Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.
"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"
Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Demam
Author mulai candu pake (—)
Gk ngeganggu kan?
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus tirai beludru tebal, namun Elysianne tidak sanggup membuka matanya. Tubuh manusianya yang baru—yang belum terbiasa dengan beban emosi, darah putih, dan persetubuhan yang intens—akhirnya tumbang.
Kulit porselennya yang biasa dingin kini terasa membara. Keringat dingin membasahi rambut hitamnya yang berantakan di atas bantal. Di lehernya, choker hitam itu terasa mencekik, permatanya berdenyut merah redup seirama dengan detak jantungnya yang lemah dan cepat.
Cyprian yang baru saja selesai berpakaian, segera menyadari perubahan aura di atas ranjang. Ia mendekat, duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan punggung tangannya di dahi Elysianne. Ia tersentak. Panasnya luar biasa.
"Elysianne?" bisik Cyprian, suaranya yang biasa dingin kini terselip nada kecemasan yang tajam.
Elysianne hanya mengerang kecil, bibirnya yang pucat pecah-pecah. Dalam igauannya, ia menggumamkan kata-kata yang tidak jelas—mungkin nama dewa yang dilupakannya, atau mungkin keluhan atas beban berat yang kini menghimpit jiwanya.
Cyprian tahu ini adalah efek samping dari Darah Putih miliknya yang sedang berperang dengan sisa-sisa kesucian di dalam tubuh Elysianne. Tubuh fana wanita itu sedang dipaksa untuk beradaptasi dengan kegelapan murni.
Dengan penuh kelembutan yang posesif, Cyprian mengangkat tubuh lemas Elysianne ke pelukannya. Ia tidak memanggil tabib; ia tidak percaya pada manusia mana pun untuk menyentuh miliknya.
"Kau terlalu lemah, My Love," gumam Cyprian sambil menciumi keningnya yang panas. "Tapi aku akan memastikan kau bertahan. Kau tidak diizinkan mati sebelum aku bosan memilikimu."
Cyprian mengambil kain sutra yang direndam dalam air mawar dingin dan mulai membasuh tubuh Elysianne sendiri. Ia melakukannya dengan sangat teliti, seolah-olah sedang membersihkan permata yang paling berharga. Setiap kali tangannya menyentuh kulit Elysianne, permata di choker itu bersinar lebih terang, mencoba menyalurkan energi kehidupan dari jiwa Cyprian ke dalam nadi Elysianne yang sakit.
Elysianne sempat membuka matanya sedikit. Di tengah kabut demamnya, ia melihat wajah Cyprian yang tampak begitu tampan namun menyeramkan. Ia merasa benci, namun di saat yang sama, ia merasa sangat bergantung pada pria ini. Choker itu memastikan bahwa hanya kehadiran Cyprian-lah yang bisa meredakan rasa sakitnya.
"Sakit..." bisik Elysianne lirih, air mata menetes di sudut matanya.
Cyprian menghapus air mata itu dengan ibu jarinya, lalu memberikan setetes lagi darahnya dari ujung jarinya yang digigit. "Telan ini. Ini akan membuatmu kuat. Ini akan membuatmu tetap menjadi milikku."
.
.
.
Demam yang membakar tubuh Elysianne bukan sekadar reaksi fisik terhadap kelelahan, melainkan proses "penyambungan" paksa antara jiwanya dan esensi Cyprian melalui choker hitam itu. Saat keringat dingin membasahi kulit pucatnya, permata merah di lehernya mulai berdenyut lebih kencang, memancarkan gelombang energi yang terasa seperti ribuan jarum halus yang menusuk sarafnya.
Elysianne mulai merasakan sensasi yang mengerikan sekaligus memabukkan: Kehampaan yang menyiksa.
Setiap kali Cyprian menjauh meski hanya beberapa langkah untuk mengambil air atau handuk bersih, jantung Elysianne terasa seolah diperas oleh tangan tak kasat mata. Napasnya tersengal, dan rasa sakit yang tajam menusuk dadanya. Choker itu telah memodifikasi insting dasarnya; ia kini bernapas seirama dengan keberadaan sang Lord Demon.
"C-Cyprian..." bisik Elysianne parau. Suaranya yang dulu suci kini terdengar penuh damba yang tersiksa.
Begitu Cyprian kembali mendekat dan duduk di tepi ranjang, rasa sakit itu mereda seketika, digantikan oleh gelombang hangat yang mengalir dari permata di lehernya. Tubuh fana Elysianne, tanpa ia sadari, mulai bergerak sendiri—mencari sentuhan tangan dingin Cyprian.
Saat jemari Cyprian membelai pipinya yang panas, Elysianne memiringkan kepalanya, seolah memohon lebih banyak sentuhan. Ia tidak lagi peduli pada kebenciannya; tubuhnya secara biologis "haus" akan aura kegelapan yang dipancarkan pria itu.
Begitu bibir Cyprian menyentuh keningnya, demam yang membakarnya terasa seperti api yang menjinak. Elysianne mencengkeram jubah hitam Cyprian dengan lemah, menarik pria itu agar lebih dekat, seolah-olah tanpa dekapan itu ia akan hancur menjadi abu.
Cyprian memperhatikan reaksi tubuh istrinya dengan tatapan yang meluap akan kepuasan. Ia tahu sihir pada choker itu telah bekerja dengan sempurna. Ia telah mengubah seorang dewi yang agung menjadi makhluk yang akan merangkak padanya hanya untuk mendapatkan setetes energinya.
"Kau merasakannya, bukan?" bisik Cyprian di telinga Elysianne. "Rasa haus yang tidak bisa dipadamkan oleh air mana pun di dunia ini. Hanya aku, Elysianne. Hanya aku yang bisa membuatmu merasa hidup."
Elysianne hanya bisa mengerang rendah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Cyprian. Ia membenci dirinya sendiri karena merasa begitu nyaman dalam pelukan monster ini, namun setiap sel di tubuh barunya berteriak bahwa ia membutuhkan Cyprian untuk tetap bernapas.
"Lagi..." gumam Elysianne dalam igauan demamnya. "Jangan pergi..."
Cyprian membiarkan sayap hitamnya membungkus tubuh mereka berdua di atas ranjang, menciptakan kepompong yang gelap dan intim. Ia memberikan setetes lagi darah putihnya ke bibir Elysianne yang terbuka. Begitu cairan itu masuk, mata ungu Elysianne berkilat sesaat dengan pendar merah—tanda bahwa ia telah sepenuhnya terkontaminasi.
Kini, pelarian bukan lagi pilihan bagi Elysianne. Bukan karena ia tidak mau, tapi karena tubuhnya tidak akan sanggup bertahan hidup tanpa "racun" yang diberikan oleh tuannya.
up dikit~