NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kondisi Mbah Warih

Melihat Warih terbaring tanpa daya, Qais langsung berlari mendekat. Ia berlutut di samping tubuh Warih yang dingin dan pucat. Sebagai lulusan kedokteran yang baru saja menyelesaikan studinya, jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar hebat saat mencoba meraba denyut nadi di pergelangan tangan Warih. Ini pengalaman pertama kali baginya dalam situasi menegangkan, saat dirinya baru menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

Pikiran Qais berkecamuk. Ia tahu teori bantuan hidup dasar, ia tahu cara mengecek kesadaran, tapi rasa takut akan tanggung jawab besar dan statusnya yang belum resmi berpraktik membuatnya ragu untuk bertindak lebih jauh sendirian. Ia tidak berani mengambil resiko medis tanpa peralatan yang memadai.

"Bismillahirrahmanirrahim. Mbah... Mbah, bangun!" bisiknya dengan suara serak, penuh kekhawatiran yang mendalam.

Sadar ia tidak bisa menangani ini sendirian, Qais langsung berlari ke depan pintu dan berteriak memanggil bantuan.

Tolong! Tolong! Ada yang pingsan!" teriaknya memecah kesunyian desa.

Beberapa tetangga mulai berdatangan dengan wajah bingung.

"Ada apa, Gus?" tanya salah satu warga.

"Mbah pingsan, Pakde! Saya ndak mampu memindahkan beliau sendirian. Tolong bantu saya angkat ke mobil, kita harus bawa Mbah ke puskesmas sekarang juga!" perintah Qais dengan nada yang tegas namun masih menyiratkan kepanikan.

“Ya Allah, Mbok….dimana Mbah Warih, Gus?" tanya Sulis terlihat panik.

“Di dalam, Bi."

Dengan tergesa-gesa, Sulis langsung masuk untuk melihat keadaan wanita yang sudah ia anggap ibu itu.

Qais terus merapalkan doa seiring tubuh Warih yang dipindahkan warga ke dalam mobilnya.

Sulis dan beberapa warga juga ikut mengantar Warih ke puskesmas.

—-

Puskesmas pagi itu mendadak riuh. Bau antiseptik yang khas menyambut Gus Qais saat ia membantu warga menurunkan Warih dari mobil. Wajah Qais yang biasanya tenang kini terlihat pucat, peluh membasahi dahinya.

Dokter jaga itu adalah Dokter Hendra, senior yang sudah menganggap Qais seperti adiknya sendiri. Dia kenal Qais sebelum Qais kuliah ke Jakarta. Dulu Qais adalah relawan di kliniknya. Selain itu Qais terkenal di kampung itu sebagai putra kyai tersohor.

"Qais, ini gawat. Mbah Warih mengalami gagal jantung akut," bisik Dokter Hendra sambil menarik Qais agak menjauh. "Alat kita di sini terbatas. Beliau harus segera dirujuk ke Rumah Sakit di Jakarta yang fasilitas kardiovaskulernya lebih lengkap.”

Jantung Qais serasa berhenti berdetak sesaat. "Jakarta, Dok? Tapi kondisi Mbah…”

"Justru karena kondisinya, kita harus cepat. Tapi ada masalah..." Dokter Hendra melihat jam tangannya dengan gelisah. "Saya baru saja dapat kabar kalau ada darurat di ruang tindakan belakang yang harus saya tangani dulu sebelum berangkat, dan ambulans harus jalan sekarang juga. Saya ndak mungkin membiarkan Mbah Warih hanya dengan perawat di ambulans dalam kondisi sekritis ini.”

Dokter Hendra memegang bahu Qais dengan mantap. "Kamu yang dampingi Mbah Warih di ambulans, Qais."

Qais tersentak, matanya membelalak. "Saya? Tapi Dok, saya baru lulus. Saya belum punya izin praktik, saya belum berani…”

"Qais, dengar saya," potong Dokter Hendra tegas. "Saya tahu kamu siapa. Kamu lulusan terbaik, dulu kamu sering jadi relawan di sini, kamu juga pasti tahu prosedur dasarnya. Di mata warga, kamu putra Kyai yang mereka segani, tapi di mata saya, kamu adalah seorang dokter masa depan yang punya hati. Mbah Warih butuh seseorang yang paham medis untuk memantau kondisinya selama perjalanan dua jam ke Jakarta.”

Qais memandang Warih yang terbaring lemah dengan masker oksigen.

Kondisinya sangat memprihatinkan, Jika terjadi sesuatu pada wanita tua yang sudah ia anggap keluarga itu, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

"Saya akan menyusul dengan mobil pribadi segera setelah urusan di sini selesai," lanjut Dokter Hendra. "Tapi sekarang, Mbah Warih nyawanya ada di tanganmu. Kamu sanggup?”

Qais menarik napas panjang, mencoba menstabilkan tangannya yang masih sedikit gemetar. Ia menatap Dokter Hendra, lalu mengangguk mantap. "Bismillah... saya berangkat, Dok.”

"Bagus. Segera naik ke ambulans. Perawat sudah siap dengan peralatan darurat."

Gus Qais pun naik ke dalam ambulans. Duduk di samping brankar Warih, ia menggenggam tangan wanita tua itu dengan lembut. Di satu sisi, ia merasa takut luar biasa karena ini adalah tanggung jawab medis pertamanya di luar kampus. Namun, rasa hormatnya pada Warih memberinya kekuatan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.

Sirine ambulans mulai meraung, membelah jalanan menuju bandara. Di dalam ruang sempit itu, Gus Qais terus berdzikir sambil matanya tak lepas memantau monitor jantung, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

***

Pagi itu, wangi melati yang merambat di seluruh ruangan kamar pengantin itu terasa mencekik bagi Aiza. Ia duduk bersimpuh di atas sajadah, jemarinya meremas pinggiran kebaya putihnya hingga buku-buku jarinya memutih. Di ruangan ini hanya ada kesunyian, namun di luar sana, ia tahu seluruh dunia sedang menyaksikan bagaimana takdirnya diputuskan.

Sesuai permintaannya, Aiza memilih tetap di kamar, itu adalah cara agar ia tidak melihat wajah Arjuna. Dia tak sanggup menatap wajah datar itu. Ia hanya bisa mengandalkan telinganya, menangkap suara-suara yang keluar dari pengeras suara kecil di sudut langit-langit kamar.

Untuk syarat sah menikah, Sarah juga sudah mengatakan bahwa dia sudah menghubungi Gufron, dan Gufron pun sudah menyerahkan hak walinya pada penghulu.

Dan jika ditanya apakah Gufron menanyakan Aiza, putrinya? Atau sekedar menanyakan kabar Aiza? Jawabannya ada. Hanya saja dia menolak untuk bicara pada Aiza dengan alasan sibuk.

Suara riuh rendah di halaman gedung perlahan senyap. Jantung Aiza berdegup kencang seirama dengan detak jam dinding. Lalu, suara berat itu muncul. Suara Arjuna.

"Saudara Arjuna, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Aiza Adiva Humaira binti Gufron dengan mas kawin uang sebesar dua milyar dan satu unit rumah beserta isinya di bayar tunai!"

Suara penghulu terdengar dari pengeras suara, namun jawaban yang menyusul kemudian terdengar begitu dingin, datar, dan tanpa keraguan sedikitpun.

"Saya terima nikah dan kawinnya Aiza Adiva Humaira binti Gufron dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

Suara Arjuna yang berat dan tegas itu bergema melalui pengeras suara, memenuhi setiap sudut kamar Aiza. Tidak ada getaran emosi, tidak ada kelembutan seperti suara Qais yang biasanya menenangkan. Suara itu adalah suara sebuah ketetapan yang mutlak.

"Sah?"

"Sah!”

Dunia Aiza serasa runtuh dalam satu kata itu. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi tangannya. Ia sudah sah menjadi milik pria yang tidak pernah ia harapkan, pria yang visualnya sedingin es namun berwibawa layaknya bangsawan.

Pintu kamar pun diketuk, Sarah masuk dengan wajah yang terlihat menampakkan senyum, tak seperti biasanya.

"Aiza, keluar yuk! Temui suamimu sekarang.”

Aiza hanya bisa mengangguk pasrah. Dua mengusap air matanya, lalu beranjak untuk menemui pria yang sudah sah menjadi suaminya di luar sana. Tanpa dia tahu, di tempat lain neneknya juga sedang berjuang antara hidup dan m4ti.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
BundaNazwa: Hooh. Dibalikin nggak bisa lagi. Auto nangis dah tu🤧
total 1 replies
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
BundaNazwa: Siap😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!