Alana adalah jaksa muda yang cerdas, karirnya menanjak drastis, berkacamata tebal, kaku, dan berpenampilan tidak menarik untuk menyembunyikan kecantikannya karena ia memiliki trauma di masa lalu terkait dengan kecantikan. Suatu ketika Alana menerima banyak sekali ancaman dan setelah itu, teman kantornya mengajaknya ke perusahaan besar yang menyediakan jasa bodyguard. Alana terpaksa mendatangi perusahaan besar itu meskipun ia tahu pemiliknya adalah pria yang selalu ia hindari, Archie Cwvendish. Archie adalah kakak tirinya Arthur dan Arthur adalah mantan pacarnya Alana. Archie juga dulunya tutornya Alana dan Archie diam-diam jatuh cinta pada Alana tapi Archie memilih mundur saat Arthur mengatakan bahwa Arthur mencintai Aluna. Apa yang akan terjadi saat Alana nekat menemui Archie dan meminta Archie menjadi bodyguard-nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melongo
Saat Archie menyusurkan bibir di belahan rambutnya Alana, gadis itu meremas ujung dasternya dan menahan napas.
Bibir Archie menyentuh singkat kening Alana lalu pria tampan itu menempelkan keningnya ke kening Alana. Napas hangat berbau mint pria tampan itu masuk lalu menggoda indra penciumannya Alana. Darah Alana sontak berdesir hebat dan jantungnya berdegup kencang.
Archie kemudian bertanya dengan suara yang terdengar lebih serak dari biasanya, "Apakah kamu pernah berciuman, Na?"
Ya, panggilan Na, itu yang selalu Alana rindukan. Hanya Archie yang memanggilnya begitu. Yang lainnya, bahkan mama dan papanya, memanggilnya Al, terdengar seperti cowok kata Archie kala itu. Na, aku akan panggil kamu begitu, ucap Archie kala ia masih berumur lima tahun. Jantung Alana semakin berdegup kencang.
"Na? Apa kamu pernah berciuman?" Ulang Archie sambil memejamkan mata dan kedua tangannya meremas lembut bahu Alana.
Alana hanya mampu menggelengkan kepala.
Archie menarik keningnya dari kening Alana dan bola matanya bertubrukan dengan bola mata Alana yang sedikit kecoklatan.
Alana seperti terhipnotis. Dia sama sekali tidak bisa bergerak. Bernapas pun setengah-setengah saking gugupnya ditatap intens dari jarak yang sangat dekat oleh pria tampan yang dulu pernah ia taksir.
Jantung Archie berdegup kencang dan darahnya bergejolak hebat dan terasa panas.
"Apakah aku boleh......."
Kringgggg!!!!!!! Suara nada dering ponsel pribadinya Archie membuat pria tampan itu menoleh ke meja sofa. Ada nama Arthur di sana.
Alana mengerjap kaget saat Archie melepas kedua bahunya lalu ia melihat pria tampan itu mengambil ponsel dari atas meja sofa. Archie berdiri sambil berkata ke Alana, "Arthur"
Alana hanya mengangguk lalu gadis itu bergegas berdiri kemudian berlari kencang ke kamar yang sudah dipersiapkan oleh Bi Inah untuk ia tempati.
Saat Alana mengunci pintu kamar, Archie meraup kasar wajahnya dan membentak layar ponselnya yang memunculkan wajah Arthur, "Ngapain Video Call Kakak di jam segini?" sambil melirik kamar tamu yang kini sedang ditempati oleh Alana.
Arthur menyembulkan bibir bawahnya, "Kangen"
"Cih! Mana ada cowok kangen sama cowok?" Archie mencebik sebal.
"Hahahaha! Nggak papa to, kamu kakakku"
"Ih!" Archie bergidik ngeri.
"Hahahahaha! Aku tadi ada di depan gerbang rumah kamu. Pengen curhat tapi kata satpam kamu, kamu ada tamu cewek dan kata satpam kamu, ceweknya beda. Cantik katanya. Pakai kacamata, wuiihhhhh! Belajar selingkuh, ya, kak?"
"Selingkuh gundulmu! Cewek itu klien baruku"
"Cih! Mana ada klien dibawa ke rumah malam-malam"
"Dia ketiduran dan......"
"What?! Kakak beneran selingkuh?"
"Bukan begitu..... shiiiiiittt! Jadi kamu video call kakak karena ingin lihat cewek itu siapa?"
"Hu um" Arthur meringis di depan layar.
"Gila kau! Udah tidur sana aku matikan telponnya dan catat baik-baik, aku tidak selingkuh" Geram Archie.
Arthur melebarkan cengirannya dan klik! Archie memutuskan sambungan telepon itu dengan wajah kesal.
"Fiuuhhh! Untung Arthur tidak melihat Alana tadi" Archie duduk di sofa lalu menyandarkan kepala di sofa sambil meluruskan kakinya.
"Eh?" Archie duduk tegak kembali lalu memencet nama Arthur di fitur VC.
"Cieeeee cowok video call cowok nih" Arthur meringis di depan layar.
"Mau aku stop donasiku di pameran lukis kamu, hah?!" Archie melotot kesal.
"Pegang waras, Kak, that simple, Kakak nggak mabuk, kan? Coba satu tambah satu berapa?"
"Arthurrrrr!!!!" Rahang Archie mengeras.
"Hahahahaha, oke. Ada apa nyari aku?"
"Emm?" Wajah Archie sontak memerah membayangkan dirinya hampir mencium Alana tadi.
"Eh, kakak demam? Wajah kakak merah tuh"
Archie meraup wajahnya lalu berkata sambil mengusap tengkuknya dengan tangan kanan karena tangan kirinya masih ia pakai untuk memegang ponsel. "Emm, itu, i-itu, emm....."
"Apa? Minta alat pengaman? Oke aku meluncur sekarang"
"Hei bego! Siapa yang minta alat pengaman, hah?!" Archie melotot kaget.
"Lalu apa?" Arthur mengerutkan kening.
"Emm, maaf kalau Kakak mengulik memori masa lalu kamu, tapi, emm, Kakak cuma penasaran aja"
"Penasaran apa?" Tanya Arthur.
"Penasaran kenapa kamu sulit sekali melupakan Alana. Apa kamu dan Alana dulu pernah berciuman?" Kali ini tangan kanan Archie mengepal erat. Dia terbakar cemburu hanya karena bayangan Arthur mencium Alana.
"Belum pernah. Dulu kami masih remaja polos, kak"
"Kamu udah tujuh belas tahun waktu itu" Protes Archie.
"Aku nggak kepikiran soal ciuman pertama karena aku sangat menyayangi Alana dan tidak ingin merusak kesucian Alana. Aku cuma sebatas mencium tangan, pipi, dan kening, lalu mengusap rambutnya yang lebat dan indah itu. Aku kangen......"
Klik! Archie mematikan sambungan VC itu begitu saja.
Arthur melongo ke layar ponselnya yang menghitam. "Hei K*mpr*t! Seenaknya banget telpon terus matikan, tzk! Kakakku itu memang pemarah"
Sementara Archie menggeram lalu melempar ponselnya ke sofa begitu saja sambil menggeram, "Seenaknya bilang cium tangan, cium pipi, cium kening, usap rambut indahnya Alana, sok bilang kangen, cih! Siapa yang peduli, cih!" Archie meraup kesal wajah tampannya lalu melangkah lebar ke lantai dua. Dia butuh kasur empuknya untuk mengembalikan kewarasannya.
Sementara itu, Alana tengah berbaring terlentang menatap langit-langit kamar. "Apa maksud Archie bertanya seperti itu? Apa maksud dia mencium kepalaku? Lalu apa maksud dia menempelkan keningnya di keningku? Apa dia ingin meminta ijin menciumku tadi?"
Alana lalu berguling-guling di atas ranjang sambil menggeram, "Tidur, tidur! Jangan mikir yang macam-macam!"
Archie mengambil ponsel khususnya. Ponsel couple yang dibelikan oleh Rosaline. Dia menelepon Rosaline dan untungnya Rosaline belum tidur.
"Ada apa? Kamu merindukan aku? Aku ke rumah kamu sekarang gimana? Kita lanjutkan yang tadi, oke?" Rosaline mengerling manja.
Archie tersenyum masam lalu berkata dengan nada penuh penyesalan, "Maafkan aku, Rose"
"Ada apa? Kamu ada klien tadi. Kamu nggak salah meninggalkan aku"
Archie meraup kasar wajahnya lalu berkata, "Aku ingin kita putus"
Rosaline sontak melongo.