Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pena yang Berani
Di antara semua wartawan yang datang meliput aksi lentera di depan pengadilan waktu itu, ada satu nama yang terus muncul di catatan Sari—seorang wartawan perempuan dari media lokal kecil bernama Mira Anggraini, yang sejak dua tahun lalu konsisten menulis soal proyek-proyek "revitalisasi" yang berujung penggusuran, meski tulisannya jarang mendapat tempat besar di medianya sendiri.
"Dia beda dari wartawan lain yang saya temui waktu sidang," kata Sari suatu sore. "Yang lain dateng buat berita sehari, abis itu pindah topik lain. Mira ini kayak... beneran peduli."
Aku memutuskan menemuinya, meski dengan hati-hati. Kami bertemu di sebuah kedai kopi kecil jauh dari Karang Wetan, tempat yang menurut Mira sendiri "aman dari mata-mata kantor kecamatan".
Mira lebih muda dari yang kubayangkan, mungkin baru beberapa tahun lebih tua dariku, dengan cara bicara cepat dan tatapan yang tidak pernah benar-benar berhenti mengamati sekitarnya—kebiasaan, katanya, dari terlalu sering diikuti orang tak dikenal setelah menerbitkan tulisan yang "tidak disukai orang tertentu".
"Saya udah lama curiga soal proyek revitalisasi ini," katanya, setelah aku menceritakan sebagian dari apa yang kami temukan lewat Dedi dan Sari. "Tapi curiga aja nggak cukup buat nulis berita. Saya butuh dokumen, saya butuh saksi yang berani ngomong terang-terangan, bukan cuma bisik-bisik."
"Itu masalahnya," jawabku. "Orang yang berani ngomong, biasanya berakhir kayak Sari—atau lebih buruk."
Mira mengangguk pelan, wajahnya serius. "Makanya, kalau saya mau tulis ini, saya nggak akan sebut nama sumbernya sama sekali. Tapi saya butuh dokumen asli, bukan cerita dari mulut ke mulut. Kalau saya nulis berdasarkan opini atau dugaan doang, ini bisa dianggap fitnah, dan bisa saya sendiri yang kena masalah hukum."
---
Membangun kepercayaan dengan Mira butuh waktu, tapi lebih cepat dari yang kukira—mungkin karena kami berdua sama-sama sudah lelah melihat sistem yang sama terus berulang. Lewat beberapa pertemuan berikutnya, aku memperkenalkannya secara terbatas pada sebagian catatan yang disusun Sari, tanpa pernah menyebut nama Dedi secara langsung demi keamanannya.
Mira, dengan caranya sendiri sebagai wartawan, mulai melakukan investigasi tambahan yang bahkan kami sendiri tidak terpikir—mengajukan permintaan informasi publik secara resmi ke instansi terkait, menelusuri rekam jejak perusahaan yang disebut-sebut terafiliasi keluarga Bupati Hardian lewat catatan bisnis yang bisa diakses publik, bahkan menghubungi beberapa mantan pejabat yang sudah pensiun dan lebih berani bicara karena tidak lagi punya jabatan yang bisa "diancam".
"Perusahaan itu," kata Mira suatu malam, menunjukkan hasil penelusurannya, "didirikan setahun sebelum proyek revitalisasi ini diumumkan. Salah satu komisarisnya punya marga yang sama dengan istri Bupati Hardian. Ini bukan bukti langsung, tapi ini pola yang terlalu jelas buat dibilang kebetulan."
Aku menatap catatan itu lama, merasakan campuran antara harapan dan kekhawatiran yang sama besar. Untuk pertama kalinya, kami punya sesuatu yang lebih dari sekadar kecurigaan warga kecil—kami punya jejak yang mulai bisa dipertanggungjawabkan.
---
Tapi semakin dalam Mira menggali, semakin jelas juga bahwa ia mulai menarik perhatian yang sama berbahayanya dengan yang kami hadapi.
Suatu malam, ia mengabariku lewat pesan singkat, nadanya berusaha terdengar tenang meski aku bisa merasakan ketegangan di balik kata-katanya: kantor redaksinya menerima telepon dari "seseorang yang mengaku dari bagian hubungan masyarakat pemkot", menanyakan secara halus soal "arah pemberitaan belakangan ini terkait proyek revitalisasi", dengan nada yang menurutnya jelas-jelas berupa peringatan terselubung, bukan pertanyaan biasa.
"Editor saya mulai gelisah," tulisnya. "Tapi saya belum mau berhenti. Cuma saya perlu kamu tahu, ini mulai berisiko buat kita berdua."
Aku membaca pesan itu berulang kali malam itu, merasakan beban yang semakin berat di dadaku. Setiap orang yang mulai terlibat dalam perjuangan ini—Sari, Dedi, sekarang Mira—menanggung risiko yang sebenarnya bukan sepenuhnya milik mereka, melainkan warisan dari ketidakadilan yang sudah lama menimpa orang-orang seperti aku dan keluargaku.
Malam itu, duduk sendirian di gang buntu dekat bantaran kali, aku berjanji pada diriku sendiri: apa pun yang terjadi nanti, aku tidak akan membiarkan orang-orang yang memilih berdiri di sisi kami menanggung akibatnya sendirian, seperti yang dulu terjadi pada keluargaku tanpa ada yang membela.
Aku belum tahu bagaimana caranya menepati janji itu sepenuhnya. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku merasa kami sedang membangun sesuatu yang lebih besar dari sekadar perlawanan—kami sedang membangun bukti, jaringan, dan keberanian kolektif yang, kalau cukup kuat, bisa benar-benar mengguncang orang-orang yang selama ini merasa tak tersentuh.
---
*(Bersambung ke Bab 16)*