JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Matahari sore Jakarta mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara celah gedung-gedung tinggi. Di depan ruko jastip, Emilia sibuk menarik pintu besi gulung ke bawah, dibantu oleh Arlo yang mengunci gembok besar di bagian bawah. Sementara itu, Haura melangkah anggun menuju SUV hitamnya. Tangannya bergerak cepat merapikan blus sutra sewarna salem yang sedikit kusut setelah seharian bergelut dengan manifes barang dan kardus.
"Tante, nebeng dong sampai depan komplek!" seru Arlo, setengah berlari mengejar langkah lebar tantenya.
Haura menghentikan langkah tepat di depan pintu kemudi, menoleh dengan tatapan yang langsung membuat nyali Arlo mengkerut. "Nggak. Kamu bau asap rokok, bikin mual. Masuk ke mobil saya cuma bakal bikin karpetnya bau. Naik taksi online sana sama teman-temanmu."
"Pelit banget, heran," gerutu Arlo saat mobil Haura melaju membelah kemacetan sore.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, Arlo langsung menyenggol lengan Marco yang sedang menyandarkan tubuhnya di tiang listrik sambil memainkan kunci kafe. "Co," panggil Arlo.
"Apaan?" Marco menoleh malas.
"Gue pengen tahu, Tante gue pas kencan itu mukanya gimana. Pasti sekaku kanebo kering, atau malah lebih parah dari pas dia ngomelin kita di gudang. Kita buntutin yuk! Vin, lo juga ikut!" ajak Arlo, matanya berbinar penuh kenakalan.
Kevin yang sedang meminum sisa air mineralnya langsung tersedak. "Gila lo, Lo! Kalau Tante Haura tahu kita nguntit, abis kita dicoret dari muka bumi!"
Berbeda dengan Kevin, seulas senyum miring justru terbit di bibir Marco. Matanya berkilat jenaka. Pemikiran melihat Haura yang dingin dan angkuh harus berhadapan dengan pria pilihan papanya mendadak terasa seperti hiburan yang sangat mahal. "Ide bagus," ucap Marco pendek, suaranya berat dan penuh intrik. "Lagian gue juga penasaran, sekaku apa Ratu Jastip lo itu kalau di depan cowok mapan."
Tepat pukul tujuh malam, SUV hitam Haura berhenti di pelataran parkir sebuah restoran bergaya fine dining di kawasan Menteng. Haura turun dengan langkah tenang, meskipun dalam hatinya ia terus mengutuk sisa rasa lelah yang menggelayuti pundaknya. Di dalam restoran yang remang dan diiringi alunan musik jazz instrumen, seorang pria berkemeja rapi dengan jam tangan melingkar mewah sudah duduk menunggunya. Itu Trian.
Begitu melihat Haura mendekat, Trian langsung berdiri. Senyum manis—yang menurut Haura terlalu dipaksakan untuk terlihat ramah—terkembang di wajah pria itu.
"Malam, Haura. Akhirnya kita ketemu juga. Silakan duduk," ujar Trian lembut, menggeserkan kursi untuk Haura dengan sikap yang sangat ksatria.
"Malam. Makasih," jawab Haura singkat. Ia duduk dengan posisi tegak, tas tangannya diletakkan di samping kursi dengan presisi. Wajahnya datar, tidak ada senyum, tidak ada binar ketertarikan.
Trian kembali ke kursinya, menatap Haura dengan tatapan menilai yang terselubung. "Papa kamu banyak cerita tentang kamu, Haura. Katanya bisnis kamu berkembang pesat banget, ya? Hebat untuk ukuran wanita yang mengelola semuanya sendiri."
"Bisnis saya berjalan karena saya kerja, bukan karena cerita Papa," sahut Haura, langsung membuka buku menu tanpa memberikan ruang untuk basa-basi lebih lanjut. "Kita pesan sekarang saja? Saya tidak punya banyak waktu, masih ada beberapa surel dari klien London yang harus saya balas malam ini."
Trian tertegun sejenak, senyum manisnya agak membeku mendengar jawaban ketus dan blak-blakan dari wanita di depannya. "Ah... ya, tentu. Kamu sangat... efisien ya ternyata."
Sementara itu, dua meja di belakang mereka, tiga kepala tampak bersembunyi di balik buku menu berukuran besar yang sengaja ditegakkan. Arlo, Marco, dan Kevin mengintip dengan napas yang ditahan.
Melihat interaksi Haura yang luar biasa dingin dan cuek menghadapi pesona Trian yang nota bene adalah pria idaman banyak wanita, bahu Arlo mulai bergetar menahan tawa yang hampir meledak.
"Dia itu robot atau cewek sih sebenarnya? Pantes aja nggak pernah pacaran seumur hidup," gumam Arlo sangat pelan, menyembunyikan wajahnya di balik menu appetizer. "Muka si Trian udah kayak tripleks diguyur air, pucat banget digituin sama Tante gue."
Kevin menyenggol kaki Arlo di bawah meja. "Gila, Tante lo serem banget, Lo. Itu cowoknya udah pakai senyum termanis tapi dibalas pakai muka kayak mau nagih utang."
Marco tidak bersuara. Matanya yang tajam tidak lepas dari sosok Haura. Dari posisinya, ia bisa melihat profil samping wajah Haura yang tegas, bibirnya yang dipulas lipstik merah gelap, dan bagaimana wanita itu sama sekali tidak menyentuh air putih yang dituangkan oleh pelayan untuknya. Ada sebersit rasa kagum sekaligus jengkel yang menggelitik dada Marco. Wanita ini benar-benar sebuah benteng kokoh yang tidak mempan dihantam oleh ketampanan standar atau kesopanan basa-basi.
Di meja depan, Trian mencoba mencari topik lain untuk menyelamatkan harga dirinya. "Saya dengar dari Om Anggara, kamu juga suka traveling ke Eropa untuk cari barang jastip? Kebetulan saya kemarin baru menyelesaikan tesis saya di Paris, mungkin kapan-kapan kita bisa—"
"Saya ke Eropa untuk kerja, Trian. Bukan jalan-jalan," potong Haura, matanya menatap Trian lurus, dingin dan tajam. "Saya masuk ke toko, ambil pesanan, bayar, lalu pulang ke hotel untuk urus logistik. Jadi kalau kamu mau bicara soal keindahan Menara Eiffel atau romantisnya kota Paris, kamu salah orang. Saya tidak tahu apa-apa tentang itu."
Trian menarik napas panjang, senyumnya kini benar-benar hilang, digantikan oleh gurat kekesalan yang mulai muncul di dahinya. "Kamu... tidak mencoba untuk menurunkan sedikit ego kamu, Haura? Kita di sini untuk saling mengenal, bukan untuk rapat pemegang saham."
Haura menutup buku menunya dengan ketukan yang pelan namun tegas. "Dan saya sudah mengenal kamu lewat cara kamu memandang saya sejak awal masuk, Trian. Kamu melihat saya sebagai pencapaian, bukan sebagai manusia. Jadi, mari kita selesaikan makan malam ini secepatnya agar kita tidak membuang-buang waktu berharga masing-masing."
Di belakang menu besar mereka, Marco menahan senyum miringnya. Menarik, batin Marco, matanya berkilat menatap punggung Haura yang tetap tegap. Ternyata Tante Sayang kita ini nggak cuma galak di gudang, tapi juga bisa bikin mental cowok S2 luar negeri langsung ciut dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Marco melirik Arlo, lalu berbisik pelan, "Tante lo... bener-bener butuh seseorang yang bisa ngancurin temboknya pakai cara yang kasar, Lo. Cowok menye-menye kayak gitu nggak bakal kuat bertahan lima menit lagi."
***
Langkah kaki Haura yang biasanya terdengar tegas dan penuh percaya diri di atas lantai marmer restoran kini terdengar agak terseret. Begitu melewati pintu kaca besar restoran fine dining tersebut, ia langsung mempercepat langkahnya menuju area parkir yang agak temaram. Haura mencengkeram tas tangannya erat-erat, sementara tangan kirinya perlahan bergerak naik, menekan ulu hatinya yang tiba-tiba terasa seperti diremas dengan kasar.
"Aduh... jangan sekarang dong, maag," bisik Haura lirih, suaranya bergetar menahan perih. Keringat dingin mulai tumbuh di sekitar pelipisnya, merusak riasan wajahnya yang semula sempurna. "Aku mau pulang... please, kuat sebentar sampai rumah."
Rasa sakit itu datang secara beruntun, menghantam dinding lambungnya yang kosong sejak siang. Ditambah lagi dengan stres menghadapi Trian dan tekanan dari papanya, tubuh Haura akhirnya mencapai batas. Ia berjalan dengan tubuh yang sedikit menunduk, berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari pandangan orang-orang di sekitar restoran.
Namun, sebelum ia sempat mencapai pintu mobil SUV-nya, sebuah bayangan melangkah cepat memotong jalurnya.
"Tan! Tante kenapa?!"
Haura tersentak. Ia mendongak dengan susah payah, matanya yang mulai berkaca-kaca karena menahan perih menangkap sosok keponakannya. Di belakang Arlo, berdiri Kevin yang tampak panik dan Marco yang menatapnya dengan sepasang mata yang tidak lagi memancarkan ketengilan, melainkan kilatan kecemasan yang dalam.
Haura langsung menegakkan punggungnya dengan paksa. Ia menarik tangan kirinya dari perut, berusaha bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja. Pertahanan dirinya otomatis bangkit; ia tidak boleh terlihat lemah, terutama di depan remaja-remaja ini.
"Kamu... kamu ngapain di sini?" tanya Haura, suaranya bergetar namun ia mencoba memberikan penekanan yang tajam pada setiap kata.
"Harusnya gue yang nanya, Tante ngapain jalan sambil bungkuk-bungkuk gitu?" Arlo melangkah maju, memegang pundak Haura yang terasa agak tegang. "Muka Tante pucat banget, kayak mayat hidup tahu nggak."
"Saya nggak apa-apa, Arlo! Cuma... cuma kecapekan," dusta Haura, pandangannya sempat mengabur sesaat, membuat tubuhnya sedikit limbung ke kanan.
Sebelum Arlo sempat menangkap tubuh tantenya, sebuah lengan yang kekar dan kokoh sudah lebih dulu melingkar di pinggang Haura, menahan bobot tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke aspal. Haura mendongak dan mendapati wajah Marco sudah berada sangat dekat dengannya. Aroma parfum maskulin pemuda itu kembali menyeruak, mendominasi indra penciuman Haura.
"Lepas, Marco... Saya bilang saya nggak apa-apa," bisik Haura, mencoba mendorong dada Marco dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Jangan keras kepala, Tante Sayang," sahut Marco, suaranya terdengar berat dan sangat serius, tidak ada lagi nada bercanda yang biasanya menyebalkan. Ia beralih menatap Arlo. "Lo, ini pasti maag-nya kambuh. Dia belum makan dari siang, tadi cuma minum air putih yang gue kasih."
"Ah, iya! Tante kan kalau udah stres kerja atau habis berantem sama Papa pasti lupa makan!" Arlo menepuk dahinya sendiri. "Duh, gimana nih? Kita bawa ke rumah sakit aja apa?"
"Nggak usah... saya mau pulang ke rumah aja," potong Haura, napasnya mulai memburu karena rasa melilit di perutnya semakin menjadi-jadi. "Kunci mobil saya ada di tas... saya bisa nyetir sendiri."
"Nyetir sendiri dengan keadaan muka kayak tripleks gini? Tante mau bunuh diri?" Marco mendecit kesal. Tanpa permisi, tangan panjangnya merogoh ke dalam tas jinjing yang dipegang Haura, mengambil keyless mobil SUV hitam tersebut. "Gue yang nyetir. Arlo, lo sama Kevin balik naik taksi online. Biar gue yang urus tante lo."
"Eh? Co, tapi—" Arlo hendak protes.
"Udah, buruan pesen taksi! Nggak lihat muka tante lo udah kayak mau pingsan begini?" potong Marco tegas, memberikan perintah yang tidak bisa dibantah. Ia kemudian menatap Haura kembali, menuntun wanita itu dengan perlahan menuju pintu penumpang depan. "Ayo masuk, Tante. Jangan bantah gue kali ini kalau lo masih mau selamat."
Haura terlalu lemah untuk berdebat lagi. Rasa perih di perutnya membuat seluruh tenaganya terkuras habis. Ia membiarkan Marco membukakan pintu mobil untuknya dan membantunya duduk di kursi penumpang. Begitu pintu ditutup, Haura langsung menyandarkan kepalanya pada bantalan kursi, memejamkan mata rapat-rapat sambil terus menekan perutnya.
Marco memutari mobil dengan cepat dan masuk ke kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil, mengatur AC agar tidak terlalu dingin, lalu menoleh ke arah Haura yang tampak sangat rapuh di sampingnya. Sisi angkuh dan dominan yang tadi sore ia lihat di ruko seolah menguap begitu saja, digantikan oleh seorang wanita yang sedang menahan kesakitan sendirian.
"Di sekitar sini ada apotek yang buka dua puluh empat jam. Gue beliin obat lambung dulu, setelah itu gue anter lo pulang," kata Marco pelan sambil mulai melajukan mobil membelah jalanan Menteng.
Haura tidak menjawab, ia hanya mengangguk lemah dengan mata yang masih terpejam. Di dalam keheningan kabin mobil mewah itu, untuk pertama kalinya, Haura merasakan bahwa kehadiran "bocah tengil" di sampingnya ini... entah mengapa memberikan sedikit rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan dari pria manapun.
semangattt