Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 8
Besok paginya, kira-kira pukul enam, Karin baru saja keluar dari kamarnya. Ia sudah berpakaian rapi dengan beret santai, siap menuju kafe kecil yang biasa ia kunjungi untuk menulis. Saat membuka pintu, ia terkejut—di sana sudah berdiri pemuda itu, James, tersenyum hangat kepadanya.
“Good morning,” kata James sambil tersenyum.
(Selamat pagi.)
Karin sedikit terkejut, namun membalas dengan senyuman.
“Hi, good morning.”
(Hai, selamat pagi.)
Udara pagi Pulau Jeju terasa sejuk, embun menempel di daun, dan aroma laut yang lembut menyelimuti jalanan. James berdiri santai, matanya tetap menatap Karin dengan hangat, seolah memastikan ia benar-benar ada di sini, di pagi yang tenang ini.
Karin menarik napas perlahan, tersenyum lagi, lalu melangkah keluar menuju kafe favoritnya, sementara James mengikuti di sampingnya. Langkah mereka seirama dengan kicauan burung dan angin pagi yang lembut, membuat pagi itu terasa hidup dan hangat.
Sambil berjalan santai menuju kafe, Karin menoleh ke James dan bertanya dengan nada ringan,
“Don’t you have any other work?”
(Apa kamu tidak punya pekerjaan lain?)
James mengangkat bahu santai dan tersenyum.
“I’m unemployed. I don’t have a job.”
(Aku pengangguran. Aku tidak punya pekerjaan.)
Karin terkekeh mendengar jawaban itu. James ikut tertawa, dan tawa mereka bergema ringan di udara pagi Pulau Jeju, menambah kehangatan di antara mereka.
Kemudian James menoleh ke Karin dan bertanya dengan nada ingin tahu,
“Did you come to Jeju to write? Aren’t you planning to walk around?”
(Apakah kamu datang ke Pulau Jeju untuk menulis? Apakah kamu tidak berniat untuk berjalan-jalan?)
Karin menatap James sebentar. Ia berhenti melangkah, menarik napas ringan, lalu tersenyum.
“Well… I actually wanted to walk around. Would you like to come with me?”
(Sebenarnya aku ingin jalan-jalan. Apakah kamu mau menemaniku?)
Mendengar itu, James tersenyum lebar. Matanya berbinar.
“Of course, I’ll come with you. That’s why I came to find you. I was feeling bored… As I said, I’m unemployed.”
(Tentu, aku akan menemanimu. Karena itulah aku datang menemuimu. Aku merasa bosan… Ya, seperti kataku, aku pengangguran.)
Mereka pun tertawa bersama, suara mereka ringan mengisi udara pagi.
Akhirnya, mereka tiba di kafe. Suasana di dalam tidak terlalu sepi, tapi juga tidak terlalu ramai. Aroma kopi memenuhi ruangan, dan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela membuat semuanya terasa hangat dan nyaman. Udara di kafe tetap segar, menambah rasa damai pagi itu.
Di kafe, Karin mulai menulis dengan serius, matanya fokus pada layar laptopnya. James hanya duduk di depannya, sesekali menatap Karin dengan senyum kecil, menikmati momen itu.
Karin menyadari tatapan James, lalu tersenyum geli dan berkata,
“Don’t look at me too much, I’m too beautiful.”
(Jangan terlalu melihatku, aku terlalu cantik.)
James tertawa mendengar itu, matanya berbinar.
“Yes, you really are beautiful.”
(Iya, kamu memang cantik.)
Mereka pun memesan minuman favorit masing-masing. James mengambil kopi hangat seperti biasanya di pagi hari, sedangkan Karin memilih jus stroberi yang segar. Tak lupa, mereka juga memesan beberapa makanan ringan untuk sarapan.
Sambil menikmati minuman dan makanan mereka, percakapan mengalir ringan. Tawa mereka terdengar di sudut kafe, hangat dan riang. Waktu berlalu begitu cepat, hingga sinar matahari siang mulai menembus jendela, menandai bahwa pagi telah berganti menjadi siang.
Akhirnya, Karin mulai merasa lelah. Tangannya terasa kaku setelah menulis cukup lama. Ia menggepal tangannya beberapa kali, mencoba mengendurkan otot-otot yang tegang.
James yang memperhatikan itu menatapnya dengan perhatian.
“Are you tired?”
(Kamu merasa lelah?)
Karin mengangguk lemah.
“Yes, a little.”
(Ya.)
James tersenyum, matanya berbinar penuh semangat.
“Let’s go for a walk. I’ll take you to a very beautiful place. You won’t feel tired after writing.”
(Mari kita jalan-jalan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang sangat indah. Kamu tidak akan merasa lelah setelah menulis.)
Karin menatap James dengan penasaran, matanya berbinar.
“Oh really? Is that so?”
(Oh ya? Benarkah?)
Ia menutup laptopnya perlahan, membayar makanan mereka, dan bersama James keluar dari kafe. Langkah mereka ringan, penuh antisipasi, menuju tempat indah yang dijanjikan James, sementara matahari siang menyinari jalanan Pulau Jeju dengan hangat.
Mereka sudah berjalan cukup jauh dari kafe, juga menjauh dari hotel Karin. Puncak gunung yang mereka tuju tidak terlalu tinggi, namun lerengnya cukup menanjak dan bebatuannya tersebar di beberapa titik. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang masih lembap oleh embun.
Karin berjalan di belakang, nafasnya terdengar terengah-engah. Matanya menatap jalur di depannya, sesekali menoleh melihat James yang melangkah ringan di depan.
“James, are we far from the top?”
(James, apa kita masih lama lagi untuk sampai?)
James menoleh ke belakang, tersenyum hangat.
“No, we’ll be there soon. Are you tired?”
(Tidak, kita sebentar lagi akan sampai. Apakah kamu lelah?)
Karin mengangguk, tersenyum lelah.
“Yes, I’m really tired. You know, I rarely exercise.”
(Iya, aku sangat lelah. Kamu tahu, aku jarang olahraga.)
James tertawa pelan, suaranya nyaring di udara pagi.
“Alright, that’s okay. If you’re with me, I’ll make sure you exercise every day.”
(Baiklah, tidak apa-apa. Kalau kamu bersamaku, aku akan mengajakmu berolahraga setiap hari.)
Karin ikut tertawa. James berlari kecil ke depan, menembus jalur setapak yang berlapis bebatuan kecil.
“Come on, catch me!”
(Ayo kejar aku!)
Karin menghela napas panjang, mencoba mengejar dengan langkah berat dan terengah-engah. Suara kakinya menyentuh bebatuan, bercampur dengan tawa mereka yang ringan. James berhenti sejenak, menatap Karin dari depan, lalu tertawa melihat tingkahnya yang lucu seperti anak-anak kelelahan menaiki puncak gunung.
Tak lama kemudian, James berlari turun dan berdiri di hadapan Karin, berjongkok.
“Come up on my back, I’ll carry you.”
(Ayo naik ke punggungku, aku akan menggendongmu.)
Karin terkejut, menatapnya dengan gugup, lalu tersenyum.
“No, I’ll walk. I don’t feel comfortable being carried by a stranger.”
(Tidak, aku berjalan saja. Aku tidak nyaman digendong sama orang asing.)
James mengangkat alis, tersenyum nakal.
“A stranger? Hmm… So I’m still a stranger to you, huh?”
(Orang asing? Hmm, ternyata selama ini aku masih dianggap orang asing, ya?)
Karin tertawa, menundukkan kepala. James menggulung lengan bajunya, lalu mengulurkan tangannya.
“Hold my hand. I’ll pull you up if you fall.”
(Pegang saja tanganku. Aku akan menarikmu kalau kamu terjatuh.)
Karin tersentuh, menggenggam tangan James.
“Okay.”
Dengan tangan saling bergandengan, mereka melangkah bersama, menapaki setapak menuju puncak. Angin yang menyapu wajah mereka terasa segar, suara daun yang bergesekan dan burung-burung yang berkicau membuat pagi itu begitu hidup. Mereka tertawa ringan, sesekali berhenti menatap pemandangan hijau di sekitar, menikmati langkah demi langkah, dan kesunyian yang hangat di puncak gunung.