Bayangan pernikahan yang bahagia agaknya tidak berlaku untuk Nadia Witama. Gadis seperempat abad itu justru terpaksa menikah dengan pria kasar dan arogan seperti Arya Dirgantara untuk melunasi hutang ayahnya. Bisakah Nadia bertahan dengan sikap Arya? Atau pada akhirnya dia akan menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
“Kenapa kamu mengajukan kesepakatan bodoh ini?”
Pertanyaan itu keluar lagi dari bibir Arya, kali ini dengan nada yang berbeda. Tidak lagi sepenuhnya sinis, tidak juga sepenuhnya dingin. Ada sesuatu yang retak di balik suaranya sesuatu yang tidak ingin ia akui, bahkan pada dirinya sendiri.
Nadia yang sejak tadi menunduk, perlahan melirik ke arah pria di sebelahnya. Tatapannya tajam, penuh amarah yang dipendam terlalu lama. Bukan amarah yang meledak-ledak, melainkan amarah yang matang oleh kelelahan. Amarah orang yang sudah terlalu sering disudutkan hingga tidak lagi punya tenaga untuk berteriak.
Arya menangkap tatapan itu.
“Kamu butuh uang?” tanyanya lagi, lebih datar.
Nadia tidak menjawab.
Keheningan jatuh di antara mereka, berat dan menyesakkan. Hanya suara napas mereka yang terdengar, seolah ruangan itu ikut menahan diri untuk tidak runtuh.
Arya menghela napas kasar. “Berapa?”
Nada suaranya kali ini singkat, nyaris seperti perintah. “Berapa nominal yang kamu mau?”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada sebelumnya.
Nadia menutup matanya sesaat. Harga dirinya yang sejak kemarin sudah diinjak-injak oleh keadaan kini kembali diseret ke lantai. Wajahnya tetap tanpa ekspresi ketika ia membuka mata kembali, namun siapa pun yang cukup jeli bisa melihat betapa rapuhnya pertahanannya saat ini.
Ia tidak baik-baik saja.
Arya memperhatikan perubahan itu, meski ia sendiri tidak tahu harus menafsirkan apa. Ia hanya tahu, udara di sekitarnya terasa semakin berat.
Tanpa menunggu jawaban, Arya bangkit dari tempatnya. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut kamar, membuka laci, lalu kembali dengan sebuah kartu berwarna hitam pekat di tangannya. Kartu itu tampak sederhana, tanpa logo mencolok, namun nilainya jauh dari kata sederhana.
Ia meletakkannya di atas ranjang, tepat di samping Nadia.
“Ambil,” ujarnya. “Kamu bisa membeli apa saja dengan itu.”
Nadia melirik sekilas. Hanya sekilas. Tidak ada kilatan tertarik di matanya, tidak ada keterkejutan yang Arya duga akan muncul. Kartu itu baginya hanya benda tipis simbol dari sesuatu yang sejak awal tidak pernah ia inginkan.
Ia menggeser pandangannya menjauh.
“Saya tidak butuh uang,” ucap Nadia pelan, tapi tegas. “Uang yang saya inginkan hanya satu.”
Arya mengerutkan kening. “Apa?”
“Kebebasan.”
Kata itu menggema di ruangan. Nadia bangkit dari posisinya, lalu duduk di tepi ranjang dengan punggung membelakangi Arya. Bahunya tampak tegang, namun ada keteguhan aneh dalam sikapnya seolah ia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi.
Arya terdiam.
Ada sesuatu di dadanya yang mencelos, jatuh tanpa peringatan. Ia tidak menyangka jawaban itu. Tidak dengan nada seperti itu. Tidak dengan sikap seperti itu.
Ia memandangi punggung Nadia, rambut gadis itu jatuh menutupi sebagian bahunya. Dari sudut pandangnya sekarang, Nadia tampak kecil. Rapuh. Terluka.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak lama, Arya merasa bersalah.
Apa aku sekejam itu?
Pertanyaan itu melintas di benaknya, tidak nyaman, mengusik. Selama ini ia selalu membenarkan tindakannya. Dunia tempat ia tumbuh mengajarkannya bahwa kuasa adalah segalanya, bahwa orang yang lemah akan diinjak, dan hanya mereka yang menggenggam kendali yang bertahan.
Namun nada suara Nadia barusan bukan nada orang yang sedang bernegosiasi. Itu nada orang yang sudah kehilangan terlalu banyak.
“Aku ingin mengakhiri kontrak ini,” lanjut Nadia, masih membelakanginya. “Secepatnya.”
Arya menegang.
“Mungkin beberapa bulan,” sambung Nadia hati-hati. “Apakah itu mungkin?”
Arya tidak langsung menjawab.
Ada penolakan yang aneh di dadanya. Sebuah rasa tidak rela yang muncul begitu saja, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan. Padahal sejak awal ia tahu Nadia tidak menginginkannya. Wanita itu membencinya. Setiap tatapan, setiap kata, selalu penuh perlawanan.
Namun mendengar Nadia ingin pergi mengakhiri semuanya rasanya seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat ia pahami.
Nadia menarik napas panjang, lalu berbicara lagi, suaranya mulai bergetar. “Saya punya kehidupan pribadi. Rencana hidup yang sudah saya susun bertahun-tahun sebelumnya, saya ingin mewujudkan itu semua. Saya mohon bisakah anda berbelas kasih dengan membebaskan saya dan mendiang ayah saya?”
Kata terakhir itu nyaris tidak terdengar.
“Saya akan mengganti semua uang yang ayahnya saya hilang,” lanjutnya. “Sedikit demi sedikit. Saja janji.”
Arya tidak lagi benar-benar mendengarkan.
Hatinya terasa hampa, kosong, seolah ada sesuatu yang runtuh perlahan. Ia berdiri di sana, memandangi punggung Nadia, menyadari kenyataan pahit yang selama ini ia abaikan.
Wanita ini tidak menginginkanku. Tidak sekarang. Tidak nanti.
“Kamu…” suara Arya terdengar lebih pelan dari yang ia kira, “tidak menginginkanku?”
Nadia berbalik.
Dan saat itulah ia melihatnya.
Tatapan Arya yang biasanya tajam, penuh dominasi kini tampak redup. Seperti cahaya yang meredup perlahan di balik kabut. Bukan akting. Bukan sandiwara.
Untuk sesaat, Nadia terdiam. Ada rasa asing yang menyelinap ke dadanya. Kebingungan. Namun ia tidak menjawab.
Jawaban itu sudah terlalu jelas.
Arya tersenyum tipis senyum yang pahit. Ia bangkit, meraih kartu hitam itu, lalu melemparkannya ke arah meja dengan gerakan kasar. Suara benda itu menghantam permukaan kayu terdengar nyaring di tengah keheningan.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Arya berjalan keluar. Pintu kamar dibanting keras, meninggalkan gema yang lama menghilang.
Nadia tetap duduk di tempatnya.
Ia menatap pintu yang kini tertutup, dadanya naik turun. Ada pertanyaan yang berputar di kepalanya, tidak menemukan jawaban.
Ada apa dengan laki-laki itu?
---
Malam harinya, Nadia diantar Rio kembali ke kosannya. Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang canggung. Lampu-lampu jalan berpendar di kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak pelan.
Saat mobil berhenti di depan halte, Nadia meminta Rio menghentikan kendaraan.
“Di sini saja, aku akan pergi sendiri,” ucapnya.
Ia membuka sabuk pengaman dan bersiap turun. Namun tangannya terhenti di gagang pintu. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya tentang sikap Arya sore tadi. Tentang bagaimana pria itu tiba-tiba tampak sedih, sebelum kembali murka tanpa penjelasan.
Rio meliriknya lewat kaca spion. “Nona ada apa?”
Nadia menoleh sekilas, lalu memalingkan wajahnya lagi. Ia menghela napas panjang.
“Rio,” katanya akhirnya, “bolehkah aku bertanya sesuatu?”
“Tentu.”
“Apakah… Arya pernah ditinggalkan seseorang?”
Rio mengerutkan kening, tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu membuatnya terdiam beberapa detik, seolah sedang memilah ingatan.
Nadia yang tidak mendapat jawaban segera, membuka pintu dan melangkah keluar. Namun langkahnya terhenti ketika suara Rio terdengar lagi.
“Apakah Anda mengatakan sesuatu pada Tuan?” tanya Rio tiba-tiba.
Nadia tidak menjawab. Ia hanya menggeleng, memilih menyimpan percakapan itu untuk dirinya sendiri.
Namun Rio melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Tuan… memang pernah ditinggalkan.”
Nadia menoleh perlahan.
Rio menghela napas. “Ibunya pergi ketika Tuan masih kecil.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Saya tidak tahu detailnya. Itu cerita yang saya dengar dari pengasuh lama keluarga Dirgantara. Tapi yang pasti… Tuan Arya ditinggalkan saat ulang tahunnya yang ketujuh.”
Nadia membeku.
“Tujuh?” ulangnya pelan.
Rio mengangguk. “Sejak saat itu, Tuan sangat membenci angka tujuh. Dan… emosinya sering kali sulit dikendalikan.”
Kata-kata itu jatuh satu per satu, membentuk gambaran baru di benak Nadia. Potongan-potongan kecil yang mulai terhubung.
Ia teringat tatapan Arya sore tadi. Suara yang terdengar terluka. Amarah yang muncul tiba-tiba.
Mungkin di balik semua kekejamannya, ada luka lama yang tidak pernah sembuh.
Namun Nadia tahu satu hal pasti memahami bukan berarti memaafkan. Luka Arya tidak serta-merta menghapus lukanya sendiri.
Ia menatap ke arah jalan yang gelap, lalu m
elangkah pergi.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Nadia menyadari
Ia dan Arya sama-sama terluka namun berada di sisi yang berbeda dari rasa sakit yang sama.