"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.
Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.
Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.
"Tolong jangan lakukan itu!"
"Tolong..."
"Tolong...."
Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.
"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.
Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.
Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.
Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 Panas
"Belum tentu aku yang tidak perawan, aku yang sudah tidak suci dan kehormatanku sudah hilang jauh lebih baik dari kamu, belum tentu kamu jauh lebih baik daripada aku, belum tentu kamu juga laki-laki terhormat!" tegas Zena bahkan memberanikan diri menunjuk tepat di wajah Samudra.
"Apa katamu?" Samudra tidak terima dengan istrinya itu.
"Aku memang buruk, tidak suci dan kehormatanku telah hilang, tetapi paling tidak aku mengatakan yang sebenarnya dan aku pernah berusaha untuk mengatakannya sebelum kita menikah, aku juga tahu diri dan meminta untuk diceraikan daripada melanjutkan pernikahan ini!"
"Tetapi orang yang merasa dirinya paling suci dan paling benar, secara terang-terangan melanjutkan pernikahan ini untuk memberi hukuman kepadaku. Apa hak Kakak untuk menghukumku!" tegas Zena dengan air matanya yang terus jatuh.
"Jangan drama Zena...." ucap Samudra dengan suara berat.
"Tunjukkan laki-laki yang mendahuluiku kepadaku," ucap Samudra secara tiba-tiba membuat Zena mengerutkan dahi.
"Apa maksud Kakak?" tanya Zena.
"Aku ingin melihat laki-laki itu, sesempurna apa laki-laki itu sampai-sampai kamu ikhlas memberikan tubuhmu secara sukarela kepadanya dan seberengsek apa dirinya yang tidak bertanggung jawab, tidak menikahimu, dan sehebat apa dia sampai-sampai kau tidak menuntut apapun kepadanya dan menjadikanku korban dalam pernikahan ini," ucap Samudera.
"Kamu ingin aku menunjukkannya kepadamu?" tanya Zena.
"Mungkin aku akan mengakhiri pernikahan kita dan akan memberimu kebebasan, setelah aku mengetahui siapa laki-laki yang mendahuluiku entah sebelum kita menikah atau sesudah kita menikah," ucap Samudra.
Air mata Zena mengalir semakin deras, seketika bayangan pria yang telah memperkosanya kembali teringat dalam pikirannya membuat tubuhnya tiba-tiba saja bergetar.
Dari tatapan matanya terlihat banyak ketakutan, tapi Samudra yang dipenuhi dengan amarah tidak menyadari apa yang dirasakan istrinya saat ini.
Bagaimana mungkin Samudra meminta Zena untuk menunjukkan laki-laki tersebut sementara dirinya saja tidak mengetahui siapa laki-laki itu. Banyak hal yang telah dia pendam sendiri, berusaha untuk sembuh dari traumanya.
Samudra tidak mengatakan apapun lagi dan kemudian langsung pergi dari hadapan Zena. Zena diam terpaku, tanpa berbicara, bibirnya bergetar ingin mengungkapkan banyak hal tetapi seolah-olah tertahan yang tidak mampu, mungkin jika dia mengungkapkan segalanya luka itu akan semakin menggerogoti tubuhnya.
Zena tidak sanggup berada dalam situasi yang sulit untuk sembuh. Zena merasa tidak mampu, merasa semua ini tidak adil untuk, masa lalu yang benar-benar kejam menghancurkan kebahagiaannya.
*******
Zena kembali melanjutkan aktivitas di kantor. Zena seperti biasa selalu berurusan dengan pensil untuk mengukir berbagai perhiasan. Dari kejauhan beberapa meter tampak Anggi sejak tadi memperhatikannya, entahlah apa yang saat ini ada di dalam pikiran Anggi.
Anggi kemudian berjalan menghampiri Zena.
"Ada apa?" tanya Zena menyadari sahabatnya itu sudah duduk di sebelahnya.
"Zena suami kamu sedang tugas?" tanya Anggi secara tiba-tiba membuat Zena menganggukkan kepala.
"Kamu yakin?" tanya Anggi.
"Memang kenapa?" tanya Zena lagi.
Anggi tiba-tiba saja memperlihatkan ponselnya. Zena melihat layar tersebut yang ternyata tampak Samudra sedang makan bersama dengan Ariana di salah satu Restaurant dengan keduanya duduk saling berhadapan dan sangat ketepatan dalam foto tersebut terlihat begitu dekat dengan senyum yang merekah di wajah keduanya.
Zena mengalihkan pandangannya, seolah-olah tidak ada gunanya apa yang telah dia lihat.
"Zena kamu baik-baik saja?" tanya Anggi menyadari apa yang dirasakan sahabatnya itu sepertinya ada sesuatu masalah besar.
"Aku tidak akan meminta kamu untuk menceritakan kepadaku, tetapi sebelum kamu menikah dengan kakak angkatmu, kamu mengatakan bahwa dia memiliki kekasih dan mungkin banyak orang yang mengetahui hal itu karena kekasihnya berasal dari dunia entertainment, aku merasa kasihan jika sampai terjadi sesuatu dalam pernikahan kamu," ucap Anggia.
"Dia mengetahui bahwa aku sudah tidak suci lagi," ucap Zena ternyata tidak bisa jika tidak menceritakan kepada sahabatnya.
"Apa!" pekik Anggi.
"Sebelum kami melakukan tugas dan kewajiban itu, aku berkata jujur apa adanya, bahwa aku sudah kehilangan kehormatanku," ucap Zena ternyata tidak bisa menyimpan semua lukanya sendiri.
"Dan dia tidak terima itu?" tebak Anggi.
"Dia marah dan menuduhku berselingkuh, menuduhku bermain api di belakang pernikahan kami selama dia tugas ke luar kota, dia benar-benar marah dan aku berusaha menjelaskan bahwa semua itu terjadi sebelum kami menikah, tuduhannya semakin menyakitkan, mengatakan selama di luar negeri aku kuliah dengan kehidupan yang bebas, membungkus tubuhku dengan pakaian muslimah untuk menutupi keburukanku," ucap Zena menceritakan semuanya dengan nada suaranya yang sudah dipastikan dari balik cadarnya ada air mata yang keluar.
"Kamu tidak mengatakan kepadanya yang sebenarnya yang terjadi, bahwa kamu sebenarnya dilecehkan beberapa tahun yang lalu?" tanya Anggi.
"Tidak ada kesempatan yang diberikan kepadaku Anggi, beliau benar-benar marah, dan hanya menatapku penuh dengan kebencian, rasa jijik dan bahkan tidak memaafkanku," jawab Zena.
"Itu karena kamu tidak memberitahu sebenarnya bahwa kamu diperkosa, kamu tidak memberikan kehormatan kamu kepada orang lain, kamu mendapatkan masalah besar, kamu tidak menginginkan hal itu terjadi, seharusnya kamu menceritakan yang sebenarnya Zena agar kamu tidak diperlakukan buruk seperti ini," ucap Anggi.
Dia begitu marah dengan apa yang terjadi pada sahabatnya sesuai dugaannya bahwa sudah ada yang tidak beres dalam pernikahan itu dan terbukti akhirnya Zena jujur dengan apa yang terjadi dalam pernikahan mereka.
"Zena, kamu adalah gadis yang baik, kamu sungguh tidak pantas diperlakukan seperti ini. Aku tidak bisa terima kamu mendapatkan penghinaan yang sangat menyedihkan dari orang yang tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya kepada kamu," ucap Anggi.
"Tetapi tidak ada kesempatan untukku menjelaskan apa yang terjadi dan justru beliau akan menceraikanku jika aku menunjukkan laki-laki bejat itu kepadanya," jawab Zena.
"Apah!" pekik Anggi merasa tidak masuk akal mendengar pernyataan dari Zena.
"Aku mengalah dengan pernikahan ini dan meminta untuk mengakhiri pernikahan ini, tetapi beliau tidak mau dan mungkin bunda dan ayah juga pasti tidak akan setuju, ketika mereka mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, beliau mempertahankan pernikahan ini karena ingin memberi hukuman terhadapku agar aku terus menderita dalam kebencian karena dia merasa ditipu," ucap Zena.
"Dan dia akan melepaskan kamu ketika kamu menunjukkan laki-laki itu kepadanya?" tebak Anggi.
"Benar dia akan melakukan hal itu," jawab Zena.
"Ini benar-benar gila Zena, ini tidak mungkin, kamu harus katakan yang sebenarnya terjadi kepadanya dan bagaimana mungkin kamu menemukan laki-laki itu, sedangkan kamu saja masih terus dalam pemulihan, aku sendiri yang akan berbicara kepadanya apa yang terjadi sebenarnya kepada kamu," ucap Anggi justru geram terhadap sahabatnya dan terlebih lagi dia begitu marah kepada Samudera.
"Jangan Anggi, ini adalah resiko dari apa yang terjadi kepadaku di masa lalu dan ini juga dalam masalah rumah tangga kami. Aku tidak apa-apa," ucap Zena.
"Kamu masih mengatakan bahwa kamu tidak apa-apa. Zena dia baru saja memberikan syarat yang tidak masuk akal kepada kamu dan sementara kamu berusaha untuk sembuh selama ini!" tegas Anggi.
Anggi memang adalah satu-satunya sahabat yang mengetahui semua masa lalu Zena dan Anggi juga merupakan orang yang Zena untuk lepas dari trauma.
Bersambung......
cepet terungkaplah kasusnya..
klo bener samudra ayahnya..jangan biarkan dia mengetahuinya..biar menyesal seumur hidupnya..