Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun, semesta memiliki rencana lain.
Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Es krim penebus dosa
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Ibu tidur dengan wajah yang sangat tenang. Tidak ada kerutan di dahi, tidak ada gumaman gelisah dalam tidurnya. Di tahun 2012 ini, aku telah menanam benih ketenangan untuk masa tuanya.
Malam itu, di balik tirai kamar yang tipis, aku tak sengaja mencuri dengar obrolan Bapak dan Ibu di ruang tengah. Suara Bapak terdengar rendah, namun penuh dengan nada takjub yang belum pernah kudengar sebelumnya.
"Bu," gumam Bapak, "tadi itu rasanya aku tidak sedang jalan bersama Ara, anak kita. Rasanya seperti didampingi seorang guru yang pengetahuannya luas sekali."
Aku tertegun, punggungku bersandar pada dinding papan yang dingin.
"Mulai dari masuk bank, bicara dengan orang kantoran itu, sampai ke notaris... semuanya Ara yang urus. Dia teliti sekali, Bu. Sampai-sampai orang bank mengira Ara itu orang bayaran yang sengaja Bapak sewa untuk membantu urusan dokumen," lanjut Bapak dengan kekehan kecil yang bangga. "Bapak yang cuma orang desa, tidak berpendidikan begini, biasanya kan cuma bisa diam atau minta tolong Pak Lurah kalau ada urusan penting. Tadi, Bapak sampai tidak bisa berkata-kata melihat dia begitu berani."
Air mata luruh tanpa permisi, membasahi pipiku. Mendengar pujian tulus dari laki-laki yang tulang punggungnya sudah mulai membungkuk itu, dadaku terasa sesak oleh rasa sesal yang amat dalam.
Jiwa tiga puluh empat tahunku kini tersudut oleh kenyataan pahit. Selama ini, di kehidupan dewasa ku, aku telah menjadi anak yang begitu abai. Aku hanya menghubungi mereka saat suasana hatiku sedang baik. Aku adalah sosok yang tidak mau dibantah, keras kepala, dan selalu menutup telinga setiap kali mereka mencoba memberikan saran—terutama saat kedua adikku, Bian dan Cinta, memutuskan untuk menikah.
Meski aku sering menelepon, aku selalu membangun benteng tinggi. Aku menghindari setiap pembicaraan serius tentang masa depanku, tentang kesendirianku, atau tentang beban pikiran mereka. Aku memilih mengambil keputusan sendiri, berjalan di jalanku sendiri, tanpa menyadari bahwa yang mereka inginkan hanyalah dilibatkan.
Di tahun 2012 ini, melalui raga remajaku, aku baru menyadari betapa besarnya arti kehadiran dan bimbinganku bagi mereka. Bapak yang biasanya merasa rendah diri di hadapan orang-orang berseragam bank, kini merasa tegak karena aku berdiri di sampingnya.
"Maafkan Ara, Pak... Bu..." bisikku dalam hati, terisak tanpa suara.
Di masa depan, aku mungkin sukses secara karier, namun aku gagal sebagai sandaran emosional bagi mereka. Kini, selagi semesta memberiku kesempatan di masa lalu ini, aku berjanji tidak akan lagi membiarkan mereka merasa sendirian menghadapi dunia yang terkadang terasa asing.
Malam berikutnya, aku memutuskan untuk tidak membuka buku pelajaran sekolah. Ada kurikulum yang jauh lebih mendesak untuk diajarkan kepada Bapak dan Ibu: Literasi Keamanan. Di tahun 2012 ini, ponsel pintar mulai menjamur di desa, dan aku tahu persis bahwa gelombang penipuan digital akan segera menyerang orang-orang lugu seperti mereka.
Aku mengajak mereka duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah kami, sebuah buku catatan kecil dan ponsel batangan milik Bapak tergeletak.
"Pak, Bu, sekarang kita sudah punya aset. Uang tabungan sudah jadi tanah dan saham," aku memulai dengan nada rendah namun serius. "Tapi, di luar sana banyak orang jahat yang mengincar uang orang desa. Mereka tidak pakai golok, tapi pakai omongan manis lewat telepon atau SMS."
Bapak mengerutkan dahi, membenarkan posisi duduknya. "Maksudmu dukun pengganda uang, Ra? Atau undian sabun cuci?"
"Lebih dari itu, Pak," sahutku. Aku mulai menuliskan poin-poin penting di kertas. "Pertama, kalau ada telepon dari nomor tidak dikenal yang bilang Bapak menang undian ratusan juta, jangan percaya. Kalau mereka minta uang administrasi atau pulsa supaya hadiahnya cair, itu seratus persen penipuan.
Hadiah asli tidak pernah minta uang di muka."
Ibu mengangguk pelan, wajahnya tampak cemas. "Kemarin Ibu dapat SMS katanya dapat hadiah mobil dari bank, Ra. Ibu hampir mau tanya ke kantornya."
"Jangan, Bu. Hapus saja," kataku tegas. "Kedua, hati-hati kalau ada yang menelepon mengaku polisi atau dokter rumah sakit, bilang kalau Ara, Bian, atau Cinta kecelakaan dan butuh uang operasi segera. Jangan panik. Telepon kami langsung, atau telepon sekolah. Jangan pernah kirim uang ke nomor rekening yang mereka kasih, siapa pun itu."
Aku menatap mata mereka satu per satu, menggunakan ketegasan wanita tiga puluh empat tahun yang sudah kenyang melihat berbagai modus phishing dan penipuan sosial di masa depan.
"Ketiga, jangan pernah kasih tahu nomor PIN ATM atau kode apa pun yang masuk ke SMS Bapak dan Ibu kepada siapa pun. Petugas bank asli tidak akan pernah minta itu," lanjutku. "Dan yang paling penting, kalau ada tetangga atau saudara yang ajak investasi dengan janji untung besar dalam waktu singkat tanpa kerja, tolong tolak. Itu biasanya skema ponzi, uang kita cuma dipakai untuk bayar orang lain, lalu pelakunya kabur."
Bapak terdiam, menatap ponselnya dengan ngeri. "Dunia sekarang kok jadi menakutkan ya, Ra? Orang tidak kenal bisa merampok kita dari jauh."
"Dunia memang berubah, Pak. Tapi kalau kita waspada, kita aman," aku tersenyum lembut, menggenggam tangan Ibu. "Ara nggak mau hasil keringat Bapak dan Ibu hilang cuma karena omongan orang asing. Kalau ada apa-apa yang terasa mencurigakan, tanya Ara atau Bian dulu. Jangan ambil keputusan sendiri kalau soal uang."
Malam itu, "kursus singkat" di ruang tengah tersebut terasa lebih berharga daripada jam pelajaran di sekolah. Aku sedang membekali mereka dengan perisai. Aku tidak ingin di masa depan nanti, Ibu jatuh sakit bukan hanya karena beban pikiran, tapi karena menjadi korban penipuan yang menghabiskan sisa tabungannya.
Setelah sesi literasi keluarga berakhir, aku kembali ke meja kayu kecil di sudut kamarku. Di bawah pendar lampu yang mulai temaram, aku membuka buku catatan baru. Jemariku bergerak lincah, menumpahkan segala memori dari masa depan menjadi daftar rencana yang sistematis.
Target jangka pendek, menengah, hingga daftar "ranjau" yang harus kuhindari agar sejarah tidak berulang, semua tertuang di sana. Aku menulisnya di beberapa buku berbeda—semacam cadangan data fisik—dan menyembunyikannya di tempat yang hanya aku yang tahu. Aku harus realistis; menyusun tenggat waktu yang tidak akan mencurigakan bagi orang-orang di tahun 2012 ini.
Namun, di tengah ambisi besar menyelamatkan masa depan keluarga, ada satu masalah mendasar yang mulai menggerogoti kewarasanku: Uang saku.
Kepalaku sering berdenyut akhir-akhir ini, bukan hanya karena beban memori, tapi karena dompetku yang nyaris kosong. Uang sakuku sebagai siswi SMA di desa benar-benar mungil. Hidup tanpa finansial yang memadai ternyata sangat membuat "mati gaya". Meskipun raga ini tujuh belas tahun, selera dan standar hidupku adalah milik wanita tiga puluh empat tahun yang sudah terbiasa mandiri.
Aku merindukan ritual kecilku: menyesap teh hangat dengan aroma melati yang menenangkan, atau setidaknya es kopi susu seminggu sekali. Dan yang paling menyiksa adalah saat hari-hari terasa berat, jiwaku menjerit menginginkan cake slice cokelat yang lembut. Masalahnya, kue favoritku itu hanya ada di satu toko roti di pusat kota, dan harganya hampir dua kali lipat dari seluruh uang sakuku seminggu.
"Bagaimana bisa aku menyelamatkan dunia kalau untuk beli sepotong kue saja aku harus puasa tiga hari?" gumamku getir sambil menatap sisa uang seribuan di atas meja.
Aku mulai memutar otak, menatap sekeliling rumah dengan pandangan predator. Mataku menjelajahi gudang dan kolong tempat tidur, mencari celah untuk menguangkan benda-benda yang sudah tidak terpakai. Koran bekas, botol plastik, atau mungkin buku-buku lama yang bisa kujual ke pengepul. Aku harus kreatif. Selera lidahku yang "mahal" ini harus segera mendapatkan donatur, dan satu-satunya donatur yang bisa kuandalkan saat ini adalah diriku sendiri.
Minggu pagi adalah waktu yang tepat untuk sebuah misi "pembersihan" besar-besaran. Aku mengajak Bian membongkar gudang di samping rumah—sebuah ruangan pengap yang dulunya merupakan kamar Nenek.
Orang tuaku memiliki kebiasaan khas warga desa: tidak ada barang yang boleh dibuang. Segalanya disimpan dengan dalih "siapa tahu besok butuh". Mulai dari kaleng bekas kue THR yang dianggap bagus desainnya, koran-koran lama yang Bapak simpan untuk alas darurat, hingga perkakas rusak yang sudah berjamur karena dimakan waktu. Semuanya menumpuk, menciptakan ekosistem debu yang menyesakkan.
"Mumpung hari Minggu, Bian. Semua rongsokan ini harus kita sulap jadi uang," kataku sambil menarik sebuah kardus lembap.
Kami mulai memilah. Ada tumpukan kertas, botol-botol plastik yang harganya tak seberapa, hingga kaleng-kaleng bekas. Namun, mataku berbinar saat menemukan "harta karun" yang sesungguhnya: potongan-potongan besi bekas entah dari mana asalnya. Besi adalah primadona di tempat pengepul. Dalam kalkulasi jiwa dewasa tiga puluh empat tahunku, aku sangat yakin tumpukan ini setidaknya bisa menghasilkan tiga ratus ribu rupiah.
"Mbak, ini berat sekali. Yakin mau dibawa semua?" keluh Bian sambil menyeret satu karung penuh logam.
"Bawa saja. Ini modal kita buat jajan enak, Bian!" sahutku penuh semangat.
Kami membawa lima karung penuh hasil jarahan gudang itu ke tempat pengepul menggunakan sepeda motor butut Bapak. Namun, realitas di lapangan ternyata lebih pahit daripada ekspektasiku.
Di tempat pengepul, timbangan besi memang bergerak paling jauh, tapi harganya tidak semanis yang kubayangkan. Sebagian barang rongsokan kami ditolak karena dianggap sampah tak bernilai. Plastik dan kertas hanya dihargai recehan. Kaleng sedikit lebih baik, tapi tetap saja mengecewakan.
Setelah perdebatan sengit dan tawar-menawar yang cukup alot—di mana aku harus menggunakan seluruh kemampuan negosiasi kantorku dari masa depan—Pak pengepul akhirnya menyerah.
"Ya sudah, Nduk. Semuanya seratus tiga puluh ribu rupiah," ucapnya sambil menyodorkan beberapa lembar uang lusuh.
Seratus ribu untuk besi, dan tiga puluh ribu untuk barang sisa lainnya. Lima karung besar penuh debu hanya dihargai segitu? Dadaku sedikit sesak. Angka ini bahkan terasa tidak sepadan jika membayangkan risiko Ibu akan mengomel panjang lebar karena merasa "harta karunnya" di gudang telah dicuri oleh anak-anaknya sendiri.
"Hanya seratus tiga puluh ribu, Mbak?" Bian menatap uang di tanganku dengan kecewa. "Capeknya doang yang berasa."
Aku menghela napas, mengantongi uang itu dengan perasaan campur aduk. "Sabar, Bian. Setidaknya ini cukup untuk beli es kopi susu dan sepotong kue. Sisanya... anggap saja biaya pendaftaran kursus kesabaran buat menghadapi omelan Ibu nanti."
Meski angka seratus tiga puluh ribu rupiah terasa receh bagi jiwa tiga puluh empat tahunku, bagi Bian, itu adalah rejeki nomplok yang tak terbayangkan. Matanya berbinar menatap lembaran uang di tanganku. Biasanya, hanya ada sekeping lima ribu rupiah di kantong seragamnya—jatah harian yang harus ia hemat mati-matian.
"Mbak, mending kita beli es krim saja," bisik Bian, suaranya terdengar tulus sekaligus menyedihkan. "Aku sampai lupa rasanya es krim yang dingin dan manis itu seperti apa."
Hatiku mencelos. Di tahun 2029, es krim adalah kudapan remeh yang bisa kubeli kapan saja, tapi di sini, bagi adikku, itu adalah kemewahan yang dirindukan. Aku mengangguk mantap. "Ayo, kita beli yang paling enak."
Sore harinya, badai yang kuprediksi akhirnya tiba.
Ibu berdiri di ambang pintu gudang dengan tangan berkacak pinggang. Wajahnya merah padam, matanya menyapu ruangan yang kini tampak melompong. Suara pekikannya melengking hingga ke ruang tengah, membuatku dan Bian yang sedang asyik menikmati sisa rasa manis di lidah langsung membeku.
"Ara! Bian! Ke mana perginya tumpukan koran Ibu?" teriak Ibu histeris. "Lalu kaleng-kaleng biskuit yang Ibu simpan buat wadah kerupuk? Besi-besi bekas penyangga jemuran juga hilang! Siapa yang berani buang harta Ibu?!"
"Bukan dibuang, Bu, tapi diuangkan," jawabku santai sambil melangkah mendekat, mencoba meredam amarahnya. "Gudang itu sudah jadi sarang nyamuk dan kecoa. Barang-barang itu sudah berjamur, tidak akan terpakai lagi."
"Tapi itu kan masih bagus! Siapa tahu besok butuh buat alas atau wadah!" Ibu masih tidak terima, dadanya naik-turun menahan dongkol. Baginya, setiap benda di gudang itu adalah "cadangan" masa depan, meski kenyataannya hanya menumpuk debu.
Beruntung, Bapak muncul dari arah dapur dengan segelas teh di tangan. Beliau berdiri di samping Ibu, menatap gudang yang kini bersih dengan pandangan takjub. Tidak ada lagi tumpukan yang nyaris menyentuh langit-langit atau aroma apek yang menyengat.
"Sudahlah, Bu," sela Bapak dengan nada tenang yang melegakan. "Gudang ini jadi kelihatan lebih manusiawi sekarang. Napas juga jadi lebih lega kalau lewat sini. Lagipula, anak-anak cuma mau bantu membersihkan supaya tidak jadi sarang tikus."
Ibu mendengus kasar, masih melirik tajam ke arahku dan Bian secara bergantian. "Bantu bersihkan atau mau cari modal jajan? Ibu tahu akal bulus kalian!"
Meskipun masih mengomel dan menggerutu tentang "kehilangan besar" koleksi kalengnya, Ibu akhirnya menyerah saat melihat Bapak tampak begitu puas dengan kerapian rumah. Aku dan Bian saling lirik, lalu tersenyum rahasia. Omelan Ibu adalah harga kecil yang pantas dibayar untuk ruangan yang lebih sehat—dan tentu saja, untuk rasa es krim yang membuat Bian bahagia seharian.
Siang itu, suasana rumah terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Meski bibirnya masih sesekali mengerucut karena "harta karun" gudangnya ludes, Ibu tampak menikmati es krim di tangannya hingga tetes terakhir. Bapak dan Cinta pun tak kalah lahap; mereka menyesap sensasi dingin yang manis itu dengan takzim, seolah-olah es krim adalah penawar paling ampuh untuk cuaca panas dan perdebatan soal barang rongsokan tadi pagi.