NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Napas Billy Davidson masih terengah-engah di dalam kesunyian kamar tidur utama mansion Pasadena.

Keringat membasahi dada bidangnya yang naik turun secara tidak teratur.

Di sampingnya, Catalina terbaring dengan tubuh yang hanya ditutupi sebagian oleh selimut sutra yang berantakan, menatap langit-langit kamar dengan senyuman kepuasan yang belum pudar dari wajah matangnya.

Namun, kepuasan itu sama sekali tidak menular pada Billy.

Begitu gairah yang membakar akal sehatnya surut, sebuah kekosongan yang dingin mendadak menghimpit dadanya. Saat pelepasan itu terjadi beberapa menit yang lalu, di puncak kenikmatan yang memabukkan, ada satu nama yang tanpa sadar lolos dari tenggorokan Billy.

Pria itu mendesah hebat hanya atas nama Lara.

Bukan nama Catalina, wanita yang baru saja memeluknya dengan erat. Melainkan nama istrinya, wanita yang ia tinggalkan sendirian di kondominium Downtown Los Angeles.

Catalina mendengar desahan itu dengan sangat jelas. Namun, wanita itu memilih untuk tidak memedulikannya. Catalina tidak peduli.

Baginya, nama siapa pun yang disebut Billy di atas ranjang ini tidaklah penting, selama kebutuhan biologisnya terpenuhi dan cengkeraman kekuasaan serta finansial keluarga Davidson tetap berada di bawah kendalinya.

Catalina memiliki ego yang terlalu tinggi untuk merasa cemburu pada gadis yang selalu dicap sebagai anak sial oleh keluarganya sendiri.

Billy langsung bangkit dari ranjang tanpa membuang waktu. Ia menyambar pakaiannya yang berserakan di atas lantai marmer, lalu mengenakannya kembali dengan gerakan yang tergesa-gesa.

Suasana hatinya mendadak berubah menjadi tidak bersahabat, dipenuhi oleh kepanikan tak kasat mata yang mulai merayap di benaknya.

"Malam ini, aku akan langsung kembali, Catalina..." ucap Billy dengan suara rendah dan dingin sembari mengancingkan celana panjangnya. Ia bahkan tidak menoleh ke arah kakak iparnya. "Lara membutuhkan diriku di rumah."

Mendengar kalimat itu, senyuman di wajah Catalina langsung lenyap. Wanita itu ikut bangkit, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang megah sembari menarik selimut untuk menutupi dadanya yang polos. Tatapan matanya berubah menjadi tajam, menatap punggung Billy dengan kilatan kecewa.

"Kau tega meninggalkanku di saat aku masih merindukanmu, Billy?" tanya Catalina dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar, mencoba memanipulasi emosi pria di hadapannya.

"Kau tahu sendiri, kan... rasa rinduku pada mendiang suamiku hanya bisa kuobati bersama dirimu. Hanya kau yang memiliki kemiripan dengannya di dunia ini. Kau tahu itu, Billy."

Billy menghentikan gerakan tangannya yang sedang membetulkan kerah kemeja. Rahangnya mengeras seketika. Tuduhan dan manipulasi emosional dari Catalina entah mengapa terdengar sangat memuakkan di telinganya malam ini.

Rasa bersalah yang mulai mengetuk pintu hatinya membuat Billy kehilangan kesabaran.

Ia berbalik dengan cepat, menatap Catalina dengan tatapan mata yang berkilat penuh amarah dan kejijikan yang mendalam.

"Jangan mengaturku, sialan!" bentak Billy, suaranya menggelegar di dalam kamar yang luas itu hingga membuat Catalina sedikit tersentak.

Billy melangkah mendekati tepi ranjang, mencondongkan tubuhnya dengan aura mengintimidasi yang kuat. "Kau perlu ingat satu hal, Catalina. Dirimu bahkan tidak seindah istriku. Kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Lara!"

Napas Billy memburu setelah melontarkan kalimat kejam itu. Wajahnya memerah padam. "Aku akan pulang sekarang juga," sambungnya dengan nada final yang tidak menerima bantahan lagi.

Catalina terdiam seribu bahasa. Sorot matanya menegang mendapati reaksi keras dari adik iparnya. Namun, sebagai wanita yang cerdas dan penuh perhitungan, Catalina tahu kapan harus maju dan kapan harus menarik diri.

Dia tidak ingin memicu pertengkaran lebih lanjut yang bisa membuat Billy benar-benar pergi dari hidupnya dan memutus aliran dana untuk mansion ini. Catalina memilih untuk melipat egonya malam ini. Ia tidak ingin banyak bicara lagi dengan Billy.

"Ya, pergilah," sahut Catalina datar, memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan kegelapan malam Pasadena.

Tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan lagi, Billy menyambar jas dan kunci mobilnya yang terletak di atas meja rias. Ia melangkah lebar keluar dari kamar, menuruni anak tangga mansion dengan terburu-buru, dan langsung membelah keheningan malam menuju mobil Rolls-Royce Phantom-nya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mesin mobil mewah itu menderu halus, membelah jalanan bebas hambatan Los Angeles yang mulai lengang menjelang dini hari. Lampu-lampu jalanan Beverly Hills dan sudut-sudut kota LA berkelebat cepat di kaca mobil.

Di balik kemudi, pikiran Billy Davidson berkecamuk dengan hebat.

Setelah kembali dari kediaman Catalina, Billy segera memacu kendaraannya untuk kembali ke rumahnya sendiri, tempat di mana Lara berada.

Sejujurnya, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Billy merasa bersalah. Rasa bersalah itu berdenyut nyeri setiap kali ia mengingat tubuhnya yang baru saja bersentuhan dan tidur bersama Catalina untuk kesekian kalinya.

Ada rasa berdosa yang samar terhadap pernikahan yang baru seumur jagung itu.

Tapi, demi Tuhan, di dalam labirin pikirannya yang penuh dengan pembenaran diri, Billy Davidson tidak menganggap dirinya sedang berselingkuh. Sama sekali tidak.

Pria itu menyusun sebuah narasi di dalam kepalanya untuk menenangkan hati nuraninya yang mulai terusik.

Menurut logikanya sendiri, dia hanya sedang membantu Catalina—seorang janda yang malang, istri dari mendiang kakak kandungnya yang sangat ia hormati.

Catalina sedang menderita akibat trauma gila kehilangan suami, dan dia hanya menjalankan tugasnya sebagai perwakilan keluarga untuk menenangkan wanita itu.

Adapun penyatuan panas yang baru saja terjadi di atas ranjang tadi, Billy menganggapnya hanyalah sebuah bentuk pelampiasan fungsional.

Sebuah pelepasan atas hasrat biologisnya yang sah sebagai seorang pria dewasa, hasrat yang akhir-akhir ini tidak bisa ia dapatkan dari istrinya sendiri akibat alasan medis.

Aku tidak mencintai Catalina, batin Billy menegaskan pada dirinya sendiri dengan cengkeraman yang semakin kuat pada setir mobil. Hati dan jiwaku hanya untuk istriku, hanya untuk Lara. Ini bukan pengkhianatan di dalam pernikahan.

Dalam cara berpikir Billy yang egois dan manipulatif, hubungan terlarang itu hanyalah sebuah bentuk 'saling membantu' yang didasari oleh situasi darurat.

Catalina membutuhkannya untuk mengatasi bayang-bayang masa lalu, dan dia membutuhkan Catalina untuk menyalurkan gairah terpendamnya.

Lagi pula, merawat dan menjaga Catalina sudah menjadi tanggung jawab mutlak yang dibebankan ke pundaknya sejak kakaknya meninggal. Dengan pemikiran sesat seperti itu, Billy berhasil mengubur rasa bersalahnya dalam hitungan menit, mengubah dosa besar itu menjadi sebuah kewajiban keluarga yang mulia.

Mobil Rolls-Royce itu kini mulai memasuki kawasan Downtown Los Angeles, mendekati kompleks apartemen dan kondominium mewah tempat tinggal mereka. Fokus pikiran Billy kini beralih sepenuhnya pada sosok Lara.

Memikirkan bagaimana kondisi Lara yang akhir-akhir ini selalu mengeluh stres dan mengaku masih berada dalam siklus menstruasi yang panjang, membuat Billy memikirkan banyak hal.

Keningnya berkerut dalam di kegelapan kabin mobil. Ada rasa tidak puas sekaligus kebingungan yang mengganjal di benaknya mengenai sang istri.

Apa sebenarnya yang harus distreskan oleh istrinya? tanya Billy di dalam hatinya dengan nada meremehkan.

Di mata Billy, Lara sudah memiliki segalanya yang diimpikan oleh jutaan wanita di California.

Dia tinggal di sebuah hunian mewah berharga jutaan dolar di pusat kota Los Angeles. Dia tidak perlu memeras keringat bekerja dari pagi hingga malam untuk membayar tagihan.

Semua kebutuhan sandang dan pangannya dipenuhi dengan kartu kredit tanpa limit yang Billy berikan. Bahkan, setiap kali Billy melakukan kesalahan fisik berupa pukulan, keesokan harinya Lara selalu dihujani dengan perhiasan berlian seharga mobil baru sebagai bentuk kompensasi.

Aku sudah memberikan segalanya. Aku menyelamatkannya dari caci maki keluarganya yang toxic. Aku membuatnya dihormati. Jadi, apa lagi yang membuat wanita itu stres hingga siklus menstruasinya berantakan selama tiga bulan ini? pikir Billy penuh kejengkelan.

Pria itu sama sekali tidak menyadari—atau lebih tepatnya menolak untuk peduli—bahwa sumber stres utama yang sedang menghancurkan sistem hormon dan kewarasan Lara adalah dirinya sendiri, sang suami posesif yang bertindak bagaikan sipir penjara.

Beberapa menit kemudian, mobil Rolls-Royce hitam milik Billy Davidson berbelok perlahan, memasuki area gerbang luar dan bersiap menuju ramp parkir bawah tanah kondominium mewahnya. Sorot lampu depan mobil mewah itu memotong kegelapan malam jalanan Downtown LA yang sunyi.

Namun, Billy yang sedang terhanyut dalam ego dan pemikirannya sendiri, sama sekali tidak memperhatikan situasi di sekelilingnya dengan saksama.

°°°°°

Sementara itu, dari kejauhan mobil milik Davidson yang baru saja melintas, ternyata tidak jauh dari sana—tepat di seberang jalan di bawah bayangan pohon palem yang remang-remang—terparkir sebuah mobil sedan Audi hitam yang sangat familier.

Di dalam mobil Audi yang teredam itu, mesinnya dalam keadaan mati, namun sepasang mata tajam di balik kaca depan terus mengawasi setiap gerak-gerik mobil Billy. Pria di dalam mobil itu adalah Darion Vale Knight.

Darion telah berada di sana selama berjam-jam, duduk membisu di dalam kegelapan malam Los Angeles sejak ia meninggalkan area kampus sore tadi. Ia menolak untuk pulang ke rumah besarnya.

Pikirannya terlalu dipenuhi oleh bayang-bayang wajah Lara yang menangis hancur di aula seminar hukumnya.

Rasa cemas yang luar biasa akan keselamatan fisik Lara membuatnya tidak bisa memejamkan mata sekejap pun.

Melalui sorot matanya yang dingin dan tajam bak mata elang, Darion memperhatikan waktu kepulangan Billy. Jam digital di pergelangan tangannya menunjukkan waktu yang tidak wajar bagi seorang suami yang pamit untuk 'urusan bisnis mendesak'.

Darion mencatat segalanya di dalam kepala hukumnya. Jam berapa Billy pergi, jam berapa Billy kembali, dan bagaimana ekspresi pria itu dari kejauhan.

Insting tajam seorang pengacara dan pembela hukum berbisik kuat di dalam dada Darion: ada sesuatu yang busuk dan tidak beres sedang terjadi di balik topeng kesempurnaan seorang Billy Davidson.

Darion mengepalkan kedua tangannya di atas kemudi, menatap tajam ke arah ekor mobil Rolls-Royce milik Billy yang perlahan menghilang di balik pintu gerbang otomatis parkiran bawah tanah.

"Kau boleh merasa di atas angin malam ini, Davidson," bisik Darion dengan suara bariton yang rendah, penuh dengan ancaman yang mematikan di dalam kesunyian mobilnya.

"Tapi aku bersumpah, demi nama besar keluarga Knight dan demi setiap tetes air mata yang kau paksa keluar dari mata Lara... aku sendiri yang akan menyeretmu jatuh ke dalam neraka hukum yang paling dalam. Waktumu tidak akan lama lagi."

Sedan Audi hitam itu tetap mematung di tempatnya, bertindak bagaikan penjaga tak kasat mata di tengah malam Los Angeles yang dingin, bersiap untuk mengobarkan perang besar demi membebaskan jiwa Lara Giger yang terbelenggu.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!