itu berbunyi panjang saat jalanan sedikit melonggar. Jeremy dengan sengaja memacu mobilnya tepat di samping motor Malik. Ia menurunkan kaca jendela mobilnya, memperlihatkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya meski matahari sudah hampir terbenam.
"Woi, Malik! Pelan-pelan bawa calon sekretaris kesayanganku! Motor kamu itu suspensinya nggak enak, kasihan Sheila badannya pegal semua!" teriak Jeremy dari balik jendela mobilnya yang terbuka separuh.
Wajah Sheila memerah seketika. "Pak Jeremy! Fokus ke jalan saja bisa tidak?!" teriak Sheila balik, suaranya yang biasanya kalem kini naik satu oktav karena emosi.
Jeremy hanya tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia memberikan jempol ke arah Malik, lalu dengan sengaja memotong jalur motor mereka dengan gerakan halus namun menjengkelkan, memaksa Malik untuk sedikit mengerem mendadak.
"Maaf ya, Malik! Mobil ini memang agak liar kalau lihat yang cantik-cantik!" seru Jeremy lagi sebelum akhirnya ia menginjak gas dan melesat maju, meninggalkan kepulan asap tipis dan perasaan dongkol yang luar biasa di hati Sheila.
Ih, bener-bener ya tengilnya minta ampun! teriak batin Sheila. Ia meremas jaket Malik dengan gemas, membayangkan wajah Jeremy sebagai samsak tinju.
Setelah melewati drama "kejar-kejaran" yang tidak bermutu itu, Malik akhirnya memarkirkan motornya di depan sebuah warung tenda pecel lele langganan mereka. Suasananya sederhana, dengan aroma sambal terasi yang menggugah selera dan suara penggorengan yang riuh.
"Kamu nggak apa-apa, Shei?" tanya Malik sambil membantu melepaskan helm dari kepala Sheila. Malik merapikan anak rambut Sheila yang berantakan karena angin jalanan.
Sheila tersenyum tipis, mencoba membuang sisa-sisa emosinya. "Nggak apa-apa, Malik. Maaf ya, bos aku memang agak... aneh. Dia dulu kakak tingkatku di kampus, makanya dia merasa bisa bersikap semena-mena."
Malik mengangguk pelan, tatapannya tetap teduh. "Nggak apa-apa. Selama dia cuma bercanda dan nggak menyakiti kamu secara fisik, aku masih bisa sabar. Ayo duduk, aku sudah lapar banget."
Mereka memesan dua porsi lele goreng dengan nasi uduk yang masih mengepul. Di tengah suasana sederhana itu, Sheila merasa dunianya kembali normal. Malik adalah jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam kekacauan yang dibawa Jeremy.
"Malik, aku takut..." ucap Sheila tiba-tiba, suaranya kembali melembut.
"Takut apa?"
"Takut kalau kelakuan Jeremy makin menjadi-jadi di kantor. Dia itu orangnya nggak punya batasan. Aku cuma ingin bekerja dengan tenang untuk membantu ekonomi keluarga dan menabung buat... masa depan kita," Sheila menunduk, memainkan ujung sendoknya.
Malik meraih tangan Sheila di atas meja kayu yang dilapisi plastik itu. "Shei, lihat aku. Kamu itu perempuan yang hebat, kalem, tapi punya prinsip. Kalau dia keterlaluan, kamu bisa bicara baik-baik. Kalau tetap nggak bisa, kita cari jalan lain. Jangan sampai bos itu merusak kebahagiaan kamu."
Sheila mengangguk, merasa sedikit lebih tenang. Namun, di sudut hatinya, ia tahu bahwa Jeremy bukan tipe orang yang bisa dihentikan hanya dengan "bicara baik-baik".
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang menghadap langsung ke pusat kota, Jeremy Nasution sedang menyesap kopi hitamnya sambil berdiri di balkon. Di depannya, sebuah laptop terbuka menampilkan data karyawan atas nama Sheila Maharani.
Ia tersenyum sendiri mengingat wajah kesal Sheila di atas motor tadi. Baginya, melihat Sheila marah jauh lebih menarik daripada melihat ribuan wanita lain yang memujanya.
"Malik ya? Orangnya lumayan sabar juga," gumam Jeremy. Ia meletakkan cangkir kopinya, lalu meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor.
"Halo, bagian HRD? Ya, ini Jeremy. Tolong ubah jadwal orientasi karyawan baru besok. Aku ingin semua karyawan baru divisi properti, terutama yang namanya Sheila Maharani, untuk ikut aku survei lapangan ke proyek baru di Sentul. Ya, berangkat jam tujuh pagi."
Jeremy menutup teleponnya dengan senyum penuh kemenangan. Survei lapangan, artinya Sheila akan berada di dalam mobilnya selama berjam-jam tanpa gangguan si motor matic hitam itu.
"Selamat beristirahat, Sheila. Karena besok, petualanganmu yang sebenarnya baru akan dimulai," ucap Jeremy pada kegelapan malam.