NovelToon NovelToon
Cinta Beda Umur Juga Asik

Cinta Beda Umur Juga Asik

Status: tamat
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

Arabella yang di paksa bertunangan dengan anak sahabat ayahnya. saat dia tau bahwa yang jadi tunangan nya adalah orang yang dia sukai, maka Bela dengan senang hati menerima nya.


Arga seorang CEO muda yang mempunyai kekasih matre harus rela bertunangan dengan Arabella.

apakah kisah mereka bakal berjalan dengan mulus atau kandas di tengah jalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 35.

Suasana di ruangan itu seketika berubah menjadi penuh haru dan syukur. Dokter dan perawat yang datang segera memeriksa tanda-tanda vital Arga—tekanan darah, detak jantung, pernapasan, dan respons tubuhnya. Semua terlihat jauh lebih baik dari perkiraan.

"Beliau sudah sadar dan kondisinya mulai membaik secara signifikan," ujar dokter sambil mencatat data di papan rekam medis. "Tapi beliau masih butuh istirahat total. Luka di perutnya masih sangat sensitif, jadi jangan banyak berbicara atau menggerakkan tubuh terlalu banyak. Kita akan memindahkannya ke ruang rawat biasa besok pagi, jika kondisinya tetap stabil."

Bela mengangguk patuh, tidak melepaskan genggamannya pada tangan Arga. Ia menatap wajah laki-laki itu dengan senyum yang tak bisa disembunyikan—senyum yang penuh air mata, lega, dan cinta yang mendalam.

Orang tua Arga, Pak Badi dan Bu Rita, segera masuk setelah diberi izin. Mereka mendekat dengan hati-hati, takut mengganggu. Bu Rita mencium kening putranya dengan lembut, air matanya mengalir deras namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa syukur yang tak terkira.

"Syukurlah... Tuhan masih mengizinkan kita bertemu lagi," bisiknya lirih.

Arga mencoba tersenyum tipis, meski terlihat masih sangat lemah. Ia memandang satu per satu orang yang ada di sekelilingnya—orang tuanya, Pak Rudi dan Bunda Euis, serta Bela yang tak pernah lepas menatapnya. Ia merasa sangat beruntung bisa diberi kesempatan kedua untuk hidup dan melihat wajah-wajah yang dicintainya itu.

Selama beberapa hari berikutnya, Arga menjalani perawatan di ruang rawat biasa. Bela hampir setiap hari datang, kadang bersama orang tuanya, kadang bersama teman-temannya. Ia selalu membawa makanan yang dimasak oleh Bunda Euis, sesuai anjuran dokter agar pemulihan Arga berjalan lebih cepat.

Setiap kali mereka berdua sendirian, Bela selalu bercerita tentang hal-hal kecil—tentang sekolah, tentang teman-teman, tentang cerita konyolnya, dan hal-hal lain yang membuat suasana menjadi ceria. Arga mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum atau mengangguk. Ia masih belum bisa berbicara banyak karena rasa sakit di perutnya, namun tatapan matanya sudah cukup untuk menyampaikan semua perasaannya.

Suatu sore, saat hanya mereka berdua di ruangan itu, Arga menggerakkan tangannya perlahan, meminta agar Bela mendekat. Bela segera mendekat dan memegang tangannya.

"Bel..." bisiknya pelan, suaranya masih serak namun lebih jelas dari sebelumnya.

"Iya, Pak. Saya di sini," jawab Bela lembut.

"Maaf... membuatmu takut..."

Bela menggeleng cepat, air matanya kembali menetes. "Jangan bicara begitu. Yang penting Bapak selamat. Itu sudah lebih dari cukup untuk saya."

Arga menghela napas pelan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lambat. "Saya tahu... ini bukan salahmu. Ratna... dia sakit hati, sakit pikiran. Tapi saya tidak menyesal... karena saya percaya pada kebaikan, dan saya percaya padamu."

Bela mencium punggung tangannya dengan lembut. "Saya juga percaya. Dan saya akan selalu ada di sini, menemani Bapak sampai Bapak benar-benar sembuh."

Sementara itu, kondisi Ratna semakin memburuk. Penyakit yang dideritanya telah merusak hampir seluruh sistem tubuhnya. Dokter mengatakan ia hanya memiliki waktu beberapa hari lagi. Ia tidak lagi menunjukkan amarah atau dendam—yang tersisa hanyalah ketakutan, kesepian, dan penyesalan yang mendalam.

Suatu hari, ia meminta untuk bertemu Arga. Permintaan itu sempat ditolak oleh banyak pihak, namun akhirnya Arga sendiri yang mengizinkannya, dengan pengawasan ketat dari dokter dan petugas keamanan.

Ketika Ratna dibawa masuk ke ruangan Arga dengan kursi roda, ia terlihat sangat lemah, nyaris tidak mampu mengangkat kepalanya. Matanya yang dulu penuh kebencian kini terlihat kosong dan sedih.

"Arga..." bisiknya pelan.

Arga menatapnya dengan tenang, tanpa amarah, tanpa dendam—hanya rasa iba. "Ratna."

"aku... aku datang untuk meminta maaf. Benar-benar meminta maaf," ucapnya sambil menahan batuk. "Aku telah melakukan hal yang sangat kejam. Aku telah mencoba membunuh kamu, Aku telah menyakiti orang yang tidak bersalah. Aku tahu tidak ada yang bisa menghapus apa yang telah aku lakukan, tapi aku berharap... berharap kalian bisa memaafin aku, meskipun aku nggak berhak."

Arga mengangguk perlahan. "gue udah maafin, lu. Sejak awal, gue nggak pernah menyimpan dendam. Dendam hanya akan menyakiti diri sendiri. gue berharap lu bisa menenangkan hati lu dan mempersiapkan diri dengan baik."

Ratna menunduk, air matanya jatuh membasahi pipinya yang kurus. "Terima kasih... terima kasih sudah memaafkan aku. Aku hanya bisa berdoa agar kalian semua bahagia. Jagalah Bela, Arga. Dia wanita yang baik, jauh lebih baik dari aku."

Setelah itu, Ratna dibawa kembali ke ruangannya. Beberapa hari kemudian, wanita itu menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang, ditemani oleh perawat dan petugas yang berjaga. Ia meninggal dalam keadaan yang sudah bertobat, membawa beban dosanya namun juga membawa ketenangan yang baru ditemukannya di akhir hayatnya.

Berita kematian Ratna disampaikan kepada Arga dan Bela. Mereka tidak merasa gembira, tidak juga merasa puas—hanya ada rasa sedih dan harapan bahwa jiwanya kini mendapatkan tempat yang layak.

Dua minggu berlalu, dan akhirnya Arga diizinkan pulang. Proses pemulihannya berjalan lancar, meski dokter menyarankannya untuk tetap beristirahat dan menghindari aktivitas berat selama beberapa bulan ke depan. Bela dan keluarganya sering berkunjung, membantu merawatnya dan memastikan ia mendapatkan perawatan terbaik.

Namun, takdir memanggilnya untuk kembali pada tanggung jawab besar. Arga memutuskan untuk tidak kembali mengajar. Atas permintaan papihnya, ia harus melanjutkan peran sebagai pemimpin di perusahaan keluarga.

Dengan berat hati, ia menyampaikan hal itu kepada Bela. Ia menggenggam tangan gadis itu erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya.

"Bel... sepertinya kita harus berjauhan untuk sementara waktu. papih meminta aku meneruskan tanggung jawab di perusahaan, dan aku harus kembali menjadi CEO. Aku tahu ini akan membuatku sangat sibuk dengan urusan bisnis, tapi aku berjanji—setiap ada waktu luang, aku akan selalu menghubungimu. Dan setiap akhir pekan, aku akan berusaha datang menemuimu."

Bela tersenyum lembut, lalu membalas genggaman tangan Arga dengan penuh pengertian. "Bapak fokuslah pada tugas dan tanggung jawab Bapak. Saya juga akan segera melanjutkan kuliah setelah lulus nanti. Tapi satu hal yang saya minta, tolong janji pada saya: kita akan bertemu lagi kelak, dengan versi diri kita yang lebih dewasa dan lebih baik."

lima tahun kemudian, di suatu hari yang cerah, Arga mengajak Bela berjalan-jalan di taman kota. Di bawah pohon rindang yang dihiasi bunga-bunga, Arga berhenti dan menatap Bela dengan tatapan yang penuh cinta.

"Bel," panggilnya lembut.

Bela menoleh dan tersenyum. "Iya, Pak?"

"Selama ini, kamu selalu ada di samping aku. Di saat aku terluka, di saat aku lemah, kamu nggak pernah meninggalkan aku. Kamu adalah kekuatan aku, alasan aku berjuang untuk hidup kembali."

Arga kemudian berlutut dengan hati-hati dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin sederhana namun indah.

"Apakah kamu mau menjadi pendamping hidup aku selamanya? Menemaniku melewati suka dan duka, sampai tua nanti?"

Air mata bahagia mengalir di pipi Bela. Ia mengangguk cepat dengan senyum yang paling indah yang pernah dilihat Arga.

"Saya mau, Pak. Saya mau menjadi istri Bapak, menemani Bapak selamanya."

Di bawah langit yang cerah, di antara dedaunan yang berhembus lembut, mereka berdua saling menatap dengan penuh harapan. Kisah mereka yang pernah diwarnai dengan fitnah, kebencian, dan penderitaan kini berubah menjadi kisah cinta yang kuat, dibangun di atas kepercayaan, pengampunan, dan ketabahan. Mereka tahu bahwa perjalanan hidup tidak akan selalu mudah, namun selama mereka saling mendukung dan berpegang teguh pada kebaikan, mereka akan mampu menghadapi apa pun yang datang.

1
Rafi Hafizh
seru ceritanya👍
mama yogi
⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️
mama yogi
suka,lucu' dan ga panjang babnya🙏🤠
Ananda Anggit: terimakasih😁🙏
total 1 replies
mama yogi
😅😅😅terpotek-potek leee...
Rafi Hafizh
👍
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author👍
Rafi Hafizh
semangat author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!