NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29.

Matahari pagi menyelinap masuk lewat celah jendela kamar Bela, menyentuh lembut pipi gadis itu hingga membuatnya perlahan membuka mata. Ia meregangkan tubuhnya yang terasa segar dan ringan, tak ada lagi beban berat yang sempat mengganggu tidurnya beberapa hari terakhir. Ia belum tahu apa yang terjadi semalam, belum tahu bahwa badai yang mengancam hidupnya telah runtuh sepenuhnya berkat tindakan tegas ayahnya. Dengan senyum sederhana, Bela bangkit dari tempat tidur, bersiap menjalani harinya seperti biasa—dengan sederhana, ramah, dan penuh rasa syukur.

Sementara itu, di rumah Pak Samsul, suasana pagi terasa begitu kelabu dan menyedihkan. Rumah mewah yang biasanya penuh hiruk-pikuk persiapan dan kemewahan, kini hening dan suram. Di ruang tengah, Pak Samsul duduk terkulai di kursi kebesarannya yang kemarin masih ia banggakan. Di atas meja, tergeletak surat keputusan resmi dari yayasan pendidikan yang mengakhiri masa jabatannya sebagai kepala sekolah dengan segera. Tertulis jelas di sana alasan pemberhentiannya: pelanggaran berat kode etik, penyalahgunaan wewenang, penyimpangan keuangan, serta tindakan tidak terpuji yang merusak nama baik institusi.

 Ratna sudah tidak terlihat lagi sejak subuh tadi. Ia pergi diam-diam membawa sebagian barang berharganya, meninggalkan Pak Samsul yang kini jatuh miskin dan tak punya apa-apa selain aib yang membekas seumur hidupnya. Sela duduk di sudut ruangan, matanya bengkak dan merah habis menangis semalaman. Ia yang kemarin masih merasa menjadi ratu sekolah, merasa punya kuasa atas siapa saja, kini sadar betul bahwa ia hanyalah gadis manja yang buta akan kenyataan. Semua teman-temannya yang dulu berkerumun mengelilinginya, memuji setiap kata-katanya, kini hilang satu per satu. Bahkan ada yang dengan senang hati menceritakan kembali segala kejahatan Sela ke seluruh penjuru sekolah, membalas semua perlakuan jahat yang pernah mereka terima.

"Pih... kita mau gimana sekarang? Sekolah... rumah... semuanya bakal diambil ya?" tanya Sela lirih, suaranya parau dan penuh ketakutan.

Pak Samsul mengangkat wajahnya dengan susah payah, matanya yang dulu tajam dan angkuh kini tampak kosong dan tua. Ia menghela napas panjang, napas yang terasa berat menyesakkan dada. "kita salah target nak, ternyata yang kita incar adalah cucu pemilik sekolah. setau papih pak rudi hanya investor di sekolah ini dan Pak Rudi... dia nggak pernah buat masalah dengan siapa pun, ternyata kalau anaknya disakiti, dia bisa bikin dunia kita hancur cuma dengan satu jentikan jari. Kita salah besar menilai dia, kita salah besar menilai Bela..."

Sela menunduk dalam, air matanya kembali menetes. Penyesalan mulai merayapi hatinya, penyesalan yang terlambat.

Di SMA Maju Terus, suasana pagi itu berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Murid-murid berkumpul di koridor, kantin, dan halaman, membicarakan satu hal yang sama: pergantian pimpinan sekolah dan kebenaran di balik skandal kemarin. Saat Bela melangkah masuk melewati gerbang, ia disambut bukan lagi bisikan-bisikan jahat atau tatapan sinis, melainkan senyuman, anggukan hormat, dan sapaan ramah dari siapa saja yang ia lewati. Beberapa murid bahkan mendekat, meminta maaf dengan tulus karena sudah mudah percaya gosip dan ikut menjelekkan namanya.

"Maafin kami ya, Bel... kami bodoh banget sampai percaya omongan Sela," ucap seorang gadis yang kemarin sempat menabrak bahu Bela. Ia menunduk malu, wajahnya memerah bersalah.

Bela hanya tersenyum lembut, menepuk pelan bahu gadis itu. "Udah, nggak apa-apa santai aja. Anggap aja pelajaran buat kita semua biar nggak gampang percaya sama sesuatu tanpa bukti. gue udah maafin kok, lupain aja ya."

Ketulusan Bela membuat siapa saja yang mendengarnya semakin merasa kecil dan terharu. Di mata mereka, gadis sederhana itu kini berubah menjadi sosok yang luar biasa. Bukan karena ia cucu pemilik sekolah—fakta yang baru saja tersebar luas—melainkan karena hatinya yang begitu besar, luas, dan bersih meski sudah disakiti berkali-kali.

Dari kejauhan, di dekat pohon besar di pinggir lapangan, Arga berdiri diam memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang penuh rasa bangga dan damai. Ia mengenakan seragam gurunya yang rapi, namun senyum di wajahnya terasa lebih lepas dan tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Di sampingnya berdiri Bastian, Lula, Bagas dan Galang sama-sama tersenyum melihat sahabat mereka dicintai dan dihormati oleh semua orang.

"Gila... Bela emang juara banget sih. Di posisi dia sekarang, orang lain mungkin udah marah atau sombong, tapi dia tetap dia. Tetap Bela yang kita kenal," ucap Lula dengan mata berkaca-kaca karena haru.

Bastian mengangguk kuat, menepuk bahu Arga dengan penuh persahabatan. "apa kata gue, Bang. Cuma Abang yang paling pantas buat dia. Gue nggak nyesel sama sekali udah mundur. Lihat aja, cara dia ngeliat Abang beda banget. Dan cara Abang ngejaga dia... itu cinta sejati namanya."

Arga menoleh menatap keponakannya itu, tersenyum penuh rasa terima kasih. "Makasih ya, Bas. Makasih udah ngerti, udah ikhlas, dan tetap ada buat dia. Kamu sahabat terbaik buat dia, dan saudara terbaik buat aku."

Bel sekolah berbunyi panjang, tanda jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Namun sebelum masuk ke ruang guru, Arga berjalan mendekati Bela yang sedang berjalan sendirian menuju kelas. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat sosok yang selalu membuatnya merasa aman itu mendekat.

"Pagi, Pak Arga!" sapa Bela ceria, matanya berbinar indah terkena cahaya matahari pagi.

"Pagi, Bel. Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanya Arga lembut, menatap gadis itu lekat-lekat, memastikan tidak ada lagi bayang-bayang kesedihan di wajah itu.

"Enak banget Pak! saya nggak tau kenapa pagi ini rasanya dunia cerah banget. Semuanya jadi enak dilihat," jawab Bela polos, tak sadar bahwa keamanan dan kedamaian itu adalah hasil kerja keras ayahnya dan orang-orang yang menyayanginya semalam.

Arga terkekeh pelan, mengusap puncak kepala Bela dengan penuh kasih sayang, tak lagi perlu menyembunyikan rasa sayang itu berlebihan karena kini semua kebenaran sudah terbuka. "Syukurlah kalau gitu. Mulai hari ini, Bel... nggak ada lagi yang berani nyakitin kamu. Nggak ada lagi yang berani ngomong jelek atau nyakitin kamu. Kamu aman, kamu dicintai, dan kamu dilindungi sepenuhnya."

Bela memiringkan kepalanya sedikit, bingung namun senang mendengar kata-kata itu. "Kok Bapak ngomongnya gitu sih? Emang ada apa ya semalam? Semuanya jadi berubah banget deh."

"Nanti kamu bakal tau sendiri pelan-pelan. Yang penting sekarang, kamu sekolah yang bener, belajar yang rajin, dan jadi Bela yang selalu bahagia kayak gini ya," ucap Arga sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu berjalan lebih dulu menuju ruang guru dengan langkah ringan.

Bela menatap punggung Arga yang menjauh dengan jantung yang berdegup kencang dan perasaan bahagia yang meluap-luap. Ia merasa begitu beruntung memiliki orang-orang hebat di sekitarnya: ayah yang luar biasa, sahabat yang setia, dan laki-laki yang berani berjuang sekuat tenaga demi nama baik dan kebahagiaannya.

Siang harinya, Pak Rudi datang ke sekolah. Bukan lagi sebagai ayah murid biasa, melainkan sebagai perwakilan yayasan dan pemilik tertinggi sekolah itu. Ia berdiri di depan seluruh warga sekolah di lapangan utama, berbicara dengan suara tegas namun penuh kebijaksanaan. Ia tidak menyinggung masa lalu, tidak mempermalukan siapa pun, namun pesannya begitu jelas dan dalam: tentang kebaikan, tentang kerendahan hati, tentang bahaya rasa iri, dan tentang kekuatan kebenaran.

"Kalian lihat Bela, anak saya," ucap Pak Redi sambil menunjuk ke arah putrinya yang duduk di barisan depan, di samping Lula dan Galang. "Saya sembunyikan siapa dia, siapa keluarga kami, dan apa yang kami miliki, bukan karena saya ingin membedakan dia dari kalian. Tapi saya ingin dia berteman dengan kalian karena hatinya, karena karakternya, karena dirinya sendiri. Saya ingin dia belajar bahwa harta dan kedudukan itu bukan segalanya. Dan hari ini saya buktikan, dia berhasil. Dia dicintai bukan karena apa yang dia punya, tapi karena apa yang dia berikan: kebaikan, ketulusan, dan senyumnya."

Tepuk tangan meriah menggema memenuhi lapangan. Mata Bela berkaca-kaca menatap ayahnya, bangga dan bahagia tak terkira. Di sisi lain, Sela yang terpaksa ikut berkumpul di barisan paling belakang, mendengarkan setiap kata itu dengan hati yang perih namun penuh pelajaran hidup yang paling mahal. Ia sadar, kekayaan dan kuasa ayahnya dulu membuatnya sombong dan buta, namun kesederhanaan dan kebaikan Pak Rudi justru membuatnya dicintai dan dihormati selamanya.

Hari-hari berlalu dengan damai setelah itu. Sekolah kembali seperti sedia kala, namun jauh lebih baik. Tidak ada lagi pilih kasih, tidak ada lagi penindasan, dan tidak ada lagi kebohongan. Arga tetap mengajar, namun hubungan ia dan Bela kini berjalan semakin indah, menunggu waktu yang tepat untuk bersatu sepenuhnya saat masa pendidikan gadis itu selesai. Bastian, Lula, bagas dan Galang tetap menjadi sahabat setia, mengisi hari-hari mereka dengan tawa dan kebersamaan.

Pak Samsul dan keluarganya perlahan mulai menata hidup dari nol, belajar hidup sederhana dan menghargai orang lain, sementara Bu Ratna menghilang entah ke mana, meninggalkan jejak aib yang menjadi pelajaran bagi banyak wanita lain.

Dan Bela, gadis sederhana yang dulu dikira lemah dan miskin itu, kini berjalan tegap dengan kepala terangkat tinggi, membawa nama baik keluarganya, menjaga hatinya yang murni, dan menyebarkan kebahagiaan ke mana pun ia melangkah. Ia tahu sekarang, kebenaran memang sering kali harus berjuang keras, namun pada akhirnya, kebenaran dan kebaikan akan selalu menang, bersinar lebih terang dari matahari, dan abadi selamanya di hati orang-orang yang tulus.

tapi di balik kemenangan dan kebahagiaan Bela ada satu ancaman yang sedang menunggu.

1
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!