NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Masih di hari yang sama .Setelah drama di kantin, Luca benar-benar curhat habis-habisan. Untungnya, trio sahabatnya langsung pasang badan buat menghibur si "Angel" yang lagi patah hati ini.

​"Udah deh Ca, lupain si Kulkas itu sebentar. Kita ke mall, kita shopping, kita main sampai puas!" seru Rose sambil membetulkan lipgloss-nya di parkiran.

​Luca, meski matanya masih agak sembab, tetap mengeluarkan ponselnya. Dia mendengus sambil menekan nomor Brant. Begitu diangkat, dia nggak nunggu Brant ngomong.

​"Halo! Kak Brant, aku mau jalan sama Rose, Elena, sama Vin! Jangan cariin aku! Aku mau buang sial gara-gara boba tadi hambar! Jangan telpon kalau nggak mau minta maaf! Bye!"

​Klik. Luca langsung mematikan sambungan sepihak dengan wajah sok berani, padahal jantungnya mau copot.

​"Gila, berani banget lo tutup telpon duluan," gumam Vin sambil geleng-geleng kepala, tapi tangannya tetap merangkul pundak Luca buat nenangin. "Udah, ayo berangkat. Gue yang nyetir."

​Elena sibuk ngecek jadwal di ponselnya. "Gue udah pesen tiket bioskop buat jam 5 sore, terus sebelumnya kita bisa main di wahana dulu buat naikin hormon dopamin lo yang lagi anjlok, Ca."

​Mereka benar-benar menggila. Di tempat bermain, Luca main Pump It Up sampai keringatan, lompat-lompat bebas kayak nggak ada beban. Rose sibuk videoin buat konten, Elena serius banget main mesin capit (dan gagal terus), sementara Vin cuma jagain tas mereka sambil sesekali ketawa liat tingkah Luca.

​Setelah puas main, mereka masuk ke bioskop nonton film horor. Luca? Tentu saja dia yang paling berisik, teriak paling kencang, dan akhirnya malah ketiduran di bahu Vin pas filmnya sudah mau habis.

​Begitu mereka keluar dari bioskop, hari sudah gelap. Lampu mall sudah mulai temaram. Luca berjalan sambil mengucek matanya yang masih mengantuk, tangannya memegang ember popcorn yang tinggal sisa bijinya doang.

​"Aduh, laper lagi... makan dulu yuk?" tanya Luca manja.

​"Makan mulu otak lo," sahut Rose, tapi dia juga sebenarnya lapar.

Akhirnya mereka memutuskan untuk makan ramen dulu di mall. Luca sebenarnya gelisah karena Brant nggak mengangkat telepon baliknya, tapi Rose terus memaksa Luca untuk "jual mahal" sedikit.

​"Udah, Ca. Biarin aja dia ngerasain gimana rasanya dikacangin," kata Rose sambil menyeruput kuah ramennya.

​Begitu perut kenyang dan hati sedikit lebih tenang, Vin mengantar mereka pulang satu per satu. Luca adalah yang terakhir. Saat mobil Vin masuk ke kompleks perumahan Luca, mereka berdua langsung menyadari ada sesuatu yang mencolok di depan pagar.

​"Eh, itu bukannya mobil si Brant?" tanya Vin sambil memelankan laju mobilnya.

​Porsche 718 Cayman hijau itu terparkir rapi di bawah lampu jalan. Mesinnya masih terdengar menderu halus—menandakan mobilnya masih hidup.

​"Ih, beneran Kak Brant! Ngapain dia di situ jam segini?" Luca langsung turun dari mobil Vin dengan wajah bingung campur cemas. "Vin, makasih ya! Lo balik aja , aku mau samperin dia."

​"Oke, semoga lu aman ca, gue pulang dulu," sahut Vin sebelum akhirnya melaju pergi.

​Luca mendekat ke arah kaca mobil yang tertutup rapat dan gelap. Dia mencoba mengintip ke dalam. Di balik kaca itu, terlihat siluet Brant yang masih duduk di kursi kemudi. Kepalanya bersandar ke belakang dengan mata terpejam rapat. Wajahnya yang biasanya tegang dan dingin, sekarang terlihat sangat damai.

​Luca mengetuk kaca mobil pelan. "Kak? Kak Brant?"

​Nggak ada jawaban. Luca mencoba membuka pintu mobilnya, dan ternyata nggak dikunci. Begitu pintu terbuka, udara dingin AC langsung menerpa wajah Luca. Di sana, Brant benar-benar ketiduran. Di pangkuannya, ada sebuah kantong plastik besar bergambar logo stan boba favorit Luca.​Luca terpaku sebentar. Dia melihat jam di ponselnya—sudah hampir jam 9 malam. Berarti Brant sudah nunggu di sini berjam-jam?

​"Kak... bangun," bisik Luca sambil menyentuh bahu Brant pelan.

​Brant mengerang sedikit, matanya perlahan terbuka. Begitu melihat wajah Luca yang sangat dekat dengannya, kesadarannya langsung pulih. Dia refleks membetulkan posisi duduknya dan mencoba kembali ke mode "ice prince", meski rambutnya sedikit acak-acakan.

​"Lo... baru balik?" tanya Brant, suaranya serak khas orang bangun tidur, terdengar sangat dalam dan seksi.

​"Kakak ngapain tidur di sini? Mesinnya nyala lagi, kalau Kakak keracunan gas gimana?" omel Luca konyol, matanya mulai berkaca-kaca lagi tapi kali ini karena terharu.

​Brant memalingkan muka, lalu menyodorkan plastik di pangkuannya ke arah Luca. "Nih. Boba lo. Tadi gue beliin pas lo jalan sama temen-temen lo. Gue mau telpon tapi... ya sudahlah."

​Luca menerima plastik itu, esnya sudah hampir mencair semua. "Ini kan udah cair, Kak..."

​"Gue beli jam 7 tadi. Lo susah banget dihubungin," jawab Brant pendek, mencoba menutupi rasa gengsinya. "Masuk sana. Udah malem."

​Luca bukannya masuk, malah masuk ke kursi penumpang di sebelah Brant. "Nggak mau! Aku mau minum boba cair ini di sini sama Kakak! Kakak jahat banget tadi siang, tapi kok malemnya jadi begini?"

​Brant cuma bisa menghela napas panjang, dia menatap Luca yang mulai sibuk menusuk sedotan boba dengan ceria. "Gue cuma nggak mau lo capek, Luca. Dan gue nggak suka orang lain liatin lo dengan pakaian kek gitu."

Suasana yang tadinya hangat di dalam kabin Porsche itu mendadak berubah drastis. Saat Brant perlahan mendekatkan wajahnya, deru mesin mobil seolah tenggelam oleh detak jantung Luca. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, suara dering ponsel Brant memecah segalanya.

​Layar ponsel yang menyala di dashboard menampilkan nama yang membuat atmosfer seketika membeku: "papa".

​Luca terdiam, jemarinya yang tadi memegang gelas boba perlahan lemas. Dia tahu betul siapa sosok di balik nama itu—pria yang menjadi alasan kenapa hubungan mereka harus selalu terasa seperti berjalan di atas benang tipis. Ayah Brant, sosok otoriter yang terang-terangan membenci hubungan ini.

​Brant tidak mengangkatnya. Ia hanya menatap layar itu dengan rahang yang mengeras, urat-urat di tangannya yang memegang kemudi tampak menonjol.

​"Masuk sana," ucap Brant, suaranya kini kembali dingin dan berat, seolah dinding es yang tadi sempat mencair kini membeku lagi lebih tebal.

​"Kak..."

​Brant tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menarik kepala Luca, mendaratkan sebuah ciuman singkat namun dalam di keningnya. "Masuk, Luca. Sudah malam."

​Luca turun dengan langkah berat, menatap mobil hijau itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis di udara dingin.

​Brant tiba di apartemenya setelah 20 menit perjalanan.

Begitu masuk ​dia melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer begitu saja. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya remang dari lampu kota di balik jendela besar. Ponselnya kembali bergetar. Kali ini, ia mengangkatnya.

​"Halo," sapa Brant tanpa nada.

​Suara berat dan penuh tekanan di seberang sana mulai berbicara, mendikte, dan memberikan peringatan yang sudah ribuan kali Brant dengar. Brant hanya berdiri mematung di tengah ruangan, matanya menatap kosong ke arah kegelapan.

​"Iya, aku sudah tahu," potong Brant, suaranya terdengar lelah sekaligus tajam. "Tak perlu terus mengingatkan lagi. Aku tahu posisi aku di mana."

​Begitu sambungan terputus, Brant melempar ponselnya ke sofa. Kesunyian apartemen itu mendadak terasa menyesakkan. Ia berjalan menuju dapur, membuka pintu kulkas yang cahayanya menjadi satu-satunya sumber terang di ruangan itu.

​Cshht!

​Suara kaleng bir yang dibuka terdengar nyaring. Brant meneguknya cepat, membiarkan rasa pahit cairan dingin itu membakar tenggorokannya. Tak cukup dengan itu, ia mengambil sebungkus rokok dan menyalakan satu.

​Di balkon yang berangin, Brant berdiri sendirian tanpa mengenakan atasan memperlihatkan garis - garis otot perutnya yang keras. Asap rokoknya mengepul, tertiup angin malam yang kencang. Di bawah sana, kota tampak sibuk, tapi di kepalanya hanya ada bayangan Luca dan desakan ayahnya yang makin nyata tentang rencana ke luar negri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!