Paris seharusnya menjadi mimpi indah bagi Kiandra Zanitha. Namun, karena kecerobohan agen properti dan aturan Clause de Solidarité yang menjerat, mimpi itu berubah menjadi jerat yang menyesakkan. Kiandra terpaksa berbagi apartemen sempit di Rue de Rivoli dengan seorang pria asing yang langsung mengacaukan kewarasannya sejak hari pertama.
Pertemuan pertama mereka adalah bencana yang memalukan: sebuah handuk yang melorot, tubuh atletis yang basah, dan tatapan hazel yang seolah mampu menelanjangi rahasia terdalam Kiandra. Namun, kejutan sebenarnya baru dimulai saat fajar tiba. Pria provokatif yang melihatnya tersipu malu di dapur itu ternyata adalah Enzo Romano—dosen senior di Le Cordon Bleu sekaligus pakar kuliner yang memegang kendali atas masa depan studinya.
Di kampus, Enzo adalah otoritas yang dingin dan disiplin. Di apartemen, dia adalah pria yang gemar menguji batas kesabaran—dan iman—Kiandra. Di antara uap mentega di dapur dan denting gelas wine, garis antara dosen dan teman s
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliska Rosemary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Rencana Penyelamatan Darurat
Kiandra mendorong pintu apartemen Rue de Rivoli dengan sisa tenaga yang nyaris habis. Bahunya merosot lesu, seirama dengan bunyi klik pintu yang tertutup di belakangnya.
Namun, alih-alih kesunyian yang menyambutnya, dentum musik elektronik bertempo cepat justru mengalun dari speaker di ruang tengah. Ruangan itu benderang, jauh dari kesan temaram yang biasanya ia sukai untuk melepas penat setelah seharian di kampus.
Di tengah ruangan, di atas matras olahraga hitam, Enzo Romano sedang melakukan push-up.
Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam yang membungkus pinggulnya dengan ketat. Kulit olive-nya yang matang berkilat basah oleh keringat, memantulkan cahaya lampu langit-langit dengan begitu seksi.
Setiap kali tubuhnya bergerak naik dan turun dengan ritme yang konstan, otot-otot punggungnya yang lebar berkedut dan bergeser secara dinamis. Pemandangan itu begitu maskulin, begitu mentah, hingga membuat Kiandra tertahan di ambang pintu selama beberapa detik.
Kiandra menghela napas panjang, mencoba mengusir bayangan liar yang mendadak mampir di kepalanya. Ia melangkah gontai, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa beludru abu-abu dengan pasrah.
Enzo menghentikan gerakannya seketika. Dengan satu hentakan tangan yang kokoh, ia mendorong tubuhnya ke atas dan langsung bangkit berdiri tegak.
Napasnya sedikit memburu, membuat dada bidangnya yang dipenuhi otot keras naik-turun dengan seksi. Ia meraih handuk kecil abu-abu yang tergantung di dekatnya, lalu mengusap keringat yang mengalir di leher dan dadanya.
"Pulang dengan wajah seperti adonan gagal lagi, Piccola?" tanya Enzo. Suara baritonnya terdengar berat dan sedikit serak karena sisa olahraga.
Kiandra memejamkan mata rapat-rapat. Ia membenamkan wajahnya ke bantal sofa yang empuk, meredam erangan frustrasinya.
"Blake mengajakku kencan lagi malam ini," gumam Kiandra. Suaranya teredam kain beludru, terdengar sangat merana.
Enzo berjalan santai menuju meja pantry. Ia menuangkan air dingin dari teko kaca ke dalam gelas kristal, membiarkan bunyi gemericik air mengisi jeda di antara mereka.
"Lalu? Bukankah itu yang diinginkan gadis-gadis di kampusmu?" tanya Enzo. Ia menyesap air dinginnya, lalu menyandarkan pinggulnya pada tepian meja pantry marmer yang dingin. Mata hazel-nya menyipit tajam, menatap Kiandra dari kejauhan.
Kiandra mengubah posisinya menjadi duduk. Ia meremas ujung kardigan rajut kremnya dengan kesal, melampiaskan emosi yang tertahan sejak di kantin tadi.
"Aku tidak mau pergi, Enzo," ucap Kiandra dengan nada frustrasi yang sangat kentara.
Enzo melipat tangan di depan dadanya yang telanjang. "Kalau tidak mau, kenapa tidak kamu tolak saja? Sesederhana itu."
"Aku tidak enak menolaknya. Aku takut dia tersinggung," cicit Kiandra, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Beban sebagai 'anak baik' yang sulit berkata tidak kembali menghimpit dadanya.
Enzo mendengus pelan. Ia meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekati sofa dengan langkah santai yang berwibawa.
"Kamu aneh. Tinggal bilang tidak mau," ucap Enzo datar, namun nadanya menusuk tepat di ulu hati Kiandra. "Kamu hanya mempersulit dirimu sendiri dengan kepura-puraan itu."
Pria itu mengusap rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh keringat, membuatnya terlihat berantakan namun sangat atraktif.
Kiandra mendongak. Ia menatap Enzo dengan tatapan kesal yang bercampur rasa iri. Mengapa pria ini bisa hidup dengan begitu lugas tanpa memikirkan perasaan orang lain?
Namun, saat matanya menyapu struktur wajah tegas Enzo—rahang yang kokoh, hidung mancung, dan postur tubuh atletis yang mendominasi ruangan—otak kulinernya mendadak berputar cepat. Sebuah ide gila, yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, melintas begitu saja.
"Enzo, temani aku ke tempat kencan itu," ucap Kiandra. Matanya mendadak berbinar penuh harap.
"Aku akan minta Blake tidak usah menjemputku di sini. Kita bertemu langsung di sana."
Enzo tertegun sejenak. Ia menurunkan handuk kecilnya, menatap Kiandra dengan alis terangkat tinggi seolah gadis di depannya baru saja kehilangan kewarasan.
"Hah? Untuk apa aku mengikuti permintaan konyolmu itu?" tanya Enzo, menyunggingkan seringai tipis yang menyebalkan.
Kiandra langsung berdiri dari sofa. Ia melangkah mendekat, memasang wajah paling memelas yang pernah ia miliki dalam hidupnya. Ia menyatukan kedua telapak tangan di depan dada.
"Tolong, Enzo... aku benar-benar tidak mau berduaan dengan dia lagi. Aku mohon," pinta Kiandra dengan nada suara yang sengaja dibuat selembut mungkin.
Enzo menatap balik dengan pandangan dingin yang tidak tergoyahkan. Ia menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Percuma memohon. Aku tidak mau merepotkan diri dengan drama remaja seperti ini."
Melihat penolakan mutlak itu, Kiandra tidak menyerah. Ia justru melangkah maju dua kali, memangkas jarak di antara mereka hingga hanya tersisa beberapa sentimeter.
Enzo refleks mundur selangkah, tampak terkejut dengan pergerakan tiba-tiba dari mahasiswi mungilnya yang biasanya selalu menjaga jarak aman.
"Kamu mau apa, Piccola?" tanya Enzo. Matanya menyipit waspada, namun ada kilat geli yang tertangkap oleh indra penglihatan Kiandra.
Kiandra mengabaikan rasa malunya. Ia mengulurkan tangan, meraih ujung handuk kecil abu-abu yang melingkar di leher Enzo. Ia menariknya pelan, memaksa tubuh tinggi besar itu untuk sedikit merunduk ke arahnya.
"Enzo, please... kamu kan waliku selama aku berada di Paris," rayu Kiandra, mendongak manis dengan mata cokelat gelapnya yang bulat.
Aroma keringat jantan yang bercampur dengan wangi sandalwood alami dari tubuh Enzo langsung menyerbu indra penciuman Kiandra.
"Tidak. Tetap tidak mau," jawab Enzo. Namun, Kiandra bisa melihat pertahanan di mata hazel pria itu mulai goyah, tergantikan oleh ketegangan seksual yang mendadak merayap di antara mereka.
"Kalau kamu membantuku malam ini, aku berjanji akan jadi mahasiswi paling penurut di kampus. Aku tidak akan membantahmu lagi," tawar Kiandra, memberikan kartu as-nya.
Enzo menatap lekat mata Kiandra selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan intim. Ia mengembuskan napas panjang, tanda bahwa benteng pertahanannya baru saja runtuh oleh rayuan mahasiswinya sendiri.
"Oke. Tapi ingat, hanya untuk kali ini saja," ucap Enzo, menunjuk wajah Kiandra dengan jari telunjuknya yang hangat.
"Yesss! Terima kasih, Enzo!" seru Kiandra riang. Ia melompat kecil di tempatnya berdiri.
Karena terlalu gembira, Kiandra secara refleks memeluk lengan kanan kokoh Enzo. Kulit lengan pria itu terasa sangat hangat, padat, dan sedikit basah oleh sisa keringat. Otot bisepnya yang keras terasa begitu nyata di bawah dekapan tangan mungil Kiandra.
Deg!
Sadar akan keintiman fisik yang terlalu berlebihan itu, Kiandra segera melepaskan pelukannya dengan wajah yang mendadak memerah padam. Ia berdehem canggung, lalu buru-buru merogoh ponsel di saku kardigannya untuk menghubungi Blake Harrington.
Nada sambung terdengar dua kali sebelum suara jernih Blake menyahut di seberang telepon.
"Kiandra? Ada apa? Aku sedang bersiap untuk menjemputmu," ucap Blake dengan aksen British-nya yang kental.
"Blake, maaf sekali. Ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan dulu. Bagaimana kalau kita bertemu langsung saja di restoran?" Kiandra beralasan, mencoba terdengar se-natural mungkin.
"Bertemu langsung? Tapi aku bisa menunggumu, Kiandra. Aku tidak keberatan," desak Blake, terdengar tidak suka dengan perubahan rencana yang tiba-tiba.
"Tidak perlu, Blake. Urusanku agak rumit dan pribadi. Lebih baik kita bertemu langsung di L'Arpège saja pukul tujuh malam. Bagaimana?" Kiandra terus menolak dengan alasan logis yang sudah ia siapkan di kepalanya.
Setelah jeda beberapa saat yang menegangkan, Blake akhirnya mengalah dengan helaan napas halus. "Baiklah. Kita bertemu langsung di sana pukul tujuh malam. Jangan terlambat, Kiandra."
"Tentu. Sampai jumpa, Blake."
Kiandra memutuskan panggilan, lalu mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Ia menatap Enzo dengan senyum lebar yang kini terlihat sangat tulus.
Enzo melempar handuk kecilnya ke atas matras olahraga dengan gerakan santai. Ia menatap balik Kiandra dengan seringai tipis yang kembali menghiasi wajah tampannya.
"Jadi, jam berapa kita berangkat?" tanya Enzo.
"Jam tujuh! Ayo cepat mandi, Enzo!" seru Kiandra, wajah lesunya kini telah berganti dengan energi yang meluap-luap.
"Hah? ini sudah jam 6, aduh.... kenapa juga aku menerima permintaan konyolnya, ini sangat merepotkan," keluh Enzo.