Norma menolak keras ketika mertua memintanya menggadaikan rahimnya pada pria kaya, dengan dalih untuk pengobatan sang putri.
Namun saat kejadian nahas menimpa putrinya, dan tekanan dari Mariah mertua nya, membuat Norma terpaksa mengambil keputusan nekad.
Tak sampai disitu, keputusan Norma membuatnya di hina oleh keluarga Syamsul dan masyarakat sekitar.
Sementara suaminya bekerja di luar negeri sebagai TKI. Hilang kontak.
Akankah Norma mampu menjalani kehidupan yang dilema?
.
Mohon baca teratur disetiap bab nya🙏
Kemana kah suami Norma?
Bagaimana kisahnya?
Setting: Sebuah pulau di Riau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juniar Yasir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syakir Rafisqy
Syakir Rafisqy. Pria 35 tahun, tampan, sikap yang dingin tapi baik hati. Pemilik perkebunan durian terbesar di kabupaten, juga rumah produksi makanan olahan durian.
Berpisah dengan mantan istrinya, karena berkhianat dengan sahabat karib Syakir. Sejak saat itu pria dingin ini tidak pernah memikirkan soal pernikahan. Hari-harinya di sibukkan dengan bekerja. Sekali-kali Syakir akan mengunjungi sang Ibu, Mastura.
Betah menduda selama delapan tahun, membuat Mastura Ibu nya khawatir. Bagaimana mungkin seorang pria betah menyendiri tanpa pendamping hidup. Penyesalan juga menyerukan dalam diri Mastura karena dirinya lah yang menjodohkan Syakir dengan Engku Masitah, keturunan bangsawan negeri jiran. Ternyata Masitah adalah rubah betina yang terlihat baik hanya di awal pernikahan saja.
Setiap akhir pekan Syakir pulang ke hunian Ibunya. Menemani wanita paruh baya itu, karena Ayahnya akan berakhir pekan di rumah istri kedua.
"Syakir, sampai bila dirimu betah sendiri? Tak adakah sedikitpun untuk kembali membina rumah tangga?" ucap Mastura di sela makan malam mereka.
Syakir tetap diam, mengunyah makan yang mendadak terasa hambar mendengar ucapan ibunya.
"Ibu punya kenalan..._"
"Apa Ibu tak jemu melakukan perjodohan lagi dan lagi? Apa kurang bukti dari hasil perjodohan kala itu?" Balas Syakir menatap manik mata Mastura yang terlihat terkejut mendengar ucapannya.
Ucapan menohok itu menusuk ke hatinya. Tapi Mastura berusaha menutupinya.
"Ibu tidak tahu kesalahan apa yang Masitah perbuat sehingga dirimu memilih berpisah. Tapi apa pun kesalahannya, dirimu tidak bisa pukul rata semua sikap perempuan sama." Mastura berhenti sejenak, melihat Syakir bungkam, Iya melanjutkan ucapannya.
"Yang satu ini berbeda Nak. Dia shaliha, anak dari pemuka agama. Dirimu bisa...._"
Ucap Mastura di potong, karena ponsel Syakir yang berbunyi tanda panggilan. Syakir beranjak, menuju teras bagian samping.
"Ya"
"Nyonya Norma telah menyetujui persyaratan, pun juga sudah menandatangani surat kontrak tersebut." ucap Prakoso di seberang.
"Betulan?" Syakir kaget karena mudah sekali jalannya.
"Benar Pak. Beliau terlihat begitu membutuhkan uang tersebut, terlihat tertekan" Ujarnya.
"Bagus. Segera minta Buk Syam membersihkan kamar tamu dan kamar anak. Pastikan Minggu depan sudah bisa di tempati"
"Baik Pak. Tapi dari pihak keluarga suaminya meminta kompensasi sebanyak lima ratus juta" beritahu Prakoso dengan nada kesal.
"Atur saja sebaik mungkin. Berikan apa yang mereka inginkan!"
Setelah obrolan singkat itu, Syakir memutuskan sambungan.
.
Suasana hati Syakir kembali hangat. Ada kelegaan di hatinya.
"Sekali ku dapat, dirimu tak akan ku lepas lagi ayi. Selamanya dirimu akan jadi kepunyaan ku!" lirihnya pelan.
Dirinya kembali menuju meja makan, melanjutkan makan malam nya
"Bagaimana Nak, apa dirimu setuju?" tanya Mastura masih berusaha membujuk sang anak.
"Maaf Buk, saya sudah ada pilihan sendiri. Dan kali ini saya mohon hargai keputusan saya." ucap tegas Syakir.
"Apa?! Kenapa mendadak sekali? Jangan main-main dengan pernikahan Nak" Mastura kaget bukan main.
"Bukankah Ibu sudah tak sabaran ingin punya menantu?... Saya hanya mewujudkan keinginan Ibu. Hanya saja.. Kali ini perempuan, calon istri adalah pilihan saya sendiri" balasnya.
"Bu, saya ke atas dulu." Syakir beranjak, menaiki tangga menuju kamarnya lantai dua.
Mastura hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang anak.
.
******
.
Perawat mendatangi Norma, saat wanita itu baru selesai makan malam bersama Hamdan dan istrinya.
"Anda di minta menemui pihak Administrasi untuk mengurusi terkait surat persetujuan tindakan operasi esok hari" ucap langsung perawat wanita ini.
"Baik, terima kasih Sus" balas Norma.
Suster mengangguk lalu meninggalkan ketiganya.
"Nor pergi sebentar Pak long, Mak long"
Norma beranjak dari kursi, lalu menuju lift untuk turun ke lantai dasar.
.
"Mohon tanda tangani surat ini Buk, esok pagi putri anda akan di tindak operasi" ucap petugas pria mengulurkan selembar kertas.
"Tapi Mas, saya belum membayar sepeserpun uang" Norma bingung, tapi tetap menyambut uluran kertas.
"Semua yang terkait pembayaran, baik untung rawat inap dan tindakan operasi sudah lunas Buk" ucap pria muda ini.
"Ha? Betulan?" Norma melongo tak percaya.
"Betul Buk, seoarang pria bernama Prakoso sudah melunasi semua" jawabnya.
Norma mengangguk mengerti. Sekarang memang sudah pasti dirinya terikat kontrak. Ada rasa sedih dan senang bersamaan. Akhirnya putri kesayangannya akan segera pulih dan normal seperti anak lainnya. Sedih karena harga dirinya sebagai seorang istri hancur sudah.
.
*****
.
Sementara di kediaman mertua Norma. Mariah, Daria dan bukan main girangnya. Notifikasi transfer uang telah masuk rekening Daria.
Ya. Setelah pulang dari kediaman Syakir, Daria menghubungi Prakoso. Dengan liciknya Daria meminta uang untuk pegangan kakak nya, Norma. Dengan beralasan keperluan rawat jalan ketika Nuri pulang dari rumah sakit nantinya. Prakoso yang telah di beri mandat untuk menuruti keinginan keluarga mertua Norma segera mentransfer sejumlah uang.
"Tak ku sangka, di balik raut sangar dan berwibawa nya itu. Bawahan Tuan Syakir, Prakoso tua itu mudah di kelabui. Bodoh betul pria itu, mau saja di bodohi oleh ku" Daria tertawa jahat.
"Putri bungsu ibuk ini memang cerdas bermain drama. Sampai-sampai orang kepercayaan pemilik kebun durian terkenal di kabupaten ini bisa di kelabui dengan mudahnya" puji Mariah senang.
"Benih siapa dulu?.. Darman!" Suami Mariah, ayah dari Daria ini menepuk dada bangga.
"Alah! Apa peran mu dalam rencana ini?! Kerjaan mu saja hanya memalaki pedagang di pasar, bermain judi togel!" Sarkas Mariah menatap nyalang suami nya.
Darman beranjak "Jangan asal tuduh kau! Aku ini suami mu, beraninya mulut itu memfitnah ku!" tuding Darman.
"Sudah, sudah! Uang sudah di depan mata, Bapak, Ibuk malah bertengkar layaknya remaja yang baru menjalin hubungan cinta monyet!" Kesal Daria.
Kedua pasangan ini memang kerap kali adu mulut. Mariah begitu marah ketika sang suami kerjaannya hanya nongkrong di pasar, menjadi tukang palak, dan memasang judi togel.
"Nasihat ini Ibu mu!" Darman berjalan akan menuju kamar, tapi berhenti sejenak, menoleh sang anak.
"Jangan lupa jatah Bapak!" Darman segera meninggalkan Ibu dan putrinya.
Mariah mendengus kesal.
"Ingat Ria! Jangan terlalu boros. Beli barang seperlunya saja, jangan sampai Abang mu mengetahui tentang uang lima ratus juta ini" peringat Mariah.
"Aman, Ibuk tenang saja. Lagi pula uang kiriman bang Syamsul juga masih banyak. Huft.. Tak sia-sia selama ini uang jatah Norma kita ambil. Bisa untuk bersenang-senang" Daria terkikik senang.
"Dirimu benar. Ibuk juga bisa ikut arisan dan kelas senam dengan Ibu lurah dan lainnya" balas Mariah tak kalah girang.
Anak dan Ibu itu larut dalam kesenangan.
.
****
.
Seminggu telah berlalu. Norma yang akan membawa sang putri pulang di kejutkan kedatangan Prakoso.
"Selamat siang Buk Norma. Saya di utus Bapak Syakir untuk membawa anda ke hunian yang telah di sediakan" ujar tegas pria ini.
"Harus saat ini juga kah Pak? Lalu mertua saya...?"
.
.
Bersambung...
.
Jangan lupa like dan komentarnya 🙏