Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
feromon
"Yah..." Aku menghela napas. Sudah kepalang basah. "Aku mau resign rencananya. Nanti pas ulang tahunku Aku ngajuin suratnya."
"Itu... 2 bulan dari sekarang dong? Kok tiba-tiba Kamu mau resign? Ada masalah apa?" pria itu merubah posisinya sehingga sepenuhnya menghadapku.
Aku mengangkat bahu. "Tidak ada masalah, tapi sudah kurencanakan dari sejak lama. Aku mau lebih menikmati hidup... Sudah 10 tahun Aku kerja di Beaufort bahkan potong rambut saja tidak sempat...begitu deh istilahnya. Agak iri sih sama cewek-cewek yang suka datang ke kantor itu. Mereka punya waktu untuk merawat diri, berkencan, beli tas baju sepatu datang sendiri ke tokonya, bisa travelling kemana-mana. Aku? 10 tahun kehidupanku cuma di belakang meja. Malah udah 5 tahun belakangan Aku ngga senyum... cuma bisa senyum sama Kamu saja. Capek loh hidup kayak gini..."
Aku menceritakan hal ini jadi malah tambah pegal-pegal. Lalu melihat bahu Lucas yang lebar membuatku menjadi ingin merebahkan diriku di pelukannya.
"Hm... lebih menikmati hidup versi kamu itu yang seperti itu yah?" kata Lucas sambil fokus lagi ke gamenya.
Kemudian Aku pun memposisikan diri ke dadanya dan memeluk pinggangnya. Aku memejamkan mataku sejenak dengan membaringkan kepalaku ke dadanya, mendengarkan alunan detak jantungnya, menghilangkan kepenatanku.
Ia mengelus kepalaku sekilas, lalu melanjutkan bermain gamenya.
Seakrab itu Aku dengan Lucas?
Iya.
Sejak bertemu Lucas, Aku bagaikan menemukan separuh diriku yang hilang. Ada rasa percaya pada Lucas kalau ia tak akan menjahatiku. Ia berbeda dari pria lain yang kukenal. Aku bahkan masih ada rasa waspada saat bertemu Leon. Lucas tidak pernah menatapku dengan pandangan cabul ataupun memperhatikan dadaku yang besar.
Tatapannya ke diriku sabar dan ramah.
Dan langsung menatap mataku, bagaikan mencari tahu apa yang kupikirkan. Dia menganggapku manusia, seorang wanita terhormat, dan sikapnya manis.
Itu sebabnya Aku masih tidak sepenuhnya percaya kalau dia tidak punya pacar.
Sakit perut lagi...
Haduh...
Mumpung belum begitu parah Aku memutuskan untuk mandi, jadi tidurnya bisa lebih nyenyak.
Aku mengerang sambil mengelus perut bagian bawahku yang mulai nyeri. "Aku mandi dulu ya? Kamu masih di sini kan?"
"Mandi? Pas lagi sakit begitu?!"
Aku mengangguk. "Mumpung belum terlalu sakit... baunya amis, aku risih..." Aku mencoba berdiri tapi ternyata tidak bisa tegak karena nyeri, Jadi Aku jalan pelan-pelan sambil membungkuk. "Kalau ngga keluar lebih dari setengah jam, kamar mandi didobrak saja."
"Kamu yakin ngga perlu ke rumah sakit?!"
"Yakin, ngga perlu, yang ada pas sampai sana diketawain."
Aku berjalan terseok-seok.
Ngga berapa lama Aku merasa tubuhku tiba-tiba melayang. Lucas menggendongku.
"Aku temenin deh... kalo Kamu sampai jatuh jangan-jangan nanti Aku yang disuruh gantiin Kamu jadi sekretaris. Ogah..." sahutnya sambil membopongku.
Aku terkekeh.
Lalu berubah menjadi tawa, karena membayangkan Lucas jadi sekretaris, menghalau cewek-cewek yang datang, nanti bukannya mereka pergi malah jadi nempel sama Lucas. hehe...
*****
Aku memperhatikan Lucas yang sedang berada di depan pagar sambil mengobrol dengan kerumunan ibu-ibu komplek, dari jendela.
Akhirnya dia menginap karena Aku tiba-tiba sakit perut lagi pas mandi. Untung ada dia, coba kalau Aku sendirian, entah bagaimana jadinya. Wah, ada yang ngasih apel! Kayaknya ada 2 kilo tuh...
Lucas menoleh padaku sambil menyeringai, lalu dia mengerlingkan matanya padaku.
Hm.. Kenapa Aku langsung kayak kesetrum listrik begini ya...
Saat Lucas masuk ke dalam rumah Aku menyambutnya.
"Sudah pulang suamikuuuu bawa apa?" Godaku
"Astaga Mbak Six, Aku jadi deg-degan... Masa dalam sehari langsung jadi suami..."
"Udahlah Sayaaang, bikin Aku seneng laaah daripada diriku mengkhayal sendirian."
Dia tertawa.
"Bukannya ngga seneng sih, kalo Aku jadi lupa diri gimana, coba?!"
"Haha, ngga berani deh Aku..." Aku akhirnya memutuskan untuk berhenti becanda karena respon Lucas. Takut juga kalo dia beneran lupa diri.
"Mbak Six..." dia memanggilku sambil mencuci buah yang dikasih bu RT tadi.
Aku duduk diatas konter dapur sambil menggigit apel yang sudah dicucinya. "Susah banget yah nyebut nama asliku?!"
Dia memejamkan mata sambil menyeringai. "Ohiya...lupa terus..."
"Lama-lama namaku di kartu keluargaku diubah saja kali ya..." sungutku.
"Iya...Bianca Sayang... Maaf yaa... Udah kebiasaan." desisnya sambil menyeringai.
"Lucu juga kalo akad nikah ngomongnya begitu. Saya terima nikahnya Number Six Binti Fulan, dengan mas kawin 1 juta lembar saham Beaufort dibayar tunai!"
Dia terbahak
"Number Six binti Fulan... Yah kalo nikah sama Aku sih, jangankan saham... Adanya motor butut gimana dong?" desisnya.
"Bisa nego lah kalo sama Aku ehehehehe..."
Lucas tersenyum sambil menatapku lekat, lalu menghentikan kegiatan mencucinya dan menghampiriku. Tak diduga ia mengunciku dengan tubuhnya.
Kami sangat dekat sekarang.
Matanya menatapku lurus tanpa berkedip, kedua tangannya mencengkeram pinggulku.
"Dari kemarin mancing-mancing terus... Bilang cuma becanda tapi diulang-ulang."
Aku menggeliat berusaha melepaskan diri, sambil tetap becanda. "Ih serius amat nanggepinnya, lagi pms juga kayak Aku jangan-jangan, hehe..."
"Iya, mungkin..." desisnya.
Cengkeramannya semakin kencang.
Aku menghentikan senyumanku.
Aku menggeliat lagi.
Aku... Tak bisa bergerak.
Dia kuat sekali !
"Lucas?" Aku mulai waspada. Instingku mengatakan Aku harus lari.
Dia menatapku bagaikan puas telah mendapatkan mangsa.
Dan kini salah satu tangannya merambat dari pinggulku ke atas.
Aku menahan napas.
Kenapa...
Kenapa belaiannya sangat...
Tangannya berhenti di bawah dadaku.
"Aku laki-laki biasa... Kamu tahu apa yang akan terjadi kalau Aku hilang kendali, kan?" suaranya dalam dan sedikit serak.
Tiba-tiba Aku takut.
Lucas yang ini...
Lucas yang waktu itu kulihat di kaca.
Saat ia menatapku marah.
Ini bukan Lucas yang kukenal.
"Jangan becanda. Ngga lucu..." Aku mulai kesal. Aku berkeyakinan ia pasti bisa kugertak. Ini cuma Lucas gitu loh...
Cuma Lucas...
Dia ngga akan melukaiku.
Ya kan?!
Ia menyunggingkan senyum sinis. "Loh, Aku kan cuma memainkan perananku sebagai suami..."
Aku tersenyum masam. Aku ngga siap sama kondisi yang begini.
"...ngomong-ngomong tadi Aku mau nanya..." ia membelai pipiku, perlahan turun ke leherku
"... Kamu kalau berkhayal sendirian..." ia mendekatkan bibirnya.
"...ngapain aja?"
"Em..." Aku tidak mampu menjawab. Tiba-tiba bibirku kaku dan lidahku kelu. Aku hanya bisa menatap bibirnya yang semakin mendekat.
Akupun terhipnotis oleh tatapannya. Bias matahari yang menerpa wajahnya membuat warna matanya menjadi lebih terang. Indah sekali... aku baru menyadarinya. Aku merasa terpesona dan mengikutinya mendekat.
"Habisin apelnya yah." Bisiknya.
Ia menjauh.
Sshitt...!!
Sial banget, sumpah!!
Dia cuma melanjutkan mencuci apel sambil menyeringai jahil padaku.
Astaga.
Inhale. Exhale.
Plis stop this crazy beating heart!!
"Kamu udah ngga sakit?" katanya akhirnya. Aku mendengarnya, tapi aku belum mampu meresponnya, aku masih menstabilkan napasku.
Tapi saat dia mendekatiku lagi, aku otomatis terlonjak bereaksi menjauh. Ia terkekeh.
"Kenapa? Takut?" tebaknya.
Aku menatapnya dengan waspada. Aku saat ini sangat jengkel padanya.
"Kamu genit-genitan sama aku aja yah, jangan sama yang lain." katanya, ia meraih pinggangku sebelum aku sempat menghindar, mengangkatku dari konter dapur semudah mengangkat galon. "Karena kayaknya kamu ngga sadar kalau kamu itu cantik, jadi aku ngga bisa bayangin respon cowok lain kalau kamu godain semacam tadi."
Aku masih menatapnya dengan diam.
Ia menggandengku ke sofa depan tv dan duduk di sampingku sambil memeluk bahuku.
"Mbak... jangan dipikir karena aku ngga bereaksi sama kamu dari kemarin, dan sikapku terlihat biasa saja walaupun sudah melihat kamu luar dalam, kamu harus tahu aku melakukan hal itu dengan susah payah menahan..." ia mengangkat bahunya. "Apalagi saat ini kita hanya berdua. Tolong lebih berhati-hati yah..." Ia tersenyum lembut padaku.
Dia bilang aku harus berhati-hati padanya
dan dia bilang aku ngga sadar kalau aku itu cantik.
Dia sendiri, apa dia sadar kalau dirinya begitu mempesona?
Bagaimana aku bisa tahan untuk tidak menggodanya kalau sikapnya padaku manis begini?!
Aargh...! benar-benar bikin frustasi....
malah mantan😉
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.