Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : KARTA TERTANGKAP
Hari mulai gelap sepenuhnya. Di balik rimbunan tanaman rambat tembok penjara kadipaten, sosok kecil menyelinap perlahan. Karta mengintai celah jendela, matanya bergerak cepat menghafal setiap gerak-gerik penjaga.
"Pasti ada catatan atau benda yang bisa membuktikan Kang Bayu tidak bersalah," bisiknya sendiri pelan.
Ia merayap turun, mencari lubang ventilasi yang tak terawat. Baru saja ia berhasil masuk ke lorong gelap, tiba-tiba obor menyala terang di depannya.
"Hei! Berhenti kau!" teriak suara lantang.
Tiga orang penjaga berlari mendekat, Karta mencoba berbalik tapi jalan sudah tertutup. Ia ditangkap dengan kasar, tangan dan kakinya diikat kuat.
"Siapa kau? Berani-beraninya menyusup ke tempat terlarang!" bentak Kepala Penjara, Ki Haris. Matanya menatap tajam dari ujung kepala sampai kaki.
"Saya... saya cuma tersesat Pak! Saya cari kambing yang lepas!" jawab Karta gemetar pura-pura takut.
"Pembohong! Kambing apa yang masuk lewat lubang kotor begitu?!" Ki Haris menendang batu di dekat kakinya.
"Kau anak buah Si Pemanah Rasa kan? Sama saja, kalian semua pencuri!"
"Saya tidak kenal siapa itu! Saya tidak tahu apa-apa!" teriak Karta.
"Kalau tidak mau mengaku, kau akan tahu rasanya!"
Karta diseret ke ruang penyiksaan. Tali di tangannya di buka dan di ikatkan pada tiang kayu. Ki Haris mengambil rotan dan menatapnya dengan tajam.
"Katakan! Di mana barang curian itu disembunyikan? Dan rencananya apa lagi?"
"Sumpah saya tidak tahu Pak! Tolong percaya!"
Prak!
Rotan mendarat keras di punggung Karta. Ia meringis menahan sakit, tapi seketika pikirannya berputar cepat. Kalau ia terus melawan atau menangis sungguhan, mereka makin galak. Harus ada cara lain.
"Masih keras kepala ya!" Ki Haris hendak memukul lagi.
Tiba-tiba kepala Karta terkulai ke samping, matanya mendelik kosong, mulutnya terbuka sedikit. Suaranya berubah aneh melantun tak jelas.
"Eh... eh... kambingnya makan bulan... terbang ke atas awan... janggutnya berwarna ungu..."
Ki Haris menghentikan gerakannya, mengerutkan dahi bingung. "Apa yang dia omongkan?"
Karta makin kencang bergumam tak karuan, badannya tergoyang-goyang aneh seolah tak sadar diri.
"Kang Bayu... bukan pencuri... dia cuma kasih makan naga... naga itu sayang sama ubi rebus..."
Penjaga bernama Jono mendekat sambil memegang dagu Karta. "Ki... sepertinya anak ini gila. Lihat matanya melamun kosong begitu."
"Mana mungkin tiba-tiba gila? Pasti pura-pura!" Ki Haris menepuk pipi Karta agak keras.
"Bangun! Katakan yang benar!"
Karta malah semakin lemas, kepalanya jatuh sepenuhnya, mulutnya menyemburkan omongan ngaco yang makin tak masuk akal.
"Ikan berjalan pakai sandal... pintu harus dibuka dari dalam... kuncinya ada di perut semut..."
Penjaga kedua, Sanip, mengusap tengkuknya. "Sudah dua jam Ki kami tahan. Dari tadi hanya begitu terus. Kalau benar-benar rusak akalnya, tak akan dapat apa-apa dari dia."
"Buang-buang waktu saja," timpal Jono sambil duduk di bangku kayu panjang.
"Bawa saja ke sel bawah sana. Besok baru kami periksa lagi."
Ki Haris mendengus kesal. Ia sudah lelah seharian mengurus laporan pencurian, ditambah harus menghadapi anak yang tak jelas otaknya.
"Bawa masuk ke sel paling gelap! Jangan sampai kabur, walaupun dia gila!"
Ikatan di tubuhnya sedikit dilonggarkan, Karta diseret masuk ke ruang bawah tanah yang dingin dan lembap. Begitu pintu dikunci, langkah kaki mereka perlahan menjauh.
Kira-kira seperempat jam hening sepenuhnya, mata Karta perlahan terbuka. Ia tak lagi melamun, tatapannya kembali tajam waspada. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya, punggungnya terasa perih sekali kena rotan tadi. Tapi ia berhasil.
Perlahan ia meraba saku kecil di balik ikat pinggangnya. Saat diikat, jari kelingkingnya sempat menyelipkan sesuatu yang jatuh dari ikat pinggang Sanip. Sebuah kunci duplikat kecil berwarna tembaga.
Ia meraba ujung kunci, mencoba memasukkannya perlahan ke lubang gembok selnya. Pertama dicoba tak masuk, kedua kalinya masih macet. Napasnya ditahan sekuat tenaga. Bunyi logam beradu pelan terdengar:
Klik!
Pintu terbuka sedikit.
Karta mengintai keluar, lorong sepi hanya diterangi satu obor di ujung sana. Ia merayap setengah membungkuk. Di ruang depan, ketiga penjaga tadi sedang tertawa sambil minum tuak hangat.
"Coba lihat anak itu, kasihan juga. Padahal masih kecil sekali," ucap Sanip.
"Siapa suruh jadi anak buah Perampok. Sudah nasibnya begitu," jawab Ki Haris sambil menuang lagi minumannya.
Tiba-tiba terdengar suara berisik dari ujung lorong seolah ada genteng rubuh. Semuanya serentak berdiri terkejut.
"Kau periksa itu Sanip! Jangan-jangan ada penyusup lain!"
Begitu mereka berlari menjauh, Karta menyelinap cepat ke meja tempat gantungan kunci utama disimpan. Ia mengambil kunci besar penjara, lalu bergegas keluar lewat pintu samping yang lupa ditutup rapat.
Saat mereka kembali, sel sudah kosong melompong. Hanya tertinggal sebilah rantai yang terlepas.
"Anak nakal itu kabur! Cepat kejar!" teriak Ki Haris panik.
Tapi Karta sudah jauh. Ia berlari sekencang-kencangnya, menyusuri jalan gelap melompati atap dan berlari di atas genting menuju benteng istana, tempat di mana Bayu bersembunyi menanti kabar darinya. Hatinya campur aduk tak karuan: senang lolos, takut dikejar, dan yang paling utama—takut kalau Bayu akan marah karena ia bertindak nekat sendirian.
Langkah kakinya makin dipercepat, meski punggungnya masih terasa perih terbakar bekas rotan. Ia harus segera bertemu Bayu, sebelum hal buruk lain menimpa mereka berdua.
Angin malam makin menderu kencang di sela pepohonan, seolah memberi isyarat bahwa bahaya sedang mengekor di belakang langkahnya.