NovelToon NovelToon
Yang Tersisa Di Kota Mati

Yang Tersisa Di Kota Mati

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Adira Malam

Damar Prakoso seorang pemuda yang datang dari desa ke kota dengan harapan sederhana -kerja, uang, hidup layak. Tapi kenyataan yang terjadi malah dia harus coba bertahan hidup karena sebuah virus mutasi sedang menyebar. Manusia mulai berubah menjadi makhluk agresif yang tidak lagi bisa dikendalikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira Malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 - KESEPAKATAN SEMENTARA

Ternyata, perjalanan pulang selalu terasa berkali-kali lipat lebih jahanam ketimbang saat berangkat.

Itulah satu-satunya pikiran yang terus berputar di kepala Damar sewaktu kakinya dipaksa melompat melewati tumpukan sampah dan puing-puing ruko. Di belakang mereka, gelombang suara geraman parau bersahutan tiada henti, menggema kasar di antara dinding-dinding beton gang sempit.

Sosok-sosok kaku yang barusan menjebol pintu kaca supermarket itu kini bergerak mengejar di belakang rombongan layaknya anjing pemburu yang kelaparan. Mereka tidak mengenal rasa lelah, tidak punya rasa takut, dan tidak akan pernah berhenti melangkah sebelum berhasil menancapkan kuku-kuku busuk mereka ke daging manusia yang segar.

"Belok kiri! Masuk ke gang tikus!" teriak salah satu prajurit baret hijau yang berada di garis depan, memberikan aba-aba sambil menembakkan tiga butir peluru ke arah belakang untuk menghambat jarak.

Rombongan penyintas itu langsung memutar haluan, berbelok patah ke sebuah celah sempit di samping bangunan ruko tua. Damar mencengkeram gagang linggis besinya hingga telapak tangannya terasa kebas. Napasnya sudah memburu kasar, dadanya terasa panas seperti terbakar, dan otot-otot paha serta betisnya mulai menjerit minta berhenti. Namun, akal sehatnya terus mencambuk tubuhnya untuk tetap berlari. Di dunia yang sudah mati ini, pilihan yang tersisa memang cuma dua: terus menggerakkan kaki, atau pasrah menjadi santapan malam.

Alya berada tepat beberapa meter di depan Damar. Gadis itu berlari dengan ritme yang luar biasa stabil, kedua tangannya masih siaga memegang tongkat aluminium tebal yang tadi dia gunakan untuk meremukkan kepala monster. Ada rasa heran yang terselip di hati Damar saat melihat bagaimana gadis itu bisa tetap bersikap luar biasa tenang di tengah situasi sekacau ini.

Bahkan ketika dua sosok *infected* mendadak melompat keluar dari balik bangkai mobil sedan yang melintang di tengah jalan, Alya sama sekali tidak memekik panik. Gerakannya justru terlihat sangat terlatih. Dia mengambil satu langkah taktis ke samping kanan, memanfaatkan momentum, lalu mengayunkan tongkatnya dalam satu putaran horizontal yang bersih.

*BRAAAKK!*

Hantaman telak itu telak meremukkan rahang monster pertama, mengirimnya jatuh tersungkur ke aspal. Sosok kedua mencoba menerjang maju dengan tangan menjulur, namun Alya dengan cepat melayangkan satu tendangan lurus yang keras tepat di bagian tempurung lutut makhluk tersebut.

*CRACK!*

Tubuh monster itu langsung limbung kehilangan tumpuan. Sebelum dia sempat merangkak naik, pukulan kedua dari tongkat Alya sudah menghantam ubun-ubunnya dengan getaran yang mematikan.

"Jangan bengong! Terus lari!" teriak Alya tanpa menoleh ke belakang, langsung melesat maju kembali memimpin ritme.

Damar yang berada di belakangnya hanya bisa menelan ludah kasar. Dia sendiri tidak tahu harus merasa kagum atau justru ngeri melihat efisiensi membunuh yang dimiliki mahasiswi olahraga itu.

Perjalanan melintasi rute memutar menuju zona perlindungan darurat memakan waktu hampir dua jam yang menyiksa fisik. Rombongan beberapa kali terpaksa mengendap-endap memutari blok perumahan demi menghindari kelompok besar, bersembunyi di dalam ruko kosong yang pengap, hingga terpaksa menahan napas rapat-rapat selama beberapa menit saat sebuah gerombolan *infected* melintas tepat di depan celah gerbang tempat mereka bersembunyi.

Namun pada akhirnya, dewi fortuna masih berpihak pada mereka. Gerbang besi area parkir mal perlahan terbuka lebar menyambut kedatangan rombongan.

Beberapa prajurit jaga langsung bergerak cekatan menarik karung-karung logistik dari pundak para pengungsi, sementara ratusan pasang mata penyintas yang tinggal di dalam kamp menyambut kepulangan mereka dengan binar wajah yang luar biasa lega. Tapi Damar tahu betul, tatapan lega itu bukan karena mereka peduli dengan keselamatan nyawa rombongan yang baru pulang, melainkan karena tumpukan bahan makanan yang berhasil dibawa masuk.

"Ya Allah... hatur nuhun... urang bisa makan hari ini..." seorang wanita paruh baya tampak jatuh terduduk sambil menangis sesenggukan begitu melihat kardus-kardus mie instan dan kornet diturunkan dari mobil logistik.

Damar hanya bisa menghela napas, bersandar pada pilar beton sambil memandangi pemandangan itu. Dia sangat memahami perasaan wanita itu. Di era di mana peradaban sudah runtuh total seperti sekarang, satu kardus mie instan jauh lebih bernilai dan berharga ketimbang tumpukan lembaran uang seratus ribu di dalam dompet.

Di sudut area pos pemeriksaan utama, Kapten Rendra Mahesa sudah berdiri menunggu dengan kedua tangan bersedekap di dada. Sepasang matanya yang tajam langsung terkunci pada sosok Alya yang sedang membersihkan noda darah di tongkat aluminiumnya.

"Dia siapa?" tanya Rendra singkat, mengarahkan pandangannya ke Damar.

Belum sempat Damar membuka mulut untuk menjelaskan, Alya sudah melangkah maju satu langkah, menatap lurus mata sang komandan tanpa ada rasa canggung. "Alya Pramesti."

Rendra terdiam, mengamati penampilan fisik gadis itu dari ujung sepatu botnya yang kotor hingga ikatan rambutnya yang berantakan. "Laporan dari tim patroli bilang kamu berhasil bertahan hidup sendirian di luar sana selama hampir seminggu. Benar?"

"Kurang lebih begitu," jawab Alya pendek.

Rendra mengangguk kecil. Ekspresi wajah pria berseragam loreng itu memang sulit dibaca, namun Damar yang berdiri di samping mereka bisa menangkap sekelebat kilat tipis di dalam mata sang kapten. Itu bukan tatapan ketertarikan personal antara pria dan wanita, melainkan kalkulasi dingin dari seorang pemimpin militer yang baru saja menemukan sebuah "aset" baru yang sangat berguna untuk memperpanjang napas kamp ini.

Malam harinya, atmosfer di dalam zona perlindungan darurat terasa sedikit lebih bernyawa ketimbang hari-hari sebelumnya. Tambahan pasokan logistik pangan yang melimpah terbukti ampuh meredam riak kepanikan dan tensi tinggi yang sempat meletup di antara para pengungsi selama beberapa hari terakhir. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama dicekik ketakutan, Damar bisa melihat beberapa orang mulai berani melempar senyum tipis, meski senyuman itu terlihat getir dan dipaksakan. Tapi setidaknya, malam ini mereka kembali berani merajut harapan untuk melihat esok hari.

Damar duduk berselonjor di dekat pembatas pagar dalam, menikmati jatah makan malamnya yang sangat sederhana; semangkuk mie instan setengah matang yang kuahnya sudah dingin, dua keping biskuit kering, dan sebotol air mineral. Tidak banyak memang, tapi di zaman sekarang, menu seperti ini sudah setara dengan hidangan bintang lima di restoran mewah.

"Masih bernapas?"

Suara ketukan sepatu yang disusul teguran santai itu membuat Damar menoleh. Alya sudah mengambil posisi duduk di atas beton tepat di sebelahnya, membawa mangkuk plastik dengan isi menu yang hampir serupa.

"Sejauh ini masih," jawab Damar sambil mengunyah biskuitnya perlahan.

Alya terkekeh kecil, sebuah tawa renyah yang terdengar asing di tempat suram ini. "Bagus kalau begitu."

Setelah itu, keheningan kembali merayap di antara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama melemparkan pandangan ke atas, menatap langit malam yang kelam tanpa bintang karena tertutup gumpalan awan mendung.

"Maneh... beneran nggak ada rasa takut sama sekali?" tanya Damar tiba-tiba, rasa penasaran yang dia pendam sejak siang akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya.

Alya menghentikan kunyahannya, menoleh menatap Damar. "Takut? Takut soal apa maksud lo?"

"Ya... semuanya. Dunia yang hancur begini, monster-monster di luar, atau kemungkinan kalau kita nggak bakal selamat," suara Damar agak merendah di ujung kalimat.

Pertanyaan itu tampaknya berhasil membuat Alya terdiam cukup lama. Gadis itu menatap kosong ke dalam mangkuk plastiknya, seolah sedang menggali memori dari tiga hari jahanam yang dia lalui sendirian di apartemennya.

"Gue takut, Damar," akhirnya Alya bersuara, nadanya terdengar jauh lebih serius ketimbang biasanya. "Sumpah, gue takut setengah mati. Tapi di hari pertama wabah itu pecah, gue langsung sadar satu hal: kalau gue membiarkan otak gue fokus sama rasa takut, gue pasti udah mati di pojokan kamar sejak hari pertama."

Damar terdiam, mendengarkan dengan saksama.

"Makanya, gue bikin aturan sendiri di kepala gue," lanjut Alya sambil menatap lurus ke arah kegelapan kota di balik pagar. "Gue cuma fokus buat bertahan hidup satu hari aja. Hari ini selamat dulu, perkara besok pagi gue masih napas atau enggak... itu urusan besok. Jangan dipikirin sekarang."

Damar mengangguk pelan, meresapi setiap jengkal kalimat yang keluar dari mulut gadis itu. *“Bener juga sih,”* batin Damar. Banyak orang di dalam kamp ini yang secara fisik masih utuh dan sehat, namun mental dan jiwa mereka sebenarnya sudah runtuh total menjadi abu semenjak hari pertama karena terus-menerus memikirkan masa depan yang tidak pasti.

Keesokan paginya, sebuah panggilan darurat dari pos komando dalam membuat Damar dan Alya harus melangkah menuju ruangan bekas kantor manajemen mal di lantai atas.

Ruangan itu pengap, dipenuhi oleh kepulan asap rokok dan tumpukan dokumen yang berantakan. Di tengah ruangan, sebuah meja rapat besar sudah dipenuhi oleh bentangan peta topografi kota yang dipenuhi coretan spidol. Beberapa titik diberi tanda silang berwarna merah menyala, sementara beberapa area lainnya dikelilingi oleh lingkaran hitam tebal.

"Situasi perimeter luar kita memburuk secara signifikan," kata Kapten Rendra tanpa basa-basi begitu kedua anak muda itu menutup pintu ruangan. "Tapi saya yakin, itu bukan berita baru yang mengejutkan buat kalian berdua."

Alya melangkah mendekati meja, melirik peta itu dengan malas. "Kalau Kapten punya berita bagus, mending langsung kasih tahu sekarang aja. Kuping saya udah panas denger berita buruk mulu."

Rendra mendengus pendek, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum hambar. "Kalau berita bagus itu memang ada, saya pasti jadi orang pertama yang bakal teriak pakai pengeras suara di atas atap."

Atmosfer tegang di dalam ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih cair. Rendra kemudian mengetuk jarinya pada salah satu titik kosong di area peta utara. "Intinya, pasukan saya kekurangan personel aktif yang bisa diandalkan. Kebanyakan prajurit yang tersisa harus fokus menjaga stabilitas barikade dalam agar tidak jebol."

"Terus maksud bapak manggil kami ke sini buat apa?" tanya Damar, mulai mencium gelagat tidak enak.

"Saya butuh tim kecil berkekuatan taktis yang fleksibel. Tim yang bisa bergerak cepat di bawah radar tanpa perlu memancing perhatian gerombolan besar," Rendra menatap mata mereka bergantian.

Damar mulai paham ke mana arah pembicaraan ini bermuara. "Tim pencari logistik lagi?"

Rendra mengangguk mantap. "Bukan cuma sekadar menjemput makanan. Tugas tim ini nanti meliputi pengumpulan informasi jalur evakuasi, mengamankan pasokan obat-obatan medis di rumah sakit sektor barat, mencari peralatan teknis, hingga... menjemput penyintas potensial yang sekiranya masih terjebak."

Ruangan itu mendadak menjelma menjadi keheningan yang berat. Damar tahu betul arti di balik kata-kata taktis sang kapten. Tugas itu tak ubahnya seperti misi bunuh diri berkedok operasi kemanusiaan. Sangat berbahaya.

Rendra kemudian mengacungkan jari telunjuknya ke arah Damar. "Kamu." Lalu jarinya bergeser menunjuk ke arah gadis di sebelahnya. "Dan kamu juga, Alya."

Alya langsung mengerutkan dahinya, tidak terima. "Tunggu dulu, Kapten. Alasan lo milih gue jelas karena gue bisa berantem dan punya fisik yang mumpuni. Nggak masalah." Alya kemudian menggeser telunjuknya sendiri, menunjuk lurus ke arah wajah Damar yang sedang melamun. "Tapi kenapa harus dia? Lo mau bikin ini cowok mati konyol di luar?"

Damar langsung merasa tersindir, wajahnya merengut kecut. *“Sialan, meni disepekeun pisan urang teh,”* gerutu Damar dalam hati. (Sialan, diremehin banget gue tuh.)

Kapten Rendra menatap Damar dengan pandangan yang sulit diartikan. "Damar punya satu kemampuan yang tidak dimiliki oleh prajurit terlatih sekalipun di dalam kamp ini."

"Apaan?" tanya Alya sangsi.

"Dia beruntung," jawab Rendra datar tanpa ekspresi bercanda sedikit pun.

"Hah?!" Damar spontan melongo mendengar argumen aneh sang komandan.

"Orang biasa tanpa modal latihan militer atau kemampuan bela diri yang bisa terus berjalan hidup dari titik nol wabah hingga sampai ke kamp ini... biasanya punya naluri bertahan hidup yang sangat kuat di bawah alam sadar mereka. Di dunia yang gila seperti sekarang, faktor keberuntungan itu jauh lebih berharga daripada akurasi tembakan peluru," papar Rendra panjang lebar.

Alya langsung meledak dalam tawa renyah, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jadi maksud lo, Kapten, lo milih nih anak masuk tim elite cuma modal hoki doang? Yang bener aja!"

"Kurang lebih begitu analisis saya."

"Anjir, kocak banget," Alya melirik Damar sambil menahan senyum geli.

Damar cuma bisa memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening, bingung harus merasa tersinggung karena diremehkan atau merasa bangga karena dianggap sebagai manusia pembawa keberuntungan.

Namun pada akhirnya, suka atau tidak suka, mereka bertiga berakhir duduk mengelilingi meja yang sama hingga larut malam. Membahas rute-rute tikus tersembunyi, menghitung sisa persediaan peluru, hingga mengkalkulasi kemungkinan terburuk jika mereka terdesak di area buntu. Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya... sebuah ikatan kemitraan baru mulai terjalin di antara mereka.

Hari-hari berikutnya bertransformasi menjadi sebuah rutinitas baru yang melelahkan sekaligus menegangkan bagi Damar.

Mereka bertiga—terkadang didampingi satu atau dua prajurit—mulai rutin bergerak keluar dari zona aman kamp saat fajar menyingsing. Menyelinap di antara rongsokan mobil, memanjat dinding pembatas, mengumpulkan sisa-sisa obat dari apotek yang hancur, mencatat titik-titik konsentrasi massa *infected*, hingga mengamankan barang apa saja yang sekiranya bisa memperpanjang umur peradaban di dalam mal.

Seiring berjalannya waktu dan intensitas pertemuan yang tinggi, Damar mulai mengenal sosok Alya lebih dalam. Gadis itu rupanya memang sudah terdidik keras sebagai atlet profesional semenjak bangku SMA. Dia sudah kenyang merasakan asam garam latihan fisik yang menyiksa, terbiasa menghadapi cedera retak tulang, dan memiliki mental yang sudah ditempa kuat untuk menghadapi tekanan kompetisi tingkat tinggi. Itulah alasan paling mendasar kenapa dia tidak mudah goyah saat melihat darah atau kematian di depannya.

Sebaliknya, Alya pun mulai memahami latar belakang Damar. Seorang pemuda desa yang merantau ke kota besar hanya dengan modal nekat demi mencari sesuap nasi untuk keluarganya di kampung halaman. Seseorang yang sama sekali tidak punya dasar bela diri, tidak paham taktik militer, namun selalu berhasil menemukan celah sempit untuk meloloskan diri dari terkaman maut dengan cara-cara yang tak terduga.

Suatu malam, setelah menyelesaikan misi pencarian pasokan medis darurat yang menguras energi, mereka bertiga duduk bersama di atas atap dak beton tertinggi pusat perbelanjaan. Menatap hamparan pemandangan kota mati yang diselimuti kegelapan total.

"Dipikir-pikir... hidup beneran selucu itu, ya," kata Damar memecah keheningan, memandangi ujung sepatunya yang penuh noda lumpur kering.

"Lucu apanya?" tanya Alya tanpa menoleh, pandangannya lurus menembus kabut malam.

"Seminggu yang lalu, kepala gue hampir pecah cuma gara-gara pusing mikirin biaya sewa kosan yang naik di kota ini," Damar tersenyum getir.

Alya tertawa pelan, memeluk kedua lututnya sendiri. "Kalau gue, seminggu lalu lagi stres setengah mati mikirin revisi tugas akhir dari dosen pembimbing gue yang rewelnya minta ampun."

Kapten Rendra yang duduk agak terpisah perlahan menurunkan pandangannya dari bentang cakrawala kota, menghisap puntung rokok terakhirnya dalam-dalam. "Seminggu yang lalu... saya masih sangat percaya kalau kekuatan militer distrik kita punya kapasitas penuh untuk menghentikan penyebaran wabah ini dalam hitungan hari."

Kalimat terakhir dari sang kapten sukses melempar atmosfer di atas atap itu kembali ke dalam kesunyian yang dingin. Angin malam berhembus konstan, membawa aroma samar sisa pembakaran kayu dan mesiu dari kejauhan.

"Menurut bapak... kita semua yang ada di sini bakal selamat nggak pada akhirnya?" tanya Damar lagi, menyuarakan keraguan terbesar yang selama ini terkunci rapat di dasar hatinya.

Tidak ada jawaban instan yang keluar. Alya tetap memilih menatap langit malam yang mendung, Rendra sibuk memandangi sisa bara rokoknya yang perlahan mati, dan Damar kembali menatap pekatnya kegelapan di bawah sana.

Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak dunia ini berubah menjadi neraka jahanam, Damar tidak lagi merasakan sensasi kesepian yang mencekik dadanya. Mereka bertiga memang bukan teman dekat yang berbagi tawa di masa damai. Mereka juga jelas bukan keluarga yang diikat oleh hubungan darah.

Namun di tempat yang terkutuk ini, mereka diikat oleh satu kepentingan universal yang jauh lebih kuat dari apa pun: keinginan mutlak untuk tetap bertahan hidup. Dan terkadang, di tengah kiamat, alasan sekecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seseorang tetap waras.

Keesokan harinya, petaka dan kejutan baru kembali mengetuk gerbang depan.

Saat Damar sedang membantu beberapa relawan memindahkan peti kayu berisi pasokan medis di dekat pos gerbang dalam, suara riuh rendah dari arah barikade luar memancing perhatian semua orang. Tampak sekelompok prajurit patroli masuk membawa seorang penyintas baru yang baru saja diselamatkan dari perimeter luar.

Pria paruh baya itu tampak berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan; pakaiannya robek compang-camping, sekujur tubuhnya dipenuhi debu jalanan yang tebal, dan wajahnya menyiratkan kelelahan mental yang teramat sangat. Kapten Rendra langsung melangkah maju memimpin prosedur pemeriksaan standar untuk memastikan tidak ada bekas gigitan tersembunyi di tubuh pria itu.

Namun, begitu pria asing itu mulai membuka mulut dan menceritakan kronologi bagaimana caranya dia bisa selamat hingga sampai ke tempat ini, seluruh persendian tubuh Damar mendadak kaku. Dia membeku di tempatnya berdiri.

"Saya... saya berhasil lari dari area pusat kota, pak," kata pria itu dengan suara parau kehabisan napas. "Di sana situasinya kacau luar biasa, tapi masih ada beberapa kelompok kecil manusia yang bertahan di dalam gedung-gedung tinggi."

Rendra langsung menajamkan tatapannya, fokus. "Kelompok penyintas? Kamu melihat mereka dengan mata kepala sendiri?"

Pria itu mengangguk cepat. "Iya, pak. Sumpah, saya lihat sendiri."

"Lalu bagaimana cara kamu bisa lolos dari blokade monster di jalur utama?" tanya Rendra lagi, menyelidik.

Pria itu terdiam sejenak, dahinya berkerut dalam seolah sedang mencoba memaksa otaknya mengingat kembali detail kejadian traumatis yang dialaminya. "Ada... ada satu orang anak muda yang nekat mengumpan diri buat ngebuka jalur barikade jalan, pak. Dia yang bantu rombongan kami bisa lolos dari kepungan di jalan layang. Sepertinya dia bekas militer atau semacamnya..."

"Bekas militer?" Rendra menaikkan sebelah alisnya.

Pria itu menggelengkan kepala lambat-lambat. "Bukan... seragamnya bukan baju tentara. Masih muda banget seumuran anak kuliahan, tapi gerakannya nekat luar biasa."

Damar merasakan jantungnya mendadak berdegup dalam ritme yang sangat cepat, dadanya bergemuruh hebat tanpa alasan yang jelas. Langkah kakinya reflek maju mendekati kerumunan. "Siapa... siapa ciri-ciri orangnya, pak? Namanya siapa?!" tanya Damar dengan suara yang agak meninggi, memotong prosedur interogasi Rendra.

Pria paruh baya itu mengernyitkan dahi, menatap Damar dengan pandangan bingung sambil berusaha mengingat kembali kenangan di tengah kepanikan massal itu. "Saya... saya agak lupa detail wajahnya, dek. Situasinya gelap banget waktu itu. Tapi yang saya ingat jelas... ada bekas luka robekan horizontal di bagian alis kirinya. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya dipotong pendek rapi..."

Lutut Damar rasanya lemas seketika, dadanya sesak oleh gelombang emosi yang mendadak meluap. Ciri-ciri itu... luka di alis kiri itu...

"Terus namanya siapa, pak?! Tolong inget-inget lagi!" desak Damar lagi, suaranya kini bergetar hebat.

Pria itu memegangi kepalanya, berkedip beberapa kali. "Kalau saya nggak salah dengar pas temannya teriak manggil dia di jalan layang waktu itu..."

"...namanya Rendi. Iya, namanya Rendi."

Dunia di sekeliling Damar seakan berhenti berputar selama beberapa detik. Suara bising di dalam kamp mal mendadak senyap dari pendengarannya.

Rendi, pria itu ternyata masih hidup—atau setidaknya, dia masih berjuang hidup beberapa hari yang lalu di tengah pusaran neraka pusat kota. Dan untuk pertama kalinya sejak rentetan malam jahanam itu menghancurkan seluruh hidupnya, secercah cahaya harapan yang murni kembali menyala, membakar habis rasa putus asa di dalam dada Damar.

1
Maharani Martosono
😄😄
T28J
keren keren keren 👍
Adira Malam: semoga suka ya, baca dan dukung terus 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!