Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma Berat
Meskipun pada mulanya sang dokter tidak setuju. Pada akhirnya dia memahami penjelasan dari sang sahabat dan menyetujui untuk menyimpan rahasia tersebut.
"Ga-ra, ma-na, Gara? Jangan! To- long lepas kan, Tika." Antika menggigil dan mengigau. Badannya demam dan panasnya cukup tinggi.
"Tika! Tika ini Ayah, sayang. Kamu kenapa?"
Aldri yang selalu menemani Antika bergegas mendekat. Aldri menggenggam erat tangan Antika. Ia merasa amarahnya memuncak dan sudah melampaui batas. Dirinya sudah tidak tahan lagi melihat kondisi Antika. Tubuh nya berdiri dan bergegas pergi, tapi ibunya menahannya.
"Al, Kamu mau ke mana, Nak? Ini masih jam 04.00 subuh."
" Ibu, Saya tidak tahan lagi! Saya akan menemui bajingan tengik itu!"
"Nak, ibu tahu kamu sedang emosi, tapi ingat saat ini Antika yang lebih utama. Kalau ada apa-apa bagaimana? Ibu hanya sendirian di rumah."
Aldri menghembuskan nafas kasar. Dirinya sangat frustrasi karena tidak dapat berbuat apa-apa saat ini. Namun, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Aldri menundukkan dirinya kembali ke salah satu kursi di kamar Antika. Ia menunduk menutup matanya dan mengepalkan kedua tangannya.
~ Sialan! Benar benar sialan! Aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang anak muda. Kamu sudah menghancurkan kebahagiaan gadis yang sangat penting dalam hidupku. Brengsek!~
" Cucu ku yang malang. Duh Gusti.... kenapa harus seperti ini?" ibu Aldri menitikkan air matanya.
"Maaf, Bu. Ini semua salahku."
"Sudah lah, Nak. Tidak ada yang perlu disalahkan. Semua sudah takdir. Saat ini yang terpenting adalah kesembuhan Antika. Yang sabar ya, Nak. Kamu harus kuat, Al."
Aldri hanya mengangguk pasrah. Ia menyadari semua yang dikatakan ibunya benar adanya. Saat ini ia harus fokus pada kondisi fisik dan psikis Antika. Hal yang justru semakin membuat hatinya nelangsa adalah menyaksikan Antika mengalami sakit seperti saat ini. Seumur hidup gadis itu sangat jarang mendapatkan sakit hingga mengigau dan demam tinggi.
Antika mengalami demam selama 3 hari berturut-turut. Dokter selalu datang setiap hari untuk memastikan dan mengecek kondisi gadis itu. Selama itu juga gadis itu dalam kondisi setengah sadar dan tertidur setelah mendapatkan pengobatan. Dalam keadaan tidak sadarnya. Antika selalu mengigau hal yang sama. Kalimat serupa ketika pertama kali Aldri dan ibunya mendengar dari bibir gadis itu.
Aldri menyewa seseorang untuk menyelidiki permasalahan Antika. Ia meminta informasi keberadaan kekasih putrinya. Aldri memastikan bahwa pemuda itu pasti akan mendapatkan ganjaran. Selama 3 hari ini dirinya lebih memilih fokus merawat Antika dan sama sekali tidak memperdulikan masalah lainnya termasuk pekerjaannya.
Tepat di hari ketiga Atika mulai sadar sepenuhnya. Kondisi fisiknya masih sangat lemah. Matanya mulai menyusuri tempatnya berbaring saat ini. Ia mengenal jelas tempat saat ini adalah kamarnya. Ia mencoba mengingat perlahan. Ketika kesadaran itu datang dengan sempurna, gadis itu mendadak histeris.
Teriakan Antika membuat Aldri dan ibunya terkejut. Sesaat setelah melihat keduanya gadis itu kembali tak sadarkan diri.
"Tika!" Aldri dan ibunya pun panik.
Hari berikutnya ketika Antika sadar dan mendapati Aldri dan ibunya panik.
Hari berikutnya ketika ketika sadar dan mendapati Aldri berada di sampingnya ia merasakan ketakutan yang sangat luar biasa.
"Jangaaan! Pergiiii! Aargh!" Antika menjambak-jambakan rambutnya dan kembali tak sadarkan diri.
Kejadian serupa itu selalu terulang setiap kali Aldri muncul di hadapan Antika. Gadis itu berteriak ketakutan dan jatuh pingsan. Dokter menjelaskan salah satu alasannya karena trauma yang dialami gadis itu. Meskipun Aldri mencoba perlahan-lahan mendekati putrinya itu selalu saja berakhir dengan ketakutan.
Aldri menyimpulkan bahwa keberadaannya di sekitar Antika membuat gadis itu ketakutan. Ia menyerahkan sepenuhnya perawatan Antika kepada ibunya. Ia mencoba sebisa mungkin tidak muncul ketika Antika sadar.
Secara perlahan-lahan intensitas pingsan Antika pun berkurang. Gadis itu sudah mau keluar kamar meskipun kadang tiba-tiba saja berteriak dan marah-marah sampai membanting barang-barang. Pernah juga ia menangis di bawah kucuran air kamar mandi dan berteriak hingga pingsan.
Aldri dan ibunya sangat sabar menghadapi semua keadaan Antika. Setidaknya usaha itu tidak sia-sia. Antika mulai mau makan sendiri dan menjawab pertanyaan dari Omanya. Itu merupakan kemajuan luar biasa setelah tiga pekan berlalu.
Antika mulai mengalami mual-mual setiap makan. Kondisi itu membuat Aldri khawatir hingga ia mendapatkan kenyataan yang mengejutkan. Dokter sekaligus sahabatnya menyatakan bahwa putrinya itu kini sedang hamil.
"Apaaaa!" Aldri dan ibunya sangat syok mendengar berita yang baru saja disampaikan dokter tersebut. Badan Aldri langsung luruh dan terduduk lemas di sofa rumahnya.
Lagi. Hal itu terjadi lagi. Wanita yang sangat aku sayangi harus menanggung aib.
Kali ini Aldri benar-benar memutuskan untuk pergi menemui kekasih Antika di rumahnya. Bukan untuk meminta pertanggungjawaban pemuda itu, sama sekali tidak! Akan tetapi, untuk memberikan pelajaran berharga kepada bajingan tengik itu. Aldri datang dengan tatapan dingin, tapi hatinya panas berkobar.
Aldri menggedor-gedor pintu rumah pemuda itu dengan kencang. Namun, sama sekali tidak ada jawaban. Amarah Aldri semakin menjadi ia memperkeras gedoran di pintu, tapi tetap saja hasilnya nihil.
Setelah lama menunggu Aldri hilang kesabaran. Ia menendang keras pintu tersebut. Hal yang membuatnya semakin muak saat bergegas pulang salah seorang tetangga menyatakan bahwa Anggara dan keluarganya tidak berada di rumahnya sejak tiga pekan lalu.
"Brengsek. Ternyata Kamu benar seorang bajingan Anggara. Lihat saja aku tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang. Kemana pun kamu pergi jangan berharap bisa sembunyi dariku." Aldri memukul setir mobil karena tak dapat meluapkan emosinya.
Aldri menjelaskan semua yang terjadi pada ibunya. Tanpa mereka sadari Antika mendengar percakapan keduanya. Gadis itu menjadi talak dan depresi. Ia berlari keluar dari rumah. Satpam yang melihatnya berteriak mencegah kepergian Antika, tapi gadis itu menggigit tangannya.
Aldri yang mendengarkan teriakan itu pun bergegas keluar dan mengejar Antika.
"Tika berhenti!"
Antika sama sekali tak peduli ia terus berlari kencang menuju ke salah satu jembatan. Tak ada rasa takut dalam dirinya yang ada hanya amarah dan kesedihan hingga membuatnya terjun bebas.
"TIDAAAK! TIKAAA!"
Beberapa warga berdatangan setelah mendengar jeritan Aldri. Mereka berkerumun memandang Aldri yang terduduk lemas berpegangan pada besi jembatan. Salah satu warga mencoba menenangkan.
Sirine ambulans berbunyi nyaring. Mobil serba putih itu datang setelah beberapa warga melaporkan kejadian yang menimpa Antika. Petugas paramedis membantu proses evakuasi tubuh Antika.
Suatu keberuntungan karena tubuh gadis 18 tahun itu masih bernafas meski lemah dan tak sadarkan diri.
Aldri berada di dalam ambulans bersama Antika. Pria jangkung itu menangis sambil memeluk erat tubuh Putri angkatnya yang bersimbah darah. Dirinya tak pernah menyangka akan ada peristiwa seperti ini terjadi dalam kehidupannya. Beberapa bulan lalu hidupnya dipenuhi kebahagiaan. Namun, kini dalam sekejap mata semuanya terasa hancur musnah tanpa sisa.