NovelToon NovelToon
Subosito

Subosito

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: eko yepe

Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.

Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.

Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka

Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.

Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?

Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dialog di Kedalaman Tanah

Permukaan Telaga Kuning meledak. Bukan karena hantaman benda padat, melainkan karena suhu gejolak yang melampaui batas nalar. Subosito muncul dari kedalaman udara yang berwarna emas pekat, terbatuk-batuk sambil menghirup udara pegunungan yang tipis.

Tubuhnya mengepulkan uap putih yang tebal, seolah-olah dia adalah sepotong besi yang baru saja dicelupkan ke dalam air setelah ditempa di tungku perapian.

Di dalam telaga tadi, Subosito tidak hanya berendam. Dia telah bergelut dengan wujud astral Garuda Paksi yang mencoba mencabik-cabik kesadarannya. Burung raksasa api itu murka karena coba dijinakkan oleh air suci Lawu.

Namun, saat Subosito melangkah ke tepian dengan kaki gemetar, hawa panas itu sedikit mereda, berubah menjadi denyut hangat yang lebih teratur di punggung.

"Kau selamat dari ujian pertama, Putra Api!"

Subosito mendongak, di sebuah batu besar yang menjorok ke telaga, berdiri seorang pria tua yang tampak begitu kontras dengan dinginnya puncak Lawu. Pria itu bertelanjang dada, kulitnya berwarna perunggu dan otot pundaknya masih tampak kokoh meski janggut putihnya menjuntai hingga ke perut. Tampak bersinar seperti bara yang tertutup abu, tenang tetapi menyimpan daya ledak yang dahsyat.

Dialah Resi Bhaskara, sahabat lama Nyai Ambarwati dan penjaga rahasia elemen api di tanah Jawa.

Subosito menjatuhkan lututnya ke tanah yang berbatu. "Tubuhku... rasanya seperti akan pecah!"

Resi Bhaskara melompat turun dari batu tanpa suara, mendarat seringan bulu di depan Subosito. Resi Bhaskara menatap lekat-lekat Segel Garuda Paksi di punggung pemuda itu yang kini berpendar lebih jernih, tidak lagi merah darah kecuali emas.

"Telaga Kuning hanya mendinginkan wadahmu, Subosito. Namun, isi dari wadah itu—jiwamu sendiri—masih berantakan," suara Resi Bhaskara berat dan berwibawa, seperti guntur di langit tenang. "Api di nadimu tidak bisa dipadamkan dengan udara. Ia hanya bisa dikendalikan dengan kesunyian yang mutlak. Kau telah membakar padepokan, kau telah melukai banyak orang karena kau tidak mengenal dirimu sendiri!"

Resi Bhaskara menunjuk ke sebuah lereng kecil di samping Telaga Kuning, di mana tanahnya tampak lebih hitam dan gembur. Di sana, sebuah lubang sedalam bahu manusia telah digali.

“Duduklah di sana. Kita akan memulai Tapa Pendem,” perintah sang Resi.

Subosito tertegun, dirinya tahu tentang ritual ini dari dongeng-dongeng tua di desa. Bertapa dengan menguburkan diri di dalam tanah hingga ke leher. Sebuah ujian mental dan fisik yang sering kali berakhir dengan kematian bagi hati mereka yang tidak teguh.

"Apakah ini perlu, Resi?"

"Tanah adalah elemen yang paling mampu meredam api. Dengan dikubur, kau akan dipaksa untuk tidak bergerak, tidak melarikan diri, dan tidak memiliki perlindungan selain batinmu sendiri. Di dalam sana, kau akan berdialog dengan Garuda Paksi. Jika kau menang, tapa akan berakhir. Jika kau kalah, tanah ini akan menjadi kuburan permanenmu!"

Tanpa diperdebatkan lagi, Subosito melangkah ke lubang itu. Dirinya melepas sisa-sisa pakaian yang menempel ditubuhnya dan masuk ke dalam liang yang dingin.

Resi Bhaskara mulai menimbun tubuh Subosito sedikit demi sedikit. Rasa dingin tanah yang lembab mulai menjepit dada Subosito, memberikan sensasi aneh yang mencekik.

Hingga akhirnya, hanya kepala Subosito yang tersisa di permukaan tanah.

“Tujuh hari, tujuh malam,” bisik Resi Bhaskara. "Jangan bicara, jangan meminta bantuan, pusatkan pada satu titik di detak jantungmu. Di dalam kegelapan tanah, temukan cahaya yang tidak membakar!"

Resi Bhaskara kemudian duduk bersila beberapa langkah di depan Subosito, memejamkan mata dan mulai merapal mantra yang membuat udara di sekitar mereka terasa hangat.

***

Hari pertama dan kedua adalah merenungkan fisik yang tak terbayangkan. Semut dan serangga tanah mulai tertanam di kulit Subosito yang terkubur, tetapi pemuda itu tidak bisa mengatasinya. Otot-ototnya mulai kram karena posisi yang tak berpindah, dan berat tanah seolah mencoba meremukkan tulang rusuknya setiap kali dirinya menarik napas.

Namun, pada hari ketiga, kecerahan yang sebenarnya dimulai. Bukan dari luar, melainkan dari dalam.

Hawa panas Garuda Paksi, yang merasa terhimpit oleh dinginnya tanah, mulai memberontak. Subosito merasakan jantungnya seolah dibungkus oleh cairan tembaga mendidih.

Di dalam kegelapan batinnya, Subosito tidak lagi melihat hutan atau telaga. Pemuda itu berada di sebuah ruang hampa yang merah membara.

“Kenapa kau mengurungku, Manusia Lemah?” suara itu menggelegar di dalam sukmanya.

Sesosok burung raksasa dengan sayap yang terbuat dari lidah api muncul di hadapannya. Matanya adalah dua buah matahari kecil yang memancarkan kebencian murni.

"Aku bukan mengurungmu," jawab batin Subosito, mencoba tetap tenang di tengah badai api itu. "Aku sedang mencoba memahamimu!"

"Memahami? Aku adalah amarah gunung yang tertidur! Aku adalah kehancuran yang ditakuti leluhurmu! Kau hanyalah daging dan darah yang rapuh. Serahkan kendalimu padaku, dan aku akan membuat dunia ini tergeletak di bawah kakimu!"

Garuda Paksi menerjang, Subosito merasakan sesak luar biasa. Di dunia nyata, wajah Subosito yang menyembul dari tanah tampak memerah padam. Keringat yang keluar dari pori-porinya langsung menguap, menimbulkan aura kabut di sekeliling kepalanya. Tanah di sekitarnya mulai retak-retak dan mengering karena suhu tubuhnya yang melonjak.

“Tidak!" bisik Subosito di tengah rasa sakit yang menghunjam jantungnya. "Kau adalah bagian dariku. Ayah dan ibuku memberikanmu padaku bukan untuk menjadi penguasa, tapi untuk menjadi pelindung. Jika kau membakarku, kau juga akan musnah karena tidak memiliki wadah!"

Dialog itu berlangsung selama berhari-hari. Subosito dipaksa melihat kembali semua dosa dan ketakutannya. Dia melihat kembali wajah para preman yang dia bakar, wajah Kalingga yang ketakutan, dan rasa kesepiannya selama belasan tahun di Desa Hargodalem. Setiap kenangan pahit itu digunakan oleh Garuda Paksi sebagai bahan bakar untuk membakar jantungnya.

Memasuki hari keenam, kesadaran Subosito mulai menipis. Antara hidup dan mati, antara sadar dan pingsan. Resi Bhaskara yang mengawasi melihat pemandangan yang mengerikan: tanah di sekitar tubuh Subosito mulai membara merah seperti lahar. Rumput-rumput dalam radius tiga langkah layu dan terbakar.

Subosito tidak lagi merasakan tubuhnya. Dia merasa ditarik keluar dari raga yang tertanam di tanah. Dia tidak lagi berada di lereng Lawu. Dia berada di sebuah tempat yang sunyi, berwarna kelabu, di mana waktu seolah berhenti.

"Di mana ini?" tanyanya pada kesunyian.

Tidak ada jawaban. Hanya ada gema suaranya sendiri. Di tempat ini, api Garuda Paksi tidak lagi panas, namun cahayanya meredup menjadi ungu pucat. Subosito menyadari bahwa dirinya telah masuk terlalu dalam ke dalam batinnya sendiri, melewati batas bagi manusia biasa.

Subosito telah memasuki Alam Piningit , sebuah dimensi antara dunia nyata dan dunia roh yang hanya bisa dicapai oleh para petapa tingkat tinggi atau mereka yang ketakutan sedang berada di ambang kehancuran.

Di alam ini, ego Subosito mulai terkikis. Dia lupa siapa namanya, dia lupa kenapa dia dikubur. Dia hanya merasakan keberadaan kekuatan besar yang menemaninya—sang Garuda yang kini tidak lagi menyerang, melainkan tampak sama bingungnya dengan dirinya. Mereka berdua tersesat di dalam labirin kesadaran yang tak berujung.

Di dunia nyata, Resi Bhaskara membuka matanya dengan cemas. Dia melihat tubuh Subosito yang terkubur kini tidak lagi mengeluarkan hawa panas, sebaliknya, tubuh Subosito menjadi sangat dingin hingga embun beku mulai menutupi wajah pemuda itu di tengah terik matahari siang.

“Celaka,” gumam Resi Bhaskara. "Dia tersesat di dalam sukmanya sendiri. Jika dia tidak segera menemukan jalan kembali, raganya akan mati dan sukmanya akan terjebak selamanya di alam piningit!"

Resi Bhaskara mulai memukul gong kecil di sebelahnya, mencoba memanggil kembali kesadaran Subosito, tetapi tetap saja pemuda itu tak bergeming. Matanya tertutup rapat, dan napasnya hampir tidak terasa.

Di dalam Alam Piningit, Subosito melihat sebuah pintu besar yang terbuat dari cahaya putih. Di depannya berdiri dua sosok yang sangat familier, wajahnya tertutup kabut cahaya.

Ayah dan ibu. Mereka mengulurkan tangan, mengajak Subosito untuk melangkah masuk ke dalam pintu tersebut—pintu menuju kedamaian abadi, juga pintu menuju kematian raga.

Subosito melangkah maju. Selangkah lagi, dan dia akan meninggalkan semua rasa sakit, semua kutukan, dan semua api di dunia ini.

Di saat kakinya nyaris melewati ambang pintu, Subosito mendengar bisikan sayup-sayup dari arah yang berlawanan.

“Subosito, jangan pergi!”

Itu suara Sekar.

Langkah Subosito terhenti. Ingatan tentang nasi jagung, senyum tulus, dan harapan untuk melindungi orang lemah kembali menghantamnya dengan kekuatan dahsyat.

Cahaya di dalam dirinya—cahaya manusia yang kecil nan murni—mendadak berpijar, menantang kegelapan Alam Piningit.

Namun, tarikan dari dimensi gaib itu sangat kuat. Kesadaran Subosito perlahan-lahan mulai memudar, menjadi butiran-butiran cahaya yang tersebar di udara kelabu.

Apakah Subosito akan memilih kedamaian bersama orang tuanya di alam baka, atau kembali ke raga manusianya yang terkubur untuk menghadapi takdir yang penuh darah dan api? Apa yang akan terjadi jika Garuda Paksi tertinggal di Alam Piningit sementara Sukma Subosito kembali ke dunia nyata?

Simak kelanjutannya dalam cerita berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!