Di balik toga wisuda yang megah dan senyum yang terukir di wajah, tersimpan ribuan air mata, keringat, dan luka yang tak terlihat. Ini adalah kisah tentang sebuah janji dan janji seorang anak perempuan yang bertekad mengubah nasib demi melihat kedua orang tuanya bahagia.
Dari sebuah rumah sederhana, ia berjuang menembus kerasnya dunia pendidikan, Perjalanan itu tidak mudah, karena di setiap langkahnya selalu ada suara-suara sumbang. Keluarga sendiri yang seharusnya mendukung, justru sering meremehkan dan menghina. Tetangga pun tak kalah jahat, memandang mereka sebelah mata dan menyebarkan gunjingan bahwa ia tak akan pernah berhasil mengubah nasib keluarganya.
Rasa lelah, rasa ingin menyerah, dan pedihnya dihina seolah menjadi teman setia. Namun, setiap kali ia ingin berhenti, bayangan wajah ibunya yang selalu bekerja keras dan meneteskan air mata menjadi bahan bakar semangatnya.
"Tunggu aku sukses, Bu..." bisiknya dalam hati setiap malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dell_dell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertolongan dari langit
Hujan deras terus mengguyur. Di teras mushola yang sempit dan dingin, Adel, ayah dan ibunya hanya bisa saling memeluk mencari kehangatan. Pakaian mereka basah kuyup, perut kosong, dan hati yang hancur.
Mereka seperti pengemis di kampung sendiri, diusir oleh keluarga yang seharusnya melindungi, difitnah oleh tetangga yang seharusnya bertetangga baik.
"Ya Allah... Di mana Engkau saat hamba sedang terpuruk begini? Tolong hamba Ya Allah... Tolong Ibu hamba..." bisik Adel lirih di tengah rintik hujan.
Tiba-tiba, sebuah mobil SUV hitam yang gagah berhenti tepat di depan mushola itu. Lampu mobil yang menyilaukan membuat Adel terkejut dan menutup mata.
Pintu mobil terbuka. Turunlah seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang rapi dan wajah yang tegas namun teduh. Itu adalah Pak Budi, bos tempat Adel bekerja!
Di belakangnya turun juga istrinya, Ibu Rita, yang tampak sangat anggun dan baik hati.
"Adel?!" seru Pak Budi kaget tak percaya melihat keadaan gadis karyawannya yang biasanya rapi dan ceria kini tampak menyedihkan.
Adel buru-buru berdiri dan mencoba merapikan penampilannya yang berantakan, air matanya langsung jatuh. "P... Pak Budi... Maaf..."
Pak Budi dan Ibu Rita langsung mendekat. Wajah mereka penuh rasa syok dan kasihan.
"Kenapa kamu bisa di sini, Nak? Kenapa basah kuyup begini? Ini siapa? Ibumu?" tanya Ibu Rita lembut sambil langsung menyelimutkan jaket tebal ke tubuh Ibu Adel dan Adel.
Dengan terbata-bata dan tangis yang pecah, Adel menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Mulai dari fitnah pencurian, penganiayaan oleh Om Darmo, sampai pengusiran yang kejam itu.
Mendengar cerita itu, wajah Pak Budi berubah merah padam menahan amarah yang luar biasa. Tangannya mengepal kuat.
"GILA! MASIH ADA MANUSIA SEKEJAM ITU DI DUNIA INI?! KELUARGA SENDIRI DIPERLAKUKAN SEPERTI HEWAN?!" hardik Pak Budi gemetar.
Ibu Rita pun tak kalah emosinya, "Ya Allah... sungguh kejam mereka. Kasihan sekali kalian Nak."
"Sudah, jangan menangis lagi," kata Pak Budi tegas namun lembut. "Mulai detik ini, kamu dan Ibumu tidak perlu kembali ke tempat neraka itu. Kamu tidak sendirian."
"Pak Budi... Tapi kami tidak punya tempat tinggal, dan tidak punya uang..." isak Adel.
"Urusan tempat tinggal dan biaya, biar saya yang tanggung! Kamu itu anak pekerja keras, jujur, dan berbakti. Saya menganggap kamu seperti anak sendiri sendiri."
Mereka pun membantu Ibu Adel masuk ke dalam mobil yang hangat dan nyaman. Perasaan hangat itu begitu asing bagi mereka yang selama ini hanya merasakan dinginnya penghinaan.
Mobil itu melaju meninggalkan gang sempit itu, membawa mereka menuju sebuah perumahan elit yang asri dan tenang.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah dua lantai yang cantik, luas, dan sangat bersih. Taman depannya hijau dan terawat.
"Masuklah, Nak. Ini rumah saya yang dulu dipakai orang tua saya, sekarang kosong. Mulai hari ini, ini rumah kalian. Gratis! Tinggal selamanya pun boleh!" kata Pak Budi ramah.
Adel dan Ibunya melongo tak percaya. Mereka melangkah masuk. Lantai keramik mengkilap, ruang tamu luas, kamar tidur empuk dengan kasur empuk dan selimut tebal, serta dapur yang lengkap.
Ini bukan mimpi. Ini nyata!
"Terima kasih Pak... Terima kasih Bu... Kalian adalah malaikat penolong yang Tuhan kirim. Kami tidak tahu harus berterima kasih bagaimana..." Ibu Adel dan Adel menangis haru, mencium tangan kedua orang baik itu.
"Sudah jangan menangis. Istirahatlah. Besok kita urus semuanya. Dan tenang saja, soal paman dan tetangga jahat itu, saya tidak akan biarkan mereka seenaknya mempermainkan kalian," janji Pak Budi dengan tatapan tajam.
Sementara itu, di kampung lama, Om Darmo dan Tante Sari sedang berpesta pora. Mereka mengira buku tabungan itu berisi jutaan rupiah.
"Hahaha! Akhirnya kita dapat harta gampang! Besok kita ambil uangnya, terus kita jalan-jalan!" teriak Om Darmo bangga.
Besok paginya, dengan penuh semangat mereka pergi ke bank. Mereka menyerahkan buku tabungan itu pada teller.
"Mbak, ambilkan semua uangnya! Transfer ke rekening saya!" perintah Om Darmo sombong.
Teller itu melihat nama di buku tabungan, lalu mengetik di komputer. Wajahnya berubah aneh.
"Maaf Pak, ini buku tabungan atas nama Neng Adel. Bapak siapa dia?"
"Itu keponakan saya! Urusan keluarga! Cepat ambilkan!" desak Tante Sari tidak sabar.
"Maaf Pak, Bu. Tidak bisa. Pertama, ini butuh tanda tangan dan KTP asli pemilik. Kedua... saldo di sini kan memang ada, tapi nominalnya hanya cukup untuk biaya admin saja. Ini rekening mahasiswa biasa, bukan rekening orang kaya."
JLEB!
"Hah?! Maksud kamu apa?! Pasti kamu salah lihat! Itu kan anak yang katanya sukses, pake baju bagus, kerja di kantor!" teriak Om Darmo panik.
"Memang dia kerja, tapi gajinya dia tabung sedikit-sedikit dan dipakai buat ibunya. Bukan disimpan numpuk di sini buat kalian rampas. Dan dengar ya, pemilik rekening ini sudah lapor kalau bukunya hilang dan dicuri. Kalian yang bawa ini, saya panggilkan satpam dan polisi sekarang juga karena dugaan pencurian!" ancam teller dengan tegas.
Deg!
Wajah Om Darmo dan Tante Sari pucat pasi. Mereka lari terbirit-birit keluar dari bank, jantung mereka berdegup kencang ketakutan.
Ternyata mereka cuma dapat buku tabungan kosong! Mereka sudah berbuat dosa besar, mengusir dan menyakiti orang lain, tapi hasilnya nol besar!
Sesampainya di rumah, mereka panik. Belum sempat mereka berpikir jernih, tiba-tiba datang Pak Budi dengan mobil mewahnya dan beberapa orang termasuk aparat dan tokoh masyarakat untuk menyelesaikan masalah.
Pak Budi datang dengan berkas bukti bahwa Adel bekerja jujur di perusahaannya, dan melaporkan tindakan pemerasan serta penganiayaan yang dilakukan Om Darmo.
"Om Darmo! Kamu sudah keterlaluan! Kamu fitnah keponakanmu mencuri, padahal kamulah yang mencoba merampas haknya! Kamu aniaya iparmu sendiri!" hardik Pak Budi.
Berita ini menyebar secepat kilat. Seluruh warga kampung akhirnya tahu kebenarannya. Mereka tahu kalau Adel dan Ibunya tidak bersalah. Mereka tahu kalau Om Darmo dan Tante Sari itu pelit, jahat, dan suka memeras keluarga.
"Wah, gila ya! Ternyata mereka yang jahat!"
"Pantesan kemarin ribut, ternyata mau rampas uang!"
"Dasar munafik! Kita sudah salah menilai!"
Omongan warga berbalik 180 derajat. Sekarang giliran Om Darmo dan Tante Sari yang menjadi bahan caci maki dan dijauhi semua orang. Bahkan Bu Ratna yang dulu ikut menghasut sekarang lari tunggang langgang takut dilaporin polisi.
Malam itu, di rumah baru yang hangat dan nyaman, Adel ,ayah dan Ibunya tidur dengan sangat nyenyak untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Tidak ada teriakan, tidak ada cercaan, tidak ada ancaman. Hanya ada ketenangan dan kebahagiaan.
"Bu... Kita sudah aman sekarang. Kita tinggal di istana kecil kita," bisik Adel sambil memijat kaki ibunya.
Ibu Adel tersenyum bahagia, wajahnya terlihat berseri dan kesehatannya pun membaik drastis karena hati yang tenang.
"Ya Allah... Maha Besar Engkau. Engkau usir kami dari tempat yang buruk, lalu ganti dengan tempat yang jauh lebih baik. Engkau jadikan musuh-musuh kami malu dan menyesal."
"Adel... Lihat Nak. Air mata yang kita tumpahkan kemarin, kini berubah menjadi pelangi yang indah. Jangan pernah lupa ya Nak, bahwa di balik kesulitan pasti ada kemudahan, dan di balik kezaliman manusia, ada keadilan Tuhan yang sempurna."
Adel mengangguk setuju. Ia menatap jendela, melihat bulan yang bersinar terang.
"Iya Bu. Sekarang waktunya kita bahagia. Biarkan Om Darmo dan mereka yang menyesal. Adel janji, hidup kita akan semakin baik dari hari ke hari."