Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Gedung KTV Naga Emas berdiri megah di pusat Distrik Selatan. Lampu neon raksasa berbentuk naga melilit fasad bangunan lima lantai tersebut. Suara dentuman musik elektronik terdengar samar dari luar, menutupi segala aktivitas ilegal yang terjadi di dalamnya.
Di lantai lima, area VIP yang tidak bisa diakses oleh pelanggan biasa, suasananya sangat sunyi dan mewah. Lantainya dilapisi karpet merah tebal. Sepuluh orang penjaga bersetelan jas hitam berdiri siaga di sepanjang lorong.
Di ujung lorong, di dalam ruangan VIP terbesar, seorang pria paruh baya bertubuh tambun sedang duduk santai di sofa kulit mahal. Ia mengenakan kemeja sutra terbuka yang memperlihatkan kalung emas tebal di lehernya. Pria ini adalah Bos Zhao, penguasa dunia bawah Distrik Selatan.
Ia memutar gelas berisi wiski di tangannya. Dua orang wanita cantik berpakaian minim duduk mengapitnya, menuangkan minuman dengan patuh. Di belakang sofa, berdiri dua pria berwajah dingin yang memancarkan aura berbeda dari preman biasa. Mereka adalah pengawal pribadi Bos Zhao, praktisi Qi tingkat menengah yang disewa dengan harga sangat mahal.
"Gao seharusnya sudah selesai membereskan mahasiswa tengik itu. Kenapa dia belum menelepon sekarang?" Bos Zhao bergumam dengan nada tidak sabar.
"Tok. Tok. Tok."
Suara ketukan pintu terdengar pelan namun sangat jelas di ruangan yang kedap suara itu.
Bos Zhao mengerutkan keningnya.
"Masuk!" serunya keras.
Pintu kayu berukir itu terbuka perlahan.
Bukan Gao yang masuk. Bukan juga salah satu dari penjaga berjas hitam di lorong.
Seorang pemuda berpakaian kasual, mengenakan jaket bertudung hitam dan celana kargo, melangkah masuk ke dalam ruangan VIP yang mewah tersebut. Kedua tangannya santai berada di dalam saku jaket. Wajahnya dihiasi oleh senyum yang sangat lebar, seolah ia baru saja memasuki taman hiburan.
"Selamat malam, Bos Zhao! Ruangan ini sangat bagus. Pantas saja kau tidak mau repot-repot keluar menemuiku,"
Hao Qi menyapa dengan nada riang.
Bos Zhao membeku. Gelas wiski di tangannya berhenti berputar. Kedua wanita di sampingnya menahan napas karena terkejut melihat penyusup masuk.
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa melewati penjaga di lorong?!" Bos Zhao berdiri. Matanya membelalak marah.
"Penjaga di lorong?" Hao Qi memiringkan kepalanya sedikit, masih tersenyum. "Maksudmu sepuluh orang berbaju hitam yang sedang tidur siang di atas karpet merah di luar sana? Mereka tertidur sangat lelap, aku tidak tega untuk membangunkan mereka."
Mendengar itu, dua pengawal pribadi di belakang Bos Zhao langsung melangkah maju. Ekspresi mereka menjadi sangat waspada. Jika pemuda ini bisa melumpuhkan sepuluh penjaga elit di luar tanpa menimbulkan suara sedikit pun, ia jelas bukan orang biasa.
"Tunggu," Bos Zhao menyipitkan matanya, mengamati wajah Hao Qi dengan saksama. "Kau... kau adalah Hao Qi! Mahasiswa itu! Di mana Gao?!"
"Paman Gao sedang beristirahat di pabrik tua Distrik Barat. Tangannya sedikit terkilir, jadi aku datang kemari untuk mewakilinya membawa kabar baik," jawab Hao Qi santai. Ia berjalan maju dan duduk di sebuah sofa tunggal yang kosong, berhadapan langsung dengan Bos Zhao.
"Kau berani datang ke markas utamaku sendirian? Kau benar-benar cari mati!" Bos Zhao menunjuk Hao Qi dengan jarinya yang gemuk. "Habisi dia! Patahkan semua tulangnya!"
Dua pengawal praktisi Qi itu tidak membuang waktu. Mereka langsung menerjang ke arah Hao Qi dari dua sisi yang berbeda. Gerakan mereka sangat cepat dan terkoordinasi. Tangan mereka mengeras, memancarkan hawa panas yang menunjukkan bahwa mereka menggunakan teknik bela diri tingkat lanjut.
"Hah..."
"Mereka lebih cepat dari Paman Gao. Tapi masih terlalu lambat,"
Hao Qi membatin. Ia tidak berdiri dari tempat duduknya. Ia hanya menatap kedua pengawal itu dengan tenang.
"Wush!"
Saat tinju kedua pengawal itu hampir mengenai pelipisnya, Hao Qi mengalirkan energi ke kedua lengannya.
"Tinju Guntur."
"Brak! Brak!"
Hao Qi melepaskan dua pukulan lurus ke samping secara bersamaan, tanpa melihat. Kepalan tangannya beradu tepat dengan tinju kedua pengawal tersebut di udara.