NovelToon NovelToon
Cinta Dititik Nol Rupiah

Cinta Dititik Nol Rupiah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:671
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.

Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.

Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Cahaya matahari pagi mulai menyusup melalui jendela kaca besar di ujung koridor lantai tiga RSUP, membiaskan warna kuning pucat yang kontras dengan cahaya neon putih yang membosankan di dalam ruangan. Bagi Agus, fajar kali ini tidak membawa harapan baru, melainkan rasa lelah yang semakin menghimpit tulang-tulangnya. Ia terbangun dari tidur ayamnya dengan leher yang kaku dan punggung yang terasa seperti dipatahkan karena bersandar pada kursi besi sepanjang malam.

Bau rumah sakit yang tajam, campuran antara disinfektan dan aroma obat-obatan terasa semakin pekat di indra penciumannya. Agus menoleh ke samping kiri. Nor Rahma masih duduk di sana, tertidur dengan kepala bersandar pada dinding koridor yang dingin. Wajahnya yang cantik tampak sangat letih, ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang biasanya cerah. Ia masih mendekap tas tangannya erat alih-alih melepaskannya untuk mencari posisi tidur yang lebih nyaman.

Agus menatap Rahma dengan perasaan yang sulit dijabarkan. Ada rasa syukur yang mendalam karena wanita itu masih ada di sini, namun rasa bersalah justru jauh lebih mendominasi. Ia melihat ke arah pakaiannya sendiri. Debu semen yang menempel di kaos dan celananya kini sudah mulai rontok, meninggalkan bercak-bercak putih di lantai rumah sakit dan di kursi besi yang ia duduki. Ia merasa seperti seorang pengacau yang telah menyeret seorang putri dari istana Cempaka Indah masuk ke dalam lumpur penderitaannya.

Ia mencoba menggerakkan kaki kirinya. Rasa nyerinya kini bukan lagi sekadar denyutan, melainkan rasa kaku yang luar biasa. Pergelangan kakinya terasa sangat berat, seolah-olah diborgol oleh pemberat besi yang panas. Setiap kali ia mencoba sedikit menggeser tumpuan, keringat dingin langsung membasahi punggungnya.

Bzzz... Bzzz... Bzzz...

Getaran ponsel terdengar di tengah kesunyian lorong ICU yang masih sepi. Bukan ponsel Agus yang sudah mati total, melainkan ponsel milik Nor Rahma. Rahma tersentak bangun, matanya yang sayu terbuka perlahan, tampak bingung sejenak mencari arah suara tersebut. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya yang tipis dan elegan.

Agus melirik layar ponsel itu secara tidak sengaja. Nama yang tertera di sana membuat jantung Agus seketika berdegup kencang, Ibu.

Rahma menelan ludah, ia melirik Agus sebentar dengan tatapan yang penuh kecemasan sebelum akhirnya menekan tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.

"Halo, Bu... Iya, Rahma sudah bangun," suara Rahma terdengar gemetar, ia mencoba menetralkan nada bicaranya agar terdengar biasa saja.

Agus tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Ibu Farida di seberang sana, namun ia bisa melihat perubahan ekspresi wajah Rahma. Rahma menggigit bibir bawahnya, tangannya yang tidak memegang ponsel meremas ujung gamisnya dengan kuat.

"Rahma... Rahma masih di luar, Bu. Tadi malam ada teman yang butuh bantuan mendesak," Rahma berbohong. Ia melirik Agus lagi, dan Agus hanya bisa menundukkan kepala. Ia membenci kenyataan bahwa Rahma harus berbohong kepada orang tuanya demi dirinya.

"Iya, sebentar lagi Rahma pulang. Rahma mau mandi dulu... Tidak, Bu, Rahma baik-baik saja... Tidak usah disusul, Rahma bawa mobil sendiri kok," Rahma terus menjawab pertanyaan ibunya dengan nada yang semakin defensif.

Setelah hampir lima menit, Rahma mematikan sambungan teleponnya. Ia mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat berat, lalu menyandarkan kepalanya ke belakang, menatap langit-langit koridor.

"Ibunya bertanya kamu di mana?" tanya Agus pelan, suaranya sangat serak.

"Ibu sudah mulai curiga, Mas. Beliau menelepon sejak subuh tadi, tapi ponselku baru aku nyalakan sekarang," jawab Rahma. Ia menoleh ke arah Agus, mencoba memaksakan senyum tipis. "Mas jangan pikirkan itu. Yang penting sekarang kondisi Bapak sudah stabil."

"Pulanglah, Rahma. Kamu sudah terlalu lama di sini. Jangan buat orang tuamu semakin marah," ucap Agus. Ia merasa suaranya sendiri terdengar seperti sebuah pengusiran yang menyakitkan, padahal ia hanya tidak ingin masalahnya menjadi beban bagi hubungan Rahma dengan keluarganya.

"Tapi Mas Agus bagaimana? Mas belum makan, kaki Mas juga belum diperiksa dokter," Rahma bersikeras.

"Ada Lukman yang sebentar lagi sampai membawa sarapan buat Ibu. Soal kakiku, nanti saja kalau urusan Bapak benar-benar selesai. Kamu pulang ya? Mandi, istirahat. Aku tidak mau kamu sakit karena aku," Agus menatap mata Rahma dengan penuh permohonan.

Rahma terdiam sejenak. Ia tahu Agus benar, namun hatinya terasa berat untuk meninggalkan laki-laki yang sedang berada di titik terendah ini. Tiba-tiba, pintu ICU terbuka. Seorang perawat keluar membawa nampan berisi peralatan medis.

"Keluarga Bapak Marjuki? Silakan masuk satu orang untuk melihat kondisi pasien sebentar, bergantian ya," ucap perawat itu.

Agus mencoba berdiri, namun kakinya langsung terasa lemas. Ibu agus yang sejak tadi tertidur di kursi sebelah segera bangkit. "Biar Ibu saja yang masuk duluan, Gus. Kamu duduk saja dulu."

Agus mengangguk lemah. Ia melihat ibunya masuk ke dalam ruang ICU dengan langkah yang sangat hati-hati. Kini tinggal ia dan Rahma yang duduk berdua di koridor.

"Mas Agus," panggil Rahma lembut.

"Iya?"

"Tolong jangan merasa berhutang budi padaku. Apa yang aku lakukan semalam, itu murni karena aku peduli padamu dan keluarga. Aku tidak ingin Mas menganggap uang dua juta itu sebagai beban yang membuatmu merasa rendah di depanku," Rahma memegang lengan kemeja Agus yang kusam oleh debu semen.

Agus menatap tangan Rahma yang bersih. "Bagaimana mungkin aku tidak merasa terbebani, Rahma? Uang itu bukan jumlah yang kecil. Di dunia kita, dua juta itu adalah nyawa. Dan aku mendapatkannya dari wanita yang ingin aku lindungi, bukan sebaliknya. Aku laki-laki, Rahma. Harga diriku saat ini rasanya sudah rata dengan tanah."

"Harga diri itu bukan soal siapa yang memegang uang, Mas. Tapi soal siapa yang tetap bertahan di saat yang paling sulit," bantah Rahma dengan tegas. "Aku pulang sekarang karena Ibu memaksaku, tapi aku akan kembali lagi sore nanti. Aku akan bawa makanan yang lebih layak untuk Mas dan Ibu."

"Rahma, jangan..."

"Mas Agus, biarkan aku melakukannya. Ini caraku mendukungmu," potong Rahma. Ia berdiri, merapikan jilbabnya, lalu mengambil tas tangannya. "Aku pergi dulu ya. Jangan dimatikan HP-nya kalau nanti sudah bisa dicas."

Agus hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melihat Rahma berjalan menjauh menyusuri koridor. Sosoknya yang anggun perlahan-lahan menghilang di balik lift. Begitu Rahma hilang dari pandangannya, Agus merasa kesunyian kembali menyergapnya dengan sangat hebat. Ia merasa seperti seorang pelaut yang baru saja ditinggal pergi oleh pelampungnya di tengah badai.

Satu jam kemudian, Lukman datang membawa dua bungkus nasi uduk dan sebungkus plastik berisi kopi panas. Wajah Lukman tampak sangat lelah, rambutnya acak-acakkan karena baru saja bangun tidur di atas motor.

"Gus, makan dulu. Ibumu mana?" tanya Lukman sambil menyerahkan sebungkus nasi.

"Di dalam, lagi lihat Bapak," jawab Agus. Ia membuka bungkusan nasi itu, aroma santan dan bawang goreng sedikit membangkitkan selera makannya yang sudah hilang sejak kemarin. Namun, saat ia menyuapkan nasi pertama ke mulutnya, ia merasa sangat hambar. Pikirannya masih tertahan pada pembicaraan Rahma dengan ibunya tadi.

"Tadi Mbak Rahma baru pulang ya? Aku sempat lihat mobilnya keluar dari gerbang rumah sakit," ucap Lukman sambil menyeruput kopinya.

"Iya, disuruh pulang sama orang tuanya," jawab Agus pendek.

"Beruntung kamu punya calon seperti dia, Gus. Jarang ada perempuan kota yang mau nungguin orang susah di rumah sakit sampai pagi begini," komentar Lukman jujur.

Agus meletakkan nasinya di atas kursi besi. "Kadang aku merasa keberuntunganku ini justru musibah buat dia, Man. Dia harus bohong sama orang tuanya. Dia harus pakai uang tabungannya buat Bapak. Aku merasa cuma jadi benalu buat hidupnya yang sudah sempurna."

Lukman menepuk pundak Agus yang kotor oleh semen. "Gus, perempuan kalau sudah cinta, dia nggak hitung-hitungan. Yang penting sekarang kamu fokus dulu biar Bapak sembuh. Soal bayar hutang ke Mbak Rahma, itu urusan nanti kalau kamu sudah bisa kerja lagi."

"Kerja lagi?" Agus tertawa pahit, menatap kakinya yang bengkak. "Pak Jono mungkin sudah kasih jatah panggulku ke orang lain hari ini. Kontrak gudang mau habis, Man. Aku tidak tahu apa masih punya tempat di sana atau tidak."

Percakapan mereka terhenti saat ibu agus keluar dari ruang ICU. Wajah ibunya tampak sedikit lebih lega, meski mata masih sembab. "Bapakmu sudah sadar sedikit, Gus. Tadi tangannya bergerak waktu Ibu panggil. Dokternya bilang, kalau sore nanti kondisinya stabil, alat bantu napasnya mau dicoba dilepas satu per satu."

"Alhamdulillah," ucap Agus dan Lukman bersamaan.

"Gus, kamu juga harus ke dokter sekarang. Ibu tidak mau lihat kakimu bertambah parah. Lukman, tolong antar Agus ke bagian pendaftaran di bawah. Pakai sisa uang yang kemarin saja dulu," perintah ibunya.

Agus ingin menolak, namun rasa sakit di kakinya sudah tidak bisa lagi ia sembunyikan. Ia harus menyeret kakinya untuk sekadar berdiri. Bersama Lukman, ia turun kembali ke lantai dasar menggunakan lift.

Di lobi rumah sakit yang mulai ramai oleh pengunjung, Agus merasa sangat tidak nyaman. Orang-orang berpakaian rapi yang hendak menjenguk kerabat mereka sesekali menoleh ke arah Agus dengan pandangan yang sulit diartikan. Debu semen yang menempel di bajunya sesekali luruh ke lantai yang mengkilap, menciptakan noda abu-abu kecil di mana pun ia berdiri.

Saat mereka sedang mengantre di bagian ortopedi, ponsel Lukman bergetar. Lukman mengangkatnya, lalu wajahnya berubah menjadi tegang.

"Gus... ini dari Pak RT di desa," bisik Lukman sambil menyerahkan ponselnya pada Agus.

Agus menerima ponsel itu dengan perasaan was-was. "Halo, Pak RT?"

"Gus, kamu masih di rumah sakit?" suara Pak RT terdengar sangat terburu-buru.

"Iya, Pak. Ada apa?"

"Barusan ada orang dari kantor pusat gudang material tempat kamu kerja datang ke desa. Mereka cari kamu. Katanya ada masalah soal laporan bongkar muat kemarin sore yang ditinggal begitu saja. Pak Jono juga sepertinya kena teguran keras. Kamu diminta segera datang ke gudang untuk urusan administrasi pemutusan kerja, Gus. Mereka bilang tidak bisa menunggu sampai besok."

Ponsel di tangan Agus hampir terjatuh. Pemutusan kerja. Kalimat itu terdengar seperti vonis hukuman mati bagi ekonomi keluarganya. Di saat bapaknya butuh biaya perawatan yang tidak sedikit, dan ia punya hutang dua juta pada Rahma, satu-satunya sumber penghasilannya kini benar-benar diputus.

Agus menatap kakinya yang bengkak, lalu menatap keramaian rumah sakit. Ia merasa seolah-olah semesta sedang berusaha menjepitnya dari segala arah, memaksanya untuk menyerah dan mengakui bahwa ia memang tidak ditakdirkan untuk memiliki hidup yang layak, apalagi untuk memiliki wanita sekelas Nor Rahma.

"Gus? Kenapa?" tanya Lukman cemas melihat wajah Agus yang memucat.

Agus menyerahkan kembali ponsel itu pada Lukman. Ia tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah pintu keluar rumah sakit. Di luar sana, matahari pagi sudah bersinar terang, namun bagi Agus, kegelapan justru baru saja dimulai secara nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!