NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Hari-hari kami kini berjalan dengan warna yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Status kami yang kini resmi saling memiliki mengubah segalanya menjadi lebih hangat, lebih dekat, dan penuh kebahagiaan.

Arjun yang dulu sudah sangat baik, kini berubah menjadi sosok kekasih yang begitu romantis, perhatiannya makin tak ada batas, dan setiap harinya selalu saja ada hal manis yang ia persembahkan khusus untukku.

Setiap kali kami bertemu, tak pernah sekalipun ia datang dengan tangan kosong. Kadang ia membawa bunga segar yang dipetiknya sendiri dari kebun rumahnya, kadang ia membawa makanan kesukaanku, atau sekadar berjalan menggandeng tanganku erat seolah takut aku hilang barang sedetik pun.

Genggamannya selalu hangat, lembut, namun penuh kepastian-sesuatu yang dulu sangat aku takutkan untuk percaya, namun kini menjadi tempat paling aman bagiku.

Sore itu, langit berwarna jingga keemasan, suasana begitu tenang dan damai. Arjun mengajakku duduk di sebuah taman kota yang sepi dan rindang, tempat yang biasa kami jadikan tempat berbagi cerita.

Di hadapanku, ia meletakkan sebuah kotak makanan berwarna emas yang terlihat cantik, dan sebuah bungkusan kain yang terlihat berat namun indah.

Ia tersenyum lebar, senyum yang selalu berhasil membuat jantungku berdegup lebih kencang. Matanya yang berbinar menatapku penuh kasih sayang.

"Ra, hari ini aku mau kasih tau dan kasih kamu semuanya. Semua hal yang jadi bagian dari hidup aku, dari asal-usul aku. Biar kamu makin kenal sama aku, biar kamu tau, kalau mencintai aku berarti juga mencintai semua yang ada di dalam diri aku, termasuk warisan budaya nenek moyang aku," ucapnya lembut, suaranya terdengar begitu bangga namun penuh kelembutan.

Ia mulai membuka kotak makanan itu perlahan. Aroma harum yang begitu khas, manis, dan sedikit berempal langsung menyebar memenuhi udara di sekitar kami. Aroma itu hangat, memikat, dan membuat perutku seketika terasa lapar.

"Ini dia, Ra. Makanan khas dari tempat asal aku, India. Namanya Gulab Jamun," jelas Arjun dengan mata yang berbinar bangga. Ia mengambil satu butir bulatan berwarna cokelat keemasan yang terlihat lembut dan berkilau karena sirup gula di sekelilingnya.

"Gulab Jamun itu makanan penutup yang paling favorit di sana, Ra. Rasanya manis, lembut banget di mulut, dan ada wangi bunga mawar serta kapulaga yang khas. Di India, makanan ini selalu ada kalau ada acara bahagia, perayaan, atau pernikahan. Rasanya manis banget, persis kayak rasa cinta aku ke kamu," tambahnya sambil terkekeh pelan, matanya berkedip menggoda.

Ia menyodorkan makanan itu perlahan ke bibirku, menyuapiku langsung dengan penuh perhatian. Aku membuka mulutku pelan, merasakan teksturnya yang begitu lembut dan lumer, rasa manisnya yang pas, dan aroma rempah yang unik namun sangat nikmat. Rasanya benar-benar istimewa.

"Enak banget, Jun... manisnya pas, lembut banget," pujiku tulus, rasanya seperti ada kehangatan yang menyebar ke seluruh tubuhku.

Arjun tersenyum bahagia mendengarnya.

"Masih ada lagi, Ra. Ini namanya Jalebi, bentuknya melingkar-lingkar kayak gini. Rasanya juga manis, renyah di luar tapi lembut di dalem. Sama ini, Barfi, rasanya gurih campur manis, terbuat dari susu dan kacang. Semua ini makanan yang selalu ada di meja makan keluarga aku kalau lagi ada acara kumpul-kumpul besar. Dulu waktu kecil, nenek aku sering bikin ini buat aku, dan sekarang... aku pengen kamu juga ngerasain semua yang pernah aku rasain, semua yang jadi bagian dari kebahagiaan aku."

Ia menceritakan semuanya dengan begitu antusias. Ia bercerita panjang lebar tentang negaranya, tentang India. Ia bercerita tentang keragaman budayanya, tentang rumah-rumah yang berwarna-warni, tentang kebiasaan orang-orangnya yang sangat menghargai keluarga dan kasih sayang. Ia bercerita tentang betapa indahnya sungai-sungai di sana, tentang aroma rempah yang selalu tercium di pasar-pasar, tentang musik dan tarian yang begitu mempesona.

"Di sana, Ra... cinta itu sesuatu yang dihargai banget. Kalau kita udah nemu orang yang tepat, orang yang kita cintai dan yang mencintai kita balik, kita bakal jagain orang itu seumur hidup. Kita bakal anggep dia sebagai anugerah terindah dari Tuhan. Dan itu yang aku rasain sama kamu, Ra. Kamu anugerah terindah buat aku. Aku mau kamu tau semua ini, karena suatu saat nanti... aku pengen kamu ikut aku ke sana, aku pengen kamu lihat semuanya langsung, aku pengen kamu tau tempat asal laki-laki yang paling mencintai kamu ini," ucapnya serius, matanya menatapku begitu dalam dan penuh janji masa depan.

Hatiku terasa penuh sekali mendengar semua ceritanya. Aku merasa begitu dihargai, begitu dicintai, dan begitu penting baginya. Arjun tak hanya mencintaiku sebagai Aira, tapi ia juga mengajakku masuk ke dalam dunianya, ke dalam akar kehidupannya.

Setelah kami puas menikmati makanan itu dan berbagi cerita panjang lebar, Arjun mengambil bungkusan kain yang tadi ia letakkan di sampingnya. Ia membukanya perlahan, dan di sana terlihat selembar kain yang begitu indah, berwarna emas cerah bercampur merah delima, dihiasi sulaman benang perak dan motif bunga-bunga yang berkilauan mewah.

Warnanya jauh lebih terang, lebih megah, dan lebih istimewa dibandingkan kain yang pernah ia berikan padaku sebelumnya. Itu adalah kain Saree, baju khas wanita India yang sangat anggun dan cantik.

Aku tertegun memegang kain itu. Bahannya begitu halus, motifnya begitu rumit dan indah, terlihat sangat mewah namun juga sangat lembut.

"Jun... ini indah banget," gumamku takjub, mataku tak lepas dari kain itu.

Arjun tersenyum bangga, tangannya ikut menyentuh kain itu pelan.

"Iya, Ra. Ini Saree. Baju adat wanita India yang paling indah menurut aku. Dulu aku pernah kasih kamu yang sederhana, tapi sekarang... sekarang kita udah resmi, sekarang kamu udah jadi milik aku sepenuhnya. Aku kasih yang lebih istimewa, yang lebih indah, biar pas kamu pakai ini, kamu tau kalau di mata aku, kamu adalah wanita tercantik sedunia, bahkan lebih cantik dari apa pun yang ada di India sana."

Ia mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan yang begitu lembut dan penuh kekaguman.

"Di India, Saree itu bukan cuma baju, Ra. Saree itu simbol keanggunan, simbol kehormatan, dan simbol cinta. Biasanya, baju ini dipakai sama wanita tercinta, sama istri, sama wanita yang paling berharga di hati seorang laki-laki. Dan buat aku... kamu itulah wanita itu. Kamu wanita tercinta aku, kamu wanita paling berharga aku."

Ia menggenggam tanganku yang sedang memegang kain itu, mengusap punggung tanganku dengan lembut.

"Pakai ini ya, Ra. Pakai saat ada waktu yang indah, saat kita lagi jalan bareng, atau pas ada acara keluarga aku. Aku pengen lihat kamu pakai baju ini, aku pengen lihat kamu jadi bagian dari budaya aku, sama kayak aku udah jadi bagian besar dari hidup kamu. Aku pengen kamu tau, kalau aku bangga banget punya kamu. Aku bangga banget bisa kenalin semua ini ke kamu, karena kamu orang pertama dan satu-satunya yang aku ajak masuk ke dalam semua hal ini."

Mataku berkaca-kaca terharu. Rasanya bahagia sekali, rasanya dicintai dengan begitu besar dan tulus. Dulu aku takut jatuh cinta, dulu aku takut dikhianati, tapi Arjun... ia datang membuktikan bahwa cinta itu indah, cinta itu aman, dan cinta itu penuh dengan keindahan yang ingin dibagikan bersama.

Aku mengangguk pelan, senyum bahagia merekah di bibirku.

"Terima kasih, Jun... terima kasih udah kasih semua ini ke aku. Terima kasih udah sabar, terima kasih udah tulus, terima kasih udah kenalin aku ke semua hal indah di hidup kamu. Aku janji... aku bakal hargai semua ini, aku bakal hargai kamu, dan aku bakal belajar mencintai semuanya yang ada di kamu, sama besarnya kayak cinta kamu ke aku."

Arjun tersenyum lebar, lalu perlahan mendekatkan wajahnya, mengecup keningku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Sentuhan itu hangat, menenangkan, dan membuatku merasa begitu lengkap.

"Udah cukup, Ra. Kehadiran kamu aja udah jadi kebahagiaan terbesar aku. Mulai hari ini, selain jagain hati kamu, aku juga bakal terus kenalin kamu ke hal-hal indah lain. Mulai dari makanan, baju, cerita, lagu, sampai tempat-tempat indah di dunia ini. Semua hal indah, semuanya bakal aku kasih ke kamu. Karena kamu pantas dapet yang terbaik, Ra. Kamu pantas dapet semua keindahan di dunia ini."

Sore itu berakhir dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di bawah langit senja yang indah, di taman yang sepi itu, aku sadar satu hal: rasa sakit masa lalu itu nyata, tapi kebahagiaan yang Arjun berikan jauh lebih nyata dan jauh lebih besar.

Arjun bukan sekadar kekasih, ia adalah rumah, ia adalah guru, ia adalah sahabat, dan ia adalah seluruh keindahan yang ada di dunia ini bagiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!