NovelToon NovelToon
STILL ME

STILL ME

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:346
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.

Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.

Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STILL ME CHAPTER 17:Pekerjaan Asli

​Ada kelegaan yang luar biasa banal dalam rutinitas kelas pekerja menengah.

​Ketika aku melangkah masuk ke ruang open-space PT. Bina Tirta pada hari Jumat pagi hari kelimaku bekerja aku menghirup aroma kopi saset murahan dan kertas printer hangat seolah itu adalah udara pegunungan Alpen.

​Kuberitahu satu rahasia kecil tentang memiliki setengah miliar rupiah di rekening: uang itu tidak mengubah fakta bahwa aku masih sangat mencintai kepastian dari sebuah spreadsheet Excel.

​Di kubikel kecilku ini, hidup terasa sangat masuk akal. Baris adalah baris. Kolom adalah kolom. Jika kau memasukkan rumus VLOOKUP yang benar, data yang keluar pasti benar. Angka tidak pernah melakukan manipulasi emosional. Angka tidak pernah menyodorkan buku catatan merah kepadamu di meja makan. Dan angka jelas tidak pernah memaksamu menandatangani kontrak pernikahan palsu.

​"Ra, data shipping bulan lalu udah ditarik belum?"

​Suara Mbak Vina, seniorku yang mejanya berada persis di sebelahku, membuyarkan lamunanku.

​"Sudah, Mbak. Baru saja saya kirim ke email Mbak Vina. Pivot table-nya ada di sheet kedua," jawabku cepat, mataku masih menatap monitor.

​"Wah, gercep banget kamu. Thanks ya! Nanti siang makan soto ayam depan yuk, aku yang traktir deh," balasnya riang.

​Aku tersenyum tipis. "Boleh, Mbak."

​Ini adalah hidup yang kupilih. Hidup di mana aku adalah Nara Kusuma si Staf Analis Data Junior bergaji UMR. Tidak ada satupun manusia di ruangan ber-AC sentral yang sedikit rusak ini yang tahu bahwa setiap pagi aku berangkat dari sebuah penthouse seharga puluhan miliar di Sudirman. Tidak ada yang tahu bahwa untuk sampai ke stasiun KRL terdekat, aku harus menolak tawaran Daniel yang bersikeras ingin mengirimkan sopir pribadi untuk mengantarku bekerja.

​(Aku harus berdebat sepuluh menit dengan Daniel tempo hari, menjelaskan bahwa turun dari Alphard hitam mengkilap di depan ruko PT. Bina Tirta akan langsung meledakkan penyamaranku di hari pertama).

​Pukul 16:55 sore.

​Aku mulai mematikan komputernya. Menyusun pulpen dan catatan di atas meja dengan presisi.

​"Loh, Ra? Udah mau balik?" tanya Mbak Vina heran. "Tumben tenggo. Biasanya kamu stay sampai jam enam buat ngerapiin data besok."

​"Iya, Mbak. Ada acara keluarga malam ini. Harus datang," jawabku seraya memasukkan botol minum ke dalam tas kainku.

​Alasan yang sangat jujur, meski secara teknis 'keluarga' yang kumaksud adalah sekumpulan ular berbisa berbalut barang branded yang siap memangsaku hidup-hidup.

​"Oh, pantesan. Ya udah, hati-hati di jalan ya!"

​"Duluan ya, Mbak."

​Tepat pukul 17:00, aku melakukan absensi sidik jari dan melangkah keluar dari kantor. Aku memesan ojek online menuju stasiun, berdesakan di gerbong KRL, lalu berjalan kaki dua ratus meter menuju lobi eksklusif apartemenku. Sebuah transisi dua dunia yang selalu membuat otakku merasa seperti sedang mengalami kepribadian ganda.

​Pukul 18:10.

​Aku melangkah keluar dari lift pribadi di lantai empat puluh.

​Penthouse ini masih senyap, tapi lampu-lampu utama sudah menyala dengan pendaran keemasan yang elegan. Rayan sepertinya belum pulang dari kantor.

​Aku berjalan menuju Sayap Timur, berniat langsung mandi dan mencari kemeja paling rapi yang kupunya untuk acara malam ini. Namun, langkahku terhenti tepat di tengah Zona Demiliterisasi area ruang tamu.

​Di atas sofa kulit charcoal yang luas itu, tergeletak sebuah kotak persegi panjang berukuran besar berwarna hitam matte, dihiasi pita sutra abu-abu gelap. Di atasnya terdapat sebuah kartu kecil.

​Aku mendekat. Mengambil kartu itu. Tulisan tangannya tegas, miring, dan penuh sudut tajam. Tulisan tangan Rayan.

​Di dalam klan saya, pakaian adalah zirah. Jangan masuk ke medan perang dengan seragam yang salah. Pakai ini. ~R.~

​Aku meletakkan kartu itu, lalu membuka tutup kotaknya.

​Mataku menangkap selembar gaun sutra berwarna midnight blue (biru gelap nyaris hitam). Potongannya panjang, sederhana, berlengan panjang, dengan kerah sabrina yang menampakkan sedikit bahu, namun menutupi area dada dengan sangat sopan. Tidak ada payet mencolok. Tidak ada belahan yang berlebihan.

​Hanya dari tekstur kainnya saat kusentuh, otakku yang terbiasa berhitung langsung menyimpulkan satu hal: gaun ini bisa digunakan untuk mendanai operasional PT. Bina Tirta selama sebulan penuh.

​Di sebelah gaun itu, terdapat sebuah kotak bludru kecil yang terbuka. Di dalamnya tergeletak sepasang anting mutiara putih sederhana berukuran pas, dan sepasang sepatu hak tinggi hitam berbahan suede dari desainer ternama.

​Bagi perempuan lain di luar sana, mungkin ini adalah momen Cinderella. Momen di mana sang pangeran mengirimkan gaun indah untuk menyulap si itik buruk rupa menjadi angsa.

​Bagi Nara Kusuma? Ini murni fasilitas kantor (inventaris).

​Rayan tidak mengirimkan ini karena ia peduli padaku atau karena ia ingin aku merasa cantik. Ia mengirimkan ini karena jika aku datang ke rumah ibunya mengenakan kemeja katun lima puluh ribuku, keluarga Adristo akan menjadikan kami berdua bahan tertawaan sebelum appetizer dihidangkan. Ini adalah soal efisiensi dan menyelamatkan mukanya sendiri.

​"Fasilitas operasional yang sangat mahal," gumamku pada ruang kosong.

​Aku mengangkat kotak itu dan membawanya ke kamarku.

​Pukul 19:00.

​Aku keluar dari kamar Master Guest Suite.

​Rambutku yang biasanya hanya kuikat ekor kuda dengan jepitan lidi, kini kugerai bebas, disisir rapi dan kubiarkan lurus jatuh di punggung. Aku memulaskan make-up tipis yang kupelajari dari tutorial YouTube hanya foundation ringan, eyeliner, dan lipstik berwarna nude kecokelatan yang membuat wajahku tidak terlihat seperti orang sakit tipes.

​Gaun midnight blue itu melekat di tubuhku seolah memang dijahit langsung di atas kulitku. Tidak terlalu ketat hingga menyulitkan napas, tapi cukup fit untuk memberikan siluet yang proporsional. Hak sepatuku berbunyi pelan membentur lantai parket. Anting mutiaranya terasa dingin di daun telingaku.

​Saat aku melangkah memasuki area ruang tamu, pintu lift di ujung sana terbuka.

​Rayan melangkah keluar.

​Ia sudah mengenakan setelan jas three-piece berwarna arang (charcoal), lengkap dengan rompi (vest) di balik jasnya, dan dasi berwarna abu-abu perak. Kancing manset emas putih berkilat di ujung lengannya. Wajahnya disisir rapi, memancarkan aura seorang tiran korporat yang siap memecat seluruh dewan direksi tanpa berkedip.

​Langkah Rayan terhenti di tengah ruangan saat matanya menangkap keberadaanku.

​Ia mematung. Tatapannya membeku padaku, bergerak turun dari ujung rambutku, menyapu gaun sutra biru gelap itu, dan kembali naik ke wajahku. Tidak ada senyum nakal. Tidak ada ekspresi terpesona ala film-film romantis.

​Tapi, ada jeda dua detik yang terlalu lama dari biasanya sebelum ia berbicara.

​"Ukurannya pas," kata Rayan akhirnya, suaranya sedatar aspal jalan tol.

​"Daniel rupanya punya bakat terpendam sebagai penjahit, karena dia berhasil menebak ukuran saya dengan sangat presisi," jawabku tak kalah datar. "Terima kasih atas pinjaman seragamnya, Pak Rayan. Saya akan mel-laundry gaun ini secara terpisah besok sebelum mengembalikannya."

​Rayan berjalan melewatiku menuju dapur untuk mengambil segelas air. "Gaun itu bukan pinjaman. Simpan saja di lemarimu. Kamu akan sering membutuhkannya untuk acara-acara tidak berguna seperti malam ini."

​"Dicatat sebagai inventaris Pihak Kedua. Baik," balasku lugas.

​Rayan meletakkan gelasnya dengan sedikit hentakan. Ia berbalik menatapku, matanya memicing tipis.

​"Berhenti memanggil saya 'Pak Rayan' mulai detik ini," instruksinya tajam. "Kecuali kalau kamu mau Ibu saya curiga bahwa saya menikahi salah satu sekretaris magang dari kantor cabang."

​Aku mengerutkan kening. Logis. "Lalu saya harus memanggil dengan sebutan apa? Mas? Sayang? Kanda?" tanyaku dengan nada sarkastis murni, membayangkan kata-kata itu keluar dari mulutku saja sudah membuatku ingin tersedak.

​Bibir Rayan menegang. "Cukup 'Rayan'. Kita ini pasangan modern yang menikah secara diam-diam. Biasakan lidahmu mulai dari lift sampai kita turun ke basemen."

​"Baik. Rayan." Aku menyebut namanya tanpa honorific. Terasa sangat aneh di lidahku, tapi aku tidak menunjukkannya. "Ada briefing terakhir sebelum kita berangkat?"

​"Satu," kata Rayan, berjalan menghampiriku. Ia berhenti tepat di depanku, menyisakan jarak setengah meter. Bau maskulin dari parfumnya campuran kayu-kayuan dan bergamot terasa sangat dominan.

​Ia menunduk menatapku. "Jangan makan udang atau seafood apa pun yang dihidangkan malam ini. Tante Sonia suka menggunakan taktik alergi makanan atau keracunan ringan untuk merusak konsentrasi tamu yang tidak ia sukai di meja makan. Makan saja hidangan dagingnya."

​Aku mengangkat alisku. "Biological warfare di meja makan keluarga? Benar-benar keluarga konglomerat yang harmonis."

​Rayan mendengus sinis. "Saya sudah memperingatkanmu. Mereka adalah ular berbisa."

​"Tenang saja, Rayan," kataku, sengaja menekankan namanya. "Saya sudah membaca binder hitammu sampai hafal di luar kepala. Saya tahu cara menghadapi bisa ular. Kita hanya perlu tidak bereaksi saat mereka mematuk."

​Rayan menatap mataku lekat. Sejenak, aku bisa melihat kilatan rasa puas yang sangat terselubung di balik mata kelamnya. Ia menyukai kenyataan bahwa ia tidak perlu menggandeng seorang perempuan rapuh yang akan menangis di pojokan rumah ibunya malam ini.

​Ia membutuhkan seorang prajurit. Dan aku sudah memakai zirahnya.

​"Ayo berangkat," perintahnya, mengarahkan lengannya ke arah lift.

​Kami duduk di jok belakang mobil Maybach hitam mengkilap yang dikemudikan oleh sopir pribadi Rayan. Kaca pembatas antara kabin depan dan belakang dinaikkan, menyisakan kami berdua dalam privasi absolut yang hening.

​Di luar jendela, jalanan kota Jakarta bergerak mundur.

​Aku duduk tegak, kedua tanganku bertaut di atas pangkuan, menatap lurus ke depan. Rayan duduk di sebelah kiriku, sibuk memeriksa sesuatu di tabletnya. Tidak ada obrolan canggung. Tidak ada basa-basi mencoba mencairkan suasana. Kesunyian ini sangat transaksional, dan aku menyukainya.

​Setengah jam kemudian, mobil melambat saat memasuki kawasan perumahan elit di daerah Menteng.

​Jalanannya lebar, dinaungi pohon-pohon besar yang rindang. Gerbang-gerbang besi raksasa menjulang di kanan-kiri jalan, menyembunyikan istana-istana pribadi dari pandangan orang awam.

​Mobil Maybach kami berbelok memasuki sebuah gerbang besi tempa berwarna hitam emas yang terbuka otomatis. Di kedua sisi gerbang, berdiri patung singa batu yang terlihat seperti sedang mengawasi setiap jiwa miskin yang berani melangkah masuk.

​Mobil meluncur di atas jalan paving block yang melingkar, melewati sebuah air mancur berundak di tengah taman yang dirawat dengan sangat tidak masuk akal, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan teras utama sebuah mansion bergaya klasik Eropa.

​Pilar-pilar putih raksasa menyangga atap teras. Lampu kristal berpendar dari balik pintu kaca ganda di depan kami.

​Sopir turun dengan cepat dan membukakan pintu untuk Rayan. Rayan melangkah keluar, mengancingkan jasnya dengan satu gerakan presisi. Sopir itu kemudian bergerak membukakan pintu di sisiku.

​Aku menarik napas panjang. Mengubur Nara Kusuma si Staf Analis Data Junior jauh di dalam palung pikiranku, dan menarik keluar Nyonya Rayan Adristo ke permukaan.

​Aku melangkah keluar dari mobil. Hak sepatuku membentur marmer teras.

​Rayan berdiri di sebelahku. Ia tidak melihat ke arahku, matanya tertuju lurus pada pintu utama mansion yang kini dibuka dari dalam oleh dua orang pelayan berseragam rapi.

​Rayan menekuk lengan kirinya ke arahku, menyisakan ruang bagiku untuk menyelipkan lenganku di sana. Sebuah isyarat non-verbal yang sangat jelas. Pertunjukan teater bernilai satu miliar rupiah ini sudah dimulai.

​Aku mengangkat lengan kananku, dan mengaitkannya di lengan Rayan. Otot di balik setelan jasnya terasa kaku dan keras. Sama sekali tidak ada kehangatan, hanya tegangan mekanis.

​"Ingat," bisik Rayan di telingaku, suaranya sangat rendah hingga nyaris terdengar seperti geraman. "Jangan bereaksi berlebihan. Berapa pun tajamnya kalimat mereka, biarkan saya yang menjawabnya jika itu menyangkut silsilah. Tugasmu hanya tersenyum."

​Aku memiringkan kepalaku sedikit ke arahnya, mempertahankan wajah datarku.

​"Saya jamin, Rayan," balasku berbisik. "Bahkan jika salah satu dari mereka melemparkan piring ke wajah saya, saya akan tersenyum dan bertanya apakah mereka butuh piring pengganti."

​Rayan tidak menjawab, tapi aku bisa merasakan dadanya sedikit bergetar, menahan napas. Atau mungkin menahan seringai.

​Kami melangkah beriringan melewati pintu ganda raksasa itu. Masuk ke dalam kandang singa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!