NovelToon NovelToon
Garis Khatulistiwa

Garis Khatulistiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Bad Boy / Kisah cinta masa kecil
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Saputra 0416

Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.

Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.

Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.

Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.

novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5. Suatu saat nanti

Happy Reading

Aily menangis, tetesan air mata mulai. membasahi pipinya. Ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.

Tiba-tiba, cowok tampan dengan baju acak-acakan tersebut sayang menghampiri mereka.

"Sinta, Riska, berhenti! Biar gue yang urus ni bocah. Kalian pulang aja sana!" Ucap Alderza.

Aily mendongak sembari menatap Alderza. Mungkinkah cowok itu akan menyakitinya lebih dari ini? Sepertinya, dia harus mempersiapkan mentalnya kuat-kuat.

Terlebih saat melihat Sinta dan Riska tersenyum penuh kemenangan, mereka mengisyaratkan seolah akan terjadi sesuatu yang lebih buruk kepadanya.

"Oke Al, kita pulang."

Tapi sebelum pulang, Sinta dan Riska saling menatap satu sama lain. Seolah pertanda bahwa salah satu dari mereka harus memberanikan diri untuk berbicara kepada Alderza. Akhirnya, Sinta pun memberanikan diri untuk membuka mulutnya.

"Em, Al. Mobil lo masih kita pinjem gak papa kan?"

Alderza menaikkan kedua alisnya bingung, jika saja mereka bukanlah sahabatnya, ia malas sekali meminjamkan mobilnya.

Tapi cowok itu terlalu pusing untuk mendengarkan ocehan mereka berdua. Alderza sama sekali tidak ingin ambil pusing. Entah dipakai buat apa, tapi yang jelas apapun akan ia berikan untuk sahabatnya itu.

"Soalnya nanti malem gue-"

"Pake aja, gak papa."

Sinta dan Riska tersenyum senang. Mereka bersorak ria karena Alderza mau meminjamkan mobilnya lagi.

"Thanks, Al."

"Selamat bersenang-senang sama si cupu itu!" Mereka berdua tertawa gembira, entah memiliki dendam apa, tapi semua yang Aily lakukan selalu salah dimata mereka.

"Kecantilan lu, dasar ulet bulu!" Ucap Wulan.

"Kalian pikir lucu apa? Gue laporin bokap gue mampus kalian." Lanjut Wulan kesal. Ia sungguh gemas, ia ingin sekali melaporkan hal ini, mulutnya benar-benar sudah tidak tahan.

Baru sehari ia masuk di sekolah ini, sudah bagai neraka bagi Aily. Bagaimana ia bisa sabar selama bertahun-tahun?

"Gue mau beresin kelas dulu." Ucap Alderza.

"Terus, abis beresin kelas, lo mau bully dia lagi?" Balas Wulan sembari memeluk Aily dengan erat.

"Mendingan lo balik aja sana!"

"Gak, gue gak bakalan ninggalin Aily!"

"Lo gak tau siapa gue?" Tanya Alderza dengan wajah penuh amarah. Melihat wajah Alderza yang seperti itu, Wulan mundur beberapa langkah menjaga jarak dari cowok itu.

"Udah. Udah. Wulan, mendingan kamu pulang aja ya. Nanti Papa kamu nyariin." Lerai Aily agar tak terjadi perselisihan yang lebih rumit lagi.

"Tapi..."

Aily tahu Wulan akan menolaknya. Tapi dengan senyuman dan wajah penuh keberanian, Aily berhasil meyakinkan Wulan agar meninggalkannya di kelas ini.

"Pliss, aku cuman minta kamu gak nolak permintaan aku."

"Huh oke, aku pulang. Tapi, kalo dia berani macem-macem, langsung bilang sama aku ya."

Aily mengangguk, dengan langkah yang amat berat, Wulan pun meninggalkan mereka berdua di kelas. Sebelum pergi, ia menatap tajam ke arah Alderza.

"Awas aja lo!" Ucap Wulan kepada Alderza.

Wulan pun pergi, sementara Alderza mengabaikan kepergian cewek itu. Cowok itu beralih menatap Aily yang kini berada di hadapannya.

"Em, gue mau...." Ucap Alderza terbata-bata.

"Gue mau....."

Aily terus menunggu ucapan Alderza, tapi nyatanya nihil. Alderza terus saja mengacak-acak rambutnya seperti orang yang sedang gugup.

"Gue mau....."

"Mau minta tolong bantuin beresin kelas?" Potong Aily.

Aily bingung melihat sikap cowok itu yang tiba-tiba gelagapan tanpa sebab. Sebaliknya, Alderza bingung kenapa Aily sama sekali tidak pernah marah padanya. Padahal dirinya sering sekali menyakitinya.

Alderza terdiam. Sebenarnya ia ingin meminta maaf karena telah mendorong Aily sampai berdarah seperti itu. Cowok itu sadar dirinya sangat jahat, tapi tidak sampai dengan fisik seperti itu, apalagi sampai berdarah.

"Yaudah, ayo aku bantuin."

Saat Aily hendak mengangkat bangku, Alderza langsung menghentikannya.

"Biar gue yang ngangkat bangku, lo bantu sapuin saja."

Jadi...... Kali ini mereka bekerja sama? Dan, ada anugerah apa sampai Alderza mau bekerja sama dengannya.

Apa hanya karena kasihan? Aily dapat melihat dari mata Alderza kalau dia melakukan itu semata-mata hanya karena kasihan padanya.

Tapi tidak apa, ini lebih baik daripada sebelumnya.

Mereka pun selesai membereskan kelas. Mereka membereskan kelas dengan penuh keheningan, tidak seperti biasanya. Alderza yang cerewet tiba-tiba menghilang begitu saja.

Kini mereka sedang berada di dalam bus sekolah. Aily hanya menatap jalanan kota yang sangat ramai, sementara Alderza gugup setengah mati.

"Lo kenapa gak pernah marah sama gue?" Tanya Alderza tiba-tiba.

"Kalo aku lawan kalian, nanti kalian malah semakin kasar sama aku. Kalo aku diem aja, nanti juga kalian capek sendiri."

"Dan gue gak akan pernah capek!"

"Terserah, tapi aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bakalan berhenti." Aily tersenyum dengan penuh percaya diri. Keyakinan dalam hatinya terpancar dari kedua matanya sampai membuat Alderza terdiam.

Tak lama, Alderza memalingkan matanya dan berkata.

"Dan gue gak bakalan pernah berhenti!"

"Oke, gak papa." Balas Aily sembari tersenyum. Entah kenapa tiap senyumannya seolah mengisyaratkan ia sedang menyembunyikan sesuatu.

Apakah ia hanya pura-pura tersenyum?

"Oh iya, kalau aku boleh kasih saran, mendingan kamu jangan terus-terusan hamburin uang kamu buat traktir temen-temen kamu deh. Terus, jangan terlalu manjain temen kamu juga pakai-"

"Lo udah berani ngomong sama gue kayak gitu? Emangnya lo pikir lo itu siapa?" Balas Alderza tidak terima, wajahnya malah terkesan heran melihat Aily yang berani berbicara lancang terhadap teman-temannya.

"Bukannya lo itu pendiem! Ngapain juga ngurusin kehidupan orang, jangan banyak bacot deh!"

"Aku gak pernah bilang kalo aku orangnya pendiem, Alderza. Kalian aja yang gak pernah kasih aku kesempatan buat bicara!" Aily menarik napas perlahan, lalu membuang mukanya sambil menatap kosong ke arah luar jendela.

"Aku cuma orang yang biasa kalian tindas, itu aja."

Dan, kata-kata Aily barusan membuat Alderza terdiam. Tidak, teman-temannya sama sekali tidak pernah sekalipun memanfaatkannya. Mereka adalah teman-teman terbaik yang pernah Alderza miliki, dan selalu mendukung apa pun yang ia lakukan.

Ya..... Dan Alderza tidak boleh terpengaruh oleh ucapan cewek cupu ini. Dasar cewek sesat!

***

Tingtong

Bel rumah Aily berbunyi beberapa kali, yang memijit Bel tersebut sungguh tidak sabaran. Ia memijit bel beberapa kali sampai membuat telinga Aily pusing.

Aily membuka pintu, ternyata di hadapannya ada Alderza yang sukses membuat Aily kaget.

"Ada apa?"

"Bisa keluar dulu sebentar." Alderza menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia hanya sedikit bingung tentang apa yang akan ia katakan pada Aily.

"Masuk aja." Ucap Aily sembari melebarkan pintu rumahnya, tanda kalau ia mengizinkan Alderza untuk masuk.

"Eemm... Nggak. Nggak. Gue maunya diluar aja, bukan di dalem."

Aily mengerutkan keningnya bingung sampai ia menatap tajam Alderza dengan tatapan mencurigakan.

"Mau ngapain?"

"Udah, keluar aja dulu."

Aily keluar, Alderza kemudian meminta Aily untuk. mengikutinya.

"Darimana kamu tau rumah aku?" Tanya Aily bingung.

"Lo kan tadi turun dari bus di depan rumah banget, ya udah gue samperin. Gak kayak kemaren, ngapain coba ke hutan sendirian."

Aily terdiam, sekali lagi dalam hatinya ia berkata, bukan urusan Alderza untuk tahu kenapa ia pergi ke hutan tersebut.

Alderza hanyalah orang lain. Atau lebih tepatnya, orang yang selalu menyakitinya.

"Oh."

"Sini duduk!" Ucap Alderza pada Aily sambil menunjuk sebuah kursi hijau yang menghiasi taman tersebut.

"Ngapain?" Tanya Aily semakin bingung.

"Nggak usah banyak tanya bego."

Aily menghela napas panjang, ia hanya bisa mengikuti apa yang Alderza ucapkan. Ia pun duduk di kursi hijau itu, sementara Alderza berjongkok lalu membersihkan luka yang ada di lutut Aily dengan air.

"Kamu ngapain?"

"Punya mata gak? Ya ngobatin luka lo lah!"

Aily mendengus kesal, Alderza terus saja berkata dengan nada tinggi. Mungkin itu memang kebiasaannya, tapi mengobati lukanya? Ini sama sekali tidak terlihat seperti Alderza Rajendra.

Tangannya perlahan memberi obat merah pada luka Aily dan membalutnya dengan perban.

"Gue...."

"Gue..... mau mi-minta maaf, Aily."

Thank you yang udah baca. Kalau ada kesalahan kata, typo, atau ada yang kurang tepat, mohon dikoreksi ya. Love you all guys.

1
ros 🍂
semangat thor💪 ijin mampir
Kamado Tanjirou: makasih
total 1 replies
Nhi Nguyễn
/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!